
Hari Sabtu Thomas bertemu dengan Gideon ke tempat yang telah mereka janjikan. Kali ini Thomas tidak akan membiarkan ayahnya yaitu Stefanus menghancurkan dirinya. Thomas pergi ditemani oleh Jordhan dan Reyhan. Mereka memasuki ruang VIP. Thomas menyapa Gideon, “Maaf jika kami terlambat tuan Gideon”, dengan sopan.
Gideon mempersilahkan mereka duduk. “Duduklah”, ucap Gideon.
Reyhan memberikan ucapan, “terimakasih”.
Mereka membicara strategi bagaimana cara untuk menjatuhkan Stefanus. Sementara Stefanus yang berada di kantor sedang marah-marah tidak jelas kepada karyawannya terlebih lagi pelampiasan kemarahannya diberikan kepada kaki tangannya juga.
“Kalian semu tidak becus, kapan kalian akan meningkatkan kinerja jika begini terus perusahaan benar-benar hancur dibuat kalian!”,bentak Stefanus.
“Aku tidak mau tahu, bulan ini kalian harus kerja keras dan lembur. Sudah di gaji mahal-mahal tapi ketrampilan kerja kalian masih saja di bawah rata-rata”, keras Stefanus dengan ekspresi dingin.
“Kalian keluar!”, usir Stefanus.
Para karyawan pamit keluar dengan ekspresi masam, dan tubuh bergetar dengan wajah yang amat lelah. Semua karyawan ngerundel mengenai bosnya yang terus memarahinya.
“Kita kali ini tidak bisa tidur nyenyak”,
“Iya nih, aku dengar dia itu berseteru sengit dengan anaknya”
“Oh ya, sungguh bukan main”
“Aku lelah nih, aku keluar saja ya dari perusahaan ini”
Mereka berjalan sambil menghentakan kakinya dengan pundak luruh. Seluruh jajaran karyawan hanya pasrah dengan nasibnya untuk dapat meluangkan waktu bertemu keluarganya.
Sedangkan Stefanus yang masih di dalam ruang rapat, kepalanya sedang pening dan memijat pelipis kepalanya dengan kedua tangannya. Lalu kaki tangannya datang dengan memberi salam pada Stefanus dengan sopan, “salam tuan, ada apa?”,dengan bertanya.
“Cari tahu apa yang direncanakan Thomas bersama Gideon, dua hari kalian harus dapatkan informasi”, perintah Stefanus.
“Jika kalian tidak bisa, aku jamin kalian akan sengsara seumur hidup”, ancam Stefanus yang membuat Dani sedikit bergetar.
__ADS_1
“Pergilah”, usirnya.
“Saya laksanakan tuan!”, ucap Dani dengan ekspresi wajah khawatir dengan masa depannya.
Tatkala Stefanus sedang merencanakan hal kotor pada anaknya. Saat Thomas telah deal bekerja sama sesuai kesepakatan yang sedikit bantahan antara Gideon. Lalu mereka pamit.
“Tuan makasih, senang bekerja sama dengan anda”, ucap Thomas dengan menyodorkan tangannya dan dibalas oleh Gideon dengan senyuman yang penuh arti. Jordhan dan Reyhan yang ikut menemani begitu lega setelah mencapai kesepakatan meski di dahului pertengkaran sengit.
“Kami permisi dulu tuan”, pamit Thomas yang diangguki oleh Gideon yang masih asik minum teh hijaunya.
Setelah meninggalkan Gideo sendirian di kamar VIP restoran. Thomas bergegas pergi kembali ke rumah untuk menemui Tina. Reyhan dan Jordhan dia tinggalkan dengan menyuruhnya untuk menaiki taxi.
“Akhirnya kita bisa tidur nyenyak”, ucap Reyhan.
“Bisa aja kamu Rey”, ucap Jordhan dengan mendorong tubuhnya.
Reyhan malah berdecak, “ck”.
“Thomas malam ini mau kemana?”, tanya Reyhan.
“Kalian naiklah taxi dari sini”, imbuh Thomas dengan meminta Reyhan untuk melemparkan kuncinya lalu Reyhan memberikan saat tatapan Thomas dingin dan langsung memasuki mobil dikemudi kemudian melesat begitu saja.
Setelah kepergian Thomas, Reyhan mengumpat Thomas di belakang dan Jordhan yang melihat menggeleng kepala.
“ Dasar bos kejam, seenak jidat meninggalkan kami setelah dapat yang diinginkan. Aku rasa ingin membalas kelakuannya”, umpat Reyhan dengan kaki menendang-nendang dan berteriak seperti orang gila, “arghhhh..,”di tempat umum.
Jordhan pergi begitu saja dengan kedua tangan di sembunyikan di dua saku celana, berjalan tanpa menghiraukan Reyhan yang seperti orang gila. Ketika merasakan Jordhan tidak di sampingnya, Reyhan lalu menyusul dan berteriak, “tunggu! Tungguin aku Jordhan!”, saat Jordhan akan masuk ke dalam taxi.
