Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Terusik 4


__ADS_3

Pagi hari Lauren terbangun dengan keadaan berantakan. Lauren melihat sisi samping dengan ekspresi tidak suka. Lauren beranjak dari ranjang namun tangannya di cekal oleh Stefanus dengan tatapan mata yang tajam.


“Kamu mau kemana?”, tanya Stefanus.


“Aku mau membersihkan diri”, jawab Lauren dengan ketus.


Stefanus beranjak dari ranjang untuk membantu Lauren ke kamar mandi dengan menggendong dengan briday stayle. Namun Lauren malah memberontak dengan memukul dada bidang Stefanus. Tapi, Stefanus hanya membiarkan Lauren melepaskan amarahnya. Stefanus meletakkan Lauren ke bath up lalu meninggalkan Lauren sendirian. Lauren merasa heran dengan sikap Stefanus.


“Aneh, biasanya dia melakukan kekerasan untukku atau bahkan dia akan menggunakan segala cara untuk menghukumku dengan bercumbu”, monolog Lauren.


Stefanus tengah menghubungi asistennya untuk mengambilkan sepasang pakaian di butik langganannya.


“Hallo Don, tolong ambilkan sepasang pakaian di butik Bianca”, ucap Stefanus.


“Baik tuan”, ucap Doni dengan langsung melesat apa yang diperintahkan oleh tuannya.


Sembari menunggu Lauren selesai ritual mandinya, Stefanus sedang berkutat dengan pekerjaannya untuk mengembangkan kembali bisnisnya. Kali ini Stefanus mengembangkan perusahaannya dengan cara bersih. Stefanus ingin mencoba untuk memperbaiki diri demi Lauren dan putranya yang saat ini dibawah asuhan kedua orangtua biadab.


Beberapa lama kemudian Lauren keluar dengan menggunakan bathrobe. Stefanus menegakkan kepala untuk mengalihkan tatapan ke wajah cantik Lauren.


Stefanus meletakkan tab ke atas meja dan beranjak melangkah ke Lauren dengan lebih dekat lalu memberikan kecupan di keningnya.


“Sweety, tunggulah Doni. Dia sedang menuju ke sini untuk membawa sepasang pakaian untuk kita”, ucap Stefanus.


Belum lama mengatakan kepada Lauren, Doni telah tiba dengan mengetukan pintu. Stefanus membukakan pintu dan langsung mengambil paperbag berisi pakaiannya dan Laurent.


Doni langsung mengundurkan diri.


“Saya permisi dulu tuan”, pamit Doni dengan hormat dan diangguki oleh Stefanus.


Lalu Stefanus menyerahkan paperbag kepada Lauren.


“Bergantilah pakaian dahulu, baru gantian memakai kamar mandi”, ucap Stefanus.


Lauren masuk kamar mandi dengan perasaan bingung.


“Pria tua bangka itu kok berubah. Pasti ada maunya”, suudzon Lauren.


Siang pukul 11.00 siang, Felix keluar dari kelas bersama Willy. Mereka berlari menuju ke mobil jemputan. Ketika berlari, tiba-tiba Wily mencekal tangannya dan berkata, “Felix, tunggu sebentar aku mau membenarkan tali sepatu”.


Felix berhenti dengan menghela nafas kasar.

__ADS_1


“Yaudah, cepetan”, ucap Felix.


Pada saat Felix menunggu Wily membenarkan tali sepatunya tiba-tiba ada seseorang dari belakang membekap mulutnya dengan kain sapu tangan yang telah diberikan obat bius. Felix langsung jatuh dan diangkat ke mobilnya tanpa ada yang melihat kecuali Keisha.


Keisha berteriak meminta tolong.


“Tolong! Tolong! Ada pencuri menyelusup di sekolah!!”.


Penculik itu mendengar suara teriakan bocah perempuan langsung lari dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sedangkan Wily yang tengah mengejar terjatuh dan lututnya berdarah.


Wily lalu mencoba untuk berdiri menghampiri sang sopirnya. Wily berteriak, “uncle! uncle! Tolongin Felix. Felix di culik!”.


“Apa?!”, terkejut Rafa.


Lalu Rafa menghubungi Thomas dengan mondar mandir.


“Kenapa aku tadi bodoh, aku malah keasyikan memandang murid-murid yang keluar dari kelas”, batin Rafa mengutuk kebodohannya.


Thomas yang tengah rapat, mendapatkan telepon dari Rafa. Sehingga Thomas harus mengangkat dengan perasaan tidak enak.


“Hallo Rafa, ada apa?”, tanya Thomas.


