
Thomas sedang di pusingkan dengan berbagai permasalahan dari pemegang saham tetapi ia tidak pernah gentar apalagi dengan daddy nya maupun Lauren yang selalu mengikutinya dan mengancam Tina.
“tok..tok..tok”, ketukan pintu dari luar lalu Thomas menyuruhnya masuk, “masuk!”, dengan masih berkutat pada kerta-kertas diatas meja.
“Maaf tuan mengganggu, saya ke sini mau menyerahkan dokumen mengenai lonjakan saham dan laporan keuangan untuk anda observasi kembali tuan”, ucap asisten Thomas.
“Baik, taruh di kanan meja saya. Nanti akan saya review kembali. Besok tolong jadwal ulang bertemu klien karena saya, akan adakan rapat dadakan”, ucap Thomas sambil meringkas laporan kerja.
“Juga jangan lupa tolong siapkan ruang rapat untuk besok, dan cetak kerta-kertas laporan yang nanti sore saya kirim lewat email”, perintah Thomas.
“Baiklah tuan, apakah masih ada yang diperintahkan?”, tanya asisten perempuan itu.
“Tidak ada, apabila ada nanti akan aku hubungi kembali”, ucap Thomas.
“Kalau begitu saya pamit dulu tuan”, ucap hormat asisten itu yang bernama Zahra. Setelah kepergian Zahra, Thomas menghubungi Jordhan dan Reyhan untuk membahas seputar pemegang saham dan musuh-musuh di dekatnya.
“Hallo Reyhan, nanti kamu datanglah ke ruangan saya pada jam makan siang selesai, tolong ajak juga Jordhan”, ucap Thomas dengan langsung mematika ponsel sepihak dan berkutat kembali.
Sementara Tina dan Grace sedang jalan-jalan mencari baju untuk calon anak Grace yang telah memasuki lima bulan lebih dua minggu. Ketika telah memasuki pusat baju anak-anak, mata Grace berbinar ceria begitupun yang dirasakan Tina.
“Tina lihatlah, baju mungil ini lucu banget apalagi baju-baju perempuan sungguh cute”, ucap Grace tanpa henti mengoceh. Tina yang melihat kebahagiaan Grace tersalurkan pada dirinya. Tina mencoba menghampiri baju bayi perempuan dan mencoba memegang.
“Lucu sekali baju ini, coba jika aku punya anak perempuan pasti itu sangat menyenangkan”, gumam Tina. Ketika Tina sedang senyum-senyum sendiri membayangkan punya anak perempuan tiba-tiba Grace mengagetkan dari belakang.
“Tina!”, pang,” baju itu sangat lucu ya Tin, tapi sayang anakku laki-laki”, lemas Grace.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Grace, bersyukurlah. Suatu saat nanti kamu akan memiliki anak perempuan dihamil kamu ke dua. Jika Jack disuruh membuat kembali pasti akan semangat”, ucap Tina sambil terkekeh dan menggoda Grace dengan kedua alis dinaik turunkan.
“Bisa aja kamu Tin”, ucap Grace dengan tawa pecah.
“Sudahlah, kita selesaikan memilih barang yang kamu beli. Setelah itu kita pergi makan”, ucap Tina.
“Baiklah-baiklah”, ucap Grace.
Pada saat mereka sedang memilih baju dan barang untuk bayinya Grace tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampiri dengan berbagai alibi dan ancaman untuk Tina.
“Kau wanita j*l*ng yang sedang mendekati calon suami aku kan?”, ucap sinis Lauren.
“Anda siapa? Tiba-tiba mengumpat kasar pada teman saya”, marah Grace dengan mendorong bahu kiri wanita itu.
“Perkenalkan aku Lauren calon istri yang dijodohkan oleh keluarga Stefanus”, ucap Lauren dengan menyodorkan tangan tapi tidak digubris oleh Grace.
“Brengs*k wanita ini terus memujiku, aku tidak mau kalah”, batin Lauren dengan mengepalkan kedua tangan dengan erat.
Lauren kembali berucap dengan menarik nafas sekali hembusan dan mengatakan, “oh ya, jika Thomas tidak mencintaiku, kenapa dia membuat anak bersamaku. Saat ini aku sedang mengandung buah hatinya hasil hubungan kami”, dengan kata-kata berbohong sambil mengusap perutnya yang masih datar yang memasuki dua bulan masa kehamilan.
“Benarkah”, remeh Grace.
