Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Berkumpul Kembali Namun Restu Terhalang Karena Masa Lalu


__ADS_3

Warna langit menjadi gelap, Thomas masih beraktivitas memperbaiki file dengan melewatkan jam makan siang dan malam.


Thomas mengerjakan di ranjang dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Ketika Thomas sedang serius Tina datang membawa nampan makanan untuk suaminya.


"Thomas makan dulu, tadi kamu sudah melewatkan makan siang kamu. Aku tidak mau kamu sakit", dengan duduk di sisi ranjang samping Thomas.


"Sebentar lagi sweety, aku harus perbaiki file ini untuk rapat besok", ucap Thomas dengan masih fokus merampungkan pekerjaan.


"Iya, aku tahu, tapi makan", marah Tina.


"Aku suapin?", ucap Tina menawarkan diri.


"Itu ide bagus", ucap Thomas yang tidak bisa mengalihkan pandangan.


"Makanlah", dengus Tina sambil menyuapi Thomas.


Thomas menerima suapan dari istrinya.


Sementara Brian datang ke rumah keluarga Refalino dan mendapatkan tatapan sinis dari Alena ibu kandung Tina sedangkan Hans berekspresi dingin.


"Masuk!", ucap Hans.


"Uncle aku bawakan makanan ringan untuk menemani anda mengobrol", ucap Brian dengan senyum.


"Duduk"


Brian menerima tawaran untuk duduk.


"Saya kesini memberikan kabar jika Tina sudah ditemukan", senyum Brian.


"Saya sudah tahu", ucap Alena dari dalam dengan sinis dengan membawa nampan air minuman.


Brian bingun ekspresi dua orang tua Tina yang dulunya baik dan memberikan senyuman hangat sekarang ekspresi mereka seperti tidak menyukai dirinya.


Kenapa orang tua Tina ekspresinya tidak begitu sahabat? Apa yang terjadi selama aku pergi menjauh untuk merencanakan mendapatkan Tina kembali dan menguasai harta Refalino?


"Kamu ada urusan apa ke sini?", tanya Alena dengan sinis.


"Saya hanya memberitahukan keberadaan Tina saja", jawab Brian

__ADS_1


"Dimana Tina tinggal sekarang?" tanya Hans.


"Dia tinggal di gedung apartemen bersama Thomas"


"Terima kasih informasinya", ketus Alena.


"Kamu boleh pulang dan tidak perlu kembali lagi kesini", ucap Hans dengan nada dingin.


Sial, setelah aku beritahu informasi malah kena usir dari Hans. Awas saja, aku akan bunuh kalian dengan tanganku sendiri.


Brian berpamitan, "saya pulang dulu aunty, uncle, kebetulan saya masih ada janji", senyum Brian yang masih diabaikan.


Brian melangkah menjauh ke parkiran mobil dengan menatap orang tua Tina yang sudah mengusirnya dengan keterlaluan. Brian masuk dengan memukul kemudi mobil sambil mengumpat, "b*ngs*t", dengan tangan mencengkeram di setir mobil dengan mengatakan, "aku akan membuat kalian mati!".


Brian menghidupkan mesin mobil lalu melajukan dengan melesat kencang sambil membuka jendela dan berteriak, "ku bunuh kalian!!", di jalanan yang termaram dengan lampu.


Brian menghubungi Elizabeth untuk rencana ulang mencelakai orang tua Tina. Brian mengambil ponsel di saku celana kanannya dengan men deal up nomor Elizabeth.


Elizabeth yang sedang mengobrol dengan Lauren di mansion milik Lauren tiba-tiba ponsel berdering dengan nama yang tertera di layar depan yang dia kenal.


"Hallo Bri!", sapa Elizabeth yang sedang makan camilan yang disuguhkan oleh Lauren.


Elizabeth terkejut dengan mengatakan, "Kamu gila apa?!".


"Aku tidak peduli kamu bicara apa?", jengkel Brian.


"Aku tidak mau ikutan, itu terlalu beresiko b*jing*n"


"Jika kamu tidak mau kerja sama. Aku tidak akan membagikan harta milik Refalino 40% itu"


Elizabet langsung mematikan ponselnya sepihak setelah mendengarkan kalimat lontaran terakhir. Lauren yang berada di sampin yang menguping pun menjadi penasaran.


"Ada apa, Eli?",


"Lauren uhmm..", ucapan Elizabeth ragu-ragu akan mengatakan sebab yang dikatakan Brian itu gila. Elizabeth mempertimbangkan untuk mengatakan kepada Lauren.


