
Usai resepsi pernikahan, saat ini Thomas mengadakan pesta dansa bersama pasangannya.
Para sahabat dan kerabatnya ikut berdansa dengan penuh tawa. Sementara Laura ekspresinya terlihat sedih karena Jordhan berdansa dengan wanita lain.
Vienna yang merasakan sorotan sedih dari wanita yang sedang berdansa dengan Rayhan menjadi tak enak hati.
“Jordhan, apa kamu tidak keterlaluan terhadap wanita itu yang amat mencintai kamu?”, tanya Vienna dengan berbisik.
“Aku tidak keterlaluan, justru aku memberikan isyarat penolakan dan tidak memberikan harapan palsu untuknya. Apabila aku memberikan perhatian untuknya tapi perasaan aku untuknya itu malah lebih menyakitinya”, ucap Jordhan.
“Benar juga sih”, ucap Vienna dengan mangut-mangut.
“Kalau begitu kamu cari wanita yang kamu cintai uncle”, ucap Vienna kembali.
“Benar juga”, ucap Jordhan mengikuti gaya bicara Vienna.
“Yah! Kau meledekku ya?”, tanya Vienna dengan memukul dada Jordhan. Lalu Jordhan mengadu sakit.
“Kamu keterlaluan sweety”, ucap Jordhan dengan sorotan mata tajam.
“Cielah, biasanya aku gituin kalian juga gak apa-apa”, ucap Vio dengan gugup.
“Kali ini aku tidak mau memaafkan kamu. Aku akan menghukummu”, ucap Jordhan.
“Hahhh”, tarikan hembusan nafas kasar dari Vienna.
“Terus kamu mau menhukumku dengan cara apa?”, tanya Vienna.
Jordhan mendengarkan tantangan Vienna dengan tersenyum menyeringai dengan memajukan wajahnya lebih dekat dengan Vienna dan akan menciumnya. Namun aksi Jordhan gagal karena Damien adiknya itu.
“Vienna, aku mau mengajak kamu makan. Di sana makanannya banyak. Apa kamu tidak lapar?”, ucap Damien yang tidak peka dengan situasinya membuat Jordhan merasa kesal dengan menarik nafas kasar.
“Mau dong. Yuk!”,ajak Vienna menarik tangan Damien.
Jordhan merasa kesal sampai berkacak pinggang dan mengikuti Vienna keluar dari ruang dansa.
Vienna mengambil makanan mochi namun tangannya langsung ditarik oleh Jordhan dan dibawa pergi ke tempat sepi. Sedangkan Damien tersenyun miring melihat tingkah kakak cowoknya yang posesive terhadap sahabatnya. Laura yang baru keluar melihat adegan itu menambah sayatan dalam hatinya dan membuat air matanya kembali menetes.
Sedangkan Vienna malah tidak senang dengan perlakuan dari Jordhan yan membuat moodnya buruk.
“Kamu apaan sih!”, marah Vienna dengan menghempaskan tangan milik Jordhan.
Jordhan hanya diam saja dengan pelampiasan Vienna terhadapnya.
“Aku akan membantu kamu. Tapi caranya bukan begini dong!”, amarah Vienna.
“Tanganku kan sakit”,lirih Vienna dengan memegang pergelangannya yang memerah. Jordhan menjadi merasa bersalah dan Jordhan membawa tubuh Vienna ke dalam pelukkannya dengan membisikkan kata maaf.
“Aku maafkan, sekarang biarkan aku makan”, ucap Vienna.
“Baiklah”, ucap Jordhan dengan ekspresi frustrasi karena tidak bisa mengambil ke sempatan.
__ADS_1
Vienna pergi dengan senang dan menyincipi semua hidangan prasmanan yang disuguhkan dalam meja besar.
Sementara Tina tengah bermesraan dengan Thomas di dalam kamar dengan meninggalkan area pesta. Thomas terus memuji kecantikan Tina yang membuat jantung Tina ingin meledak.
