
Di tengah keluarga mereka sedang tentram. Brian mengganggunya dengan terus mendekati Tina saat dirinya berjalan ke pusat perbelanjaan sendirian.
Ketika Tina sedang memilih kebutuhan, tiba-tiba Brian dari belakang memeluk Tina. Lalu Tina terkejut saat tangannya bertengger di perut dengan kurang ajarnya.
Brian membisikkan, “aku akan tetap mengejarmu. Bagaimanapun caranya”, dengan senyum licik sambil mengambil foto kedekatan hubungan intim mereka.
Tina yang merasa di manfaatkan langsung menginjak kaki Brian dengan kalimat, “pria murahan”, dengan berjalan berlalu meninggalkan Brian yang mengumpat kasar, “dasar cewek j*l*ng!”
Tina pergi ke tempat parkir dimana mobilnya terpakir bersama sang sopir. Lalu Tina menyuruh sang sopir untuk mengantarnya pulang sebab hari ini dia sedang tidak mood untuk berbelanja. Tina akan menyuruh pelayannya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di mall.
Brian yang masih di pusat perbelanjaan menyeringai ketika dia mendapatkan fotonya dengan kedekatan secara intim bersama Tina. Brian memiliki pikiran untuk menghancurkan keluarga kecil Thomas dengan membuat skandal bahwa Tina bertemu dengannya di belakang dia.
Brian pergi meninggalkan pusat perbelanjaan untuk pulang ke rumah setelah mendapatkan yang diinginkan.
Sampainya di rumah, Felix yang sedang bermain playstation bertanya kepada Tina.
“Mom, tadi berpamitan pergi berbelanja. Kenapa momy tidak membawa apa-apa setelah pergi ke mall?”, ucap Felix.
“Tadi momy bertemu dengan pria bajing*n sayang”, ucap Tina dengan menyandarkan punggungnya di sofa.
“Pria bajing*n?”, tanya Felix.
“Ya boy, waktu dahulu kita pernah bertemu di cafe dan dia ngotot minta momy untuk kembali kepadanya. Kamu masih ingat tidak?”, ucap Tina.
Felix mencoba mengingat-ingat sambil bermain game dengan Audrey di sampingnya.
Beberapa menit kemudian Felix menang dengan bersamaan mengingat laki-laki itu.
“Aku ingat mom”, ucap Felix dengan meletakkan stick ps nya.
“Apakah dia berbuat sesuatu terhadap momy? Biarkan Felix yang akan memberikan pelajaran untuknya”, ucap Felix.
“Dia...”, ucapan Tina terpotong saat Thomas masuk tiba-tiba dengan sorotan mata tajam dengan melewati Felix dan menarik tangan Tina.
Tina pun terheran kenapa ekspresi Thomas seperti itu. Tina kali ini mengalah mengikuti perintah Thomas masuk ke kamar untuk menghindari perdebatan ditengah anak-anak.
Felix yang melihat ekspresi daddy nya sampai menerka-nerka bahwa terjadi sesuatu yang membuatnya marah. Felix kini menunggu dua orang dewasa menyelesaikan masalah dengan mengajak Audrey pergi ke kamarnya untuk merangkai lego sembari menunggu momy nya meminta tolong.
Di dalam kamar utama, Thomas mendorong tubuh Tina ke ranjang dan mencium kasar sampai Tina meronta dengan mendorong tubuh kekar Thomas. Akhirnya Thomas melepaskan ciumannya.
Lalu Tina beranjak dari tidurnya dengan kalimat marah.
“Thomas! Kamu itu apaan sih?! Tiba-tiba datang dan berbuat kasar terhadapku!”.
“Lihatlah photo di ponselku”, ucap Thomas menunjukkan gambar berduaan dengan berpelukan bersama Brian. Setelah melihat photo tersebut Tina tersenyum sinis dengan bergumam, “ternyata pria brengs*k itu tidak tahan menghancurkan rumah tangga orang”, dengan berkacak pinggang dan menghembuskan nafas kasar. Kemudian menjelaskan kepada Thomas dengan duduk di sampingnya.
