
Paginya Felix mengajak Thomas dan Tina untuk mengikuti pekan olahraga yang diadakan di sekolah memperingati hari pahlawan untuk hari senin.
“Mom”, panggil Felix
“Ya, nak”, ucap Tina
“Besok Senin disekolah Felix ada pekan olah raga untuk semua siswa dan kami disuruh membawa orang tua untuk mengikuti olehraga sebagai perayaan hari pahlawan. Apakah momy dan daddy bisa mendampingi Felix di sekolah besok?”, ucap Felix sambil meminum susu.
“Tentu Felix, momy akan ikut demi anak laki-laki momy yang tampan rupawan”,ujar Tina.
“Daddy juga akan ikut”, ucap Thomas.
“Kamu yakin Thomas, soalnya hari senin bukankah kamu bekerja dan mengadakan rapat soal management pemasaran”, ucap Tina dengan mengunyah roti tawar yang berselai strobery.
“Tenang sayang, aku bisa menundanya demi anak daddy ini”, ucap Thomas dengan mengusap kepala Felix di sampingnya.
“Thank you daddy”, ucap Felix dengan semangat.
Setelah makan pagi selesai Felix meminta izin bermain dengan teman-temannya di lingkungan lama dekat apartemen.
“Mom, Felix mau minta izin bermain di lingkungan lama kita yang dulu pernah kita tinggali di daerah apartemen lama untuk bermain bola. Apakah momy mengizinkan?”, ucap Felix.
“Boleh”, ucap Tina.
“Ya boy boleh, tapi kamu kesana diantar dan mau ditunggui oleh sopir”, lontar Thomas
“Thank you mom, dad”, ucap Felix dengan beranjak dan memeluk mereka bergantian lalu pergi melesat.
Usai kepergian Felix beberpa lama tiba-tiba Stefanus datang dengan wajah amarah sampai para penjaga kewalahan untuk menghadang Stefanus. Ia masuk ke rumah Thomas dengan berteriak, “Thoma! _”, lalu Thomas keluar dan langsung kena hantaman. Tina yang akan turun dari tangga sampai di tengah melihat layangan tinju dari Stefanus ayahnya Thomas dan ia terkejut dengan menutup bibirnya dengan kedua tangan.
Tina kemudin turun menolong Thomas, Tina melihat hidungnya berdarah. Stefanus mencerca dengan api kemarahan.
“Kamu brengs*k dude, kenapa kamu menemui Gideon?”,amarah Stefanus dan Thomas tersenyum sinis.
“Aku menemuinya karena masalah lain dan itu bukan urusan anda orang tua”,seru Thomas.
“Wah, kamu mulai membangkang sejak ada wanita j*lang ini. Kamu terus menyatakan perang hanya demu wanita itu yang tidak jelas asal usul. Suatu hari kamu akan menyesal”,cecar Stefanus.
“Aku tidak akan pernah menyesal, tapi aku akan menyesal jika menuruti daddy orang tua pengkhianat! Bukankah Lauren sedang hamil anak kandung kamu”, gertak Thomas dengan gigi mengetat.
__ADS_1
“Orang tua macam kamu tidak perlu dipatuhi, aku kasihan pada momy. Emang aku tidak tahu apa yang daddy lakukan di luar sana”, cerca Thomas dengan meludah, “cuihh”, dan membisikan, “aku tidak akan membiarkan momy terjerembab rasa sakit hati akibat ulah bejat kamu”, dengan menyuruh anak buahnya menyeret Stefanus walaupun dia ayahnya. Bagi Thomas dia sudah bukan seorang ayah yang dihormati. Stefanus yang dicekal lengannya oleh kedua anak buah Thomas langsung menghempaskan dan pergi dengan wajah amarah juga emosi dalam diri membara.
Sehabis Stefanus pergi Tina mengobati luka di bibir Thomas dengan ekspresi wajah khawatir.