Tatkala Tina dan Thoma dalan nuansa bahagia, kini Lauren sedang membuat siasat dengan Brian untuk menghancurkan kisah percintaan mereka.
“Bagaimana cara kamu untuk menghancurkan dan memisahkan mereka?”, tanya Lauren.
“Rencana yang ku buat ini membuat kamu pasti tak menyukai”, ucap Brian.
“Rencananya apa?”, tanya Lauren.
“Apakah kamu akan menyetujui rencanaku ini apabila dibilang gila olehmu?”, tanya Brian.
“Ya apa?”, tanya Lauren.
“Kamu harus berjanji dahulu tidak akan protes, berteriak, dan mencaciku”, ucap Brian dengan menyodorkan jari kelingking.
“Baiklah, aku tidak akan berteriak dan apalah itu. Sekarang katakan apa rencana kamu?”, ucap Lauren dengan membola.
“Kamu harus menautkan jari kelingking dahulu, baru aku kasih tahu”, ucap Brian.
“Cepat katakan! tidak usah berbelit-belit!”, jengah Lauren.
“Kamu harus menautkan jarimu dahulu baru ku kasih tahu”, ucap Brian dengan menunjukkan jari kelingkingnya.
“Kayak anak kecil saja, ck”, ucap Lauren. Lalu Lauren mengalah dan menautkan jari kelingkingnya.
“Gitu dong”, ucap Brian.
“Rencanaku yaitu...aku mau kamu berpura-pura berhubungan kembali dengan Stefanus dan masuk ke dalam kisah cinta mereka”,ucap Brian.
“Apa!”, teriak Lauren dan Brian menunjukkan jari kelingking yang telah bertautan.
“Kamu gila! Aku tidak akan mengambil ide kamu”, ucap Lauren.
“Jika kamu tidak mau, tidak apa-apa. Apakah kamu punya ide lain?”, tanya Brian dengan senyum menyeringai.
Lauren menjawab dengan menggelengkan kepala. Brian tersenyum sinis setelah mendapatkan jawaban dari Lauren.
Uhhh, ternyata para wanita yang ku temui semuanya otaknya kosong. Tidak ku sangka, rencanaku akan semulus ini. Aku harus memanfaatkan dia untuk keuntunganku.
“Apa kamu tidak punya rencana lain?”, tanya Lauren.
“Aku hanya punya ide itu saja”, ucap Brian.
“Aku akan pikirkan lagi rencana kamu”, ucap Lauren dengan menghembuskan nafas kasar dengan pergi berlalu meninggalkan Brian.
Lauren pergi menuju ke apartemen setelah seminggu tidak kembali ke apartemen miliknya.
Di sana Lauren di kagetkan dengan seorang pria yang tengah duduk sambil minum wine membuat mood Lauren buruk.
__ADS_1
“Kenapa kamu masih ada di sini?”, tanya Lauren dengan ekspresi dingin sambil berlalu pergi ke kamar.
Lauren menghembuskan nafas kasar dengan duduk di pinggir ranjang sambil menenangkan pikirannya yang sedang buruk karena memikirkan ini itu.
Sedangkan Ellizabeth membuat siasat sendiri untuk mencelakai Tina. Tetapi Ellizabeth membutuhkan rencana untuk membuat Brian menyesali perbuatannya karena telah mengabaikan dirinya yang sudah menolongnya.
Ellizabeth keluar dari rumah kecilnya dengan memakai topi agar tidak ada orang yanh mengenalinya. Ellizabeth pergi dengan memanggil taxi.
Ellizabeth mencari alamat tempat tinggal Brian. Beberapa lama kemudian Ellizabeth menemukan rumah Brian. Ellizabeth mengetuk pintu dengan keras namun tidak ada orang di dalam.
Ellizabeth mencoba membuka pintu Brian dengan menggunakan penjepit lidi dan akhirnya terbuka setelah beberapa menit berkutat dengan lubang pintu.
Ellizabeth membuka topinya dan duduk di sofa untuk menunggu Brian datang. Sebelum Brian datang, Ellizabeth mencari sesuatu untuk mengancam Brian. Mata Ellizabeth tertuju dengan pisau yang ada di dapur.