“Thomas, kamu itu harusnya cari tahu kebenarannya. Bukannya yang kamu utamakan kecemburuan kamu”, ucap Tina dengan mengambil tangan Thomas sambil memberikan kecupan. Thomas pun membenarkan perkataan Tina. Seharusnya dirinya tidak mementingkan kecemburuan namun kebenaran yang harus di cari sebelum bertindak kasar terhadap Tina.
“Maaf kan aku Tina”, ucap Thomas.
“Aku mengerti perasaan kamu, Thomas. Jadi lain kali mintalah penjelasan aku dahulu untuk mendengarkan kejadian yang sebenarnya”, ucap Tina.
“Baiklah, lain kali aku akan cari kebenaran dahulu. Sekarang ceritakan kejadian yang sebenarnya”, ucap Thomas.
“Kejadian yang sebenarnya yaitu waktu aku sedang memilih barang untuk kebutuhan sehari-hari kita, tiba-tiba Brian memelukku dari belakang dan aku terkejut. Lalu aku minta dilepaskan namun dia malah memelukku dengan erat dan membisikkan di telingaku dengan mengatakan, “aku akan mengejarmu Tina. Bagaimanapun caranya?”, pada saat itu juga aku menginjak kakinya ketika dia mengambil fotoku dengan tubuh melekat”, jelas Tina.
Usai mendengarkan penjelasan dari bibir wanitanya, Thomas langsung mengkonfirmasikan kepada anak buahnya untuk memberikan pelajaran untuk Brian yang telah mengganggu istrinya. Setelah mematikan ponsel, Thomas mendekati tubuh istrinya dengan memberikan ciuman yang lembut penuh dengan kasih sayang sampai oksigennya hampir habis.
Felix yang berada di kamar tidak mendengarkan pertengkaran begitu bersyukur bahwa kesalahpahaman mereka dapat diatasi.
Sementara di tempat lain, Stefanus sedang menikmati kejenuhan pikirannya bersama wanita cantik yang disewanya sambil minum-minum.
Sikap Stefanus semakin menggila dengan terus berteriak dan berjoget di tengah dance floor sampai pagi dengan ucapan ngelantur.
Di awali pagi yang cerah, Alena bersiap-siap menemui putri dan cucunya untuk mengajak mereka jalan-jalan setelah sekian lama tidak menikmati kebersamaan.
Sedangkan Herlena mempersiapkan berkas-berkas tuntutan perceraian dengan Stefanus yang dibantu oleh Gideon. Tak lupa Herlena mbawa beberapa photo hasil visum yang dilakukan oleh Stefanus saat tinggal bersamanya. Kemudian seluruh berkas dibawa kejaksaan untuk di proses setelah di masukkan kedalam amplop coklat besar.
Herlena yang berada di samping Gideon tidak sabar untuk terlepas dari siksaan dalam pikiran dan hatinya. Gideon yang berada di samping Herlena menyuruhnya untuk bersabar. Herlena mengangguk dan menampakkan senyuman hangat kepadanya dengan memberikan kecupan dipipi kirinya sambil mengucapkan terimakasih. Gideon merasa senang dan berharap setelah bercerai dengan Thomas, dirinya dapat kembali merasakan kebahagiaan tanpa rasa sakit di hatinya.
Herlena pergi bersama Gideon kejaksaan perceraian dengan mengisi formulir tuntutan. Setelah mengurus semuanya, Herlena dan Gideon pergi ke taman sambil mengenang kembali masa dimana dirinya dan Gideon waktu masih kecil sambil menikmati camilan dan minuman yang dibelinya.
Sedangkan Alena berjalan-jalan dengan Tina, Felix, Audrey, dan Laura menjajal satu persatu gaun dengan di traktir oleh Alena. Laura yang mendapatkan traktiran begitu besar dia langsung mencari barang yang diinginkan. Tina yang melihat Laura dengan antusias tersenyum dengan menggelengkan kepala melihat sikapnya yang tidak berubah setelah sekian lama tidak bertemu.
