
Saat ini Thomas sedang berada di ruangan bersama Gideon dan menyerahkan setengah miliknya yang dahulu sesuai perjanjian. Gideon begitu puas dengan kinerja Thomas dan menepati janjinya sesuai perjajian yang telah disepakati.
“Tuan Gideon, thank you. Kamu telah menyelamatkan kami semua dari keserakahan Stefanus”, ucap Thomas dengan tulus.
“No, no, aku sudah berniat ingin menghancurkan Stefanus dengan tangan ku sendiri, tapi tuhan berkehendak lain. Aku cukup puas dengan kerja keras kamu”, ungkap Gideon dengan senyum.
“Oh, saya hampir lupa. Sesuai perjanjian kita, setengahnya akan saya berikan kepada anda setelah perusahaan ini dialihkan kepada saya. Saya akan ke rumah anda untuk mengantarkan setengah hasil dari anda yang dahulu dicuri oleh ayah saya”, ucap Thomas.
“Itu gampang, sekarang kita bersulang terlebih dahulu karena minuman kita sudah dituangkan oleh Mr. Jordhan”
“Cheerss!”, ucap bersamaan dengan senyum merekah.
Lalu Gideon mengatakan kembali dengan wajah serius setelah senyum merekah yang ditampilkan.
“Kita belum menang seutuhnya, siasat ayah kamu lebih mengerikan dari kelicikan kamu, Thomas. Dia akan menyakiti orang terdekat bahkan orang dicintainya pun akan dia lakukan selama bisa mengancam kehidupan kamu. Kamu harus melindungi orang terkasih kamu terutama ibumu, Herlena”.
Thomas sebenarnya sudah tahu sebelum pertengkaran dengan ayahnya. Sejak awal Thomas sudah ambil langkah untuk melindungi mereka dengan menyusupkan mata-mata di mansion milik Stefanus.
Awal dari keberhasilan merupakan peperangan sudah dimulai. Ujung pisau sudah terlihat. Perseteruan ini akan selesai apabila Stefanus bertaubat dan menerima kekalahan juga meminta maaf pada orang yang telah ia sakiti beribu-ribu tahun.
Thomas mengatakan benar yang dibilang Gideon. Suasana ruangan menjadi hening saat membahas mengenai ayahnya. Mereka bergelut pikiran masing-masing untuk rencana selanjutnya.
Sedangkan Stefanus saat ini sedang tersulut emosi dengan melempar semua kertas dan berserakan. Para karyawan beserta anak buahnya yang berada di satu tempat yang sama bergidik ngeri.
Stefanus mengumpat dengan kata-kata kasar sambil membanting meja besar itu yang terdengar oleh para karyawan yang berada di luar. Suasana gedung perkantoran yang di tempati Stefanus menjadi suasananya suram dan mencengkam. Mereka hanya bisa diam dengan wajah ketakutan.
Stefanus membuka pintu dengan ekspresi dingin dan disekitar Stefanus seperti ada asap hitam yang mengelilingi tubuhnya. Para karyawan menunduk ketika Stefanus lewat. Dua penjaga tadi mengikuti Stefanus dengan was-was karena takut kena semburan pelampiasan kemarahan.
Sampai di parkiran Stefanus menyodor tangannya untuk meminta kunci mobil. Sang sopir memberikan dengan ragu. Dan Stefanus langsung menyambar kunci itu sebab sang sopir memberikan kunci tersebut terlalu lamban menurutnya.
Stefanus masuk lalu keluar kembali dengan mengatakan pada anak buahnya untuk tidak perlu mengikuti. Anak buahnya mengangguk kepala saja.
Stefanus pergi melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke klub untuk menghilangkan stres.
Sementara Elizabet memulai siasatnya setelah keluar dari penjara dua hari yang lalu. Dia mengendap-endap mengikuti Tina yang telah diketahui dan dirasakan oleh Felix. Meskipun sudah menggunakan topi, masker dan hoodie namun mata jeli juga kecerdasannya dapat mengetahui posisi musuh
__ADS_1
Elizabeth yang tak sadar sudah ketahuan tetap terus mengikuti dengan bergumam, “aku tidak akan membiarkan kamu untuk bahagia setelah apa yang kau lakukan kepadaku. Kamu harus membayar semua yang telah kulalui selama di lapas yang bagaikan neraka. Sebentar lagi kamu akan merasakan semua itu”, senyum sinis Elizabeth.
Lalu Felix mencoba was-was melindungi momynya. Felix mengirim pesan kepada Rafael tanpa sepengetahuan Tina dan Grace yang sudah berjalan lumayan jauh. Tina yang merasakan jika Felix tidak ada di sampingnya, Tina menoleh ke belakang dan ternyata Felix tertinggal jauh ke belakang lalu memanggilnya,”Felix! Felix! Felix!”, dengan tangan melambai-lambai dan menunggu Felix berjalan kearahnya. Kemudian Felix menyusul mereka yang sedang menunggui dirinya dan memanggilnya.
Felix lalu minta maaf kepada Tina.
“Sorry mom!”
