Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Membalikkan keadaan 1


__ADS_3

“Ahh, brengs*k,siapa yang berani menggangguku tengah tertidur sih!”, monolog Victor yang masih kesal dengan perlakuan Thomas terhadap dirinya. Victor mencoba bangkit dengan penuh amarah. Ketika membuka pintu kamar tidak ada siapa-siapa sampai keluar rumah.


Victor kembali lagi ke kamarnya untuk merebahkan diri dengan menutup wajahnya dengan bantal sampai siang hari.


Pukul 11.00, Victor membersihkan diri lalu sarapan dengan sereal sambil membaca pesan dan di pesan itu ada sebuah ancaman dari Thomas.


Thomas:


Segeralah selesaikan misi itu sebelum tubuhmu melemah. Semakin di tunda makan racun itu akan menyebar ke seluruh tubuhmu dan riwayat hidupmu tidak bisa di selamatkan.


Usai membaca, Victor mengumpat kasar, “sh*t!”, dengan perasaan kesal dan penuh amarah yang meluap-luap namun di netralkan langsung olehnya sebab ia mengingat akan racun yang bersarang pada tububnya. Victor langsung menghabiskan semua makanan hingga tandas.


Victor pergi mencari cara untuk membalikkan serangan menghancurkan Lauren.


Victor pergi bergegas menemui Frans di rumahnya.


Ketika Frans akan bersiap pergi ke tempat kerja, tiba-tiba Victor datang dan dia berada di depan pintu. Frans bertanya, “Vic, ada apa?”


“Apa kita bisa bicara soal menculik istri dari Thomas? Hanya sebentar saja”, mohonnya.


“Uhmmm..”, dengan melihat jam di tangannya dan mengangguk kepala. Frans menyuruhnya masuk.


“Apakah kamu sudah berhasil mendapatkan uang dari Thomas? “, tanya Frans.


“Aku belum mendapatkannya. Kita akan mendapatkan uang itu setelah menghancurkan Lauren”, ucap Victor.


“Kita tinggal menghancurkannya dengan bukti-bukti yang sudah kita miliki”, ucap Frans dengan simple.


“Tidak sesimpel yang kamu ucapkan Frans. Thomas kemarin membawaku ke sebuah gedung terbengkalai di pusat area hutan. Dia memberiku obat yang mengandung racun di sarang tubuhku. Aku belum mendapatkan kepastian bahwa kita akan mendapatkan uang. Dia memberiku pilihan antara uang dan obat penawar. Aku merasa bodoh. Aku merasa dikibulin oleh pengusaha besar itu. Aku ingin kamu mencari tahu mengenai Thomas Stefanus itu. Aku sudah mencari data namun data itu sangat sulit aku buka karena memiliki kode keamanan tingkat tinggi. Sepertinya dia bukan orang yang sembarangan kita ganggu dan kita manfaatin. Kamu harus bantu aku”, ucap Victor dengan ekspresi frustrasi.


“Tenangkan dirimu man. Aku akan bantu semampuku. Jika kita tidak bisa mencari tahu tentang dia. Kit bisa mencari jalan satu-satunya yaitu menghancurkan kehidupan Lauren setelah kita mendapatkan uang darinya. Nanti aku akan hubungi dia untuk memberikan DP dahulu”, ucap Frans.


“Thank’s bro”, ucap Victor.


“Tidak perlu terima kasih. Aku juga memiliki dendam dengannya. Aku pun memiliki hutang budi denganmu juga”, ucap Frans.


“Bisa saja kamu”, ucap Victor.


“Kalau begitu aku pergi kerja dulu. Malamnya kita bisa bahas ini bersama”, ucap Frans.


“Jika kamj mau istirahat di sini gak apa-apa. Aku pergi dulu bro. Kuncinya aku tinggal di sini”, ucap Frans kembali.


“Hati-hatilah”, ucap Victor.


Setelah kepergian Frans, Victor membaringkan diri diatas sofa untuk mengumpulkan energi.


Sementara Tina tengah asyik berkumpul bersama keluarganya baik dari keluarga Reffalino maupun dengan Herlena. Mereka tengah asyik memasak hidangan untuk diri sendiri dan berkumpul keluarga. Sedangkan Felix tengah asyik bermain game berhadiah tanpa kenal waktu.


Herlena mendapatkan bagian membuat hidangan penutup. Tina dan Alena membuat hidangan utama dengan mengupas bagian bahan masing-masing. Mereka berkutat di dapur juga dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga.