Sedangkan Tina ditengah pertengkaran hatinya sedang memanas saat wanita itu mengatakan jika buah hati Thomas berada di perutnya. Tatkala Grace sedang berdebat sengit tiba-tiba Tina menyahut pertengkaran mereka dengan sekali hembusan nafas, “ Thomas tidak akan pernah menkhianati istrinya kecuali kamu yang telah menjebak Thomas”, sambil menarik tangan Grace pergi meninggalkan Lauren yang akan melontarkan kalimat tapi ia tidak menyerah dengan suara teriakan berabagai ancaman, “lihat saja nanti, aku akan buktikan, hidupmu akan hancur, arghhhhh”, dengan jengkel.
Setelah keluar Grace terus mengomel sampai tidak dapat belanjaan apa-apa yang ia beli karena bertemu Lauren.
__ADS_1
“Tina, sumpah aku mau bijit-bijit bibir dia biar tidak bicara sembarangan. Gara-gara dia aku jadi tidak belanja berjam-jam kita memilih. Kesenanganku menjadi terhempas begitu saja. Nak, maafkan momy, jika kamu mendengarkan lupakan suara buruk itu. Momy sayang kamu”, omel Grace lalu mengusap perut dan meminta maaf pada anaknya di dalam kandungannya. Tian yang melihat tingkah Grace tersenyum.
“Grace kita makan saja yuk”, ajak Tina.
“Itu ide bagus”, ucap Grace kembali ceria.
“Maaf ya Grace, gara-gara aku kamu tidak jadi mendapatkan barang yang sudah kita pilih”, ucap Tina dengan merasa bersalah.
“No, no, bukan salah kamu, tapi salahkan wanita j*l*ng yang selalu mengitari kehidupan bahagia kamu bersama Thomas”, ucap Grace dengan merangkul pundak Tina sambil berjalan menuju pusat restoran donkatsu.
“Sekarang kita lupakan masalah itu, besok masih ada hari untuk membeli barang untuk anakku”, ujar Grace dengan mengusap perut buncitnya. Di dalam hati, Tina mengucap syukur memiliki sahabat setia seperti Grace baik dalam keadaan senang ataupun susah.
Sedangkan Thomas sedang berbicara serius di ruang kerja bersama Reyhan dan Jordhan.
“Besok sabtu, Stefanus mengadakan rapat pemegang saham bersama para sesepuh untuk menghilangkan aku dalam list kerja sama dengan mereka akibat aku tidak menuruti perjodohan yang sudah ia rancang”, ucap Thomas dengan wajah lelahnya.
“Menurutku kita harus berbicara dengan tetua terbesar yaitu paman Gideon. Dalam informasi yang ku dapatkan paman Gideon juga membenci Stefanus beserta kakek kamu yang membuatnya memulai dari nol. Dia tidak dapat keadilan atas kerja sama yang dilakukan kakek kamu yang sudah almarhum”, ucap Jordhan.
“Apa menurutmu, dia akan menerima kerja sama kita?”, tanya Thomas.
“Kita coba dulu daripada memikirkan yang belum terjadi”, ucap Reyhan dengan memberikan hasil penilaian saham di layar tab miliknya. Lalu mereka menyusun rencana untuk bertemu Gideon di kediamannya area pedesaan untuk menaklukkan saham lebih besar agar bisa mengalahkan Stefanus yaitu ayah kandungnya sendiri. Permusuhan sengit ini, membuat Herlena khawatir pada Thomas setelah ancaman yang diberikan Stefanus pada anaknya hingga darah tingginya kumat kembali.
Setelah lelah masalah pekerjaan, Thomas terbaring memeluk Tina yang sedang tertidur di kamar tanpa membersihkan badan. Tina yang membelakangi Thomas merasakan ada tangan kokoh yang hinggap di pinggangnya terus Tina membalikan tubuhnya menghadap Thomas.
"Thomas tolong lepaskan pelukan kamu!", perintah Tina sambil melepaskan pelukan erat Thomas.
__ADS_1
"Biarkan aku memelukmu dan mencium bau tubuhmu. Hari ini banyak sekali rintangan yang kuhadapi sweety", ucap Thomas dengan mata tertutup lalu mencium bibir ranum Tina singkat dan menarik kepala Tina menyelusup di dadanya kemudian tertidur dengan suara dengkuran. Tina yang berada di bawah pelukan kali ini mengalah dan menyimpan rasa panas dihatinya yang masih terngiang ucapan dari wanita itu di pusat pakaian bayi. Lalu Tina membalas pelukan Thomas dengan erat dan kaki bertumpang tindih menyalurkan rasa penat dalam kehidupan mereka sampai pagi hari.