
Suara bel dari luar apartemen Tina. Tina yang sedang menyuapi Felix beranjak dari pinggir ranjang untuk membukakan pintu. Tina menaruh mangkok bubur terlebih dahulu. Lalu membuka pintu dan terpampang wajah momy nya dengan buah tangan.
"Mom,mari masuk", ajak Tina dan Alena melangkah masuk sambil bertanya kepada Tina.
"Dimana kamar cucuku?"
"Di sebelah dekat kamar aku dan Thomas yang ada tulisan nama Felix mom dengan bergambar robot".
Alena langsung melangkah ke kamar cucunya sedangkan Tina membuatkan minum untuk Alena.
Alena membuka pintu dan berlari memeluk cucunya yang sedang duduk menunggu momy-nya menyuap kembali makanan.
Alena memeluk cucunya dengan erat lalu memberikan kecupan di keningnya dan melepaskan pelukannya sambil memandang wajah yang pucat itu dengan mengusap kepalanya sambil menanyakan keadaan cucunya.
"Bagaimana keadaan kamu boy?", tanya Alena
"Sangat baik grandma", ucap Felix dengan memberikan ulasan senyum hangat.
"Syukurlah kamu sudah membaik", ucap Alena sambil mengecek kondisi panas cucunya yang sudah mulai normal.
"Oh ya, grandma membawakan banyak camilan agar kamu cepat sembuh", ucap Alena mengambilkan makanan yang ada di kantong kresek diberikan kepada Felix yang terdiri dengan berbagai macam buah-buahan, roti, susu kotak, dan chocolate minuman sachet. Tina yang baru masuk melihat itu semua menggelengkan kepala sambil menaruh minuman di atas meja belajar Felix.
"Momy itu terlalu boros", protes Tina.
"No sweety, aku akan membawakan apa saja untuk cucuku agar ia cepat sembuh", ucap Alena dengan mencium pipi gembulnya.
"Tapi mom...," ucapan Tina dipotong dengan suara Alena, "usstt", dengan telunjuk jari dibibirnya.
"Aku membeli untuk cucuku bukan untuk siapa. Agar ia cepat sembuh", ucap Alena.
"Thank you mom", ucap Tina.
"Iya, tadi Felix juga sudah mengucapkan terima kasih. Kalian membuatku seperti orang lain. Membuatku sedih", ucap Alena.
Sementara Stefanus sedang membuat perseteruan dengan Herlena saat tiba di mansion.
"Stefanus kamu dua minggu tidak pulang dari mana saja?", tanya Herlena.
Stefanus malah mengabaikan pertanyaan dari Herlena dan terus jalan ke kamar utamanya. Membuat Herlena bertambah marah. Herlena terus mengikuti Stefanus sampai di kamar dan menarik lengan Stefanus dengan nada membentak.
"Stefanus jawab pertanyaan aku!", bentak Herlena
"Kamu itu kenapa sih!", bentak balik dari Stefanus.
"Aku hanya bertanya, kamu itu darimana saja? sebab kamu tidak pulang selama dua minggu dan tidak bisa dihubungi", marah Herlena dengan suara keras.
"Aku kerja", ketus Stefanus.
"Kerja! Emang kalau bekerja tidak pergi ke kantor dan kamu bekerja dimana?!", bentak Herlena.
__ADS_1
"Ya, kerja, kerja!, ngerti gak sih!", bentak Stefanus dengan berlalu pergi. Tetapi jawaban dari Stefanus membuat Herlena masih tidak percaya dan mencekal lengan Stefanus kembali yang akan masuk ke kamar mandi. Lalu Stefanus membentak kembali.
"Apaan sih kamu?!", bentak Stefanus.
"Aku minta penjelasan", ucap Herlena.
"Penjelasan yang bagaimana?", tanya Stefanus dengan geram sambil berkacak pinggang dan tangan kiri mengusap wajah dengan kasar.
