Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Thomas mengajak Tina bersama Felix yang akan kabur meninggalkan California oleh Thomas langsung dicegah dan membawanya ke rumah sakit untuk melihat hasil tes DNA.


“Felix”,panggil Tina


“Ya mom”, jawab Felix yang sedang main playstation


“Besok kita ke London yuk”, ajak Tina


“Kenapa momy tiba-tiba mengajakku ke London?”, tanya Felix


“Momy sebenarnya mau menghindari Thomas. Momy takut kamu akan direbut olehnya. Momy tidak bisa membayanginya ketika hasil test keluar. Momy tidak ingin terpisah dengan kamu”, batin Tina


“Mom!”,panggil Felix sambil menaruh stick dan aerphone di telinganya dan menghampiri Tina sambil mengusap tangannya yang sedang meremas bantal.


“ Mom!”, panggilnya kembali. Tina


“O..o.. Oh ya Felix, momy mengajak kamu ke London ingin berkumpul kembali bersama mereka. Momy sudah lama tidak bertemu dengan mereka ditambah lagi canda tawa dengan sahabat momy aunty Rossy. Kamu mau enggak ke sana?”, ucap Tina sambil memegang kedua tangan tangan Felix


“Baiklah Mom”, ucap Felix


“Pasti momy sedang menyembunyikan sesuatu, aku haru cari apa yang momy sembunyikan. Ataukah jangan-jangan... tunggu sebentar, besok kan dima hasil tes DNA keluar. Mungkin.., sebabnya momy mengajakku keondon gara-gara itu”, batin Felix dengan bergelut pikirannya.


“Baiklah, momy akan mempersiapkan untuk kita pergi ke London besom. Momy akan cari tiket mumpung masih sore. Semoga saja kita dapat tiketnya”, ucap Tina dengan beranjak sambil berlalu meninggalkan Felix ke kamarnya


Sementara Tina berada di kamar, Felix bergegas menghubungi Thomas.


“Aku harus menghubungi Thomas”, batin Felix.


“tut, tut, tut”, suara ponsel Felix


“Hallo!”, sapa orang diseberang sana


“Hallo uncle”, sapa kembali Felix


“Hai boy, kenapa kamu menelphon? Apakah butuh sesuatu? Nanti daddy akan bawakan dan belikan yang kamu butuhkan?”, ucap Thomas sambil berkutat dokumen di ruang kerja


“No, bukan itu saatnya uncle. Aku menghubungi kamu, ini masalah momy”, ucap Felix dengan sedikit berbisik.


“Ada apa dengan momy kamu boy?”, tanya Thomas


“Jika uncle tidak ingin momy pergi, cegah dia di bandara. Momy akan pergi menghindari hasil tes DNA”, ucap Felix


“What?!”, Thomas terkejut dan meletakkan dokumen yang di pegangnya.


“Iya, Momy akan pergi. Jika uncle mencintainya cegah kami untuk pergi di bandara bedok. Sudah ya uncle, aku tutup”,bisik Felix saat mendengar pintu kamar sebelah terbuka. Felix memutuskan ponsel sepihak.


Saat ini Thomas sedang kacau setelah menerima berita dari Felix.


“Oh Shit”, umpat Thomas


“Reyhan, besok kamu pergilah ke bandara san Francisco”, perintah Thomas melalui ponsel.


Keesokan paginya pukul 08.00 Tina dan Felix bersiap-siap pergi ke London setelah selesai merapikan barang yang dibutuhkan.


“Felix!”, panggil Tina.


“Ya, mom!”, teriak Felix lalu keluar menemui Tina.


“Ayo berangkat”, ucap Tina sambil menggeret koper.


Mereka masuk ke dalam taxi yang telah di pesan oleh Tina dan sang sopir membantu menaikkan koper ke dalam jok belakang. Lalu taxi melaju menuju bandara san Francisco.


Beberapa lama kemudian mereka telah sampai di bandara dan turun. Mereka duduk menunggu panggilan keberangkatan menuju London.


Saat akan melewati penjaga tiba-tiba ada tangan kokoh yang mencekal dan Tina menoleh lalu terkejut, “Thomas!”, panggil Tina dengan suara lirih.


Thomas menatap nyalang kepada Tina. Wajah Tina pucat saat mata elang itu menyoroti seolah ketahuan telah mencuri sesuatu darinya.


Felix yang berada di samping mereka merasa lega karena Thomas datang tepat waktu.