Usai berberlanja, Alena mengajak mereka ke restoran area mall. Di sana dengan kebetulan bertemu dengan Keenan bersama Axel. Lalu mereka memanggil dan menyapanya.
“Keenan! Axel!”, teriak Laura dengan melambaikan tangan sambil berlari mendekat.
Keenan yang mendengarkan suara teriakan menyebut namanya menoleh ke sumber suara dengan tersenyum.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”, tanya Laura.
“Kami jalan-jalan”, ucap Keenan.
Tina yang baru menyusul langsung memperkenalkan Keenan dan Axel kepada ibunya.
“Mom dia Keenan dan Axel”, ucap Tina.
“Hallo, salam kenal”, ucap Alena.
“Bagaimana kalian ikut bergabung sambil mengobrol seputar kalian dapat saling bertemu dengan putriku?”, tawar Alena.
__ADS_1
“Baiklah”, ucap Keenan.
Bab 5
Setelah mendapatkan tempat duduk, Alena memanggil pramusaji. Pramusaji tersebut menoleh arah sumber suara. Lalu pramusaji wanita itu membawa buku menu hidangan dengan membawa buku catatan kecil.
“Premisi tuan-tuan, nona-nona, silahkan dipilih menu hidangan yang tersaji”, ucap pramusaji wanita dengan sopan.
Mereka memilih menu yang ada di buku dengan membolak balikkan buku menu tersebut. Beberapa saat kemudian Axel menyebutkan makanan yang ingin dimakan.
“Saya pilih sosis bakar dengan toping diatas mayonaise, beef steak, dan minumnya lemon tea”, pesan Axel.
Lalu mereka satu persatu menyusul menyebutkan menu makanan yang ingin dimakan. Sang pramusaji wanita itu mencatat dengan cermat agar tidak terjadi kesalahan dalam menuliskan hidangan milik pelanggan. Kemudian setelah mencatat, pramusaji wanita menyebutkan kembali seluruh hidangan yang di pesan. Setelah mereka membenarkan, pramusaji wanita tersebut pergi dengan membawa buku menunya sambil mengatakan, “silahkan di tunggu”, dengan sopan.
Sembari menunggu mereka memulai obrolan.
“Wow.., Laura, kamu membeli banyak barang belanjaan. Kamu lagi banyak uang atau transferan dari daddy kamu ya?”, ucap Axel dengan menyentuh barang belanjaan di samping bawah meja.
“No, no, no. Aku tidak memiliki banyak uang untuk beli barang sebanyak ini dan aku tidak dapat transferan uang dari daddy aku, semenjak nilaiku turun”, ucap Laura.
“Terus kamu dapat darimana beb?”, tanya Axel.
“Aku dapat rezeki dari maha kuasa”, ucap Laura dengan keyakinan.
“Oh ya, aku tidak percaya jika maha kuasa langsung mengirim uang dari langit tanpa bekerja bodoh”, ejek Axel.
“Kalau tidak percaya yaudah”, ucap Laura menirukan mimik Axel.
Lalu Audrey menyela obrolan mereka dengan mengatakan, “kami di belanjakan oleh grandmanya Felix, uncle”.
“Oo, pantesan kamu memilih banyak barang dengan tanpa tahu malu”, eje Axel kembali.
“Diamlah”, kesal Laura dengan menendang betis kaki Axel sampai ia mengadu sakit.
Tina dan Alena melihat perdebatan antara Axel dan Laura menggelengkan kepala. Lalu Tina menengahi persengitan mereka.
“Sudahlah Axel, jangan terus membuat kesal Laura”, bela Tina.
Laura yang merasa di bela langsung mengejek dengan matanya berkedip dan lidah menjulur sambil merangkul tangan Tina.
Axel yang berada di hadapannya merasa kesal dengan menginjak kaki Laura sehingga Laura mengadu sakit dengan memukul kepala namun tidak kena.
Kemudian Alena memisahkan mereka dengan mengatakan, “kalian sudah dewasa, jangan kekanak-kanakan. Lihatlah Felix dan Audrey di sekitar kalian. Apa tidak malu?”
