Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Usaha Thomas untuk Menaklukkan Kembali Tina


__ADS_3

Malam telah tiba Thomas baru terbangun dari alam bawah sadar dengan memegang kepalanya yang sedikit pusing


Sedangkan Herlina saat ini sedang kesal dengan bibir bergerak dan mengatakan, "Stefanus tuh kemana sih? Dihubungi dari tadi tidak diangkat hingga sekarang", sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar Thomas.


Sementara Stefanus yang dihubungi Herlina sedang bermesraan dengan Lauren seharian di mansion ke dua yang ia beli untuk ditempati oleh Lauren. Mereka asik bercumbu dan bercanda tanpa memperdulikan Herlina yang terus-terusan menghubunginya. Stefanus menulikan pendengaran saat ada suara deringan dari Herlina membuat Lauren begitu bahagia apa yanh dilakukan Stefanus terhadap istrinya meskipun harus seharian dengann pria tua di sampingnya. Lauren sangat menunggu ajal dari pria di sampingnya yang terus menggoda dengan mengecup pundaknya. Lauren sangat berharap pria tua itu segerah dijemput ajalnya dan menguasai hartanya kemudian beralih kepada Thomas yang membuat dia tergila-gila setiap penampilan yang dihadirkan dalam majalah.


Pada saat sedang diambang pintu Herlina melihat Thomas yang mencoba bangun dari acara terbaringnya di ranjang untuk posisi akan bersandar. Lalu Herlina berlari mengahampiri anaknya dengan menyebut namanya, "Thomas!___," sambil membantunya untuk bersender.


Kemudian Thomas bertanya kepada Herlina sebab dia tidak melihat Tina di dalam kamarnya.


"Mom, Tina kemana?"


"Kenapa tanya wanita itu sih! Dia sudah momy usir karena berani membawa seorang pria ke rumah", dengus Herlina.


Thomas mengerutkan dahinya sebab dia tahu jika Tina mana mungkin membawa pria selain Keenan.


"Sudahlah Thomas tidak usah ingat wanita itu. Lebih baik cari wanita yang lebih terhormat darinya", saran Herlina dengan memanggil pembantu di rumahnya.


"Ellia! Ellia! Ellia!! __", teriak Herlina dari atas tingkat.


Ellia datang dengan berlari tergopoh-gopoh dengan menaiki tangga dan menghadap pada nyonya nya.


"Ya, Mrs. Herlina?", dengan kepala menunduk.


"Tolong buatkan bubur untuk anak saya", perintah Herlina


"Baik Mrs. Herlina", ucap Ellia


Sembari menunggu pelayan membawakan hidangan, Herlena memberikan air putih kepada Thomas yang baru bangun. Thomas menerima lalu meneguk air yang diberikan oleh ibunya. Selesai meneguk air putih dengan beberapa kali tegukan kemudian Thomas memberikan gelas itu kepada Herlina dan ditaruh diatas meja nakas.


Sementara Felix sedang mencuri ponsel milik Tina yang tergeletak di meja makan untuk diberikan program virus agar tidak menerima panggilan dari Thomas. Felix segera memberikan program tersebut sebelum Tina mendapati dirinya yang sedang lancang membuka ponsel milik ibunya tanpa izin. Keenan yang melihat itu begitu mendukung tingkah cerdik yang sudah ia anggap ponakan sendiri.


Sedangkan Thomas kini sedang berusaha menghubungi Tina tetapi nomornya tidak masuk meski sudah berkali-kali menghubungi.


Thomas pun menyerah lalu bergumam dalam kamar sendirian.


"Apakah Tina tidak mau lagi denganku karena momy mengusirnya? Ataukah Tina lebih menyukai Keenan?", dengan menghela nafas kasar.


"Coba aku panggil seseorang selama aku tidak sadarkan diri untuk aku tanyakan, apa yang terjadi selama aku sakit?"


Lalu Thomas memanggil Raffael yang selama ini aku perintahkan untuk mengawasi Tina dan Felix.


Raffael yang sedang di luar pelataran mansion mengangkat panggilan dari Thomas.


"Hallo tuan", sapa Rafael.


"Rafa, cepatlah datang ke kamarku!", perintah Thomas lalu mematikan ponsel sepihak saat Rafa akn melontarkan kalimat.


Raffa bergegas ke kamar Thomas, sampainya di ambang pintu kamar Rafa menngetuk pintuk dan Thomas menyuruhnya masuk.


Rafa lalu berjalan menghampiri Thomas dengan bertanya, "ada apa tuan?"


Thomas menjawab dengan to the point dengan ekspresi datar dan dingin walaupun sedang sakit tetapi ia tetap menyeramkan.


