Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Terusik 2


__ADS_3

Esoknya Lauren telah tiba di gedung nan megah dengan memakai dres putih yang mengetat di tubuhnya dengan gaya rambut baru dan memakai kacamata hitam. Dia datang untuk pemotretan iklan shampo. Dia pergi masuk dengan diikuti satu manager dan dua pengawal bak seorang putri. Lauren pergi menemui prodeuser iklan.


Lauren memberikan salam untuknya dan mengatakan permohonan maaf soal rambutnya yang tidak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Lauren juga menjelaskan mengenai rambutnya yang panjang harus di potong. Namun sang produser itu tidak perduli dan malah menyuruh Lauren untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.


“Duduklah!”, perintahnya.


“Ada apa ya mister?”, tanyanya dengan ekspresi polos.


“Saya sebenarnya ingin menggantikan kamu dengan orang lain setelah mendengar kabar bahwa rambutmu sudah dipotong dan menyimpang isi surat perjanjian. Namun saya urungkan kalau bukan karena Stefanus memberikan donasi lebih untuk perusahaan ini. Jadi kamu masih bisa ikut iklan shampoo dengan rambut sambung”, ucap produser tersebut.


“Maaf pak”, ucap Lauren dengan menyesal.


“Kata maaf juga tidak bisa mengembalikan rambut kamu. Lain kali berhati-hatilah”,tukas produser itu.


“Saya janji akan berhati-hati kembali”, ucapnya.


“Sekarang kamu boleh keluar dan bersiap-siap untuk iklan shampo”, perintah produser itu.


Lalu Lauren pergi meninggalkan ruang kerja produser tersebut dengan mendengus kesal.


Ini semua gara-gara kamu bocah. Awas saja akan aku balas dua kali lipat dan bersamaan dengan momy-mu.


Lauren berjalan ke ruang rias untuk iklan shampo. Beberapa lama kemudian Lauren sudah bersiap untuk pemotretan dan syuting dengan arahan produser.


Sementara Felix tengah disibukkan dengan ekstrakurikuler yang diembaninya. Dia tengah belajar musik dan piano sebagai tambahan waktu menyalurkan hobinya selain memprogramkan komputer dan merakit robot.


“Nah, anak-anak semua kalian dengarkan suara tuts yang ibu pencet dan kalian menyebutkan bagian minor”, ucap guru piano tersebut.


“Baik bu!”, seru siswa.


Guru piano itu mulai memencet tuts nada. Para siswa berantusias untuk mengangkat tangan. Meski jawaban mereka banyak yang salah namun pelajarannya cukup menyenangkan dan menikmati alunan musik yang diberikan oleh Felix. Wily yang berada di bangku belajar mengakui kepintaran temannya walaupun tidak depan Felix.


Tina yang tengah makan bersama Keenan tiba-tiba Ellizabeth datang dengan menyerobot obrolan dengan pedas.


“Ternyata kamu tidak lebih baik dariku. Kamu wanita murahan yang suka obral ke laki-laki lain di belakang suami kamu”, sinis Ellizabeth.


Keenan yang berada di sampingnya merasa geram namun dicegah oleh Tina untuk tenang.


“Kamu itu tidak pantas bersanding dengan Thomas tahu gak wanita jal*ng. Harusnya Thomas itu membuka matanya dengan lebar melihat kelakuan istrinya yang dibelakangnya. Apa sih kelebihan kamu sampai Thomas kepincut dengan wanita murahan sepertimu? “, sarkas Ellizabeth dengan senyum sinis.

__ADS_1


Tina lalu beranjak dari duduk dan membelai pipi Ellizabeth dengan tatapan tajam.


“Asalkan kamu tahu ya Elli, Thomas itu bukan barang yang bisa kau paksakan untuk menjadi milikmu. Dia mencintaiku dengan tulus begitu sebaliknya walaupun kamu terus mengusik rumah tanggaku tapi aku akan tetap berada di samping Thomas sekalipun itu kamu”,hardik Tina dengan telunjuk terus menonjok-nonjok dadanya.


“Oh ya, lihat saja siapa yang akan menang”, jengkel Ellizabeth dengan pergi berlalu membawa kekalahannya.


Keenan yang sejak tadi menonton langsung memuji aksi yang dilakukan oleh Tina.


