
Keesokan harinya Lauren membawa semua barang bawaannya setelah pria itu datang. Lauren membawa beberapa barang yang cukup untuk dia gunakan selama meninggalkan California. Barang bawaannya di bantu oleh si pria itu bernama Victor.
Lalu Lauren pergi tanpa pamit dan ucapan selamat tinggal untuk mereka yang membuat para pelayan merasa kebingungan.
Setelah selesai memasukkan semua barang Lauren, Victor kembali ke tempat kemudi untuk melajukan mobil menuju ke bandara.
Sementara Stefanus yang masih terlelap di atas sofa karena lelah tiba-tiba mendengar suara deringan ponsel yang mengganggu pendengarannya dan tidurnya. Stefanus mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja sambil matanya masih betah tertutup sebab dirinya masih lelah. Lalu ponselnya jatuh ke sofa membuatnya geram sampai dia mengabaikan dan menutup telinganya dengan bantal kursi.
Herlena tak kunjung mendapat jawaban dari Stefanus akhirnya membuat pesan.
Stefanus segeralah menandatangani surat cerai itu. Akan aku segera serahkan surat cerai itu untuk secepat mungkin. Mohon kerjasamanya.
Lalu Herlena menghembuskan nafas sejenak dan pergi menemui Gideon di ruang kerja. Sampainya di depan pintu ruang kerja Gideon, Herlena mengetuk pintu sambil membawa kopi hitam yang disukai olehnya. Gideon yang sedang bekerja menyuruh orang yang di luar masuk dengan suara keras. Kemudian Herlena masuk dan meminta maaf karena telah mengganggunya. Namun Gideon mengatakan bahwa dirinya tidak merasa terganggu soalnya dirinya tidak terlalu sibuk. Terus Gideon menyuruh Herlena untuk duduk di depan meja kerjanya.
“Kamu sedang mengerjakan apa sih Gideon?”, tanya Herlena dengan menggeser kursi tersebut dan menjatuhkan bokongnya di kursi depan meja kerja Gideon.
“Hanya beberapa dokumen pemasaran saja”, ucap Gideon dengan mengambil kopi hitam buatan Herlena dan meminumnya.
“O oo”, ucap Herlena dengan mangut-mangut.
“Ada apa Herlena?”, tanya Gideon di balik cangkir yang dia minum.
“Uhmm.. a.. aku ke sini untuk meminta sara kepada kamu Gideon”, ucap Herlena dengan ragu.
“Saran apa Herlena?”, tanya Gideon.
“Apakah aku lebih baik meminta maaf kepada Tina dan cucuku yang selama ini aku dzalimin?”, tanya Herlena.
“Harus Herlena, agar hidupmu tidak dihantui oleh rasa dengki dan berakhir dengan menyedihkan”, ucap Gideon dengan menatap wajah dengan lembut.
“Bagaimana aku dapat meminta maaf dengan Tina dan juga keluarganya meski aku belum pernah bertemu Gideon?”, tanya Herlena dengan menunduk kepala sambil menautkan jemarinya.
“Tidak ada kata bagaimana Herlena, Aku akan membantu kamu untuk meminta maaf kepada Tina. Mereka pasti akan menerima permintaan maafmu”, ucap Gideon.
“Ya Gideon, makasih”, ucap Herlena.
“Bagaimana dengan Stefanus, apakah dia sudah menandatangani surat perceraian kamu?”, tanya Gideon.
“Aku tadi sudah menghubungi namun Stefanus tidak mengangkat Gideon”, ucap Herlena.
“Besok kita temui dia”, ucap Gideon yang diangguki oleh Herlena.
Sedangkan Ellizabeth sedang tebar pesona dengan kecantikan wajahnya yang baru di lokasi syuting iklan. Ellizabeth menyapa beberapa kru dan produser yang sedang duduk-duduk di kursi.
“Hallo gaes, selamat pagi menjelang siang”, sapa Ellizabeth dengan senyuman merekah.
“Kamu tambah menawan saja Elli”, ucap salah satu kru pria.