"Apa kamu tahu sesuatu yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"


" Iya tuan, saya hanya lihat nona Tina di panggul tubuhnya di bahu seorang pria dengan rambut hitam dan mata biru", ucap Raffael


Sesuai dugaan aku, pasti itu Keenan.


"Coba kamu panggil Ellia untuk menghadap aku!", perintah kembali Thomas. Lalu Raffael mengangguk dan pergi memanggil Ellia. Saat sedang berjalan menuruni tangga secara kebetulan Ellia berada di tengah tangga sedang membawa nampan yang berisi obat-obatan, bubur beserta buah-buahan. Kemudian Raffael menghampirinya.


"Ellia!", panggil Raffael dari atas tangga yang sedang ia injak dan Ellia mengangkat kepala.


"Ya tuan, ada apa?", tanya Raffael


"Kamu di suruh menghadap Mr.Thomas"

__ADS_1


"Baiklah, saya juga kebetulan akan ke sana"


"Kalau begitu biar saya bantu", tawar Raffael yang sudah menggenggam nampan dan Ellia melepaskan.


"Thank you Raffael"


"Ya, sama-sama"


Ellia berjalan dengan beriringan bersama Raffael menghadap Thomas. Mereka masuk menghampiri Thomas.


"Kemarilah", perintah Thomas dan Ellia mendekat sedangkan Raffael menaruh nampan tersebut di atas nakas.


" Ada apa tuan?", tanya Ellia.


"Apa kamu melihat sesuatu yang terjadi saat momyku datang ke mansion ini?", tanya Thomas.


"Saya tidak melihatnya tuan tapi saya mendengar ada suara keributan saat saya sampai di tengah tangga untuk membersihkan ruang baca, tuan", ucap Ellia dan Thomas menyuruh mereka pergi dengan lambaian tangan tanda mengusir. Kemudian mereka pamit tanda mengerti.


"Permisi dulua tuan", ucap Ellia


"Kalau begitu saya juga permisi", ucap Raffael.


Thomas saat ini berada di kamar sendirian dengan memikirkan Tina yang berada di apartemen Keenan. Saat melamun Herlina datang kembali dari toilet yang cukup lama. Herlina berjalan duduk di sofa dengan mengambil ponsel sambil meminta maaf.


"Maafkan momy yang terlalu lama ke toilet sebab akhir-akhir ini momy sering sekali sembelit", ucap Herlina dengan curhat masalah kesehatannya.


"Ke dokterlah mom", saran Thomas.


"Iya, besok momy akan ke dokter", sambil melihat balasan chat dari Stefanus namun tak kunjung ada balasan.


Beberapa saat mereka berdiam diri dengan berkutat pada permasalahan masing-masing lalu Thomas membaringkan diri dengan memegang kepalanya yang terlalu berat karena sakit dan memikirkan Tina.


Herlina yang berada di ujung dan duduk di sofa, melihat anaknya yang terlelap, Herlina pergi ke kamar sebelah miliknya yang dibangun oleh Thomas jika suatu hari Herlina ingin menginap bersama Stefanus.


Setelah kepergian Herlina, Thomas membuka mata dan menghubungi Reyhand.


"Hallo Thomas, ada apa?"


"Reyhan, bisakah kamu datang ke rumahku di pagi buta. Aku mau minta tolong kamu untuk membantuku"


"Membantu apa?"


"Antarkan aku di pagi petang ke apartemen Keenan"


"Kenapa tidak sekarang? mumpung aku belum kembali"


"Momy ku ada di sini. Aku sedang tidak ingin mencari keributan. Pokoknya datanglah saat ini dan menginap di kamar yang biasa dan jangan sampai ketahuan momy"


"Baiklah"


Dini hari, pagi butaThomas diam-diam pergi dengan anak buahnya Reyhan yang dia percaya untuk membawanya ke apartemen Keenan dengan keadaan tubuh yang masih lemah. Namun dia tidak perduli dengan kesehatannya, Thomas lebih mengkhawatirkan Tina dan takut diambil oleh Keenan. Walaupun Reyhan terus bertanya tapi Thomas tidak mengindahkan dan Reyhan hanya mengikuti perintah karena ia bawahan dari sahabatnya.


"Thomas kenapa kamu terlalu memaksakan diri, jika kamu sedang sakit?"


"..."


"Thomas aku tahu kamu khawatirkan dia, tapi paling tidak sembuhkan dahulu raga kamu yang lemah ini"


"..."


"Apakah ada pertengkaran anatara kamu dan Tina atau momy kamu yang sudah menyakiti Tina?


Tak ada jawaban satu pun dari bibir Thomas. Reyhan menghela nafas.


Di dalam mobil suasananya begitu sepi tanpa bercakap. Sampainya di pelataran parkir gedung apartemen Thomas bergegas turun dan diikuti Reyhan menuju apartemen milik Keenan.


