
Tatkala Herlena sedang ingin menyendiri, saat ini Stefanus sedang menggendong putranya di mansion lain bersama Lauren. Stefanus sudah tidak memperdulikan keberadaan Herlena yang kesepian. Dia melupakan istrinya yang sudah bertahun-tahun menjaganya. Membuat Thomas geram dengan perilaku Stefanus yang telah menyakiti Herlena. Lalu Thomas mengambil langkah dengan membeberkan soal perselingkuhannya dengan Lauren yang sudah lama dia kumpulkan.
Thomas menghubungi Jordhan untuk membantunya menyebarkan skandal Stefanus dengan Lauren. Jordhan yang sedang sibuk bekerja setelah di angkat menjadi direktur oleh Hans beberapa hari tiba-tiba ada suara deringan ponsel yang mengganggu saat dia sedang fokus kerja dan membuatnya kesal.
"Siapa sih yang menggangguku, tidak tahu apa aku sedang menyelesaikan pekerjaan rumit ini", ucap Jordhan.
"Hallo", sapa Jordha dengan ketus.
"Hallo Jordhan, aku mau minta tolong untuk segera menyebarkan skandal Stefanus dengan Lauren", ucap Thomas.
"What's?! Kamu gila Thomas", umpat Jordha dengan terkejut.
"Iya aku gila Jordhan, ketika melihat momy ku sedih dan menderita atas sikap Stefanus", ucap Thomas dengan geram.
"Jika itu keputusan kamu, aku akan menyelesaikan perintahmu", ucap Jordhan.
"Thanks", ucap Thomas.
Thomas yang berada di blakon sudah tidak peduli dengan Stefanus yang notabenenya ayahnya sendiri karena dia sudah keterlaluan dan kelewat batas terhadap ibunya.
Beberapa lama kemudian ada berita yang menghebohkan mengenai Stefanus bersama Lauren tentang skandal perselingkuhan. Wajah mereka terpampang dimana-mana. Stefanus dan Lauren marah dengan kelimpungan ketika melihat berita itu di mana-mana.
"Sial, siapa yang berani menyebarkan berita?", amarah Stefanus.
"Uncle ini gimana? Aku tidak mau reputasiku menjadi pelakor. Kita kenapa bisa begini. Aku mau uncle menghentikan media-media tersebut yang menyebar berita kita", omel Lauren dengan mondar mandir di ruang tengah sambil menggigit jari.
"Uncle mendengarkan tidak?!", bentak Lauren.
"Diamlah! aku juga sedang berpikir!", amarah Stefanus.
"Ya, berpikirlah segera jika tidak kita menjadi tranding topik di mana-mana", kesal Lauren dengan geregetan dan berjalan ke kamar menutup diri.
Sementara Herlena yang sedang berada di rumah menangis tersedu-sedu saat melihat siaran TV dan mendapatkan kiriman dari teman-temannya mengenai perselingkuhan Stefanus dan Lauren. Herlena masih tidak percaya. Dia sudah menganggap Lauren seperti anaknya sendiri namun di belakang ia menusuk.
__ADS_1
Gideon yang telah sampai di kediaman Stefanus berlari menemui Herlena sampai harus melewati penjaga dari Stefanus dengan kekerasan.
Gideon mendobrak pintu dan berjalan sampai di ruang tengah melihat Herlena yang sedang menangis histeris di lantai. Gideon mencoba mendekati lalu memeluk Herlena yang selama ini telah menderita.
Di dalam peluka Gideon, Herlena mengadu kepada Gideon tentang hatinya yang sakit.
"Gideon aku harus bagaimana? Kenapa mereka tega denganku? Aku sudah menganggap Lauren seperti putriku",ucap Herlena di balik tangisan yang tersedu-sedu. Gideon yang memeluk Herlena hanya dapat menenangkan dengan mengusap punggungnya.
Sedangkan Thomas yang menyebarkan kebusukan Stefanus merasa lega yang selama ini dia pendam untuk kebaikan ibunya. Saat ini Stefanus sedang di ruang tengah melihat siaran berita tentang skandal Stefanus dengan Lauren.
**Reporter:
Permisa sekarang ini saya berada di mansion milik Stefanus bersama Lauren setelah mendapatkan notif dari anonim. Kami berada di luar pagar menunggu klarifikasi dua sejoli tersebut. Ketika kami menyambangi mansionnya sepertinya tuan Stefanus belum dapat memberikan klarifikasi atas perselingkuhan dibelakang nyonya Herlena. Kami akan menunggu mereka sampai keluar. Tunggulah klarifikasi dari tuan Stefanus pengusaha resort yang terkenal itu**.