“No boy, itu bukan salah kamu. Mungkin langkah momy dan aunty terlalu lebar atau cepat”, ucap Tina dengan senyuman lembut sambil mengusap kepala Felix.
“Lain kali kita harusnya menggandeng bocah kecil ini”, gemas Grace dengan mencubit pipi gembulnya.
“Sudahlah, kita lanjut jalan lagi”, ajak Tina.
Elizabeth yang terus membuntuti Tina, tiba-tiba ada dua laki-laki kekar menghadang dengan pakaian formal. Elizabeth menyuruh mereka untuk tidak menghadangnya tapi dua pria itu terus menghadang.
“Kalian minggirlah!”, dengan mencoba melewati dua pria bertubuh kekar tersebut.
“Aku bilang minggir!”, bentak Elizabeth.
Elizabeth mencoba untuk mengalah lalu membalikan badan dengan berlari tapi tetap terkejar dan di seret. Para pengunjung mall tersebut memperhatikan Elizabeth yang meronta.
“Lepasin!”
“Lepasin gak!”
“Aku bilang lepasin. Kalian itu siapa?!”
Dua pria itu terus menyeret tanpa kata sampai di luar. Saat akan di masukkan ke dalam mobil Elizabeth mencoba memutar otak dengan mengelabui dua penjaga.
“Pak polisi tolong! Ada yang menculik saya”, dengan kepala sedikit menoleh kebelakang namun dua pria itu tidak memperdulikan sebab Thomas sudah bekerja sama dengan kepolisian sejak pertama dia merintis dunia bisnis yang merambah kemana-mana.
Sedangkan Brian yang melihat Elizabeth dimasukkan ke dalam mobil secara paksa. Brian mencoba menolongnya dengan mencari alat untuk menghajar dua pria itu.
Brian menemukan sebuah balok lalu mengendap-endap memukulnya dari belakang dengan keras. Salah satu pria berkepala pelontos itu melepaskan cekalan di lengan Elizabeth dan membalikan tubuhnya dengan tatapan motot.
__ADS_1
Brian mengatakan dengan lantang sambil memperagakan gaya untuk memukul.
“Sini kalau berani! Aku tidak takut”, teriak Brian yang menjadi pusat perhatian pengunjung yang akan memasuki mall.
Pria itu mendekat dan Brian mencoba melawan tapi kalah aksinya dengan pria berkepala pelontos. Pria itu langsung memukul di wajahnya dengan keras hingga Brian terjatuh kebelakang.
Elizabeth yang mendapatkan kesempatan untuk lolos langsung menendang di suatu tempat diantara dua kaki. Lalu turun dan melarikan diri dengan menarik tangan Brian untuk segerah bangun.
Brian berlari bersama Elizabeth hingga menjauh dari dua pria tersebut dengan nafas tersengal-sengal. Mereka berhenti tepat di depan kafe. Elizabeth mengajak Brian masuk,“Brian, kita masuk dulu ke sini. Aku haus”. Lalu Brian mengikuti Elizabeth masuk.
Elizabeth duduk langsung memanggil pramusaji dan memesan es kopi americano dua tanpa tanya terlebih dulu kepada Brian.
Brian membuka percakapan.
“Eli, tadi itu siapa?”, tanya Brian.
“Tidak tahu”, jawab singkat Elizabeth dengan bahu dinaikkan.
“Bukankah kamu sekarang masih dipenjara? Kamu juga divonis lima tahun penjara?”, tanya Brian.
“Iya, tapi takdir tuhan mana tahu, jika aku bisa lepas dari penjara. Itu berkah untukku”, ucap Elizabeth dengan meminum es kopinya.
“Kenapa kamu menolongku? Bukankah kamu begitu dendam terhadapku gara-gara aku memperlakukan kamu?”, tanya Elizabeth.
“Aku menolong kamu hanya kebetulan saja”, ucap Brian.
“Aku tidak percaya, pasti kamu menginginkan sesuatu dariku”, ucap Elizabeth.
“Kamu tahu saja”, senyum sinis Brian.
“Aku ingin kita kerja sama memisahkan Tina dengan Thomas karena aku mau ambil Tina sebagai tameng untuk mendapatkan warisan dari dua orang tuanya. Saham milik keluarga Refalino bisa untuk hidup tujuh turunan jika kita terus mengembangkan usaha propertinya”, jelas Brian. Elizabeth tersenyum dengan mengatakan dalam hati, “itu hal sangat luar biasa daripada membunuh Tina. Kali ini kamu beruntung Tina, tidak aku langsung masukan kamu ke dalam neraka”.
Lalu Elizabeth bertanya pada Brian, “Jika kita kerja sama, kamu memberiku berapa persen?”.
“Aku akan berikan empat puluh persen”, jawab Brian dengan mengatakan dalam hati, “sebelum kamu memiliki saham itu, kamu sudah ku musnahkan”, Brian tersenyum dengan penuh arti ketika melihat Elizabeth menyetujuinya.
__ADS_1
Sedangkan Felix mendapatkan pesan dari Rafael jika misi yang diperintahkan gagal dan Felix membalas pesan itu dengan mengatakan tidak apa-apa yang penting untuk saat ini momynya terbebas dari mak lampir itu.