"Yang jelaskan sejelas-jelasnya sampai aku bisa mengerti dan percaya dengan kamu", kesal Herlena dan membuat Stefanus menghembuskan nafas kasar sambil mengadah kepala ke atas dan berkacak pinggang.
"Aku. ha.nya. ker.ja", tandas Stefanus dengan nada rendah sambil telunjuk mendorong dada istrinya.
"Sudahlah, aku mau mandi", ucap Stefanus melangkah kembali ke kamar mandi namun Herlena masih kekeh minta penjelasan sehingga membuat Stefanus murka dengan menampar Herlena dengan kasar sampai di sudut bibirnya terluka dan berdarah. Lalu Stefanus pergi ke kamar mandi dengan menutup pintu dengan kasar. Sedangkan Herlena menangis histeris dan pergi berlari ke mansion Thomas dengan diantar sopir.
Sampainya ke mansion Thomas tidak ada dan tidak pernah kembali ke mansion setelah para pelayan mengungkapkan membuat Herlena tambah mengenas. Lalu meminta sopir untuk mengatarnya pergi ke kantor Thomas.
Beberapa lama kemudian Herlena turun dari mobil dengan berjalan cepat menaiki lift menuju ruang kerja Thomas tetapi nihil untuk ditemuinya. Herlena bertanya kepada salah satu staf kantor yang lewat.
"Nona, kamu tahu Thomas kemana?", tanya Herlena dengan air mata yang tiada henti.
"Oh, tuan Thomas sudah pindah ke lantai atas dimana yang dahulu sebagai tempat bekerjanya tuan Stefanus", jelas karyawan perempuan dengan kemeja putih dan celana panjang dengan rambut pendek.
"Thanks", ucap Herlena.
Saat melangkah menelusuri koridor, Herlena bertemu dengan Gideon tetapi ia tidak mengenalnya. Namun sebaliknya Gideon menyapa dahuluan.
"Sudah lama kita tidak bertemu", ucap Gideon membalikan tubuhnya. Sedangkan Herlena terpaku dengan suara yang ia kenal dengan membalikan tubuhnya dan malah bertanya.
"Kamu siapa?", tanya Herlena.
"Apakah kamu sudah melupakan seseorang yang pernah mencintaimu?", tanya Gideon dengan penampilan rapi berjas hitam dan membawa tongkat yang selalu tidak pernah ketinggalan untuk menghajar para musuh.
"Seseorang mencintai?", tanya Herlena dengan mengusap air mata sambil mengingat kembali kenangan masa lalu.
"Aku Gudeon", ungkapnya karena merasa kasihan melihat penampilan Herlena yang buruk dan kusut.
"Gi...Gideon", dengan gugup dan mendekati pria tua itu dengan tatapan lembut.
"Apakah kamu benar-benar Gideon?", tanya Herlena yang diangguki oleh Gideon dan Herlena langsung memeluk tubuh pria itu dengan tangisan pecah. Gideon membalas pelukan Herlena dengan mengusap kepala belakangnya. Sedangkan Thomas yang akan kembali ke ruang kerja lama melihat adegan momynya menangis di pelukan pria yang menjadi musuh daddy nya.
Thomas menatap nanar ibunya yang dikhianati oleh Stefanus yang notabenennya ayahnya. Thomas bukannya menghampiri dia berlalu pergi dengan mengurung niatnya bertemu Gideon di ruang kerja lamanya dan memberika kesempatan pada mereka untuk mengenang masa lalu yang mereka saling rindukan sebagai seorang sahabat yang sudah lama menghilang.
Malamnya Handson bertemu dengan presdir di restoran ruang VIP yang terkenal di kota Berlin bersama para dewan direksi dikalangan pembisnis agency.
Handson di sana memberi hormat kepada para kolega dan presdir yang notabenenya seorang pemimpin di tempat kerjanya.