“Mom, aku menumis bahan halus untuk lobster dahulu”, ucap Tina.


“Baiklah sayang, kamu jangan lupa diberika kecal asinnya biar tambah nikmat”, ucap Alena.


“Ok mom”, ucap Tina.


Mereka berkutat di dapur sampai empat jam untuk masak besar. Usai menyelesaikan semua masakan mereka bergegas membersihkan diri dan beristirahat sampai waktu makan malam tiba.


Di sisi lain,Thomas tengah disibukkan dengan perdebatan para aliansi yang masih belum menemukan pengkhianat yang telah merugikan mereka. Sampai Thomas mengambil jalan tengah dengan mencoba memanggil Rafael datang.


“Rafael kemarilah”, perintah Thomas.


Rafael datang dengan menenteng tas jinjing berwarna cokelat. Rafael menyerahkan tas itu kepada Thomas dan berdiri di samping tuannya. Thomas membuka tas itu berisi sebuah kertas dan flashdisk yang diperlihatkan kepada para tetua. Thomas meminta Rafael untuk menayangkan bukti orang yang mengkhianati aliansi para tetua. Rafael menjalankan perintah dari Thomas. Ia maju ke depan memasang flashdisk itu ke laptop.


Mereka memperhatikan di dalam video yang diputar. Lalu Bernadus yang berada di tengah-tengah antara Emir dan Aslan tengah mengumpat kasar dalam hatinya dan memaki Thomas.


“Sh*t,Thomas lebih cerdik daripada yang ku bayangkan. Padahal CCTV itu sudah pernah aku retas untuk mengalihkan perekaman ke pusat yang kosong. Aku harus bisa membela diri sebelum aku ditendang oleh para tetua. Semoga saja video itu tidak menampilkan wajah aku dan rekan-rekanku yang pernah aku bayar”,ucap hati Bernadus.


Aslan menyipitkan matanya ketika melihat sorotan mata dari pria yang berada di video itu.


“Sepertinya aku mengenal dengan sorotan mata itu. Tapi, siapa ya?”, ucap Aslan dalam hati sambil memutar balik memori dalam ingatan.

__ADS_1


Di tengah mereka sedang serius tiba-tiba Aslan mengagetkan dengan suara kerasnya.


“A!”


Para tetua aliansi menyorot tajam ke arah Aslan yang tiba-tiba mengagetkan mereka. Aslan tidak perduli dengan sorotan tajam para tetua. Dia lebih memilih untuk mengungkapkan isi pikirannya. Aslan melihat sorotan itu ada pada di wajah Bernadus.


“Aku tahu siapa yang ada di video tersebut”, ungkap Aslan.


“Siapa?”, tanya Emir.


“Di dalam video tersebut kalau tidak salah adalah Bernadus..”, ungkap Aslan membuat Bernadus langsung murka.


“Apa?!”, teriak Bernadus dengan sorotan mata tajam sambil menarik kerah Aslan.


“Kamu jangan memfitnah! Apa kau memiliki buktinya?! Kamu harus ku beri pelajaran tanpa ampun agar kamu tidak sembarangan menuduh orang lain tanpa bukti!”, amarah Bernadus yang meluap-luap dengan melayangkan tinju sampai sudut bibir milik Aslan terluka dan dirinya terjungkal.


Jordhan yang baru saja datang bersama Rayhan langsung memisahkan mereka agar tidak saling membunuh sebelum menemukan bukti akurat.


Bernadus yang dipeluk dari belakang oleh Rayhan dan dibantu oleh Emir terus meronta dan mengumpat kasar segala binatang berkaki empat ia sebutkan untuk Aslan sehingga kericuhan dalam gedung itu dikagetkan dengan selebaran kertas yang beterbangan di sekitar mereka yang dilakukan oleh Thomas. Para tetua mengambil selebaran yang dilemparkan oleh Thomas. Bernadus juga mendapatkan selebaran itu dengan mata mendelik karena terkejut.


“Sial, aku harus segera lari dari tempat ini sebelum mereka mengeroyokku dan menggantungku di tempat gelap yang penuh dengan bau anyir dari para musuh yang pernah tertangkap oleh mereka”, ucap Bernadus dalam hati.


Bernadus meronta untuk kabur namun kesempatan itu tidak bisa ia dapatkan ketika Reyhan telah memasang borgol di tangannya yang tidak di sadari olehnya.