“Wah, sekarang kamu jadi wanita pemberani”, pujinya dengan senyuman hangat yang terpatri di bibirnya sambil mengusap kepala Tina namun dicegah oleh Thomas yang tiba-tiba datang.


“Kamu jangan menyentuh kepala istriku”, ucap Thomas dengan mengingatkan.


Keenan mengangkat tangan sambil berkata, “kamu terlalu possesive man”.


“Itu bukan urusan kamu. Aku berhak mengingatkan kepada setiap laki-laki sepertimu itu yang ringan tangan berani menyentuh istri orang lain”, ucap Thomas dengan ekspresi dingin sambil mencium pelipis kiri istrinya.


“Ok. Tina aku pamit dahulu takut nyawaku akan melayang setelah melihat ekspresi wajah suamimu seperti es balok”, ledek Keenan dengan pergi berlalu membawa mantel coklatnya.


Setelah kepergian Keenan, Thomas mengajak Tina pergi meninggalkan restoran ke suatu tempat.


“Sweety, apa acara makannya kamu sudah selesai?”, tanya Thomas.


“Kalau begitu kita pergi dan pindah ke tempat lain”, ucap Thomas.


“Kamu mau mengajakku kemana honey?”, tanya Tina.


“Itu rahasia sweety. Sekarang ikutlah denganku sweety”, ucap Thomas dengan menarik tangan Tina.


Thomas melajukan mobilnya dan membawa Tina ke butik untuk berganti gaun yang sudah dipilihnya. Tina mengikuti perkataan Thomas meski berat. Di sana Tina di poles seperti bak bidadari yang telah turun dari langit. Kecantikan Tina tidak bisa mengalihkan pandangan Thomas yang terlihat begitu kagum.


Lalu Thomas membukakan pintu mobil untuk mempersilakan Tin masuk. Thomas melajukan mobilnya kembali dan membawa ke sebuah villa milik Gideon. Beberapa lama kemudian Thomas dan Tina telah sampai di sebuah pelataran Villa nan megah.


Sebelum turun dari mobil Thomas menghubungi seseorang di seberang sana.


“Hallo, kami sudah sampai. Kalian bersiap-siaplah”, ucap Thomas.


“Baik Thomas”, ucap Jordhan.


Lalu Thomas masuk dengan menggandeng tangan Tina menuju ke ruang VIP.

__ADS_1


“Thomas kita sebenarnya mau apa sih datang ke Villa?”, tanya Tina.


“Kamu ikut saja, nanti kamu akan tahu”, ucap Thomas.


Ketika lift berbunyi berdenting dan membuka, Thomas dan Tina keluar menuju ruangan dengan pintu yang megah dan dipenuhi ukiran klasik.


Ketika Tina dan Thomas masuk tiba-tiba disuguhkan oleh sosok pria mungil yang tengah memainkan piano membuat Tina terharu.


“Oh my god, aku tidak menyangka putra kita pintar bermain alat musik honey”, ucap Tina.


Thomas mendengar ucapan Tina tersenyum.


Lalu Felix menyudahi permainannya dan menghampiri momy-nya dengan membawa bunga sambil mengucapkan, “selamat ulang tahun mom”.


“Thank you boy”, peluk Tina.


Kemudian diikuti oleh keluarga besar beserta teman-teman terdekatnya.


“Happy brihtday”, seru mereka bersamaan.


“Thank you”


Setelah mereka mengucapkan kemudian bergantian dengan Thomas mengucapkan ulang tahun istrinya.


“Happy brithday sweety”, ucap Thomas dengan membawa bunga dan kado untuk istrinya yang berulang tahun. Lalu menciumnya tanpa izin sampai semua orang bersorak. Sementara Felix tidak bisa melihat momen momy dan daddy-nya berciuman karena terhalang oleh tangan Laura.


“Thank you Thomas”, kecup Tina.


“I love you”, ucap Thomas.


“I love you too”, senyum Tina.


Ketika mereka sedang saling memandang, Rayhan mengganggu keromantisan mereka.


“Gaes kapan kita makan dan menyincipi camilannya?”, tanya Rayhan.


“Iya benar, tapi tunggu setelah Tina meniup lilin ulang tahunnya”, ucap Grace.


“Ok, ok, kita tiup dan makan”, ucap Tina dengan tawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2