“Tho..Thomas lepasin!”, ronta Tina dengan memukul lengan milik Thomas. Namun Thomas malah tersenyum sisnis dan menarik tangannya tetapi begitu sangat kewalahan jadi Thomas mengangkat tubuh Tina di pundak seperti karung.


Thomas menggendong melewati orang-orang yang menatap kami bersama pengawal. Lalu masuk ke dalam mobil dengan terpisah dari Felix yang ikut bersama Reyhan sedangkan Thomas dan Tina di sopiri oleh Beny.


Di dalam mobil Tina terus memukul dalam pangkuan Thomas. Membuat Thomas merasa jengah lalu ia mencekal tangan Tina sambil menatap intens di bibir ranumnya kemudian menarik tengkuk untuk mencium bibirnya dengan sangat dalam. Ciuman mereka begitu sensasi apalagi Beny yang sedang menyetir terlihat canggung saat menyopiri dua sejoli yang sedang beradu kenikmatan dalam ciuman.


Setelah melewati jalan yang panjang mereka sampai di rumah sakit dan Thomas masih menggendong tubuh Tina dengan briday stayle.Felix yang berada di belakang hanya tersenyum melihat daddy dan momynya.


Thomas menemui Mrs.Eugene setelah menurunkan tubuh Tina dengan wajah memerah karena malu atas tingkah mes*m Thomas.


“Mrs.Eugene,” panggil Thomas lalu dia mengambilkan hasil laporan tes DNA karena Mrs.Eugene mengerti maksud tujuan Thomas datang.

__ADS_1


Mrs.Eugene menyerahkan dokumen tes DNA dengan amplop cokelat. Tina yang berada di sampingnya bergetar karena menjadi riwayat terakhir bersama dengan Felix


Thomas membuka hasil tes DNA. Lalu Thomas tersenyum bahagia bahwa Felix benar-benar anak kandungnya. Thomas menggendong Felix.


“Boy, mulia sekarang kamu panggil aku dengan sebutan daddy”, ucap Thomas lalu menurunkan tubuh kecil Felix


“Baiklah Dad”, ucap Felix


Tina yang di tengah kebahagiaan ayah dan anak hanya berpasrah juga ikut bahagia.


Setelah mendapatkan semua info Thomas langsung membondong mereka ke rumah.


“Daddy akan bawa kamu dan momymu bertemu dengan nenek dan kakek”, ucap Thomas sambil mengusap kepala Felix dengan senyum hangat.


Thomas menari tangan Tina dan diikuti oleh pengawal dan Felix dalam gendongan Reyhan. Thomas langsung melesat membawa mereka pulang ke istana orang tuanya. Setelah sampai mereka turun dan Tina masih keadaan gugup.


“Thomas!”, lirih Tina


“Sweety, tenanglah aku tidak akan meninggalkan kamu ataupun memisahkan kamu dengan Felix”, ucap Thomas dengan


menenangkan pikiran dan perasaan Tina sambil menggandeng tangan dengan saling bertautan jemarinya.


Thomas, Tina, dan Felix berjalan beriringan menemui orang tua Thomas. Namun ditolak oleh ibunya.


“Mom, I’m coming back home!”, teriak Thomas yang masih betah menggandeng tangan Tina.


“Sayang, aku merindukanmu”, sambil memeluk Thomas


“Mom, aku ingin memperkenalkan calon istriku dan anakku”, ucap Thomas sambil melepaskan pelukkan dari momynya.


Ibunya mengernyit setelah melihat wajah perempuan dan anak kecil yang di bawa oleh Thomas.


“You crazy, Thomas. Dia bukan selera di keluarga kita”, marah ibunya.


“Mom, tetapi dia wanita yang ku cintai”, ucap Thomas.


“Jika kamu ingin momy restui, carilah yang sepadan”, ketus Herliana


“Mom, please”, mohon Thomas sambil melepas tangan Tina lalu mengambil kedua tangan Herliana untuk mendapatkan restu.


“Maaf, momy tidak bisa. Jika merestui wanita itu namun kalau anak itu momy menerimanya karena dia bisa jadi pewaris untukmu”, ucap Herliana.


“No! Bawa keluar wanita itu”, ucapnya dengan kejam. Lalu Thomas dengan ketus mengatakan , “kami tidak butuh restu dari momy ataupun lainnya. Karena ini kehidupanku”, sambil meninggalkan istananya.


