
(Senin 09.00)
Herlena bersiap-siap menghadiri persidangan perceraian dengan ditemani oleh Gideon. Herlena merasa dirinya belum siap namun jalan inilah yang harus di tempuh untuk tidak lagi menyiksa perasaan dan jiwanya.
Dada Herlena berdegup kencang lalu Herlena menyakinkan bahwa perasaannya harus tenang untuk menghadapi situasi yang akan terjadi di persidangan nantinya.
“Aku harus tenang. Aku tidak mau hidup menderita. Herlena kamu pasti bisa”, gumam Herlena untuk menenangkan diri dengan menepuk dada yang terus dag dig dug dan menarik nafas sedalam-dalam lalu dihembuskan.
Ketika sedang menenangkan perasaannya yang terus berdetak jantung miliknya di depan meja rias, Herlena mendengar suara ketukan pintu yang keras. Lalu Herlena berjalan dengan menentang tas sambil menghembuskan nafas sedalam-dalamnya.
Herlena membuka pintu, di sana terpampang wajah Gideon yang selama ini melindunginya hingga sampai ke tingkat perceraian. Gideon bertanya dengan Herlena, “apakah kamu sudah siap?”
Lalu Herlena mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya siap menghadapi situasi apa pun.
Kemudian Gideon mengajaknya untuk berangkat.
“Kalau begitu, kita harus segera berangkat sebelum persidangan di mulai”.
“Baiklah”, ucap Herlena dengan senyum kikuk.
Mereka berjalan beriringan memasuki mobil mewah berwarna hitam. Sang sopir membukakan pintu untuk dirinya dan Gideon. Lalu sopir tersebut masuk ke bagian kemudi untuk melajukan mobilnya menuju ke gedung persidangan cerai.
Pada saat di dalam mobil sedang hening dengan bergelut pikiran masing-masing seketika ponsel milik Gideon berdering di dalam saku celananya.
Lalu Gideon mengangkatnya.
“Hallo!”
“Hallo Gideon, apakah momy hari ini ada sidang perceraian dengan Stefanus?”, tanya Thomas di seberang sana.
“Ya, kami sedang menuju ke gedung kejaksaan”, ucap Gideon dengan melirik Herlena yang sedang melihat jalanan lewat jendela.
“Jam berapa sidang perceraian itu diadakan?”, tanya Thomas.
“Pukul 10.00”, ucap Gideon. Lalu Thomas melihat jam tangannya untuk bisa sampai di sana tepat waktu.
“Baiklah, thank you”, ucap Thomas langsung mematikan ponsel secara sepihak.
Kemudian Thomas langsung berberes untuk bersiap ikut menghadiri persidangan perceraian mommy nya dengan Stefanus.
Beberapa lama kemudian Herlena dan Gideon telah tiba di gedung kejaksaan yang menangani perceraian antara dirinya dan Stefanus.
Kini detak jantungnya tak karuan ketika melihat Stefanus yang berdiri diatas tangga gedung yang kini di injak oleh dirinya dengan wajah lelah. Herlena sebenarnya kasihan terhadap suaminya yang akan menjadi kenangan di kehidupan nantinya.
Herlena merasakan kebencian dari raut wajah Stefanus terhadap Gideon yang seolah dia yang telah membujuk dirinya untuk mengambil langkah perceraian. Tetapi dirinyalah yang mengambil keputusan terakhir untuk berpisah dengan Stefanus. Sebab Herlena sudah tidak tahan lagi dengan sikap Stefanus yang selalu menyakiti jiwa dan perasaannya.
__ADS_1
Ketika sedang melewati Stefanus, dia tiba-tiba mengatakan, “sekarang senang ya, sudah menghancurkan rumah tangga teman sendiri yang dahulunya sahabat. Dasar pria perusak rumah tangga orang lain”, dengan menghisap rokok dan tangan kiri di sembunyikan di dalam saku celana kiri.
Herlena yang mendengarkan perkataan Stefanus merasa geram namun Gideon menghentikan untuk melontarkan cercaan untuk Stefanus. Menurut Gideon menanggapi perkataan Stefanus tidak ada gunanya sehingga ia mendorong tubub Herlena untuk masuk. Herlena mengikuti Gideon masuk ke gedung tersebut.
Stefanus yang ditinggalkan meludah sembarangan dengan ekspresi jengkel dan marah. Lalu Stefanus masuk dengan membuang putung rokok ke dalam sampah.
Beberapa saat kemudian Thomas yang tengah menyusul telah sampai di gedung dimana mommy nya dan Stefanus akan di sidang persoalan cerai. Thomas lalu memasuki gedung itu.
Herlena yang berada di dekat Gideon begitu gelisah dan Gideon menenangkan Herlena dengan menggenggam tangannya.
“Tenanglah, ini akan selesai”, bisik Gideon yang diangguki Herlena.
Stefanus yang berada di sebeangnya menatap dengan tatapan sinis.
Pada saat menunggu beberapa menit ruang sidang di tutup dan para hadirin berdiri memberikan hormat kepada hakim. Ketika sidang sedang berlangsung Thomas meminta izin untuk masuk dan memberikan alasannya bahwa dirinya kerabat dari Herlena. Lalu sang penjaga membukakan pintu dengan pelan agar tidak mengganggu persidangan yang sedang berlangsung.