Audrey yang mendengarkan perkataan Alena langsung menimbrung dengan mengatakan, “itu sudah biasa grandma. Mereka itu sering bertengkar dimana pun mereka bertemu. Sudah seperti suami istri”, dengan ekspresi geli.
“Audrey!”, panggil mereka bersamaan dan membuat Tina dan Keenan terkekeh. Sementara Alena menggeleng kepala.
Seraya menikmati makanan, Alena membuka suara perihal putrinya tinggal di London sampai melahirkan Felix.
“Oh ya, Keenan, aunty mau tanya saat Tina hidup di London?”, tanya Alena.
“Kehidupan Tina selama di London sangat baik, mudah bergaul, dan suka bercanda”, ucap Keenan.
“Kalian pertama kali bisa bertemu itu bagaimana?”, tanya Alena.
“Pertama kali bertemu Tina, saat dia kehilangan dompet di bandara karena kecopetan dan saya tidak sengaja menolongnya dengan mengejar copet tersebut. Sekarang ini Tina ingat atau tidak,soalnya habis kecelakaan dia kehilangan banyak memori”, ucap Keenan sambil memotong daging steaknya.
“Berarti kalian itu bertemu dengam cara tidak sengaja”, ucap Alena.
“Iya aunty”, ucap Keenan.
“Terus bagaimana bisa kamu mengizinkan orang asing tinggal di rumah kamu? Bukankah itu berbahaya”, ucap Alena sambil menikmati spaghety special.
“Tidak juga, saya bisa melihat karakter wajah mana yang baik dan buruk. Menurutku Tina itu baik selama tinggal sama saya sampai Felix berumur enam tahun”, ucap Keenan.
Di sela mereka mengobrol tiba-tiba Thomas dan Hans datang dengan pura-pura secara kebetulan. Padahal mereka mendapatkan informasi bahwa Tina dan Alena bertemu dengan Keenan di pusat perbelanjaan.
“Hai sweety, kamu kok ada di sini?”, tanya Thomas dengan menyembunyikan rasa cemburu dengan Keenan.
“Aku habis jalan-jalan”, ucap Tina.
“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kalian berdua ke sini di restoran pusat perbelanjaan?”, tanya Alena.
“Kalau saya sedang mensurvei pusat perbelanjaan di sini dan bertemu klien di sekitar area perbelanjaan”, alasan Thomas.
“Kalau aku membuat yah.. kebetulan sedang bosan di kantor”, kikuk Hans.
Felix yang berada di tengah mereka mengerti bahwa Thomas dan Hans sedang cemburu karena wanitanya sedang makan bersama dengan uncle Keenan.
Meski Hans sudah tahu jika dirinya cukup umur, namun tidak kemungkinan dirinya cemburu. Dia pria sosok yang posesive seperti Thomas yang akan jadi mantunya.
Hans dan Thomas kemudian ikut bergabung makan bersama dengan obrolan sederhana meski kadang menyindir Thomas.
“Apakah saya boleh tahu, nama kamu siapa?”, tanya Hans kepada Keenan.
“Nama saya Keenan, uncle”, jawabnya dengan tersenyum.
Lalu Hans juga menanyakan nama Axel.
“Nama kamu siapa nak?”, tanya Hans untuk Axel.
__ADS_1
“Saya Axel, uncle”, jawab Axel.
Ketika Hans akan bertanya mengarah kepada Laura dan lainnya yang belum dikenal lalu Tina menyela dengan memperkenalkan teman-temannya dari London saat Keenan mencoba mengenalkan Tina tentang sahabat-sahabatnya di London setelah memorinya hilang. Kini yang dia ingat sebuah nama setelah Keenan mengenalkan kembali sahabat-sahabatnya yang pernah dekat dengannya.
“Daddy kenalkan di samping aku Laura dan di samping Felix, dia adalah Audrey, anak dari sepasang Rossy dan Xander yang kini tidak ikut berlibur ke London karena sedang banyak pekerjaan yang di selesaikan oleh daddynya. Sehingga Axel sebagai adik dari Xander diberi tanggung jawab untuk menjaga keponakannya”.