“Tuan, Felix di culik”, ucap Rafa dengan ketakutan.


“Sekarang kamu dimana? Kembalilah dan kita cari tahu siapa yang berani menculik putraku”, tegas Thomas dengan berjalan ke luar dari kantor.


Sedangkan Ellizabeth, tertawa terbahak dan bersulang dengan Brandon di tengah Felix tidak sadarkan diri di kursi.


“Kamu ternyata, lebih pintar dan kejam Elli”, ucap Brian.


“Iya dong, kita harus menyembunyikan Felix ke bawah dekat garasi”, ucap Ellizabeth.


“Lalu, kita mengancam mereka dengan mengirim burung mati dan pesan ancaman”, ucap Ellizabeth.


“Kemudian kamu mengundang Tina dengan pura-pura sok baik untuk mendapatkan aset dari Keluarga Reffalino dan aku mendapatkan Thomas plush hartanya yang dimilikinya”, ucap Ellizabeth kembali dengan tertawa sambil bersulang menikmati penderitaan mereka.


Felix yang telah tersadar dari obat bius mendengarkan rencana busuk dari dua orang dewasa dengan tersenyum menyiaratkan sebuah siasat yang terbesit dalam kepalanya yang tidak diketahui oleh mereka.


Sedangkan Wily terus menangis dipelukan momy-nya dengan menyalahkan diri sampai Arletta kewalahan menenangkan putranya.


“Sayang, jangan terus menyalahkan diri. Felix pasti selamat”, ucap Arletta.

__ADS_1


“Ini semua salah Wily mom. Coba kalau Wily tidak menyuruh Felix menunggu aku membenarkan tali sepatu. Pasti Felix tidak akan diculik oleh penjahat itu”, ucap Wily.


“Ustt, daddy pasti akan membantu uncle Thomas. Kamu jangan menangis terus sayang. Momy sedih melihat kamu menangis tanpa henti”, ucap Arletta.


“Baiklah, Wily akan berhenti menangis setelah daddy berusaha menemukan Felix”, ucap Wily.


“Daddy janji”, ucap Damien dengan mencium kening putranya. Lalu Wily memeluk leher momy-nya.


Sementara Tina terkejut dengan berita penculikan Felix dari bibir Thomas. Thomas tengah berusaha untuk menemukan penculik itu. Ketika Thomas tengah serius menunggu perkembangan pencarian Felix, Tina tiba-tiba mengagetkan Thomas.


"Thomas kenapa kita terlalu mengambil pusing", teriak Tina dengan mengusap air mata.


"Maksudmu apa sweety?", tanya Thomas dengan mengerutkan dahinya.


" Felix kemana-mana selalu memakai stopwatch. Di sana kamu telah menyetel GPS Felix. Jadi, kamu mudah untuk melacak keberadaan putra kita", ungkap Tina.


"Oh ya, aku lupa sweety", ucap Thomas.


Thomas menyuruh Rafa melacak GPS yang terpasang di stopwatch Felix. Lalu Rafa langsung berkutat dan menemukan rumah kecil. Rafa memberitahukan bahwa Felix diculik oleh Brian dan Ellizabeth. Thomas lalu mengumpat kasar, "****".


Thomas langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengepung mereka.


"Kalian siapkan mobil dan segera bergegas ke rumah itu", tegas Thomas dengan ekspresi dingin.


"Baik tuan!", tegas Rafa.


Mereka lalu berangkat menuju tempat dimana Elli dan Brian berada.


Tatkala mereka tengah melajukan mobil ke rumah Brian, Felix tengah dibully oleh dua orang dewasa.


"Hai boy", panggil Ellizabeth dengan mengapit kedua pipinya dengan erat.


"Kamu akan melayang nyawamu di tangan kami", ancam Ellizabet dengan gigi mengetat.


"Sebentar lagi momy kamu dan daddy-mu akan berpisah", geram Brian


"Meski kamu cerdas dalam segala hal, aku tidak akan terkena kelicikan kamu", ucap Ellizabet dengan menyembur wine ke wajah gembul Felix.


"Momy-mu sebentar lagi akan jatuh ketanganku dan seluruh aset Reffalino akan menjadi milikku", ucap Brian dengan tertawa terbahak-bahak.


"Sebentar lagi aku mendapatkan Thomas setelah mengirim paket ancaman", monolog Ellizabeth.

__ADS_1


Felix dalam hati mengejek kebodohan mereka.


"Lihat saja siapa yang akan terjerat dan menangis darah. Kalian terlalu meremehkan anak kecil yang sudah berkali-kali membodohi penjahat seperti kalian", dengan senyum menyeringai.


__ADS_2