Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Terusik 1


__ADS_3

Di kala kebahagiaan mereka lengkap dengan adanya kehadiran anak kedua yang masih belum berbentuk manusia dan masih berupa biji kacang telah terusik dengan kehadiran Stefanus yang tiba-tiba datang bersama Lauren. Entah setan apa yang merasuki mereka yang secara tiba-tiba dan meminta maaf. Bagi Thomas permintaan maaf mereka tidak tulus sehingga Thomas hanya mendengarkan dan berekspresi dingin. Sedangkan Tina dengan saking baik hatinya, memberika maaf kepada kedua orang yang saat ini dihadapannya.


Ketika Felix tiba ke mansion, Stefanus langsung menyapa cucunya sebagai basa basi.


“Hallo Felix”, sapa Stefanus dengan mengusap kepala dan memberikan senyum hangatnya.


Felix yang terpaku dengan kedatangan mereka beradu pikiran.


Apa yang mereka lakukan di sini? Bukankah kakek ini dan aunty itu jahat sama momy. Sekarang ngapain mereka ke sini? Aku harus ngerjain mereka. Mungkin daddy setuju apa rencanaku meski momy tak suka.


Felix yang tengah terpaku di sadarkan oleh Tina.


“Felix!”,panggilnya.


“Oh ya mom, ada apa?”,tanya Felix.


“Felix sambutlah mereka dengan hangat. Mereka telah susah payah ke sini. Kamu beri salam untuk mereka”,ucap Tina.


“Baik mom”, ucao Felix menuruti perkataan momynya.


“Hallo grandpa, apa kabar? “, sapanya.


“Baik boy”, ucap Stefanus


“Bolehkah aku menggendongmu nak?”, tanya Stefanus.


“Oh tentu uncle”, jawab Felix.


Stefanus menggendong Felix lalu mendudukkan dirinya diatas pangkuan dan berdekatan dengan Lauren. Lalu Lauren menyapa sambil mencubit pipi gembulnya Felix.


“Hai nak, kamu tambah imut saja”, ucapnya.


“Thank you grandma”, ucap Felix..


“Lho kok kamu memanggil aunty sebutan grandma. Padahal aunty itu masih mudah”, protes Lauren.


“Walaupun anda masih mudah tapi anda istri grandpa-ku jadi aku panggil kamu dengan grandma. Jika tidak senang harusnya menikah dengan sepantaran anda”, ucap Felix dengan ekspresi polos.


Lauren mendengar ucapan kalimat yang dilontarkan Felix merasa tidak senang dan Lauren tertawa dengan paksa di depan Thomas.


Awas kamu bocah, jika suatu hari daddy kamu berpaling dari momy-mu, aku giling dan ku jadikan makanan anjing.


Lalu Stefanus yang betah memangku Felix memberikan nasihat.


“Nak, kamu jangan begitu dengan aunty Laurent. Bagaimanapun juga dia itu istri grandpa. Panggilah dia aunty. Biar dia tidak malu”, ucao Stefanus. Thomas mendengar nasehat dari ayahnya untuk Felix tersenyum sinis. Sementara Felix berani menyahut ucapan Stefanus sambil tangannya meraih rambut Lauren yang sudah ada premen karet yang sejak tadi digegam.


“Aunty maafkan Felix. Tapi ucapan Felix benar kan?”, tanya Felix dengan mengusap rambut Lauren dan meminta berpindah pangkuan. Tanpa tahu Felix telah menanamkan premen karet di rambutnya.


“Iya sayang, aunty mengerti maksud kamu. Aunty sudah maafin kamu”, ucap Laurent dengan mencubit pipi Felix.

__ADS_1


“Thank you aunty”, ucap Felix dengan turun dari pangkuan Laurent.


“Kalau begitu aku ke kamar dahulu untuk mandi. Soalnya tubuh Felix bau kecut”, ucap Felix sambil pamit.


“Ya sudah, mandilah boy”, ucap Thomas.


“Bye daddy, momy, grandpa, grandma”, ucap Felix dengan melambaikan tangan.


Lalu Lauren dan Stefanus bergegas pergi dengan berpamitan kepada mereka.


“Kami juga pamit dulu. Terima kasih sudah mau menerima kehadiran kami”, ucap Stefanus.


“Iya, terima kasih lo. Kami pamit dahulu ya. Semoga kalian langgeng tanpa hambatan”, ucap Lauren.


“Thank you”, ucap Tina.


Setelah kepergian mereka, Tina pergi membawa gelas kotor ke dapur sedangkan Thomas pergi ke kamar Felix.


Thomas menghampiri Felix yang tengah merakit kabel robot.


“Boy”, panggil Thomas.


“Ya, dad”, ucap Felix tanpa mengalihkan pandangan dan masih asyik menyambungkan kabel robot.


“Daddy mau mengucapkan terima kasih”, ucap Thomas.