__ADS_1
“Thank you”, ucap Ellizabeth dengan tertawa kemayu.
Saat sedang tebar pesona Amanda datang menyapa Ellizabeth yang telah lama menghilang dengan senyuman palsu.
“Hai Elli, sudah lama tidak berjumpa. Sepertinya kamu tambah cantik saja”, puji Amanda memandang gaya Ellizabeth dari atas sampai bawah.
“Oh tentu, uang tidak pernah bohong soal kecantikan apalagi perawatan yang mahal gitu”, ucap Ellizabeth dengan percaya diri.
“Iyalah, secara kamu sekarang lagi trending dan popularitas di majalah dan media sosial”, ucap Amanda dengan terus memuji-muji kinerja Ellizabeth.
“Iyalah, secara aku kerja keras sampai berdarah-darah dan berkeringat”, ucap Ellizabeth sambil memamerkan kuku cantiknya.
“Tentu saja sampai berdarah dan berkeringat, orang berkeringatan saja di ranjang dan darahnya menodai selimut juga seprai gimana tidak sampai puncak popularitas”, gumam Amanda dengan menyindir Ellizabeth yang setengah mendengarkan gumaman Amanda.
“Apa yang kamu katakan?!”, teriak Ellizabeth.
“Tidak ada”, senyum Amanda dengan terpaksa dengan pergi berlalu melewati Ellizabeth.
Setelah kepergian Amanda salah satu karyawan kru memanggil Ellizabeth dengan berteriak mengatakan untuk segera bersiap syuting iklan dan Ellizabeth berjalan ke arah tempat rias untuk bersiap-siap syuting iklan.
Di sebuah gedung konstruksi, di sana Thomas sedang melakukan pengecekan pembangunan yang sedang dibangun untuk proyeknya dalam bekerja sama dengan perusahaan PT Mandiri. Thomas sedang mengecek beberapa kayu yang diambil dari pabrik agar tidak mengecewakan kliennya.
Stefanus juga melihat arsitektur pembangunan agar gedungnya kokoh dengan di dampingi oleh seorang mandor yang mengarahkan pekerja proyek.
Setelah menyelesaikan pengecekan, Thomas memberikan penilaian dalam proyek tersebut. Kemudian Thomas kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa dokumen yang sedang dia review untuk pemasaran yang lebih luas.
“Dude, aku kira kamu seperti Stefanus. Ternyata otak cerdasmu di gunakan dalam hal yang benar. Akan aku tunggu kejuta darimu nak”, gumam Hans di dalam ruang kerjanya.
Lalu Jordhan datang mengetuk pintu dan Hans menyuruhnya masuk. Kemudian Jordhan menghampiri meja kerja Hans dengan menyerahkan dokumen hasil review rapat tiga hari yang lalu.
Terus Hans mengambil dokumen tersebut membaca hasil rapat yang dipimpin oleh Jordhan. Jordhan yang berdiri du depan meja kerja Hans menjelaskan proyek yang akan diluncurkan dan Hans mendengarkan seksama hingga sampai akhir dengan memutar kursi kerja ke samping kanan ke depan.
Lalu Hans merasa puas penjelasan yang diberikan oleh Jordhan. Kemudian Jordhan pamit undur diri setelah menyelesaikan pekerjaan yang diemban olehnya dari Hans.
Usai keluar dari ruang kerja Hans, Jordhan pergi mencari makan siang sendirian tanpa Rayhand. Kali ini Rayhan sedang ditugaskan untuk pergi dinas ke Swiss melakukan observasi masalah resort di sana.
Jordhan berjalan ke sebuah restoran dekat dengan kantor. Jordhan secara kebetulan bertemu dengan Laura yang sedang menggandeng gadis kecil yang akan masuk ke restoran. Lalu Jordhan memanggil Laura meskipun hanya mengenal sekejap saja waktu makan malam reuni.
“Laura!”, teriak Jordhan dengan melambaikan tangannya sambil berlari.
