Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Berkumpul Kembali


__ADS_3

Tina saat ini sedang berpelukan dengan ayahnya yang sudah lama berpisah enam tahun lebih. Pelukan itu mulai merenggang dan Hans meminta penjelasan dari putrinya. Namun sayang, Tina tidak ingat apa-apa dan membuat Hans sedih.


"Nak, kamu kemana saja selama ini? daddy begitu merindukan kamu sayang?"


"Maaf selama ini Tina pergi tanpa pamit sehingga membuat kalian kerepotan mencariku dad, mom"


"No sweety, apakah kamu bisa jelaskan apa yang terjadi selama ini?"


"Uhmm.. maaf dad, aku tidak ingat", ucap Tina dengan ekspresi sedih.


Lalu Alena menimbrung pembicaraan mereka, "honey dia hilang ingatan,ceritanya panjang, lebih baik kita duduk sambil mengobrolnya", senyum terpatri di wajah Alena untuk orang-orang tersayang.


"Sayang, kenapa kamu sampai begini", sedih Hans pada putri semata wayangnya dengan mengecup kening Tina.


"Sudahlah Hans jangan berlarut-larut bersedih, aku kenalkan nih pria kecil kita yang dalam pangkuanku..", ucap Alena


Hans yang mendengarkan ucapan Alena menoleh dengan alis berkerut dan meminta penjelasan.


"Hans, dia cucu kita anak dari putri kamu", ucap Alena


Felix yang dalam pangkuan Alena memanggil Hans dengan sebutan kakek dengan tangan terulur dan menampilkan wajah imutnya.


"Dia cu..cucuku", kata Hans yang masih tidak percaya dan diangguki oleh Alena.


"Kakek salam kenal. Namaku Felix", ucapnya dengan sopan.


"Hai boy!", sapa Hans dengan mengusap kepala Felix.


Lalu Hans mengambil alih tubuh Felix dalam pangkuan dan memeluk bocah kecil itu. Tina yang melihat kedua orang tuanya mau menerima anaknya sangat bahagia. Padahal dahulu sebelum ia hilang ingatan, dia sangat takut tidak menerima anak di dalam kandungannya dan mengecewakan mereka. Namun bayangan buruk itu menghilang ketika melihat kedua orangtuanya menerima Felix dengan tangan lebar dan kehangatan meski Tina saat ini tidak mengingat apa-apa tetapi dia bersyukur anaknya diterima dengan pelukan hangat.


Setelah melepaskan kerinduan yang telah lama berpisah, saat ini Tina sedang membantu ibunya membuat camilan dan makan malam. Sementara Felix sedang bermain dengan kakeknya di ruang tengah. Kakeknya mengajak dia bermain catur dan membuat kakeknya selalu kalah. Hans begitu senang dan bangga pada cucunya memainkan catur. Kecerdasan yang melebihi dari seumurannya ataupun orang dewasa. Hans menggendong Felix lalu diterbangkan sampai Felix tertawa dan Hans mulai kewalahan.


"Aduhh, kakek sudah lelah, mungkin ini efek sudah tua", ucap Hans yang duduk di sofa dengan kaki terbuka dan menyandarkan punggung.


"Salah kamu sendiri Hans, sudah tahu tua masih saja main seperti tadi", omel Alena dari belakang dengan membawa minuman soda segar dan diikuti Tina membawa camilan yang dibuat.


"Makanlah nak", tawar Alena dan Felix turun dari sofa mengambil camilan.


Setelah mencicipi Felix memuji masakan neneknya dan momynya.


"Wahh, rasanya manis dan gurih. Ini sangat lezat sekali grandma"

__ADS_1


"Thank you sayang", dengan mencium pipi gembulnya begitu gemas dan Tina melihat interaksi mereka dadanya terasa hangat dan bahagia.


Kemudian Hans menanyakan ayah dari cucunya.


"Siapa pria yang sudah membuat putriku melahirkan seorang pria mungil ini?"


"Dia bernama Thomas honey", jawab Alena.


"Besok suruh dia datang menemui daddy"


Tina mengangguk kepala sebagai tanda terima perintah dari ayahnya.


Hans saat ini menerka-nerka nama pria tersebut sebab dia tidak begitu menyukai nama Thomas karena nama itu selalu dia hindari apalagi nama belakang Stefanus. Membuat Hans penasaran dengan pria tersebut yang bernama Thomas. Hans juga berdoa nama itu tidak dalam keluarganya.


Itu bukan Thomas Stefanus kan? Aku tidak terima menerima darah daging dari keluarga Stefanus yang licik dalam bisnis.


