Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Perceraian Herlena dan Stefanus 1


__ADS_3

Gideon mengantar Herlena ke mansion Stefanus untuk menyelesaikan masalah surat perceraian. Herlena merasa gugup ketika akan menemui Stefanus. Herlena takut jika Stefanus menuduh hal yang tidak-tidak dan menyalahkan Gideon. Gideon yang berada di samping Herlena ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya. Sehingga Gideon menggenggam tangan Herlena untuk memberikan kekuatan sambil mengatakan, “tenanglah, tidak usah pikirkan hal buruk. Aku ada di sampingmu. Apa pun yang terjadi aku akan melindungimu. Percayalah kepadaku”, dengan menatap mata Herlena yang bergetar.


Herlena mengangguk kepala setelah mendapatkan ketenangan dari Gideon. Lalu Herlena menarik nafas dengan dalam dan dihembuskan untuk menenangkan kegugupan pada dirinya.


Beberapa lama kemudian Gideon dan Herlena telah sampai di kediamannya dahulu yang pernah ia tempati. Herlena kembali teringat ketika membangun rumah tangganya di awal bersama Stefanus. Herlena juga teringat moment bersama Thomas berlari kecil-kecil sampai dia terjatuh dan menangis kemudian merengek di depan Stefanus dengan mengadu bahwa dirinya jatuh karena dirinya. Ketika teringat itu Herlena tidak dapat menahan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Tatkala mengingat momen itu kembali, Gideon membuyarkan dengan suaranya untuk mengajak ia masuk lalu Herlena menyeka air mata dan ikut masuk bersama dengan Gideon.


Pada saat akan memencet bel, Stefanus sudah duluan keluar dari mansion dengan mata menyalang sambil menyalahkan Herlena yang telah berani selingkuh dibelakangnya.


Herlena mendengarkan perkataan dari bibir Stefanus tidak bisa menahan amarahnya yang membuncah hingga akhirnya Herlena menampar keras sampai kepala Stefanus menoleh ke kiri.


Lalu Herlena memperingatkan perkataan Stefanus dengan jari telunjuk menunjuk ke wajahnya.


“Siapa yang kau katakan selingkuh? Aku peringatkan ya! Yang telah selingkuh itu kamu! Dia ke sini mendampingiku untuk mencari keadilan bukan yang seperti kamu pikirkan!”, dengan air mata menetes.


“Aku ke sini untuk mengambil surat perceraian”, geramnya.


“Maaf, aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku tidak akan pernah memberikan surat cerai itu agar kamu tidak dapat bersama dengan pria brengs*k ini”, ucap Stefanus dengan nada rendah.


“Jika aku menderita kamu juga harus ikut menanggungnya”, ucap kembali Stefanus membuat Gideon mengeratkan kepalan tangannya dan melayangkan tinju namun tubuh Stefanus sudah terjungkal ke belakang akibat pukulan dari Thomas yang datang dari belakang tanpa kata membuat Herlena terkejut begitupun Gideon.


Lalu Thomas menarik kerah Stefanus dengan mata menyalang seperti ingin membunuh ayahnya dengan mengatakan, “aku tidak habis pikir memiliki daddy yang bangs*t seperti kamu. Aku akan buat peritungan kepadamu karena telah menyakiti momy meskipun kamu daddy ku”, dengan melepaskan kerahnya dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar.


Stefanus hanya dapat diam saja dan mengepal kedua tangannya saat dipermalukan oleh anaknya dihadapan Gideon.


Herlena yang berada di tengah perseteruan itu hanya menangis dan merasa bersalah kepada Thomas akibat dirinya menjadikan Thomas membenci ayah kandunganya. Sedangkan Gideon yang melihat Thomas membela ibunya merasa senang.


Sementara Stefanus merasa terpukul harga dirinya di depan Gideon. Lalu Herlena mengancam apabila Stefanus tidak segera menandatangani surat cerai dia akan menuntut ke pengadilan bersama pengacara pilihannya sambil meninggalkan Stefanus yang duduk di lantai dan diikuti oleh Gideon dengan menampakkan senyum sinis dihadapan Stefanus. Thomas juga ikut pergi meninggalkan Stefanus sendirian dengan kemarahan yang memuncak.

__ADS_1


Setelah kepergian mereka, Stefanus mendapatkan kabar bahwa Lauren pergi meninggalkan mansion miliknya. Kabar yang di dapat membuat Stefanus tambah membuncah kemarahannya dengan berteriak keras sambil memegang kepalanya.


Para bawahannya merasa ketakutan dengan kemarahan Stefanus dan mereka tidak berani mendekat. Mereka hanya pasrah saja di mansion milik Stefanus.


