Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Perseteruan yang Dimenangkan oleh Thomas


__ADS_3

Elizabeth yang terkurung sedang mengalami gangguan psikis akibat kena hajar dari wanita tua yang ada di lapas. Elizabeth kali ini lebih banyak memendam perasaan tentang kebenciannya terhadap Tina Refalino. Semua masalah yang dia hadapi menyangkut pautkan pada Tina. Elizabeth terus bergumam.


“Aku akan balas bertubi-tubi pada kamu Tina. Lihat saja apa yang akan aku perbuat. Kebahagiaan kamu akan hilang menjadi derita”


“Aku akan mengusikmu, saat aku keluar dari lapas b*suk ini”,


Elizabeth tersenyum dalam gumaman di bibirnya. Elizabeth sudah tidak sabar untuk segerah keluar dari lapas itu.


Ketika Elizabeth sedang melamun tiba-tiba ada salah satu polisi memanggil namanya sambil membuka pintu lapas yang di gembok.


“Elizabeth!”


“Elizabeth!”


Elizabeth tersadar dari lamunannya saat terdengar suara orang menyebut namanya. Lalu mendongakkan kepala tanpa kata menunggu polisi tersebut melontarkan kalimat. Polisi itu mengatakan bahwa ia dicari seorang teman.


Elizabeth yang mendengarkan perkataan polisi tadi, langsung beranjak berdiri dengan bertanya, “siapa pak?”, dengan tangan memegang sel besi itu.


“Teman kamu”, ucap polisi kemabali.


“Teman?”, Elizabet bertanya-tanya pada dirinya. Elizabeth tidak pernah memiliki teman setia ataupun sahabat dekat. Dia hanya memiliki musuh di sekitar hidupnya. Elizabeth masih bingung. Di pikirannya dia terus bertanya-tanya. Sampainya di luar dia melihat seorang wanita yang memiliki perut buncit itu sedang duduk. Ia tidak tahu siapa wanita itu?. Dia duduk dengan tangan masih terbogol di depan wanita berambut blound dengan rambut menggelombang.


Saat Elizabeth sudah di depan matanya ia tersenyum. Lauren lalu mulai membuka obrolan dengan basa basi.


“Hai, namaku Lauren” sapanya dan Elizabeth masih berdiam tanpa kata.


“Aku tidak perlu tahu namamu kok, karena aku sudah tahu nama kamu siapa?”, senyum Lauren dengan kepalsuan.

__ADS_1


“Aku akan berbicara dengan kamu to the point saja ya,aku akan membebaskan kamu tapi ada syarat yang harus kamu kerjakan..”,ucap Lauren yang terpotong dengan suara terkejutnya Elizabeth.


“Melepaskan aku!”, teriaknya laludu lalu duduk sebelum kena teguran polisi yang berada dibelakangnya dan Lauren mengangguk kepala.


“Syaratnya apa?”, tanya Elizabeth


“Syaratnya mudah dan kamu juga ingin mencelakai dia..,” jeda Lauren melihat ekspresi yang terpatri di wajah Elizabeth yang kedua alisnya mengerut. Elizabeth bergelut dengan pikirannya dan mengatakan dalam batin, “Yang ingin aku celakai hanyalah Tina tidak ada yang lain”.


“Apakah aku mengenal musuh itu?”, tanya Elizabeth yang diangguki oleh Lauren. Lauren sedang menunggu Elizabeth menebak tapi terlalu lama sehingga Lauren menyebutkan nama wanita itu dengan penuh penekanan.


“Tina Refalino! Ti.Na!”,


Elizabeth yang mendengarkan nama dari bibir Lauren tersentak kaget. Elizabeth tersenyum dalam pikirannya dengan mengatakan bahwa musuh Tina ternyata banyak tidak seperti yang dipikirkan. Elizabeth merasa lega dan banyak celah untuk memasukan Tina kedalam neraka.


“Aku terima syarat kamu”, tegas Elizabeth dengan tersenyum begitu juga Lauren yang merasa lega tanpa harus mengeluarkan tenaga memisahkan Tina dengan Thomas. Mereka sama-sama memberikan senyuman entah senyuman saling memanfaatkan atau kelicikan dua wanita itu.


Pertarungan sengit akan segerah terjadi tinggal tiga hari. Jordhan dan Reyhan membantu meyakinkan para klien dan kolega untuk tetap bekerja sama dan mendukung Thomas.


Mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah bunyi telepon berhenti. Mereka beristirahat dengan menyandarkan punggungnya. Lalu Jordhan pergi ke ruangan Thomas yang masih asyik dengan tumpukan kertas. Beberapa saat kemudian ia menghentikan aktivitas nya dengan menyesap anggur yang dibawa Reyhan sejak tadi menungguinya.