Lalu Laura menoleh ke sumber suara dan tersenyum dengan pipi tersipu saat Jordhan menghampiri dirinya.
“Ha..hai Jordhan”, sapa Laura dengan menutupi kegugupannya melihat Jordhan dari dekat.
“Hai uncle”, sapa dari Audrey dengan membawa boneka beruang dalam pelukannya.
“Hai sweety”, sapa Jordhan dengan mengusap kepala Audrey.
__ADS_1
“Kalian mau makan siang di sini?”, tanya Jordhan.
“Iya uncle”, sela Audrey.
“Kalau begitu kita makan bersama. Biar aku yang mentraktir kalian”, ucap Jordhan.
Kemudian mereka masuk ke dalam restoran tersebut dan mengambil tempat duduk di dekat jendela.
Setelah menjatuhkan bokongnya,Jordhan memanggil pramusaji dengan lambaian tangan. Dan pramusaji tersebut datang membawa buku menu. Terus memberikan kepada pelanggannya.
“Silahkan tuan di pilih menu makanannya”, ucap pramusaji laki-laki sambil mengeluarkan buku catatan.
“Saya pesan spagethi special dengan juice stroberry”, ucap Jordhan
“Aku ingin beef steak, kentangky, dan juice strobery seperti uncle”, ucap Audrey.
“Saya hamburger dan orange juice saja”, ucap Laura.
Usai semua pesanan telah di catat di buku nota sang pramusaji mengambil buku menunya dan mengundurkan diri.
Sembari menunggu hidangan yang dipesan datang mereka mengobrol seputar keluarga dan teman saja.
“Audrey dahulu dekat dengan Felix ya?”, tanya Jordhan.
“Iya uncle, aku dekat dengannya sebab dia teman bermain paling asyik dan selalu seru ketika mengajaknya untuk bertanding mobile legend”, ucap Audrey.
“Dia juga cerdas dalam hal matematika, bahasa, dan fisika sampai dijuluki oleh kak Laura sebagai profesor kecil. Kak Laura saja minta diajarin oleh Felix”, cerita Audrey dengan polos yang membuat Laura malu ketika Audrey mengungkapkan kebodohannya sambil menggaruk tengkuk tidak gatal. Jordhan yang mendengarkan hanya tersenyum melihat ekspresi malu Laura.
“Apakah dahulu aunty Tina begitu dekat sekali dengan uncle Keenan ya?”, tanya Jordhan.
Ketika Audrey akan melontarkan kalimat, tiba-tiba pelayan datang membawa hidangan yang mereka pesan. Setelah meletakkan semua hidangan sang pelayan laki-laki mengundurkan diri dengan mengatakan, “silahkan menikmati hidangannya”.
“Thank you”, ucap Jordhan.
Usai pelayan tersebut telah pergi, Jordhan bertanya kembali dengan mengulangi kalimat yang sebelumnya tidak di jawab oleh Audrey.
“Apakah dahulu aunty Tina begitu dekat sekali dengan uncle Keenan ya?”, tanya Jordhan.
“Iya, dahulu momyku dan momy Felix hamil dengan usia kandungan yang hampir sama. Kami hanya beda satu bulan dengan Felix. Jadi Felix lebih tua satu bulan dariku. Waktu aunty Tina hamil kata momy, uncle Keenan yang selalu menaninya sampai Felix sebesar aku”, ungkap Audrey dengan memakan kentangky.
Jordhan hanya mangut-mangut saja. Lalu beralih bertanya kepada Laura.
“Laura, apakah kamu sudah memiliki kekasih”, tanya Jordhan.
“Kak Laura sudah punya sekarang dia di London”, sela Audrey sampai bibirnya dibengkam oleh Laura. Laura hanya tersenyum dan menjawab lirih, “dia hanya teman”, dengan senyum unjuk gigi.
Beberapa lama kemudian usai selesai bercerita dan bertanya mereka berpisah. Laura dan Audrey kembali ke apartemen Keenan sedangkan Jordhan kembali ke kantor.
__ADS_1