Para tetua yang merasa telah di rugikan langsung melayangkan tinju keras di wajahnya sampai Aslan pun ikut andil untuk membalas pukulan yang diterima olehnya hingga Bernadus babak belur dan teler akibat beberapa bogeman yang dilayangkan oleh khalayak yang dirugikan.


Lalu Thomas menyuruh Reyhan dan Jordhan membawa Bernadus ke ruang bawah tanah untuk di interogasi.


“Bawalah dia ke ruang bawah tanah”, perintah Thomas.


Reyhan dan Jordhan membawa Bernadus ke ruang bawah tanah. Sedangkan para tetua dalam aliansi tersebut mengucapkan terima kasih untuknya. Mereka sangat lega telah menemukan pengkhianat dalam aliansi besar mereka.


Setelah usai perdebatan, mereka kembali ke rumah masing-masing dan meninggalkan Bernadus di ruang bawah tanah hingga esok paginya.


Thomas kembali dengan memeluk tubub istrinya dari belakang sambil mengecup punggungnya membuat Tina merasa geli. Tina membalikkan badannya lalu memberikan kecupan untuk suaminya.


“Sweety, aku sangat merindukan kamu”,senyum Thomas.


Thomas memulai aksinya dan membawa Tina kembali untuk mandi namun kali ini berbeda saat membersihkan diri hingga ada suara ketukan dari luar kamar dengan keras. Untungnya mereka telah usai melakukan ritual mandinya yang penuh dengan adegan panas .


Thomas membukakan pintu dan di suguhkan wajah berseri dari putranya.


“Halo boy, ada apa?”, tanya Thomas.


“Daddy dan momy di tunggu grandma dan grandpa untuk makan malam bersama”, jawab Felix.


“Baiklah, bilang kepada grandma dan grandpa katakan kalau daddy dan momy akan segera turun dan ikut bergabung bersama kalian dalam waktu lima menit lagi”, ucap Thomas.


“Okay dad, Felix duluan, bye”, ucap Felix dengan melambaikan tangannya sambil berlari.


Thomas menutup pintunya kembali dan memeluk Tina sambil mengusap perutnya yang semakin buncit.


“Thomas jangan mulai lagi deh”,ucap Tina.


“Aku mulai apa sweety, humm”, sangkal Thomas dengan memberikan kecupan di pundaknya.


“Ayo Thomas kita turun, kasihan mereka jika menunggu lama”, ucap Tina.


“Ayo”, senyum Thomas dengan menggandeng tangannya.


Hans yang sejak tadi menahan lapar merasa lega melihat mereka yang akhirnya turun. Thomas menyapa mereka.


“Malam mom dan das”,sapanya dengan menarikkan kursi untuk Tina.


“Sudahlah gak perlu menyapa atau basa basi, aku sudah lapar menunggu kalian yang begitu lama di dalam kamar”, kesal Hans.


“Hans”, ucap Alena memperingati Hans yang sedang kesal.


“Okay sweett, mari kita makan”,ajak Hans membalikkan piringnya.


Herlena dan Gideon tersenyum melihat ekspresi kesal besannya.

__ADS_1


Pada saat keluarga Thomas tengah menikmati makan malam dengan penuh canda ria, di tempat lain Victor sedang di pusingkan dengan masalahnya di kediaman Frans. Victor dan Frans menyerah mencari informasi mengenai Thomas. Mereka harus melaksanakan perintah dari Thomas.


Victor merencanakan untuk menjebak Lauren agar kehidupan yang gemerlap harta menjadi hancur. Victor mengajak Frans menjalani rencana liciknya.


“Frans, kita harus selesaikan masalah ini agar hidupku bisa panjang”, ucap Victor.


“Benar, tapi, rencana apa yang harus kita lakukan agar mendapatkan hasil dari mereka”, ucap Frans.


“Kita pertama menjalani perintah Lauren untuk menculik Tina. Kemudian kita menghubungi Thomas terlebih dahulu dan menyuruhnya bersembunyi di balik dinding atau lainnya. Terus kita menghubungi Lauren bahwa rencana yang ia perintahkan telah berhasil dan meminta uang dari Lauren. Lalu Lauren meminta untuk menemui kita untuk melihat bahwa Tina telah berhasil kita culik”, ucap Victor.


“Itu ide bagus sih. Tapi, kamu harus meminta ijin dari Thomas”, ucap Frans.