Tatkala Stefanus sedang melampiaskan amarahnya di mansionnya. Kini Herlena menyuruh Thomas untuk ikut pergi ke restoran untuk membicarakan sesuatu perihal perasaan yang saat ini mengganggu pikiran dan hati Herlena.


Thomas mengangguki dan mengabulkan permintaan Herlena untuk berbincang empat mata dengan di dampingi oleh Gideon.


Thomas masuk ke dalam mobil milik Gideon. Sementara sopir Gideon membawa mobil Thomas sampai di restoran yang dituju.


Beberapa lama kemudian mereka telah sampai ke sebuah restoran dan turun dari mobil. Mereka mencari tempat yang begitu menjorok agar tidak terlalu kebisingan dan terlihat oleh orang. Setelah mendapatkan tempat duduk Gideon memanggil pramusaji di restoran itu.


Pramusaji menghampiri mereka dengan membawa beberapa buku menu untuk mereka pilih. Pramusaji perempuan tersebut memberikan buku menu dengan tutur sopan.


“Silahkan di pilih menu makanannya tuan, nyonya”, ucapnya dengan mengeluarkan buku catatan kecil.


“Semua samakan saja dengan tuan di sebelah momy saya”, ucap Thomas setelah mendapatkan persetujuan dari Herlena lewat tatapan mata.


Sembari menunggu pramusaji itu membawa hidangan menu mereka memulai pembicaraan pada intinya.


“Thomas!”, panggil Herlena dengan jemari tangan saling bertautan.


“Ya mom”, ucap Thomas.


“Bagaimana kabar istri dan anakmu, Thomas?”, tanya Herlena.


“Baik dan sehat”, ucap Thomas.

__ADS_1


“Momy..uhmmm...”, Herlena mengatakan dengan ragu dan gugup. Gideon yang berada disebelahnya mengusap bahu Herlena. Lalu Herlena menoleh ke Gideon yang mengangguk kepala seolah dia memberikan kode untuk jangan ragu.


“Momy mau minta maaf kepadamu Thomas”, ucap Herlena dengan cepat membuat Thomas tidak mengerti perkataan Herlena sambil mengangkat alis kanan.


“Apa mom?”, tanya Thomas.


Herlena menghembuskan nafas dengan dalam-dalam lalu mengatakan dengan pelan.


“Momy minta maaf kepadamu Thomas”, ucap Herlena.


“Untuk apa?”, tanya Thomas yang belum mengerti maksud dari momy nya yang tiba-tiba meminta maaf kepadanya.


Pada saat akan melontarkan kalimat, sang pelayan datang membawa hidangan yang di pesan olehnya. Pelayan wanita meletakkan semua hidangan makanan yang dipesannya. Setelah meletakkan semua hidangan, sang pelayan wanita mengundurkan diri dengan hormat sambil mengatakan, “silahkan dinikmati hidangannya”, dengan berlalu pergi.


Usai pelayan itu pergi, Herlena melanjutkan arah pembicaraannya.


“Thomas, momy serius meminta maaf kepadamu apa yang telah momy perbuat terhadap keluargamu. Momy ingin menghabiskan sisa hidup momy dengan berkumpul bersama. Setelah urusanku dengan Stefanus selesai momy akan menemui Tina dan Felix untuk meminta maaf segala sikap jahat yang momy ciptakan”, jelas Herlena.


Thomas yang mendengarkan permintaan maaf dan ungkapan perasaan yang tulus dari bibir Herlena membuat hatinya merasa terenyuh dan bersyukur jika momynya telah sadarkan diri atas apa yang diperbuatnya. Thomas memandang Gideon dengan hangat dan Gideon menganggukkan kepala sebagai kode untuk memberikan kesempatan kepada Herlena di kehidupan barunya. Kemudian Thomas membuka suara.


“Mom, Thomas merasa senang jika momy mau berubah. Thomas sudah memaafkan momy sejak jauh hari. Begitupun dengan Tina dan Felix. Jadi momy tidak perlu khawatir. Apabila momy ingin bertemu dengan mereka rumah kami selalu terbuka untuk momy”, senyum Thomas.


“Thank you boy”, ucap tulus Herlena.


“Momy akan secepatnya menemui kalian setelah perceraian ini mendapatkan ketukan palu”, lanjut Herlena.


“Momy akan memberikan kalian kejutan juga. Tunggulah momy menemui kalian”, ucapnya kembali.

__ADS_1


“It’s ok, aku akan tunggu kejutan yang akan diberikan oleh momy”, ucap Thomas dengan senyuman hangat.


__ADS_2