Beberapa jam kemudian ada sebuah pintu yang terbuka dari luar. Ellizabet mencoba mencari tempat persembunyian.
Sedangkan Brian terheran dengan pintu rumahnya yang tidak terkunci. Brian mengendap-endap memasuki rumahnya karena takut ada maling yang mencoba mencelakai dirinya. Namun Brian telah mencari sosok manusia di beberapa sudut ruangan tidak ada. Brian mencoba menerka dengan pikiran positif.
Mungkin aku lupa menguncinya.
Brian menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berwarna coklat. Lalu Brian tertidur dengan terlelap. Ellizabeth keluar dari persembunyiannya di balik jendela. Ellizabeth menghampiri Brian yang terlelap tidur diatas sofa. Ellizabeth membawa pisau dan mendekatkan di pipi Brian dengan halus sambil berkata, “kamu benar-benar pria brengs*k, tidak tahu malu, dan baj*ngan yang seharusnya tidak kuberi belas kasih kepadamu”.
Ellizabeth mencoba menggoreskan pipinya dengan pisau yang dipegangnya. Brian merasakan perih di pipi kirinya. Brian mencoba mengusap pipinya tanpa membuka mata. Brian merasakan ada sesuatu yang basah di pipi kirinya namun kental. Lalu Brian membuka matanya dan terkejut melihat Ellizabeth berada di dekatnya.
“Elli!”, panggil Brian dengan nada tinggi.
“Apa yang telah kau lakukan dengan wajahku?!”, tanya Brian masih bernada tinggi.
“Aku hanya mau memberikan pelajaran untuk pria pekhianat sepertimu saja”, ucap Ellizabeth sambil mengusap pipi Brian.
“Lepaskan tanganku Elli!”, mohon Brian dengan suara tinggi.
“Aku akan melepaskan tangan kamu, tapi kamu harus membantuku menghancurkan mereka yang telah mempermalukan aku terutama Tina dan Herlena”, ucap Ellizabeth penuh dengan dendam.
“Ok, aku akan bantu kamu. Sekarang lepaskan tanganku dahulu”, ucap Brian.
“Aku akan melepaskan setelah kamu cap jari di kertas yang sudah aku susun untuk berjaga-jaga”, ucap Ellizabeth.
“Lepaskan aku dahulu! Bagaimana aku mau cap jika tanganku masih terikat begini”, ucap Brian dengan nada marah.
“Tenang saja, aku bisa buat cap jari dari tangan kamu”, ucap Ellizabeth mengeluarkan tinta cap dan memaksa ibu jari Brian untuk menempelkan di atas kertas.
Kemudian Ellizabeth, melepaskan ikatan tangannya dan Brian merasa lega dengan ikatannya yang telah terlepas dari ikatan kencang dari Ellizabeth. Lalu Brian beranjak dari berbaringnya sambil mengusap pergelangan yang terasa sakit.
“Apa rencana kamu untuk menghancurkan mereka? “, tanya Brian.
“Aku ingin kamu menghancurkan Lauren baru Amanda dan Tina juga ibu dari Thomas. Mereka merupakan wabah sumber yang telah menghancurkan hidupku”, ucap Ellizabeth.
“Aku akan bantu kamu, namun kamu harus mengikuti siasat ku dan percaya apa yang ku rencanaku. Jika balas dendam kamu ingin tercapai”, ucap Brian.
“Baiklah, jika kamu mengkhianatiku sekali lagi awas saja”, ucap Ellizabeth pergi ke dapur mengambil air putih untuk membasahi tenggorokannya.
__ADS_1
Sementara Brian yang tengah betah duduk di sofa tersenyum sinis.
Ternyata Tuhan masih begitu adil dan berpihak denganku. Aku tidak perlu cari orang untuk ku manfaatkan. Aku hanya memanfaatkan dua wanita yang bodoh itu. Sampai tujuan aku tercapai.