Thomas yang menonton siaran itu merasa lega. Namu berbeda dengan Thomas yang melihat berita itu dengan merasa senang. Tina yang berada di samping Thomas malah merasa sedih melihat berita ayahnya Thomas terlibat skandal dengan wanita yang masih belia yang seumuran dengannya.
"Thomas apakah kamu tidak merasa sedih melihat daddy kamu seperti itu?", tanya Tina dengan polos.
"Sudahlah, tidak perlu sedih melihat dia dalam berita. Itu sudah sepantasnya menerima semua dosa yang telah ia lakukan meskipun dia ayahku, sweety", ucap Thomas dengan pandangan lurus melihat siaran berita skandal Stefanus dan Lauren.
"Benar mom kata daddy, setiap manusia yang berbuat buruk pasti ada imbalan yang buruk juga", ucap Felix yang duduk di sofa single sambil mencomot keripik jagungnya.
"Aku setuju dengan perkataan putraku", kekeh Thomas.
"Yaampun ayah dan anak begitu kompak",puji Tina dengan berjalan mendekati Felix sambil mencubit pipi gembulnya dengan gemas.
"Siapa sih yang ngajarin kata-kata itu", ucap Tina yang masih betah mencubit pipi putranya.
"Ada deh mom. Sekarang lepasi pipiku mom", ucap Felix dengan memohon.
"Baiklah", kekeh Tina.
Jordhan yang berada di kantor tidak habis pikir dengan sikap Stefanus yang begitu teganya berbuat hal yang tidak moral di belakang istrinya apalagi Lauren yang notabenenya akan di jodohkan oleh Thomas ternyata di balik semua itu hanya sebuah siasat saja. Begitu juga yang dipikirkan oleh Reyhan.
__ADS_1
Sementara Herlena bersama dengan Gideon di mansion miliknya. Gideon membawa Herlena di kediaman karena di mansionnya sedang di buru oleh wartawan. Sehingga Gideon tidak tega apabila melihat Herlena dirubungi oleh wartawan tentang kasus skandal mengenai Stefanus.
Gideon yang berada di dekatnya mulai bersuara.
"Apakah sekarang sudah lebih baik?", tanya Gideon.
"Ya, aku lebih baik setelah berada di mansion kamu", ucap Herlena.
"Ap.. apakah aku boleh berabring di pangkuan kamu?", tanya Herlena sedikit meringis.
"Tentu babby, dari dulu aku selalu memberikan kamu kelonggaran untuk bersandar di tubuhku saat kau sedih ataupun susah", ucal Gideon dengan menepuk kaki pahanya yang masih terlihat kokoh.
"Aku jadi teringat waktu kita kecil", ucap Herlena bercerita masa lalu.
"Dahulu kamu selalu melindungiku ketika aku menangis, terluka, apalagi saat aku bertengkar dengan kedua orang tuaku. Kamu selalu tidak pernah lepas dari pandanganku", cerita Herlena. Gideon yang mendengarkan cerita Herlena hanya mengusap kepala dan tersenyum ketika mengingat masa kecil.
Ketika dia sedang bercerita saat ini, Herlena tertidur dalam pangkuannya karena lelah menangis dan terluka hatinya yang diakibatkan oleh Stefanus.
Stefanus yang baru sampai di kediaman mansion utamanya mencari Herlena di sudut ruangan seperti akan melimpahkan kemarahannya terhadap wanita yang selalu menemani bertahun-tahun namun nihil.
Stefanus melemparkan benda di sekitar sebagai pelampiasan kemarahan setelah beradu mulut dengan Lauren.
Stefanus berjalan bertanya kepada salah satu pelayan perihal Herlena pergi.
"Pelayan!!", teriak Stefanus.
Kemudian salah satu pelayan datang menghampiri Stefanus dengan berlari tergopoh-gopoh di ruang tengah.
"Ada apa tuan?", tanya si pelayan perempuan.
"Kamu tahu dimana Herlena pergi", ucap Stefanus dengan amarah sambil berkacak pinggang.
"Dia dibawa oleh laki-laki yang seumuran dengan tuan", ucap si pelayan perempuan. Stefanus lalu menduga-duga.
__ADS_1
Siapa yang membawa Herlena dengan umur yang sama denganku. Ataukah Gideon yang membawanya. Oh ****!
Stefanus langsung pergi tanpa kata dengan melangkah yang lebar meninggalkan mansion utamanya yang telah berantakan dengan tatapan menyalang dan ekspresi wajah penuh dengan kemarahan.