“Untuk ulah kamu. Daddy tadi memperhatikan tangan jahil kamu, boy”, ucap Thomas.


Felix terkekeh dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal karena ketahuan melakukan kejahilan terhadap Lauren tadi.


Thomas memberikan senyuman dan mengusap kepala Felix.


Ketika ayah dan anak sedang saling beri senyuman, Tina datang dan bertanya, “kenapa kalian senyum-senyum begitu?”


“Tidak ada apa-apa mom”, ucap Felix.


Sementara Lauren dan Stefanus yang masih perjalanan pulang belum menyadari bahwa di rambut mereka terdapat permen karet yang tertempel di rambut.


Namun beberapa menit kemudian Stefanus merasakan kulit kepalanya merasa geli. Lalu Stefanus menggaruk dan merasakan ada sesuatu yang lengket di kepalanya. Stefanus mencoba menebak dengan mencium bau kotoran di rambut. Kemudian Stefanus meminta tolong kepada Lauren.


“Lauren, tolong lihat di rambutku ada apa?”, minta tolong Stefanus.


“Emang rambut kamu kenapa?”, tanya Lauren.


“Seperti ada sesuatu benda yang menempel di rambutku dan lengket gitu”, jawab Stefanus.


“Coba aku lihat”, ucap Lauren.


Lauren mencoba memperhatikan rambut Stefanus dan terkejut.

__ADS_1


“Stefanus, sepertinya rambutmu kena kejahilan dari cucumu itu deh”, ucap Lauren.


“Emang benda apa yang menempel di rambutku?”, tanya Stefanus sambil mengemudi.


“Di kepala kamu ada premen karet”, ucap Lauren.


“Apa?!”, terkejut Stefanus dengan berteriak dan mengerem dadakan.


Lalu Stefanus mengumpat, “sh*t”.


“Bocah itu lebih pandai dan licik darimu, Stefanus”, ucap Lauren.


“Bocah itu benar-benar...”, geram Stefanus.


Beberapa lama kemudian Stefanus tiba ke apartemen bersama Lauren yang terlihat kesal. Mereka sama-sama kena jebakan dan kejahilan dari putra Thomas.


"Anak itu benar-benar tidak punya akhlak!", marah Lauren sambil menjumputi premen karet yang tertempel di rambutnya.


"Sudahlah honey, kita bersihkan rambut dulu. Jangan terus menggerutu tidak jelas!", teriak Stedanus sambil membersihkan premen karet yang tertempel di rambut.


"Ini semua karena Tina. Dia sebagai ibu yang mengajarkan anaknya gak punyak akhlak!", omel Lauren.


"Awas saja pembalasanku atas kelakuan anakmu dan kamu lebih dari ini", geram Lauren sambil berkaca dan terus kesal karena premen karetnya tidak bisa bersih meskipun sudah dibantu oleh Stefanus. Lalu Stefanus menyaran Lauren untuk memangkas rambutnya. Namun Lauren tidak rela rambut bagusnya di pangkas sebab dia harus menjalani syuting iklan shampo.


Stefanus menghela nafas kasar dengan berkacak pinggang. Kemudian mengambil ponsel untuk menyuruh Doni membawa orang untuk merapikan rambutnya dan yang bisa mengambil premen karet yang tertempel di rambut.


Doni yang tengah berada di luar langsung bergegas menjemput salah satu bubershop untuk di bawa ke apartemen Lauren.


Beberapa menit kemudian Doni datanh bersama bubershop dari salon yang sering di kunjungi oleh tuannya.


Stefanus membuka pintu setelah mendengar bel rumah. Kemdian mempersilahkan mereka masuk.


"Masuklah!", suruh Stefanus.


"Tolong bersihkan sisa premen karet di rambut Lauren. Sedangkan kamu tolong bersihkan rambutku dan rapikan sekalian rambutku ini", perintah Stefanus dan langsung dikerjakan oleh mereka.


Beberapa jam membersihkan rambut mereka tidak ada hasilnya sampai Lauren terus mengomel, memarahi para bubershop.


"Kalian gimana sih! Masa seorang pegawai salon tidak bisa membersihkan sisa premen karet yang tertempel di rambutku!", kesal Lauren dengan ekspresi marah dan sedih.


Lalu Stefanus menenangkan perasaan Lauren.


"Sudahlah sweety, pangkas sedikit tidak akan jadi masalah", ucap Stefanus.


"Tapi, aku sudah tanda tangan kontrak dengan rambut panjang Stefanus!", geram Lauren dengan meneteskan air mata.


"Besok aku yang akan ngomong ke mereka. Jadi, kamu ikuti saja mereka. Rambut kamu tidak akan dipotong terlalu pendek", ucap Stefanus.


"Baiklah, aku pegang omongan kamu", ucap Lauren dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


__ADS_2