Hans yang mendengarkan penjelasan putrinya mangut-mangut dengan berkata dalam hati, “ternyata selama putriku tinggal di London di keliling oleh orang-orang baik”.
Alena yang berada di samping Hans membisikkan sesuatu di telingannya.
“Dia yang ada di depan kamu itu pria yang pernah menjaga Tina di waktu sulit yang pernah diceritakan oleh Grace dari Tina sebelum mengalami amnesia”.
“Oh, jadi dia rupanya”, bisik Hans kembali. Lalu mulai bertanya kepada Keenan.
“Nak, kamu dahulu begitu dekat dengan putri saya ya?”
“Iya uncle, kami juga tinggal satu rumah namun tidur kami terpisah kok”, ucap Keenan.
“Terimakasih ya, telah menolong anak saya. Coba pertama kali yang membuat putriku jatuh cinta itu kamu. Saya pasti senang dan langsung merestui hubungan kamu dengannya”, ucap Hans dengan nada menyindir Thomas. Thomas yang merasa bahwa Hans sedang memperlakukan dirinya tidak baik, lalu Thomas membalas dengan mengenai hatinya.
“Syukurlah, jika Tina lebih jatuh cinta denganku itu akan lebih baik sebab tanpa adanya aku, pasti anda tidak memiliki cucu sepintar Felix”, dengan memberikan kecupan di kening.
“Felix itu pintar karena ibunya pintar merawat putranya”, ucap Hans tidak mau kalah.
“It’s no problem, tapi dia tetap putraku”, ucap Thomas.
Ketika Hans akan melontarkan kalimata kembal, Alena menghentikan, “sudahlah, kalian seperti anak kecil saja. Bikin malu saja”, mara Alena dengan pergi berlalu ke kasir untuk membayar semua makanan. Lalu mengajak cucunya untuk pulang.
“Felix, Audrey, kita pulang yuk”, ajaknya. Felix dan Audrey turun dari kursi dengan bergandengan tangan bersama Alena.
Sementara Herlena sedang asyik menonton televisi sendirian dengan mengemil keripik dan ditemani minuman segar. Sedangkan Gideon sedang menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja. Dia sedang menangani pemasaran produk kayu ukiran dan desain baru.
Beberapa lama kemudian Gideon telah menyelesaikan pekerjaannya kemudian menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Lalu sesaat kemudian Gideon keluar dari ruang kerja melewati ruang tengah dan disuguhkan melihat Herlena sedang tidur di sofa. Kemudian Gideon pergi mendekat ke arah Herlena yang terlelap tidur.
Gideon berjongkok melihat wajah cantik Herlena yang tengah tertidur. Dia mengusap pipi kirinya yang sudah keriput namun tetap terlihat cantik dan lembut. Gideon tersenyum hangat melihat ekspresi tidur tenangnya Herlena. Gideon memberikan ciuman singkat di pipi kirinya dan mengangkat tubuh Herlena ke kamar. Meskipun Gideon sudah cukup tua, namun kekuatannya masih seperti anak muda yang berusia dua puluhan.
Setelah meletakkan tubuh Herlena, Gideon memberikan kecupan di kening dan mengatakan, “semoga kamu bermimpi indah”. Lalu pergi meninggalkan Herlena yang terlelap tidur.
Malam hari Ellizabeth pergi ke pesta dimana para artis dan aktor berkumpul. Ellizabeth datang dengan menggunakan gaun yang elegan namun masih terlihat sexy.
Saat masuk ke dalam gedung, Ellizabeth sangat kagum dengan interior pesta yang telah dihiasi dengan begitu mewah. Apalagi Ellizabeth begitu berdebar setelah sekian lama tidak menghadiri acara pesta bertemu dengan para artis dan aktor.
Pada saat Ellizabet sedang melanglah berjalan sambil membawa minumannya tiba-tiba ada yang memanggil namanya dan Ellizabeth menoleh ke sumber suara dan ternyata teman lamanya yaitu Jihan.