“Apakah sakit Thomas”, ucap Tina sambil mengoleskan obat di dekat hidung dan dipinggir bibirnya. Thomas yang melihat ekspresi wanitanya dengan ekspresi sedih Thomas menghiburnya dengan meminta Tina menciumnya di sudut bibir yang terluka. Tapi Tina begitu ragu, namun tetap memberikan kecupan di sudut bibir. Thomas yang merasa masih kurang menarik lengan dan tengkuk Tina hingga ia terjatuh dalam pangkuan. Thomas menciumnya dengan begitu dalam sambil memposisikan tubuhnya dalam pangkuan mengakang. Di sela-sela ciuman tiba-tiba ada deringan telepon dari ponsel di saku celana kanan milik Thomas. Tina mendorong dada bidang Thomas untuk melepaskan agar dia mengangkat teleponnya. Thomas begitu kecewa pada orang yang mengganggu aksi berduaan dengan Tina.
“Sh*t, siapa yang mengganggu?”,dengus Thomas dan Tina turun dari pangkuan Thomas dengan senyuman heran. Ketika Thomas melihat nomor tertera di layar depan lalu mengangkatnya dengan malas.
“ Hallo, ada apa Reyhan?”, tanya Thomas.
“Bro, aku menemukan sesuatu masa lalu Gideon dengan daddy kamu”, ucap Reyhan diseberang sana.
“Kamu menemukan apa?”, tanya Thomas.
“Lebih baik kamu membaca sendiri, akan aku kirim email. Itu akan mengganggu pikiran kamu pastinya”, ucap Reyhan dengan mematikan ponsel dan langsung mengirimkan email dengan secepat kilat masuk ke email Thomas dengan suara ting. Thomas kemudian membuka dan membaca. Wajahnya teramat serius seperti menemukan secercah keburukan dari ayahnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Tina yang baru saja datang membawa camilan dan teh hangat melihat ekspresi seram membuat Tina bingung. Lalu ia mencoba bertanya.
“Thomas!”, panggil Tina dengan mengusap tangannya.
“Ada apa? Sepertinya kamu marah setelah mendapatkan kabar”, ucap Tina tetapi Thomas tidak menjawab malah memeluk tubuh Tina dengan erat.
“Thomas ada apa?”, tanyanya kembali.
Sementara Felix sedang berseteru dengan Wily masalah pertengkaran anak-anak di taman. Orang dewasa yang lewat melihat mereka begitu gemas.
“Felix, kamu seharusnya keluar dari sekolah itu. Kamu tidak pantas”, amarah Wily yang selalu kalah dalam pembuatan program robotik. Tapi Felix tidak menggubrisnya dan malah mengajak teman-temannya pergi.
“Ayo kita pergi”, ajak Felix.
“Tunggu!”, teriaknya sampai-sampai pengurus Wily takut apa yang dilontarkan oleh tuannya. Felix berhenti saat Wily berteriak. Lalu Wily mengatakan, “bagaimana jika besok dipertandingan balap karung, lari, dan memecahkan balon sebagai penentu siapa yang harus keluar dari sekolah itu”,seru Wily.
Felix setelah mendengarkan ancaman Wily pergi begitu saja. Tapi Wily yang berada di belakangnya sedang besengut dan mengepalkan tangannya.
“Awas besok aku akan mengalahkan kamu dan berlutut dikaki ku ho ho ho”, batin Wily lalu pergi meninggalkan taman bermain.
Keesokan harinya Felix bersama kedua orang tuanya sudah siap mengikuti lomba di sekolah. Mereka berangkat bersama. Tina memberikan semangat untuk Felix sang putranya.
“Felix siap!”, teriak Tina dengan mengangkat lengannya dan mengepalkan tangan sebagai semangat untuk putranya.
“Fire”, jawab bersamaan dengan Thomas dan memperagakan bagaimana semangat untuk pekan olahraga ini.