Reyhan berlari dan masuk ke dalam taxi duduk di samping sang sopir sedangkan Jordhan duduk di jok belakang penumpang.
Setelah sampai di mansion Thomas memanggil Tina, “Tina! Tina! Tina!__,”sampai ke ruang tamu ia berhenti berteriak karena Tina sedang di suguhkan tamu yaitu sahabatnya sendiri. Lalu Thomas menyapa mereka, “hai Grace, Jack”,dengan duduk di samping Tina.
__ADS_1
“Hai Thomas, sudah pulang. Syukurlah”, ucap Grace.
“Ada keperluan apa kalian ke sini?”, tanya Thomas.
“Haiss, aku itu sahabat Tina dari kecil, ya, mainlah untuk melepaskan rindu”,ucap Grace dengan mengunyah keripik.
“Aku tidak hanya menemani Tina saja, aku juga mau mengadu dan kesal kepada kamu Thomas. Kamu sebagai seorang terkasih Tina seharusnya menjaga dia yang lebih baik lagi. Tadi itu Tina hampir di tabrak mobil kembali..,” omelan Grace terpotong saat Thomas menanyakan keadaan Tina dengan wajah khawatir, “sweety kamu tidak apa-apa kan? Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang. Aku akan cari tahu siapa yang berani menyentuhmu”, sambil memeluk tubuh Tina dalam dekapannya dan mencium kepala Tina.
“Thomas aku tidak apa-apa, tolong lepasin pelukan kamu. Aku bisa hilang nafasku”, ujar Tina yang di lepaskan oleh Thomas.
“Syukurlah sweety”,lega Thomas.
“Thank you Grace”, ucap Thomas dengan tulus.
“Iya, kamu berterimakasihlah pada suamiku. Dia yang menyelamatkan Tina dan melihat Tina yang hampir tertabrak mobil sedan abu-abu itu. Dia juga...,”omelan Grace terpotong kembali. Kali ini yang menghentikan ocehannya Jack. “usst, sweety...,” ucap Jack dengan menghentikan bibirnya yang terus ngoceh dengan telunjuk jarinya.
Thomas mengucapkan terimakasih kembali pada Jack. Tina yang berada di sampingnya mengatakan, “Thomas tangan Jack terluka saat menolongku karena kegesek dengan aspal”.
“Sekali lagi aku termakasih Jack, aku akan cari tahu dalang yang menabrak Tina dan membuat kamu terluka meski hanya lengan tapi suatu hari dia akan membuat masalah kembali”, ucap Thomas dengan ekspresi wajah dingin.
“Tidak perlu Thomas, yang telah menabrakku sudah tertangkap polisi. Dia itu Elizabeth yang dulu sering merecoh kehidupan ku”, ucap Tina dengan mengusap tangan Thomas. Thomas tiba-tiba memeluk tubuh Tina kembali dengan mengatakan, “aku janji akan membuat dia tidak bisa keluar dari penjara”, dengan api kemarahan menyala di matanya.
Saat tengah berpelukan Grace berdehem, “hem hem hem__”, lalu Thomas melepaskan pelukannya.
“Maaf bukan maksud mengganggu, kami harus segerah pulang karena sudah malam”,sela Grace.
“Thank you Grace sudah menemani aku dan Jack sekali lagi terima kasih untuk menjadi super hero menolongku”, ucap Tina dengan tulus.
“Iya Tina, aku jadi bosan mendengarkan kalian mengucapkan terima kasih mulu”, kekeh Jack dengan merangkul pinggangnya Grace.
“Yaudah kami pamit, bye”, pamitan Grace dengan Jack. Setelah mengantar mereka sampai pintu tiba-tiba Thomas menggendong Tina dan dia terkejut. Thomas membawa tubuh Tina ke kamar. Sedangkan Felix yang tadinya mau keluar menemui ayahnya, ia urungkan saat tahu Thomas menggendong ibunya ke kamar untuk menuntutnya melakukan sesuatu.
__ADS_1
Felix mengejek Thomas dalam batin, “dasar orang dewasa yang tak pernah terlepas dari senonohnya”, dengan kembali masuk.
Thomas memulai aksinya dengan mencium Tina dengan dalam di atas ranjang dan disambut baik oleh Tina. Thomas merasa senang, Tina membalas ciuman itu meski tidak sebaik dirinya tapi Thomas tetap menerima dengan semangat. Disela-sela itu Thomas mengatakan, “aku ingin kita segerah membuat surat nikah dan aku janji resepsi kita akan diadakan setelah semua urusan selesai”, dengan terus mengecup ceruk leher Tina. Tina membalas dengan mengatakan, “aku akan menunggu saat itu tiba. Dan aku ingin cepat pulih ingatanku ini”, dengan menuntut lebih dari Thomas. Sampai mereka terlelap hingga pagi hari.