Setelah tiba di depan pintu apartemen Keenan, Thomas langsung memencet bel apartemen,"ting tong__", dan Keenan terbangun dari acara tidurnya sebab terganggu suara bel rumah. Keenan mengusap mata dengan bergumam, "jam berapa sih ini, kok ada tamu", dengan menatap jam dinding di atas Tv. Keenan terkejut, "Whatt! jam segini ada tamu! siapa?", sambil beranjak dari sofa dengan ekspresi kesal.

__ADS_1


Saat akan membukakan pintu, Keenan terlebih dahulu mengecek dari lubang dan terlihat wajah Thomas dengan wajah pucat pasi yang membuat Keenan lebih terkejut.


Keenan merasa ragu membukakan pintu untuk Thomas. Namun sebenarnya Keenan dari lubuk hati terdalam tidak tega, tapi apa daya dengan situasi yang dialami Tina kemarin. Dia sudah terlalu menderita untuk bertahan dengan Thomas. Kali ini Keenan membiarkan dia untuk di luar dan berharap dia segera pergi.


Thomas merasa diabaikan lalu dia menggedor pintu apartemen Keenan dengan keras membuat banyak penghuni yang sedang beristirahat terganggu.


Thomas tidak perduli, yang dia pedulikan saat ini Tina keluar dari apartemen Keenan.


Gedoran pintu tersebut membuat Tina terganggu dan terbangun dari alam mimpi lalu beranjak keluar dari kamar. Tina yang melihat Keenan berada di ambang pintu keluar bertanya, "kenapa kamu tidak membukakan pintunya, Keenan?"


Keenan yang membelakangi, terkejut mendengar suara Tina dengan menoleh kebelakang dan menyebut namanya, "Tina".


"Keenan, bukakan pintunya. Kasihan orang-orang penghuni apartemen terganggu di pagi buta ini", ucap Tina


"Itu bukankah suara Thomas", lanjut Tina dengan melangkah berjalan membukakan pintu. Keenan yang di dekat Tina pasrah dengan mengusap wajahnya.


Tina membuka pintu dengan disuguhkan Thomas dan kerumunan tetangga dengan raut kesal. Sedangkan Reyhan kewalahan menghentikan aksi para tetangga maupun Thomas. Lalu Tina menyuruh mereka masuk terlebih dulu.


"Thomas, Reyhan masuklah dulu", ucap Tina dengan diangguki Thomas yang dituntun oleh Reyhan.


Tatkala Tina sedang meminta maaf para tetangga, Thomas duduk di ruang TV dengan diikuti Keenan yang duduk di sofa singel.


Setelah menyelesaikan para tetangga dengan tanggapan wajah sinis mereka, Tina masuk menghampiri Thomas dengan mengecek keadaannya sembari memarahi Thomas.


"Thomas, bagaimana keadaan kamu?"


"Sudah baik"


"Baik dari mana Thomas, lihatlah wajah kamu pucat sekali", marah Tina


"Maafkan momy ku Tina", Thomas mengalihkan perkataan Tina dan memegang tangan Tina.


"Aku sudah maaf kan dia Thomas"


"Jika begitu kita kembali bersama Felix"


"Aku masih belum ingin kembali. Aku tidak ingin bertemu momy kamu, meskipun dia sudah memaafkan aku Thomas"


"Please Tina"


Tina menjawab dengan menggeleng kepala.


Lalu tiba-tiba Felix keluar dari kamar saat mendengar suara bising dari luar dengan mengusap matanya sambil mencari momynya yang tidak ada di sebelah ranjangnya.


"Momy!", panggilan Felix terhenti ketika melihat daddynya yang berwajah pucat pasi.


"Boy, kau terbangun", ucap Thomas dan Felix menganggukan kepala.


"Kenapa daddy ke sini? Jangan bilang menyuruh kami ikut daddy kembali", ucap Felix


Thomas menjawab dengan anggukan kepala.


"No dad, aku tidak menyukai keluarga daddy yang terlalu jahat pada momy. Meskipun daddy baik kepada kami", ucap Felix.


"Baiklah, jika itu mau kalian", ucap Thomas dengan kesimpulan bulatnya.


"Reyhan!", panggil Thomas.


"Ya, Thomas"


"Belilah apartemen kosong di gedung ini, aku akan tinggal bersama Tina dan Felix di gedung sini. Aku akan melindungi mereka tanpa harus kembali ke mansion sampai mereka menginginkan"


"Benar itu daddy", ucap Felix dengan mata berbinar.


"Iya boy, kita harus hidup bahagia", ucap Thomas.


Kemudian Felix memeluk tubuh Thomas yang diikuti oleh Tina. Sedangkan Keenan dan Reyhan tersenyum melihat keluarga kecil itu bersatu.

__ADS_1


__ADS_2