Sementara Thomas yang telah kembali mencari Tina di apartemen di setiap sudut ruangan tidak ada yang terlihat batang hidungnya. Lalu Thomas menerka keberadaan Tina.


Dia kemana? Apakah dia bermain ke apartemen Keenan. Coba aku cari diapartemennya.


Lalu Thomas berspekulasi jika Tina berada di apartemen Keenan.


Tina telah sampai di apartemen saat ini ia tempati bersama Thomas dan Felix dan mendengar suara deringan ponsel di tas selempangnya. Sedangkan Felix masuk ke kamar.


"Hallo Thomas"


"Hallo sweety, kamu kemana? aku mencarimu di mana-mana namun tidak ada sampai aku mengetuk keras apartemen Keenan"


"Aku ada di apartemen Thomas"


"Di apartemen?", tanya Thomas dengan kedua alis mengerut.


"Iya, jika tidak percaya aku akan berikan pada Felix"


"Tidak perlu, aku akan segerah ke sana"


Thomas kembali lagi ke apartemennya dengan menekan tombol kode di pintu apartemen lalu membuka dan pergi ke kamar lalu Thomas menarik lengannya yang akan pergi melangkah ke kamar mandi kemudian membuat Tina terhuyung ke depan menabrak dada bidang milik Thomas dan Tina merintih, "auch", dan Tina bertanya, "ada apa Thomas?", dengan nada kesal.


Tetapi Thomas tidak menjawab namun malah mencium bibirnya dengan bertukar oksigen setelah itu Thomas menggendongnya yang membuat Tina terkejut.


"Thomas turunkan aku! "

__ADS_1


"Thomas, aku lelah!"


Tina terus memukul dada bidangnya sambil menggerakkan kakinya tapi Thomas menulikan teriakan Tina.


Thomas membawa Tina ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi bersama sampai mereka keluar dan berlanjut kembali hingga terlelap di ranjang dengan berpelukan karena kelelahan


Paginya Thomas menunggu Tina terbangun dari alam mimpi dengan mengecup kedua matanya dan menikmati wajah tidurnya yang terlelap sampai Thomas memujinya.


Sweety kamu begitu cantik dan sexy saat kamu tidur maupun ketika kamu memasak.


Thomas mencium kembali namun kali ini mendarat di bibirnya dan membuat Tina terbangun dari alam mimpi dengan membuka mata pelan-pelan untuk menyesuaikan sinar terang dari celah jendela dan tampak wajah Thomas yang tersenyum.


"Thomas"


"Ya, sweetheart" dengan senyuman hangat dan lembut yang terpatri di wajahnya.


Tina yang melihat senyuman menawan membuat dirinya merinding sebab ada maksud tertentu.


Laki-laki ini sungguh menawan ketika senyum yang terpatri di wajahnya namun senyuman itu bukannya memberikan kenyaman tetapi ada sesuatu tertentu di balik senyuman yang diberikan Thomas untukku. Pria ini sungguh tidak ada puasnya membuatku kelelahan. ha..


"Sweety tidurmu sangat cantik", sambil menyingkirkan anak rambut dan menjepit kaki kirinya di bawah selimut dan Tina merasakan sesuatu seperti batu yang menjanggal diperutnya. Seperdetik kemudian Tina mendorong tubuh Thomas namun apalah daya tidak bisa menyingkirkan tubuh kekarnya yang bertenaga besar. Thomas yang melihat Tina ingin menyingkirkannya membuat dia tersenyum miring.


Lalu Thomas membisikkan sesuatu.


"Sweety, kita lakukan kembali"


"No!", geleng Tina.


"Tapi aku membutuhkan kamu"


"Please Thomas aku lelah, aku juga harus menyiapkan makan pagi untuk Felix"


"Ini hari minggu sweety, untuk kita berdua"


"Tapi Felix tetap membutuhkan sarapan"


"Kalau begitu kita selesaikan dengan cepat, agar Felix tidak menunggu sarapan pagi dengan lama"


Kemudian Thomas mulai aksinya hingga kembali terkapar dan sarapan kali ini Felix hanya diberi roti dan selai coklat akibat kelelahan berolahraga yang aneh tersebut dan Felix menikmati sarapan menu paginya dengan roti selai coklat saja tanpa mengeluh.


Tina melirik Thomas dengan rasa sebal di hatinya dan Thomas yang merasakan bahwa Tina saat ini kesal dia tersenyum dengan mengedipkan mata kanan. Tina yang melihat itu membola tanpa sepengetahuan Felix.

__ADS_1


__ADS_2