Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Keputusan Hakim


__ADS_3

Lauren yang saat ini berada di Belanda bersama putranya sedang menyusun rencana untuk kembali ke California. Lauren tidak ingin menunggu lama untuk mendapatkan Thomas. Lauren takut apabila dirinya lama-lama tinggal di Belanda, Thomas segera membentuk anggota keluarga bersama Tina. Thomas tidak ingin mimpinya menjadi mimpi buruk.


Aku harus menitipkan putraku kepada momy. Agar aku bebas berkeliaran di sekitaran Thomas. Aku harus mendapatkan pekerjaan seperti Ellizabeth yang saat ini naik daun. Aku harus cari bantuan dari orang dalam. Aku bisa bekerja dengan penghasilan dari dunia entertainment. Ya, aku bisa mendapatkan segalanya. Aku tidak mau berdiam diri di negara ini. Aki juga harus menyingkirkan Stefanus.


Lalu Lauren menuliskan rencana ketika meninggalkan negara Belanda. Setelah selesai menuliskan rencana saat pergi kembali ke California. Lauren ke luar dari kamar menghampiri kedua orang tuanya dan putranya di pangkuan momy nya.


Lauren mengambil alih putranya ke dalam pangkuan dan ikut bergabung menonton tv sambil mengutarakan kalimat di dalam kepalanya.


“Mom, dad, aku mau kembali ke California”, ucap Lauren sambil menyusui putranya dalam pangkuannya.


“Kembali ke California?”, tanya Arlina.


“Yes, mom”, angguk Lauren.


“Kamu yakin?”, tanya Evan.


“Ya dad, tapi kalian tetap tinggal di sini untuk menjaga putraku. Jadi aku kesana sendirian setelah mendapatkan pekerjaan yang aku lamar”, ucap Lauren.


“Kamu melamar pekerjaan apa?”, tanya Evan.


“Aku akan masuk ke dunia entertainment setelah dua bulan berlalu”, ucap Lauren.


“Tapi..tapi kamu masih dalam masalah di sana. Itu sangat sulit kamu masuk ke sana Lauren”, ucap Arlina.


“Tenang saja, aku sudah memiliki perhitungan dan aku juga meminta bantuan kepada orang dalam. Jadi, momy tidak perlu khawatirkan itu”, ucap Lauren.


“Baiklah, jika itu keputusan kamu”, ucap Evan.


Lauren tersenyum dengan sinis.


Dasar pak tua brengs*k yang tak tahu malu selalu saja menyusahkan putrinya. Dan enak-enak hanya duduk, makan, dan tidur. Tak tahu diri. Kalau kamu bukan ayahku, akan aku musnahkan dirinya.


Sementara Thomas mengajak Felix dan Tina jalan-jalan bersama Audrey ke Disneyland.


Mereka sangat senang dan menikmati wahana Disneyland.


“Bagaimana kalau kita naik rollercouster?”, tanya Audrey.


“No, sweety, untuk anak di bawah umur tidak bisa naik itu”, ucap Tina.


“Yahh, padahal asyik. Apabila kita naik wahana itu aunty”, cemberut Audrey.


Pada saat melihat Audrey kecewa, Felix memberikan tawaran untuk menaiki kincir angin.


“Audrey, bagaimana kalau kita naik kincir angin? Sepertinya seru”, ucap Felix.


“Yaudah, kita naik itu”, ucap Audrey.


“Kalau begitu kita ke sana”, ajak Thomas.

__ADS_1


“Let’s go!”, semangat Audrey dengan menggandeng tangan Tina.


Lalu mereka membeli karcis untuk menaiki wahana tersebut dengan ceria. Terlebih Audrey terus histeris dengan terus berceloteh.


“Aunty kita naik ini, bisa melihat pemandangan dari jendela. Mereka terlihat seperti semut”, ucap Audrey dengan memakan premen sunduk.


“Iya sayang, kamu duduklah. Aunty gak sanggup kalau kamu jatuh nak”, ucap Tina.


“Tenanglah sweety, biarkan dia menikmati pemandangan di bawah”, ucap Thomas.


“Tapi..aku takut jika Audrey tidak bisa tenang akan jatuh”, ucap Tina.


“Tenanglah, kita ada di dekatnya”, ucap Thomas.


“Baiklah”, ucap Tina.


“Sayang, kamu boleh melihat ke bawah tetapi jangan berdiri. Kamu bisa melihat dengan duduk seperti Felix di dekat uncle”, ucap Thomas memperingati Audrey.


“Iya uncle, maaf”, senyum Audrey mengambil tempat duduk dengan tenang.


Setelah selesai menikmati kincir angin lalu di lanjutkan menaiki wahana yang seru lainnya yang disuguhkan di tempat Disneyland.


Beberapa lama kemudian mereka lelah dan lapar lalu pergi ke restoran terdekat. Mereka mengambil tempat duduk dekat dengan jendela. Lalu mereka memesan sajian menu yang diberikan oleh pramusaji.


Audrey memilih menu yang manis yaitu es krim, masroom, dan chese cake.


Felix memesan masakan yang gurih yaitu kentangky dengan ditemani eskrim juga.


Seraya menunggu sang pelayan mengantarkan makanan mereka berceloteh panjang lebar seputar wahana yang telah dicoba.


“Sayang, bagaimana wahana tadi? Apakah kalian sangat menikmatinya?”, tanya Tina.


“Ya, sangat menikmati momy”, ucap Felix.


“Benar aunty, tapi sayang kita tidak bisa naik roller couster yang tinggi tadi”, ucap Audrey.


“Nanti kalau sudah besar, kamu juga akan merasakan rasanya naik wahana iti. Tapi untuk saat ini kita mencoba wahana yang aman dahulu”, ucap Tina.


