Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Kehebohan dari Sang Pengusaha


__ADS_3

Flashback.


“Aku harus cari tahu obat yang tertanam dalam tubuhku sebelum aku menjalankan aksi yang sudah aku rencanakan”, gumam Victor.


Victor pergi menuju ke rumah sakit dimana tidak berhubungan dengan kuasa Thomas.


Victor mengambil nomor antrian setelah mendaftarkan diri di bagian administrasi. Victor menunggu sampai nama dirinya disebut.


Victor memasuki ruangan dokter spesialis organ dalam.


“Silahkan duduk”, ucap dokter perempuan tersebut.


“Ada keluhan apa mister? “, tanya dokter itu.


“Apakah anda bisa membantuku untuk memeriksa obat yang tertanam dalam tubuhku?”, tanya Victor. Dokter mendengarkan pertanyaan Victor mengerutkan dahinya karena tidak mengerti maksud dari pria tersebut.


“Obat yang tertanam?”


“Ya, aku mau tahu jenis obat dalam tubuhku yang tertanam. Saya hanya perlu jenis obat yang mengalir dalam tubuhku. Apakah kamu bisa membantuku?”, ucap Victor.


“Anda tidak usah banyak berfikir dan periksa tubuhku yang sedang terjadi”, ucap Victor kembali.


“Baiklah”, ucap dokter tersebut.


“Mari ikut saya ke lab untuk mengetahui keadaan organ anda”, ajaknya.


Victor mengikuti langkah dokter itu sampai ke lab. Sampainya di ruang lab, dokter perempuan itu menyuruh Victor untuk berganti baju pasien yang tersedia dalam lab. Usai berganti, Victor berbaring di tempat pemeriksaan. Lalu dokter itu mulai pemeriksaan.


Dokter mengamati organ dalam Victor dengan seksama sampai satu setengah jam berlalu. Kemudian dokter itu menyuruh Victor menerima hasil labnya dua hari atau seminggu setelah melalui rangkaian pemeriksaan.


Victor tidak bisa menerima hasil itu dalam waktu lama sehingga Victor berani merogoh uang lebih untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang secepatnya. Ketika dokter itu akan menolak, Victor lebih dulu mencegah dengan nada tinggi dan ekspresi wajah frustrasi. Lalu dokter itupun menyangguhkan permintaan Victor dengan mengatakan kalau dirinya akan mendapatkan hasil lab besok paginya. Victor pun merasa lega dan mengucapka kepada dokter tersebut.


Esok harinya Victor menyambangi rumah sakit setelah mendapatkan kabar bahwa hasil labnya telah keluar. Victor memasuki ruang dokter spesialis organ dalam.


“Silahkan duduk tuan”, ucap dokter tersebut memberikan hasil pemeriksaan yang telah keluar.


“Silahkan dibuka, jika ada yang mau di tanyakan akan saya jelaskan sebisa mungkin”, ucap dokter itu.


Victor membuka hasil lab dengan dada kembang kempis. Mata Victor membelalak dengan hasil tes yang dia dapatkan. Diri Victor merasa luruh.


“D..do.. dok a.. apakah ini hasil tes m..milikku”, ucap Victor dengan gagap dan tak percaya.


“Iya, itu hasil pemeriksaan yang anda lalu”, ucapnya.


“Tak mungkin dok, ka..kalau saya mengidap kanker lambung. Saya hanya terkena obat yang mengandung racun!”


“Tapi itu hasil pemeriksaan yang real dan pemeriksaannya juga gak mungkin salah. Saya sudah mengecek berulang kali. Anda tidak terkena racun apa pun. Di sek darah anda hanya ada bekas obat bius saja”.


“Jadi dia membohongi aku hanya untuk menjeratku dan menjebak Laura saja”, gumam Victor dengan linglung lalu pergi keluar tanpa pamit sambil melamun.


Ia berjalan sampai ke arah tol dan berhenti di jembatan sambil berteriak dengan lantang dan menagis sampai suara petir menggelegar dan hujan pun turun membasahi sekujur tubuhnya.


Flashback off


Victor masih tidak bergeming dan akhirnya Jordhan mengambil langkah dengan memanggil salah satu anak buahnya untuk membuat Victor tersiksa sampai ajalnya tiba.


Jordhan menghubungi Thomas kalau Victor tidak memberikan keterangan apa pun. Jordhan juga memberitahu kepada Thomas bahwa dia sudah menyelesaikan tugasnya apa yang diperintahkan. Thomas menutup sambungan telepon sepihak.


Jordhan berjalan pergi meninggalkan markas tersebut menuju ke kantor untuk melanjutkan tugasnya.

__ADS_1


Paginya, Thomas telah bersiap untuk siaran pers bersama Tina yang tengah menunggu di kursi roda. Thomas juga tidak sabar menyelesaikan semua urusan agar bisa berakhir dengan bahagia bersama keluarga kecilnya.