“Thomas! Thomas!”, panggil Herliana dua kali sambil berlari. Namun Thomas tidak menoleh dan terus berjalan.


Saat ini hati Thomas sedang bertalu memikirkan wanitanya yang tidak di sukai oleh ibunya. Lalu Thomas membawa mereka pulang ke apartemen untuk menenangkan pikirannya sendiri setelah mengatar Tina dan Felix.


Setelah sampai mereka turun lalu Thomas menarik lengan Tina dan menabrakkan ke dada bidangnya kemudian memeluk sambil membisikkan, “jangan tinggalkan aku, aku akan melindungi kamu”. Tina yang berada di pelukkan Thomas merasa hangat dan nyama setelah mendengarkan mantra yang dibisikkan oleh Thomas. Kemudian ia melepaskan pelukkannya dan beralih ke Felix, “boy, jagalah momy kamu. Nanti daddy akan bawa kalian ke istana milik daddy”, sambil mengusap kepala Felix.


Mereka terpisah dan Thomas kembali dengan berkutat dalam pekerjaannya. Dua minggu kemudian Thomas pergi menemui Tina di apartemen dengan mengetuk pintu, “tok, tok, tok”, tiga kali ketukan akhirnya pintu terbuka menampakkan wanita lain membuat Thomas bingung.


“Tuan, mencari siapa?”, tanya wanita itu.


“Saya mencari Tina Refalino, apakah ada?”, ucapnya.


“Ada, tunggu..., jangan-jangan anda bosnya Tina yang sering membuatnya terus merasa kesal”, ucap Grace.


“Oh ya, perkenalkan aku Grace sahabat Tina”, ucapnya sambil menyodorkan tangannya.


“Saya Thomas”, Ucapny dengan dingin


“Masuklah!”, tawar Grace.


“Felix! Aku menemui kembaran kamu lho!”, teriak Grace saat Felix sedang merakit kabel pada robotnya.


Felix menoleh lalu tersenyum dan berlari, “daddy!”, teriaknya dengan bahagia.


“Hallo boy, kamu tambah tampan saja. Momy kemana?”, ucap Thomas sambil menggendong Felix dan mengusap kepala milik anaknya.


“Momy sedang di kamar, mungmin mandi”, ucap Felix


“Apa daddy bisa menemuinya?”,


“Tentu, itu lebih baik dan..,” jeda Felix dan Thomas mengernyit.


“dan lebih baik lagi daddy masuk menyelonong dan buatkan aku adik. Aku tidak mau beteman dengan aunty Grace melulu”, bisik Felix.


“Hai boy, kamu semakin licik saja”, kekeh Thomas dan menurunkan Felix lalu pergi ke kamar Tina tanpa terkunci. Sedangkan Felix mengajak Grace pergi dengan berbagai macam alibi.


“Aunty, aku ingin keluar”, ajak Felix

__ADS_1


“Tapi.., kenapa kamu ajak aku keluar”, tanya Grace dengan bingung.


“Sudahlah aunty, ikut saja”, ucap Felix menarik tangan Grace.


“Laki-laki tadi kemana?”, tanya Grace yang keluar dari dapur karena Felix terus menarik.


“Ayolah cepat”,ajak Felix


“Tunggu.., ini mencurigakan. Kenapa kamu mengajakku keluar?”, tanya Grace kembali.


“Biarkan mereka menyelesaikan masalah aunty, kita tidak boleh mengganggu urusan mereka”, ucap Felix.


“Ini mencurigakan”, batin Grace dengan tangan masih ditarik sampai keluar.


“Felix kita mau makan dimana?”, tanya Grace


“Kita pergi ke apartemen aunty Grace. Aku ingin menginap di rumah aunty”, ucap Felix yang berjalan di depan.


“Baiklah, kita pesan makan yang banyak untuk malam ini”, ucap Grace dengan merasa senang.


Sementara Tina tiba-tiba berteriak histeris lalu di bungkam bibirnya oleh Thomas dengan menarik tengkuk dan menciumi begitu dalam hingga handuk menutupi tubuhnya terjatuh.


Thomas terus menciumi dan tangan terus bergerak dengan menimbulkan sensasi menggelikan bagi Tina. Mereka terbawa euforia hingga tiba-tiba Tina merasakan tangan nakalnya menyentuh sesuatu diantara dua pahanya lalu mendorong tubuh Thomas namun sayangnya tidak dapat dan pada akhirnya hubungan bercintanya sampai pagi.


