Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Paket Ancaman


__ADS_3

Thomas sedang menikmati momen bersama Tina berduaan setelah menyelesaikan berbagai permasalahan di kantor dan tuntutan dari Stefanus. Tetapi Thomas tidak pernah mundur dengan siasat licik ayahnya.


“ Uncle Stefanus”, panggil Lauren dan memeluknya.


“Bagaimana kabar kamu sweety?”, tanya Stefanus.


“Baik uncle”, ucap Lauren lalu mencium bibirnya dengan dalam atas inisiatif sendiri.


“Kamu kesini tidak hanya menyapaku, pasti ada sesuatu yang ingin kau minta”, ucap Stefanus sambil mengusap perut rata Lauren.


“Uncle tahu aja”, ucap Lauren dengan memukul dada bidang Stefanus.


“Aku harus berbicara dengan tua bangka ini sebelum perutku membesar, takutnya Thomas tidak menerimaku. Aku harus cepat-cepat mendapatkan semua yang aku inginkan”, batin Lauren.


“Sweety, sweety”, panggil Stefanus dan Lauren kembali dari euforianya.


“Ada apa uncle?”, tanya Lauren.


“Sweety, jangan bengong mulu, kamu sedang mikirin apa?”, tanya Stefanus dengan mencium bibirnya.


“Uncle, kapan kamu mau memisahkan Thomas dan Tina? Sebentar lagi perutku akan buncit”, rengek Lauren di lengan Stefanus.


“Sial, wanita ini masih mengharapkan anakku. Aku sebenarnya tidak terima, namu bagaimana lagi demi janin dalam kandungan wanita ini. Aku harus memiliki keturunan beberapa generasi. Wanita ini lebih licik dari dugaanku”, batin Thomas dengan lengan yang masih dipegang Lauren.


“Uncle, kapan nih?”, rengek Lauren dengan manja.


“Tunggulah, aku sedang membuat siasat untuk mereka”, ucap Stefanus.


“Kapan?”, tanya Lauren


“Bersabarlah”, ucap Stefanus dengan menahan emosi.


“Ya, sampai kapan?!”, marah Lauren dengan setengah membentak lalu pergi meninggalkan Stefanus yang melotot dan hampir tersulut emosi. Setelah perginya Lauren, Stefanus menghembuskan nafas kasar, “huhhh....hahhh”, lalu menghubungi kaki tangan kanannya untuk memisahkan mereka dengan menekan Thomas bagaimanapun caranya.


“Hallo tuan, ada apa?”, tanya asisten


“Tolong hubungi Reyhan, aku perlu bicara dengannya”, ucap Thomas.


“Baiklah, tuan”, ucap Erik anak buahnya.


Beberapa menit kemudian Reyhan masuk dan menemui Thomas yang menunggu lama.


“Maaf tuan, menunggu lama”, ucap Reyhan.


“Tidak masalah, aku mendapatkan info dari lainnya bahwa Stefanus ingin menekan besar-besaran untuk perusahaan ini dan mencelakai anak juga istriku. Tolong selidiki lebih lanjut. Kali ini kita jangan sampai lengah. Aku akan menyuruh orang-orang kuat untuk menjaga istri dan anakku”, ucap Thomas dengan ekspresi dingin dan datar.


“Baik tuan”, ucap Reyhan. Sebelum ia melanjutkan langkah keluar. Reyhand memberikan saran untuk Thomas, “oh ya tuan, saya sarankan untuk menjaga anak dan istri anda lebih baik serahkan kepada Gary, dia lebih kuat dan teliti terhadap musuh dan berilah tambahan dua penjaga untuk disekitar mereka”,ucap Reyhan. Lalu ia pamit pergi.


“Benar kata Reyhan, kali ini tebakan Reyhan tidak pernah meleset”, gumam Thomas lalu menghubungi Gary dan melanjutkan pekerjaan sesegerah mungkin agar bisa secepatnya menemui Tina dan Felix.

__ADS_1


Sudah begitu lama berkutat dengan dokumen dan berbagai persoalan. Kali ini Thomas membereskan meja kerja lalu pergi melesat meninggalkan kantor menuju istanannya.