Thomas memulai obrolan seputar persiapan pertarungan atas saham.


“Bagaimana persiapan kalian dalam membentuk timnya?”, tanya Thomas kepada Jordhan.


“Beres, meski melelahkan. Aku berharap kita dapat menuai hasil kemenangan”, ucap Jordhan.


“Tentu, kalian harus memenangkan persengitan ini demi karyawan kalian”, ucap Reyhan sambil menepuk pundak Jordhan.

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Esok paginya Thomas bergegas pergi ke ruang rapat yang diadakan di perusahaan utama milik Stefanus. Suasana ruangan begitu tegang. Pertarungan sengit akan segerah di mulai antara anak dan ayah. Kali ini Thomas harus mendapatkan posisinya untuk mengembalikan perusahaan yang setengahnya milik Gideon.


Stefanus yang berada di radius dekatnya, Thomas tidak gentar melihat wajah licik ayahnya yang selalu mengganggu dalam kehidupannya bersama p*lac*r itu.


Saat rapat akan di mulai oleh MC, Gideon datang dengan tongkat bersama dua pengawalnya membuat para dewan direksi terkejut terutama Stefanus. Walaupun Stefanus sudah tahu informasi tentang Gideon, dia gentar melihat Gideon dihadapannya dengan mengingat masa lalunya yang ia perbuat.


Tenggorokan Stefanus tercekat dan mengumpat dalam batin, “gila, aku bisa gila!”, dengan rahang yang mulai keras.


Thomas memberikan hormat di tengah keributan para pemegang saham. Lalu memulai perdebatan masalah saham.


MC pemimpin acara tersebut memulai dengan membacakan kemajuan kerja dan ide-ide yang telah dituangkan selama ini.


Asisten dalam ruang rapat membukakan file dan menampilkan semua karir selama ini yang diemban oleh Stefanus.


“Stefanus sejak 29 tahun dia telah mengabdikan pada perusahaan bersama sahabat tercintanya sebelum diberitakan telah meninggal. Dia mengembangkan usaha resort dimulai dari pengembangan lokal. Mereka dahulu pernah bekerja sama dengan usaha label kayu dan pengukiran dengan modal kecil-kecilan dan pada akhirnya usaha itu mengembang berkat kerja sama dua sahabat.


Lalu terjadi sebuah kecelakaan kerjaan di pabrik kayu sehingga tuan Gideon dinyatakan meninggal dan ikut dilahap si jago merah..”, Stefanus yang mendengarkan pernyataan MC berbangga hati dan tersenyum. Gideon yang melihat di ujung radius tersenyum sinis dengan mengatakan dalam pikirannya tanpa di dengar oleh siapapun. Dia mengatakan, “lihatlah, aksi bejat kamu akan terbongkar”, dengan mengusap pipi kanannya.


“Tuan Stefanus mulai melonjak penjualan saat ditinggalkan Gideon hingga sampai penghujung Eropa. Lalu dia menyerahkan tugas embannya pada sang putra”


Asisten itu membuka file milik Thomas dan MC mulai kembali.


“Tuan Thomas, meski dia baru mengembankan karir di perusahaan ini proses penjualan lebih menjulang dan mendapatkan dukungan dari beberapa pihak tertentu. Kecerdasan dan kompeten dalam kerja dia lebih unggul baik pemasaran maupun penanganan pengembangan resort walupun meneruskan milik ayahnya”


MC membacakan kesimpulan.


“Kesimpulan hasil kerja dan saham akan saya bacakan..”, jeda sang MC tersebut yang membuat para perwakilan pemegang saham dan tetua di Stefanus mulai tegang dan penuh harap sesuai dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


“Milik tuan Stefanus usahanya saat ini mulai menurun yaitu 25% dan saham yang dimiliki cukup tinggi 80%.Sedangkan total milik tuan Thomas dari hasil kerja dan kepemimpinan selama di perusahaan ini begitu tinggi baik dalam pemasaran, penjualan kayu ukir, pengembangan resort dan lain-lain memiliki angka 90% dan saham yang awalnya cuman 49% setelah mendapatkan kerja sama dalam bulan ini dari tuan Gideon selisih hanya 2% dari tuan Stefanus yaitu 82%. Jadi pemenang karier usaha dimiliki oleh tuan Thomas”, ucap sang MC. Para tetua yang berpindah ahli mendukung Thomas begitu senang sesuai rencana Thomas yang dijanjikan. Sedangkan Stefanus mengepalkan tangan dengan erat. Thomas berada di radius jauh dari Gideon begitu lega dan memenangkan hasil usahanya.


__ADS_2