Paginya Tina terbangun dengan menyingkirkan tangan kokohnya dan pergi ke kamar mandi dengan wajah kesalnya. Sedangkan Felix pergi ke sekolah diantar oleh Grace.


Tina semenjak bangun tidur wajahnya terus kesal namun Thomas tidak pernah menghiraukannya malahan dia terus menggoda dengan memberikan sensasi aneh di pelukkannya baik itu dapur maupun ruangan di apartemen dan membuat Tina merasa terjerat dengan aksi licik Thomas terus menerus selama seharian hingga Felix pulang.


“tok, tok, tok”, ketukan dari luar.


Kemudian Tina bisa berdalih untuk membukakkan pintu.


“Felix, ayo masuk”, ucap Tina.


“Hai boy”, ucap Thomas yang keluar dari kamar.


“Momy akan ambilkan minuman kesukaan kamu”, ucap Tina.


“Bagaimana dengan sekolah kamu boy?”, ucap Thomas menghampiri Felix dengan duduk di sofa sebelahnya.


“Good dad”, ucap Felix sambil menyeruput es chocolate kesukaannya.


“Daddy mau mengajak kamu dan momy ke istana yang daddy bangun. Apakah kamu mau?”, tawar Thomas.


“Tidak bisa, kami sudah nyaman di apartemen . Jadi, simpan tawaran kamu itu”, sahut Tina.


“Tapi, aku ingin kalian berada disana dan berkumpul. Aku tidak ingin berpisah dengan kalian”, ucap Thomas.


“Thomas kamu jangan egois, kita sudah nyama hidup seperti ini”, kekeh Tina.


“Menurut kamu Felix”, ucap mereka bersamaan membuat Felix hanya menyengir.


“Aku tetap harus pilih daddy, namun momy pasti akan menolak, bagaimana aku harus menjawab diantara dua orang dewasa yang terus bertengkar”, batin Felix


Lalu Felix membantu ayahnya dengan berakting dan pada akhirnya Tina menyetujuinya dengan berbagai pertimbangan.


“Momy, menurutku kita ikut daddy..,” jeda Felix dengan melihat ekspresi Tina yang sedih.


“Bukannya Felix membela daddy, mom. Namun Felix ingin merasakan berkumpul bersama seperti teman Felix. Selama ini Felix merasa iri dengan mereka setiap kali teman-teman Felix menceritakan keluarganya”, curahan hati Felix dalam mendalami seni perannya. Tina merasakan hati Felix yang ia curahkan sehingga Tina merasa iba lalu menyetujuinya.


“Baiklah, momy akan setuju. Bukan berarti momy mau dengan Thomas. Mengerti Felix”, ucap Tina sambil memeluk tubuhnya.


“Aku sayang momy”, ucap Felux dalam pelukan. Sedangkan Thomas di sampingnya merasa bahagia melihat ibu dan anak saling berpelukan.


Akhirnya Thomas, Tina, dan Felix berada di satu istana dan mereka makan bersama seperti layaknya keluarga kecil dengan bersendau gurau. Thomas juga membicarakan pernikahan tetapi Tina tetap tidak ingin menikah dengannya setelah mendengar gosip bahwa dia di jodohkan secara politik.


“Tina bagaimana kita mendaftar untuk menikah”, ucap Thomas sambil menggenggam tangan Tina namun ia melepaskan tangan Thomas.


“Aku tidak ingin menikah”, ketus Tina.


“Sweety, kita perlu menikah untuk menyatukan keluarga menjadi sempurna demi Felix”, ucap Thomas.


“Oh ya, hanya demi Felux.., bukankah kamu sudah punya calon. Kenapa aku harus menikahi kamu”, ucap Tina


“Aku belum punya calon semenjak kita berpisah enam tahun lalu”, Thomas menyakinkan Tina.


“Benarkah, terus di internet itu siapa? Dia sudah di perkenalkan pada keluarga kamu, jika ia akan segera menjadi menantu keluarga besar Stefanus”, kesal Tina lalu pergi meninggalkan Thomas dan Felix di meja makan. Felix yang berada di sampingnya segerah bergegas pergi dan mencari informasi tentang perjodohan daddynya dan perempuan yang dekat dengan Thomas.


“Dad, aku pergi ke kamar dahulu”, pamit Felix.


Apalagi Thomas sedang dekat dengan model bernama Elizabeth temannya yang licik itu seperti mak lampir. Membuat Tina tambah kesal.

__ADS_1


__ADS_2