Thomas berjalan melewati para wartawan dan penjaga dengan mendorong kursi roda milik Tina dengan di dampingi oleh Jordhan bersama putra sematawayangnya.


Para wartawan sudah tidak sabar untuk mengunggah berita panas dari sang presdir millioner tersebut. Antusias itu juga di tunggu oleh keluarganya, para tetua dan masyarakat umum lainnya.


Kini nasib Lauren di sel tahanan begitu buruk sampai tubuhnya kurus. Sementara Stefanus hanya mampu berharap agar Thomas mau membebaskan Lauren setelah masa hukuman yang disepakatinya selesai.


Jordhan maju untuk mewakilkan Thomas sebagai pembukaan acara pers.


“Para hadirin dimohon untuk tenang agar Mr. Thomas dapat memberikan penjelasan kepada anda sekalian. Di mohon wartawan untuk tidak memotong pembicaraan ketika Mr. Thomas tengah menjelaskan kejadian yang di alami dalam keluarga kecilnya”, ucap Jordhan dan memberikan kode kepada Thomas untuk membuka suara.


“Saya akan jelaskan perihal kejadian satu minggu berlalu. Saya akan memperlihatkan dalang orang yang ingin mencelakai istri saya. Sebelum penanyangan dimohon para wartawan untuk tetap tenang”, ucap Thomas. Lalu Thomas memerintahkan Jordhan membuka video bukti kejahatan Lauren.


Pada saat penayangan kedok kejahatan Lauren, para wartawan heboh dan para netizen berbondong menyumpahi aktris bernama Lauren sampai hewan kaki empat dikeluarkan semua oleh para netizen yang kejam. Stefanus yang melihat semua unggahan komentar netizen membuatnya khawatir dengan keadaan Lauren di sel tahanan.


Ketika sedang mondar mandir memikirkan untuk mengeluarkan Lauren tiba-tiba ada suara deringan ponsel dari anak buahnya.


Stefanus men-deal up sambungan telepon dari anak buahnya.


“Halo Dion, ada apa?”


“Maaf tuan mengganggu. Saya mau mengabarkan keadaan nona Lauren kalau dia dilarikan ke rumah sakit akibat pembullyan para wanita sel tahanan”.


“Aku akan ke sana”, ucap Stefanus dengan bergegas pergi melihat keadaan Lauren di klinik.


Beberapa lama kemudian Stefanus telah sampai ke klinik dan langsung menemui Lauren dengan ekspresi antara sedih dan marah.


Stefanus mendapatkan izin dari penjaga tahanan.


Saat Lauren tengah diinfus, Stefanus menghampiri Lauren dengan memanggil namanya dengan lembut.


“Uncle tolong selamatkan aku.. huhu..aku gak mau begini. Tolong bilang ke Thomas untuk mencabut hukuman itu.. huhu..”, ucap Lauren dengan nada menyesal.


“Tenanglah Lauren, aku akan usahakan untukmu jika kamu berjanji untuk tidak mengusik mereka kembali”, ucap Stefanus.


“Iya, aku berjanji untuk pergi meninggalkan California dan ikut dengamu juga putra kita”, ucap Lauren dengan sesenggukan.


“Baiklah, nanti aku akan bicarakan kepada Thomas”, ucap Stefanus.


Sementara di tempat lain Thomas tengah menjawab segala pertanyaan dari para wartawan.


“Tindakan apa yang anda ambil untuk menghukum para tersangka yang sudah berani mengganggu kehidupan rumah tangga anda?”, tanya salah satu wartawan itu.


“Saya sudah ambil tindakan secara hukum dan memberikan mereka jera agar tidak lagi mengganggu istri dan anak saya”, jawab Thomas.


“Sejak kapan anda mempunyai istri dan anak umur sekitar tujuh tahun?’, tanya wartawan kembali.


“Sebenarnya..,” Thomas melirik ke arah Tina yang tenang menghadapi para wartawan.


“Saya menikah belum lama ini. Kenapa saya memiliki anak umur tujuh tahun? Karena kecelakaan one stand nigh. Saya bersyukur bertemu mereka kembali setelah enam tahun dan kami bersatu dalam ikatan pernikahan setelah melewati berlika liku kehidupan cinta kami”, jawab Thomas dengan menoleh ke arah Tina yang tersenyum hangat dan dibalas oleh Thomas. Senyuman itu yang tidak terlihat membuat para wartawan wanita terpesona sambil saling berbisik mengenai kejadian langka yang tak pernah mereka lihat.


Beberapa jam kemudian mereka mengundurkan diri dan membubarkan acara pers dengan ending bahagianya Thomas.


Di rumah sakit Rayhand berdecak dengan kehebohan para kaum hawa mengomentari ketampanan Thomas lewat layar ponsel. Rayhand tidak menyangka kalau berita tentang ketampanan Thomas menjadi tranding nomor satu di berita internasional yang melebihi seleb lain.