__ADS_1
Thomas, Felix dan Tina telah sampai ke sekolah mereka turun dari mobil yang di sopiri oleh Reyhan. Lalu Reyhan memarkirkan mobil ke area parkir. Felix dengan kedua orang tuanya memasuki arena lomba di sekolahnya Felix. Tina sampai kagum melihat suasana kepadatan area sekolah dan hiasan yang dibuat.
“Felix, sekolah kamu mengagumkan sekali”, ucap Tina dengan mulut menganga dan Felix bangga dengan berkacak pinggang sedangkan Thomas menggeleng kepala melihat tingkah Tina seperti baru pertama kali merasakan.
Saat Felix sedang berbincang dengan kedua orang tuanya tiba-tiba Wily datang menghampirinya bersama kedua orangtuanya.
“Felix, kamu masih ingatkan janji di taman yang sudah aku katakan kepadamu”, seru Wily dengan sorot mata permusuhan. Tapi Felix mengabaikan dengan mengedikan dua bahunya sedangkan kedua orang tua mereka tidak tahu apa yang terjadi di antara anak-anaknya.
“Wily kamu tidak boleh begitu”, ucap Amanda dengan lembut untuk anaknya.
“Momy jangan ikut campur”, imbuhnya.
“Maaf tuan, nyonya, anak saya kurang sopan”, ucap Amanda dan Damian yang melihat anaknya seperti itu menasehatinya.
“Boy, kau tidak boleh berbicara seperti itu”, ucap Damian dengan mengusap kepalanya.
“Daddy, aku sudah membuat perjanjian jika dia kalah harus keluar dari sekolah sini”, rengek Wily.
“Apa?!”, kaget kedua orang tua mereka.
“Boy apakah kamu membuat janji seperti itu?”, tanya Thomas yang telah mendengarkan perkataan Wily.
“Tidak dad, dia yang mengajakku bertanding,aku mengabaikan perkataannya. Tapi dia terus mengusikku. Mungkin gara-gara dia tidak pernah masuk rangking pertama dad,mom”, titah Felix.
“Bukan karena itu, aku membenci kamu anak baru. Kita lakukan sesuai janji itu. Janji tetap janji”, ujar Wily dengan berkacak pinggang.
“Wily”, panggil Amanda dengan ekspresi sedih.
“Sudahlah baby, biarkan saja. Biar nanti dia menyesali sendiri”, ucap Damian menenangkan Amanda.
Di sela pertengahan sengit Wily dengan Felix, peluit itu berbunyi, “pritttt_”, para siswa berkumpul dan orang tua mendampingi. Pemimpin olahraga memberikan himbauan begitu panjang lebar dan lomba pun mulai.
Lomba pertama yaitu memecahkan balon, kedua balap karung, dan ketiga balap lari. Mereka terus berlomba dengan meriah. Banyak orang bersorak hingga Wily jatuh dilomba balap karung dan Damian membantu anaknya yang terjatuh tanpa memperdulikan lomba. Wily masih menyatakan bahwa lomba itu pertandingan antara dirinya dengan Felix.
Beberapa lama kemudian Wily kalah satu telak pertandingan dengan dimenangkan oleh Felix. Wily mendengus kesal dengan wajah masam. Sedangkan Damian meminta maaf kepada keluarga Felix. Damian mengatakan kepada Felix untuk melupakan perbuatan anaknya yang keterlaluan dengan memohon dan Felix mengiyakan. Damian begitu berterimakasih dengan Felix dan memeluk tubuh mungil Felix. Lalu Damian dan Amanda berpamitan duluan kepada mereka. Setelah mereka menjauh Tina dan Thomas memuji kejantanan Felix.
“Boy, daddy bangga dengan kamu”, puji Thomas.
“Momy juga bangga”, puji Tina dengan mencium pipi kanan dan Thomas mencium pipi kiri Felix.
__ADS_1
Setelah selesai perlombaan mereka pulang dengan kemenangan Felix . Sementara Wily sampai di rumah menampilkan ekspresi wajahnya kesal dan Amanda mengusap dadanya untuk bersabar menghadapi Wily yang keras kepala itu.