Ketika sampai di rumah dan masuk istananya, pada saat melewati dapur, Thomas di suguhkan Tina yang sedang asyik memasak. Membuat Thomas tidak tahan untuk tidak memeluknya. Kemudian Thomas mengendap-endap secara diam-diam untuk memeluk Tina. Lalu Tina terkejut dan memanggil namanya.


“Thomas”, panggil Tina.


“Iya sweety”, dengan mengecup pundaknya.


“Jangan main-main, aku sedang memasak. Takutnya nanti masakannya gosong dan istana milikmu ini berubah jadi abu. Jadi, lepaskan tangan kamu dari pinggangku”, ucap Tina dengan geram pada Thomas yang terus-terus menggoda seenak jidat saat sedang memasak.


“Biarkan aku begini dulu, aku merindukan kamu”, ucap Thomas dengan mencium pundak bau harum tubuh istrinya.


“Thomas, sudah kubilang lepasin!”, bentak Tina sambil mematikan kompor dan membalikan tubuhnya. Lalu Thomas tanpa kata mencium bibirnya dengan menarik tengkuknya. Ciuman ini bagi Thomas untuk menuntaskan hasrat karena penat dan letih. Saat di sela-sela ciuman, Felix datang dari kamar dan memanggil Tina.


“Mom!”


“Mom!”


“Mom”, panggil Felix yang tadinya teriakan menjadi suara lirih ketika melihat Tina dan Thomas sedang ciuman.


Di saat sela-sela ciuman, Tina mendengarkan suara Felix memanggilnya lalu Tina mendorong tubuh Thomas kemudian menanyakan perihal Felix memanggilnya.


“Ada apa sayang?”, tanya Tina.


“Hai boy”, ucap Thomas menghampiri Felix dan menggendongnya.


“Aku lapar, ingin makan”, ucap Felix.


“Tunggulah, sebentar lagi selesai”, ucap Tina dengan menyalakan kompor.


Beberapa lama kemudian akhirnya masakan telah selesai dan mereka mulai menyantap masakan yang dibuat Tina. Setelah itu mereka melakukan kegiatan masing-masing.


Felix yang berada di kamar sedang berkutat dengan komputer barunya, yang baru saja dibelikan oleh ayahnya.


Sedangkan Thomas dan Tina sedang beradu ranjang karena Thomas tidak bisa menahan hasrat hingga esok pagi.


Tina mendapatkan ancaman dari seseorang tanpa nama membuat kepalanya pusing karena memaksa mengingat masa lalu kembali hingga ia pingsan tergeletak di lantai membuat Felix panik dan menghubungi Thomas.


Paginya Thomas berangkat kerja dan terlebih dahulu mengantar Felix ke sekolah. Setelah itu Tina berada di rumah sendirian.


“Felix!”, panggil Thomas dengan suara teriakan lalu Felix datang dengan berlari menghampiri ayahnya.


“Ayo boy, kita berangkat”, ajak Thomas dan berpamitan dengan Tina, “sweety, aku berangkat dulu”, ucap Thomas dengan mengecup kening Tina.


“Mom aku juga berangkat ke sekolah dulu”, ucap Felix.


“Iya sayang, hati-hati”, kecup Tina di pipi kanan Felix yang gembul.


“Bye mom”, pamit Felix dengan melambaikan tangan dan dibalas lambaian tangan Tina.

__ADS_1


Setelah mereka pergi Tina sendirian di rumah. Tidak lama di tinggal oleh Felix dan Thomas pergi, tiba-tiba ada suara bel dari luar, “ting tong, ting tong, ting tong”, lalu Tina pergi membuka pintu.


Tina melihat petugas paket lalu bertanya, “ada apa ya pak?”.


“Saya ke sini mengantarkan paket nyonya, apakah benar ini rumahnya Tina Refalino?”, ucap petugas paket.


“Ya”, jawab Tina. Kemudian petugas paket itu menyerahkan paket dengan bungkusan coklat dan kotak panjang diserahkan kepada Tina dan menyuruhnya tanda tangan sebagai penerima paket.


“Tolong tanda tangani nona sebagai penerima paket”, ucap petugas paket dengan menyerahkan paketnya kepada Tina.


“Thank you”, ucap petugas paket dan pergi meninggalkan istana milik Thomas.