Begitu pun dengan Laura yang terus memuji dengan paras tampan Thomas yang membuat Rayhand cemburu sampai Laura terus menggoda Rayhand yang seperti anak kecil.


Usai pers telah selesai Thomas membawa Tina ke ruang kerja sedangkan Felix dititipkan kepada Jordhan. Thomas mengunci ruang kerja lalu mengangkat tubuh Tina ke dalam pangkuannya dan menciumnya dengan saling bertukar nafas sampai aksi tersebut terhenti karena suara keributan di luar ruangannya. Membuat Thomas mendesis dan memindahkan Tina ke sofa. Lalu keluar ruang kerja dengan ekspresi marah.

__ADS_1


“Ada apa kalian ribut-ribut?!”tanya Thomas dengan nada tinggi.


Stefanus langsung maju menghadap ke sang putranya dengan dibantu oleh Dion sebagai sekretaris pribadinya.


“Thomas!”, panggil Stefanus dengan memegang kedua lengan putranya.


“Daddy mau bernegosiasi soal hukuman untuk Lauren”, ucap Stefanus dengan ekspresi memohon.


“Hukuman yang diberikan oleh jaksa sudah setimpal dan kesepakatan kita”, ucap Thomas dengan ekspresi dingin dan datar.


“Aku mengerti Thomas, tapi dia sudah mendapatkan setimpal dengan badannya mulai menyusut dan di bully sampai ia masuk rumah sakit”, ucap Stefanus terus memohon sampai berlutut.


“Aku mohon untukmu, aku akan membawa pergi jauh dia darimu dan keluargamu”, ucap Stefanus terus menerus memohon sampai Tina keluar tanpa menggunakan kursi roda.


“Thomas ada apa?”, tanya Tina.


Thomas melihat Tina keluar langsung mengalihkan ke arah Tina untuk memohon agar Tina bisa membantu meringankan hukuman Lauren.


“Tina, uncle uhmm daddy memohon untuk melepaskan Lauren. Dia sudah cukup menderita apa yang dialaminya”, ucap Stefanus.


“Maaf uncle, kita bicarakan di dalam”, ucap Tina dengan melirik ke arah Thomas.


Thomas menghembuskan nafas kasarnya dengan berkacak pinggang ketika melihat Stefanus mengambil hati istrinya.


Thomas duduk di dekat Tina dan langsung memutuskan kalau dia tidak akan meringankan hukumannya.


Stefanus yang mendengarkan keputusan Thomas membuatnya merasa kecewa dan akhirnya Stefanus mengambil jalan buntu dengan mengorbankan aset perusahaannya kepada Thomas. Namun Thomas tidak mengambilnya dan memiliki pendirian untuk tetap memberikan hukuman setimpal dan sesuai keputusan hukum. Stefanus menghela nafas dan menyadari kalau Lauren benar-benar tidak bisa di maafkan apalagi dia hampir mencelakai janin dan ibunya sehingga Stefanus menyerah dan dia hanya memohon agar Thomas bisa memindahkan Lauren dalam sel tahanan yang aman.


Tina mendengar permohonan Stefanus mengabulkan untuk memindahkan Lauren ke sel tahanan yang aman dan tidak ada pembullyan sampai masa tahanan habis.


Tina melirik ke arah Thomas lalu Thomas mengabulkan permintaan istrinya.


Lalu Stefanus tersenyum lega dan mengucapkan terimakasih kepada Tina.


Usai selesai bernegosiasi dengan Thomas, Stefanus kembali ke klinik dan menjelaskan hasil negosiasinya kepada Lauren.


Lauren bertanya dengan tidak sabar kepada Stefanus yang baru saja datang.


“Bagaimana negosiasi kamu dengan Thomas?”


“Maaf,aku tidak berhasil”.


“Kenapa kamu tidak bisa membantuku?!”, tanya Lauren dengan nada amarah dan menangis histeris sambil menggoyangkan lengan Stefanus.


“Masa kamu gak bisa meluluhkan hati Thomas!”, ucapnya dalam tangisan histeris.


“Cukup! Lauren!”, bentak Stefanus.


Lauren meredakan tangisannya setelah Stefanus berbicara dengan nada tinggi.


Stefanus sangat frustrasi dan sakit melihat keadaan Lauren yang hidupnya berantakan. Tapi Stefanus juga menyadari atas kesalahan hidupnya dan Lauren sampai seperti saat ini.


Stefanus ikut mengantarkan Lauren kembali ke sel tahanan lalu pergi meninggalkan Lauren bersama dengan para tahanan lainnya.


Stefanus berharap Lauren tidak menderita dengan para tahanan baru di dalam sel dan sudah tidak ada lagi pembullyan.


Setelah kepergian Stefanus, Lauren menangis histeris dengan terlungkup sambil memegang kedua kakinya karena merasa depresi.


Sementara Thomas tengah bergelut di atas ranjang bersama Tina sampai kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2