Jika aku cerita wanita ****** ini pasti akan setuju dan memanfaatkan aku. Tidak bisa, bukannya dapat banyak, tapi aku yang dapaf imbas dari semua kejadian yang direncanakan nanti.


"Begini Lauren, kita lebih baik melangkah dengan matang untuk memisahkan Thomas dan Tina. Sebab kamu harus melahirkan anakmu dulu yang sudah memasuki delapan bulan itu", ucap Elizabeth dengan senyum cengir.


"Itu bagus, tapi kamu tetap jalankan aksinya. Sementara aku akan memikirkan matang-matang untuk menghancurkan kebahagiaan mereka", ucap Lauren yang masih curiga saat dia mengobrol dengan Brian.

__ADS_1


Eli pintar juga, aku akan cari tahu sendiri dan aku tidak membiarkan kamu lolos mendapatkan Thomas. Karena Thomas milikku.


Laurent makan keripik dengan memandang Elizabeth. Lalu Elizabeth menoleh untuk segera pamit buat menjalankan langkah esok hari.


"Lauren, sepertinya sudah malam, aku harus beristirahat untuk rencana besok menguntit mereka", ucap Elizabeth dengan tertawa aneh.


Lauren mengangguk dengan mengancam, "jangan lupa kamu menyia-nyiakan kebebasan kamu dan uangku, aku tidak peduli langkah apa yang kita ambil". Elizabeth yang mendengarkan ancaman dari Lauren mengepalkan tangannya dengan erat dan menoleh menampakkan senyuman palsu lalu pergi meninggalkan Lauren yang asyik menonton sambil memakan camilan keripik.


Sedangkan Thomas telah menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh Tina bersamaan dengan selesainya pekerjaan lalu Thomas mengangkat kedua tangannya dan melepaskan kacamata yang terhias diwajah.


Thomas mematikan laptop lalu menutup dan diletakkan di nakas. Sementara Tina pergi membersihkan piring kotor dan kembali ke kamar.


Tina naik ke ranjang dengan merangkul lengan suaminya dengan mengatakan, "Thomas tadi aku dapat panggilan dari daddy untuk membawa kamu ke rumahnya".


"Yaudah kita pergi ke sana di hari jumat, bagaimana?"


"Baiklah, yang terpenting kita ke sana menemui daddy", senyum Tina dengan bergelayut manja di lengan Thomas.


Thomas mencium kening dan mengajak Tina tidur karean sudah hampir tengah malam. Thomas memberikan lengannya untuk bantalan Tina.


Di pagi hari Thomas sudah bersiap kerja untuk mengadakan rapat pagi bersama Gideon. Sedangkan Stefanus masih bergelung di atas ranjang bersama Lauren setelah pulang dari klub.


Sedangkan Herlina merasa kesal karena sudah tiga hari Stefanus tidak pulang. Herlina selalu mencurigai Stefanus setiap kali tidak pernah kembali ke mansionnya dengan berpikir bahwa ia selingkuh dibelakangnya, namun pikiran buruk itu dia selalu tepis dan masih mempercayai kesetiaan Stefanus.


Setelah bekerja keras menemui beberapa klien untuk mengembangkan resort baru, Thomas memajukan hari untuk bertemu kedua orang tua Tina.


Thomas, Tina, dan Felix telah sampai kediaman Refalino. Tina memencet bel, "ting tong__", Alena yang sedang menata makanan di atas meja makan lalu ia hentikan dan pergi menuju keluar untuk membukakan pintu untuk tamu spesialnya yang diikuti oleh Hans.


Saat membuka pintu dan melihat wajah mantunya, rahang milik Hans mengeras dengan mengepalkan kedua tangan dengan erat.


Sial, kenapa yang pernah meniduri putriku dari keluarga Stefanus.


"Ayo masuk!", ucap Alena dengan mengajaknya.


Felix, Tina, dan Thomas masuk ke dalam rumah Refalino yang diintai oleh Elizabeth bersama Brian.


Alena mempersilakan mereka duduk di sofa dengan disuguhkan tatapan tidak suka dari sorot mata Hans. Thomas merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan oleh Hans di hadapannya.


Thomas sampai berpikir buruk.


Ayah Tina sepertinya tidak menyukaiku, aku harus cari informasi kenapa dia tidak menyukaiku.

__ADS_1


__ADS_2