Lalu Ellizabeth menyapanyanya, “hallo Jihan sudah lama kita tidak bertemu”, ungkap Ellizabeth.
“Iya, bagaimana kamu bisa kembali lagi ke dunia entertainment?”, tanya Jihan.
“Karena kegigihan”, ucap Ellizabeth.
“Syukurlah, kalau kamu dapat kembali lagi. Jangan ada skandal lagi bisa karier kamu hancur dan tidak diselamatkan seperti sekarang ini”, ucap Jihan dengan memberikan peringatan untuk Ellizabeth.
“Ho ho ho, tenang saja aku bisa tangani semua itu”, ucap Ellizabeth dengan percaya diri.
Ketika Jihan sedang mengobrol dengan Ellizabeth tiba-tiba suaminya memanggil dengan melambaikan tangan dan Jihan berpamitan kepada Ellizabet sambil mengatakan, “semoga kamu menikmati pesta ini”, senyum Jihan dengan berlalu menghampiri suaminya. Ellizabeth melihat kedekatan Jihan dan suaminya tersenyum sinis.
Pagi hari pukul 09.00, Herlena mendapatkan surat dari pengadilan bahwa hari senin dia harus menghadiri ke gedung kejaksaan untuk masalah perceraiannya dengan Stefanus. Herlena merasa bersyukur karena begitu cepat mendapatkan panggilan dari kejaksaan. Lalu Herlena menyimpan surat tersebut ke dalam laci di kamarnya.
Kemudian Herlena menghubungi Gideon yang berada di kantornya namun Gideon tidak dapat mengangkat sambungan telepon dari Herlena sebab ponselnya dia tinggalkan di ruang kerja untuk dapat fokus dalam aktivitas rapat kerjanya.
Herlena menyerah dan pergi ke taman belakang untuk menyiram tanaman yang tumbuh begitu menyegarkan.
Sedangkan di kantor Gideon telah menyelesaikan rapat kerjanya dengan berjalan ke ruang kerja bersama sekretarisnya. Lalu Gideon menanyakan perihal jadwal bertemu klien.
“Jam berapa saya bertemu klien?”, tanya Gideon.
“Pukul 02.00, anda menghadiri workshop di gedung yang sudah tertera di surat undangan dilanjutkan ke restoran bertemu dengan klien dari real estate Belanda dan malamnya anda bertemu para kolega sebagai jamuan saja”, ucap sang sekretaris perempuan.
“Baiklah, kamu bisa bekerja kembali”, perintah Gideon.
Lalu Gideon masuk ke ruang kerja dan menjatuhkan bokongnya sambil memainkan ponselnya. Saat membuka ponsel ada empat midscall dari Herlena kemudian Gideon menelepon balik tetapi tidak ada jawaban.
Kemudian Gideon menghubungi kembali dan akhirnya Herlena mengangkat teleponnya.
“Hallo Gideon”, sapa Herlena yang sedang duduk di meja makan sambil menikmati teh buatannya.
“Hallo Herlena, kenapa kamu meneleponku?”, sapa Gideon dengan bertanya.
“Oh itu, aku mau mengabari bahwa aku sudah mendapatkan surat dari kejaksaan. Aku begitu lega Gideon. Aku ingin segera cepat selesai permasalahanku dengan Stefanus”, ucap Herlena.
“Syukurlah, tunggulah sebentar kamu pasti akan lega setelah selesai melakukan peraidangan perceraian kamu”, ucap Gideon.
“Iya, terimakasih untuk semuanya Gideon”, ucap Herlena.
“Iya, kamu tidak perlu terimakasih sebab aku senang membantumu. Oh ya, kapan kamu menghadiri persidangan?”, ucal Gideon.
“Hari senin”, ucap Herlena.
“Baiklah, aku akan temani kamu”, ucap Gideon.
“Kalau begitu aku tutup teleponnya dan bertemu di rumah”, ucap Herlena.
__ADS_1
“Bye, sampai bertemu di rumah”, ucap Gideon dengan tersenyum.