“Ya, aunty”, cusp Audrey.


Thomas melihat mereka bahagia hatinya ikut senang. Apalagi melihat keceriaan mereka seperti keluarga kecil yang sudah dibentuk.


Sementara Ellizabeth sedang beradu akting dengan aktor dan aktris yang pernah dia gadang-gadang. Penampilan Ellizabeth saat ini performanya menurun. Sehingga membuat sang sutradaranya terus berapi-api. Ellizabeth hanya mengucapkan kata maaf saja.


Sang sutradara tersebut lalu menghentikan syuting untuk break setengah jam.


“Kita break dulu gaes, tiga puluh menit. Aku mau performa kalian nanti setelah istirahat bisa lebih baik dari ini”, tegas sutradara tersebut dengan pergi berlalu meninggalkan mereka.


Ellizabeth yang saat ini merasakan banyak kesalahan hanya diam di ruang rias sambil menghembuskan nafas kasar dan memijat kepala. Sang asisten datang membawakan makanan cepat saji untuknya.

__ADS_1


“Elli, makanlah dulu”, sang asisten tersebut.


Ellizabeth menerima makanan yang di bawa oleh sang asistennya. Ketika sedang makan, tiba-tiba Amanda datang dengan senyum sinis.


“Elli, aku kira kamu akan selamanya di atas angin. Ternyata performa yang ku lihat saat ini begitu mengejutkan sehingga membuat sang sutradra itu terus-terus marah. Kamu sunggu luar biasa menguji kesabaran sutradara itu”, ejek Amanda.


“Kamu tidak perlu mengurusi performaku. Seharusnya kamu urusin urusanmu sendiri”, ucap Ellizabeth lewat kaca rias.


“Aku begini sayang sama kamu lho. Aku sungguh kasihan. Semoga performa kamu lebih buruk dari ini. Ups, bukan aku salah bicara. Aku ingin mengatakan semoga performa kamu lebih baik”, senyum Amanda dengan bibir di tutupi telapak tangan.


“F*ck”, marah Ellizabeth dengan menunjukkan jari tengah.


Sedangkan Stefanus terus berfoya-foya memanjakan diri di gedung diskotik dengan dilayani dua orang wanita.


Stefanus memanjakan diri dengan terus berminum-minum. Lalu membawa salah satu wanita sexy ke hotel untuk dimanjakan hingga pagi hari.


Tatkala kehidupan Stefanus sedang rumit, saat ini Herlena dan Gideon sedang berduaan pergi ke sebuah restoran sambil bercerita tentang masa lalu.


“Gideon, aku tidak nyangka kalau kamu masih hidup saat aku mendengar dari bibir Stefanus. Sekarang kamu malah ikut mengurusi permasalahan aku dengannya. Padahal aku telah menyakiti perasaan kamu”, ucap Herlena dengan rasa sesal.


“Aku tidak merasa tersakiti Herlena”, dengan tangan menggenggam tangan milik Herlena yang telah lama dirindukan.


“Aku dahulu menyatakan karena aku tidak ingin menyesal nantinya”, ucap Gideon.


“Thank you Gideon. Kamu benar-benar seperti seorang kakak bagiku”, ucap Herlena.


Gideon mendengar ucapan dari bibir Herlena seperti hatinya tersambar petir.


Apakah dari dulu kamu hanya menganggapku sebagai seorang kakak. Apakah kamu tidak bisa melihatku sebagai seorang laki-laki yang melindungi kamu? Aku ingin sekali menyatakan cintaku untukmu meskipun kita sudah sama-sama bukan remaja. Namun di sisa hidupku aku ingin tetap bersama kamu.


“Iya, aku tahu Herlena”, senyum kecut dari Gideon.


Seraya mereka sedang mengobrol, sang pelayan datang membawakan hidangan untuk mereka.


Setelah pelayan pergi, mereka menikmati hidangan yang telah di pesan.


“Bagaimana perasaan kamu saat ini setelah memutuskan untuk bercerai?”, tanya Gideon.


“Sungguh lega, setelah kamu memberiku saran walaupun aku terus berkepala batu”, senyum Herlena yang terlihat cantik di mata Gideon.


“Syukurlah, kita tinggal menunggu proses keputusan persidangan kamu dan Stefanus. Semoga doa kamu tercapai dan bisa hidup lebih bahagia lagi”, ucap Gideon.


“Thank you, Gideon”, ucap Herlena.


(Tiga hari menuju keputusan persidangan cerai Herlena dan Stefanus)


Herlena sedang bersiap-siap menghadiri sidang keputusan dari hakim soal perceraian hari ini. Hari ini merupakan proses keputusan dari hakim. Jantung Herlena terus berdetak dengan cepat dan tak karuan. Herlena berharap sidang keputusannya sesuai dengan doa yang selalu di panjatkan.


Herlena dan Gideon berangkat bersama dengan diantar oleh sopir pribadi Gideon. Mereka menghadiri proses keputusan dari persidangan perceraian tanpa kehadiran Stefanus. Sehingga kejaksaan memutuskan bahwa perceraian mereka secara hukum sah dengan beberapa berkas dokumen yang diberikan oleh klien yang terbukti ada kekerasan dari Stefanus. Herlena tersenyum lega dengan menatap Gideon yang juga merasa lega. Mereka saling berpelukan menyalurkan rasa senang mendengarkan keputusan dari kejaksaan.

__ADS_1


Sedangkan pengacara Stefanus hanya pasrah jika akan dapat omelan dari Stefanus.


Sementara Stefanus masih berada di hotel yang ia sewa bersama wanita bayaran dengan saling pelukan.


__ADS_2