"Salam hormat tuan-tuan", sapa Handson dengan senyuman palsu dan berjabat tangan ke semua orang yang hadir. Lalu mereka menerima sapaan dari Handson dengan baik.
Kemudian Handson duduk bergabung bersama mereka membahas pekerjaan soal penerbitan majalah sampai investasi untuk mencapai tujuan.
__ADS_1
"Apa kabar tuan Handson sudah lama kita tidak bertemu dengan kamu?", tanya pria tua gendut dengan rambut beruban penuh dan netra mata hitam.
"Baik tuan", ucap Handson dengan tersenyum.
"Bagaimana peningkatan saham dalam agency anda tuan Rayden?', tanya pria tua berkulit hitam.
"Lumayan meningkat kami sebentar lagi menerbitkan majalah anak-anak tang dipimpin oleh Handson", ucap Rayden.
"Temanya apa Handson", tanya pria berkulit sawo dengan mata netra coklat dan tubuh proposional.
"Kami mengangkat tema halloween yang kebetulan penerbitan majalah bertepatan hari halloween sehingga kami akan menerjunkan sebelum hari itu dan tunggulah kejutan isi majalah yang kami proses", jelas Handson dengan menyesap anggur yang sudah dituangkan oleh sang pelayan.
"Semoga kalian dapat meningkatkan penjualan majalah", ucap pria kulit sawo tersebut.
"Thank you", ucap Handson.
Lalu Handson menyinggung obrolan tentang Elizabeth dengan takut-takut.
"Uhmm tuan Raiden saya mau ada model pendukung untuk sampul majalah yang akan kami terbitkan dan saya memiliki orang yang cocok untuk sebagai latar di sampul majalah kita", ucap Handson.
"Siapa?", tanya Raiden.
"Ellizabeth", ucap Handson dengan menutup mata.
"Elli?!",dengan terkejut yang diangguki oleh Handson.
"Jangan masukan dia kembali. Aku tidak mau menanggung kerugian darinya", ucap Raiden.
"Tapi tuan, dia cocok sebagai latar majalah kita dengan memakai kostum boneka buah labu", ucap Handson dengan membujuk.
"Tidak", tolak mentah-mentah dari Raiden. Dan Handson terdiam setelah ditolak mentah-mentah dari Raiden.
Di apartemen Alena akan pamit pulang kepada cucu dan putrinya.
"Nak, grandma pulang dulu. Sudah puas grandma melihat kamu sudah sehat. Lain kali kamu jenguk grandma kesana ya boy", ucap Alena dengan mengusap pipinya.
"Baik Grandma, Felix siap kesana dan menginap di rumah grandma", ucap Felix dengan tersenyum.
"Grandma tunggu", ucap Alena dengan beranjak berdiri keluar yanh diikuti oleh Tina. Lalu Alena menoleh dan memeluk putri semata wayangnya dengan mencium pipi kanan kiri putrinya lalu pamit.
"Sayang momy pulang dulu sudah malam takut ayah kamu khawatir", ucap Alena.
"Baik mom, hati-hati di jalan", ucap Tina.
"Bye", ucap Alena dengan melangkah pergi akan membuka ganggang pintu dan di dului oleh Thomas yang dari luar. Lalu Thomas menyapa Alena.
"Hai mom, kapan datang?", sapa Thomas dengan bertanya kepada Alena. Tetapi Alena tidak mengindahkan sapaan maupun pertanyaan Thomas. Alena malah menatap dengan sinis lalu pergi.
Thomas yang tidak digubris merasa sedih begitupun Tina yang sudah mulai heran tingkah daddy nya waktu di kediaman Reffalino dan sekarang momy nya yang mulai mengabaikan Thomas. Tina melangkah menghampiri Thomas yang begitu sedih dengan memeluk tubuh kekarnya dan mengecup bibirnya untuk mengurangi kesedihan suaminya.
__ADS_1