“Saudari Herlena, apakah kamu yakin untuk bercerai dengan saudara Stefanus?”, tanya sang hakim laki-laki.
“Ya, saya sudah yakin untuk berpisah dengan suami saya”, ucap Herlena yang tengah berdiri di hadapan hakim.
“Saudara Stefanus, apakah anda siap untuk mengikuti proses sidang dengan berbagai tuntutan di perceraian anda? ”, tanya sang hakim.
“Saya siap segala konsekuensinya”, ucap Stefanus dengan melirik Herlena.
Sang hakim lalu membacakan berbagai tuntutan di ruang sidang milik Herlena dengan rinci. Setelah itu sang hakim memberi kesempatan kepada pengacara masing-masing untuk membela kliennya.
Perdebatan sengit antara pengacara Herlena dan pengacara Stefanus terus terjadi hingga akhirnya sang hakim meminta untuk istirahat.
“Kalau begitu keputusan saya akan berikan setelah istirahat sepuluh menit”, ucap sang hakim dengan mengetuk palu tiga kali lalu beranjak berdiri meninggalkan ruang sidang.
Thomas yang berada di belakang sejak tadi beranjak dari tempat duduk menghampiri momynya.
“Mom!”, panggil Thomas.
Herlena menoleh ke sumber suara dengan terkejut kedatangan Thomas anaknya.
“Thomas!”, panggil Herlena.
Thomas memberikan senyuman dengan kedua tangan direntangkan. Lalu Herlena memeluk putranya.
“Terima kasih sudah mau ikut hadir di ruang sidang momy”, ucap Herlena dengan mengecup kedua pipi putranya dan melepaskan pelukan itu.
“Ya mom, aku akan menemanimu sampai sidang ini selesai”, ucap Thomas.
Pada saat mereka sedang mengobrol dengan anak dan ibunya, Stefanus datang dengan mengatakan, “kamu, anak durhaka yang tidak pernah tahu balas budi”.
__ADS_1
Thomas yang mendengarkan perkataan Stefanus malah memberikan senyuman sinis kemudian mengucapkan kata sakartis.
“Lebih berdosa lagi adalah seorang suami yang menyiksa istrinya yang telah merawatmu berpuluh-puluh tahun dari pada anak durhaka ini, dad”, ucap Thomas.
Stefanus hanya berdecak dan kembali duduk di bangkunya dengan wajah amarah.
Sepuluh menit kemudian persidangan di lanjutkan kembali. Sang hakim duduk di tempatnya dan mengetuk palu untuk di mulainya proses sidang.
Setelah berdiskusi dengan jajaran bawahannya sang hakim memutuskan bahwa keputusan akan diambil setelah tiga hari. Lalu pundak Herlena luruh. Gideon yang berada di sampingnya mengusap bahu dan meyakinkan bahwa akan ada badai kebahagiaan setelah tiga hari. Herlena pun mengangguk dengan senyum hangat.
Mereka keluar dari gedung kejaksaan dengan beriringan. Sementara Stefanus menatap dengan sinis dan berharap sidah perceraian itu akan batal setelah membuat alibi begitu besar dengan pengacaranya.
Stefanus berjalan melewati mereka dengan langkah panjang menuju ke parkiran. Thomas yang melihat tingkah daddy nya seperti orang bodoh.
Sampainya di tempat parkir Thomas dan Herlena berpisah jalan dengan saling memberikan kehangatan. Gideon yang melihat anak dan ibunya akur begitu bahagia.
“Sayang terima kasih sudah mau hadir di persidangan tadi”, ucap Herlena dengan memeluk tubuh kekar anaknya.
“It’s ok mom, aku akan selalu untukmu”, ucap Thomas dengan mengecup kening momy nya.
“Setelah selesai ini, momy janji akan bertemu Tina dan Felix untuk merestui hubungan kalian”, senyum Herlena.
“Okay mom, aku tunggu kehadiran kamu di rumahku”, ucap Thomas.
“Gideon, tolong jaga momy ku. Aku percaya kamu akan menjaganya”, ucap Thomas kepada Gideon.
“Tentu dude, momy kamu akan aku jaga”, ucap Gideon.
“Kalau begitu aku pulang dahulu, mom”, ucap Thomas.
“Ya, hati-hati boy”, ucap Herlena.
Kemudian Gideon dan Herlena masuk setelah kepergian Thomas.
Malam hari Thomas menceritakan proses sidang momy nya kepada Tina di dalam kamar dengan saling berpelukan.
“Sweety, tadi aku menghadiri persidangan momy”, ucap Thomas dengan mengusap kepala Tina.
“Bagaimana persidangan momy dan daddy kamu?”, tanya Tina.
“Lancar walaupun ada perdebatan sengit dengan pengacara daddy”, ucap Thomas.
“Syukurlah, semoga momy kamu cepat menyelesaikan masalah dengan daddy kamu honey”, ucap Tina dengan mengusap dada suaminya.
“Ya sweety, thank you”, ucap Thomas dengan memberikan kecupan di dahinya dan membawa tubuh Tina ke dalam pelukkannya untuk saling menyalurkan kehangatan sampai pagi.
__ADS_1