“Ini paketnya isi apa ya?’, gumam Tina


Kemudian Tina langsung membuka paket di depan pintu, karena saking penasarannya tidak ada nama pengirim. Tina membuka dengan menyobek kertas cokelat dan membuka kotak tersebut lalu isinya sebuah burung potong dengan surat ancaman. Tina terkejut dan mengambil surat ancaman lalu ia membaca.


“Tina sudah aku peringatkan untuk segerahlah tinggalkan Thomas. Jika tidak, kamu akan seperti burung itu. Kamu tidak pantas dengannya. Wanita mur*han sepertimu itu lebih pantas dengan laki-laki sepadan dengan kamu. Aku tidak peduli dengan keadaan kamu yang amnesia. Itulah akibat kamu tidak mendengarkanku. Akhirnya kamu celaka sendiri. Segeralah tinggalkan Thomas. Pergilah jauh, kamu pasti akan selamat.


Salam dari pengagum rahasia Thomas”.


Setelah membaca surat itu, tiba-tiba kepala milik Tina merasa pusing dan keringat dingin keluar lalu tubuhnya lemas kemudian terhuyung dan pingsan bersama kotak berisi burung mati dan surat dalam genggamannya.


Berselang satu jam, Felix pulang ke rumah karena para guru sedang mengadakan rapat untuk pekan olahraga sebagai hari peringatan pahlawan. Felix dijemput oleh sang sopir petugas Thomas. Sesampainya di pelataran Felix berlari memasuki rumah. Saat membuka pintu, Felix menemukan Tina tergeletak lalu berteriak, “momy!”, dengan berlari dan menepuk pipi Tina.


“Momy! Momy! Momy!”, tiga kali panggilan dari bibir Felix Tina tak kunjung sadarkan diri. Lalu Felix menghubungi Thomas.


“Hallo dad, momy pingsan di depan pintu”, ucap Felix to the point. Thomas yang baru saja mengangkat telepon dari Felix saat sedang dalam perjalanan dinasnya mendapatkan kabar jika Tina pingsan. Lalu Thomas menyuruh sopirnya putar balik dengan ekspresi wajah khawatir dan memerintahkan sang sopir untuk melaju kecepatan tinggi dan menghubungi asistennya untuk menunda keberangkatan ke luar kota bertemu klien. Dia tidak peduli kehilangan uang, saat ini yang ia pedulikan wanitanya, orang terkasih Thomas.


Sedangkan Felix menyuruh pelayan dan penjaga mengangkat tubuh momynya di ranjang. Tidak membutuhkan waktu lama Thomas datang dengan membuka pintu kasar. Lalu memanggil Tina.


“Sweety! Sweety!, kamu kenapa bisa seperti ini?”, tanya Thomas dengan mencium tangan dan kening Tina.


Felix yang masih berdiri di samping Thomas memanggilnya.


“Dad”, panggil Felix dengan ekspresi serius dan Thomas menoleh ke sumber suara Felix.


“Iya boy”, ucal Thomas.


“Ada orang yang mengirimkan paket ancaman dad. Kita harus cari tahu dad”, ucap Felix.


“Siapa yang mengirimnya”, ucap Thomas dengan ekspresi dingin dan datar yang tadinya raut wajah lembut menjadi seperti iblis setelah mendengarkan ada yang mengirim paket ancaman.


“Pengirimnya anonim dad”, ucap Felix.


“B*ngsat”, marah Thomas.


“Boy, daddy akan cari tahu. Kamu temani momy mu. Daddy akan menghubungi anak buah daddy”, ucap Thomas dan diangguki oleh Felix sambil menyerahkan isi paket kepada Thomas. Setelah menghubungi anak buahnya, Thomas kembali ke kamar dan melihat Tina sudah duduk di kepala ranjang. Lalu Thomas menghampirinya.


“Sweety, are you ok”, ucap Thomas yang diangguki oleh Tina.

__ADS_1


“Syukurlah jika kamu baik-baik saja”, dengan mencium kening Tina sambil mengusap kepalanya.


Felix yang dalam pangkuan Tina melihat kehangatan Thomas yang diberikan kepada momy nya membuat Felix merasa senang dan mendapatkan peluang besar menyatukan ke dua orang tuanya lalu mendapatkan seorang adik bayi yang diidamkan oleh Felix.


__ADS_2