“Iya, besok aku akan meminta pria itu untuk bekerja sama, untuk saat ini aku ingin istirahat dulu”, pamit Victor.


Keesokan paginya, Thomas sedang menggoda istrinya yang tengah fokus melihat televisi.


“Apaan sih Thomas?!”, kesal Tina.


“Aku hanya ingin menciummu saja”, ucap Thomas santai.


“Tapi, aku tengah menonton film laga Thomas, kamu jangan menggangguku”,ucap Tina yang semakin kesal dengan suaminya yang tidak berhenti untuk usil entah hal mencium ataupun lainnya. Ketika Tina sedang memukul punggung Thomas untuk melampiaskan kekesalannya tiba-tiba ada suara bel dari luar mansionnya yang saat ini hanya di jaga security saja. Thomas harus menghentikan aksi bodohnya untuk membukakan pintu.


Mata Thomas mendelik karena terkejut melihat Victor datang ke mansionnya. Thomas mengubah ekspresinya dengan dingin.


“Ngapain kamu ke sini?!”, ketus Thomas.


“Maaf tuan jika aku mengganggu anda. Saya kesini mau menyampaikan hal penting untuk anda mengenai rencana yang saya buat untuk ngejebak Lauren”, ucap Victor.


Pada saat Thomas akan mengeluarkan suara tiba-tiba Tina ikut menimbrung.


“Menjebak Lauren?!”, dengan suara keras dengan dahi mengerut dan memandang dua pria dengan serius.


“Bisa aku jelaskan. Kita lebih baik membicarakan hal penting ini di dalam”, ucap Thomas.


“Masuklah”, perintah Thomas.


Victor memasuki mansion milik Thomas. Tina mempersilakan ia duduk di ruang tamu. Lalu Tina meminta penjelasan kepada kedua pria tersebut yang ia dengar.


“Sekarang jelaskan apa yang aku tanyakan tadi”, perintah Tina.


“Baiklah sweety”, ucap Thomas.


“Biarkan saja tuan yang menjelaskan ini semua”, ucap Victor dengan menawarkan diri.


“Baiklah, silahkan”, ucap Thomas.


“Begini nyonya, saya mendengar rencana nona Lauren di sebuah cafe bersama pria suruhanny. Dia berencana untuk menculik kamu dan dibunuh demi mendapatkan pengakuan dari Thomas. Dia ingin mendapatkan suami anda dengan cara apapun”, ucap Victor.


“Jadi saya kemari untuk meminta kerja sama untuk membalikkan rencana licik itu. Saya sudah memikirkan matang-matang jika anda semua menyetujui akting ini”, ucap Victor kembali.


“Rencana apa itu?”, tanya Thomas dengan nada ketus.


“Saya mau Tina menjadi sandera Frans, anda bisa ikut ke markas kami”, ucap Victor.


“Tentu, aku harus ikut”, ucap Thomas.


“Apakah kalian setuju dengan apa yang saya rencanakan?”, tanya Victor.


“Aku setuju”, ucap Tina.


“Baiklah, besok pukul 21.00 malam datanglah ke markas ka”, ucap Victor.


“Baiklah”, ucap Thomas yang tidak mau ambil pusing dengan rencana Victor. Karena Thomas sudah memegang kendali Victor makanya Thomas tidak menolak dengan rencana yang ia buat. Tetapi Thomas tidak bodoh untuk begitu saja mempercayai rencana Victor, Thomas meminta bantuan Jordhan dan Reyhan untuk waspada terhadap rencana licik Victor setelah makan malam.


Malam hari Thomas menghubungi Jordhan yang sudah bergelut dibawah selimut usai bermadu kasih dengan Vienna. Jordhan mengangkat telepon dari Thomas dengan mata masih sedikit pedas.


"Hallo Thomas,ada apa?", tanya Jordhan.


"Aku mau minta bantuan kamu dengan Reyhan untuk berjaga terhadap Victor dengan temannya pukul sembilan malam. Bawalah beberapa anak buah untuk datang ke markas yang sudah aku kirim lokasi lewat chat. Aku tidak mau Tina kenapa-napa saat menjalankan rencana dari Victor", ucap Thomas.


"Baiklah", ucap Jordhan dan memutuskan sambungan telepon lalu ikut terlelap kembali dengan memeluk Vienna yang asyik tertidur setelah berolahraga dengan paksaan yang dibuat oleh Jordhan.

__ADS_1


__ADS_2