Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Restu Terhalang Oleh Masa Lalu


__ADS_3

Malam ini acara makan malam begitu canggung dan mencengkam tiap kali ayah Tina bernama Hans bertanya dengan ketus pada Thomas. Sampai Alena menendang kaki suaminya sebab Alena tidak mengerti sikap suaminya yang diberikan kepada calon mantunya. Begitupun yang dirasakan oleh Tina.


"Bagaimana bisnis kamu, lancar?", tanya Hans dengan ekspresi tidak suka.


"Uncle tahu bisnis saya?", tanya balik oleh Thomas.


"Ya, aku tahu busnis kamu. Secara kamu orang terpandang begitu juga dengan ayahmu", dengan senyum sinis.


Thomas tersenyum miring dengan meminum air meneral dan memandang calon mertuanya.


"Apa yang uncle tahu tentang perusahaan saya?", tanya Thomas.


"Saya tahu bisnis kamu real estate dan menyuguhkan resort mewah untuk para wisatawan. Perusahaan kamu merupakan nama keluarga yaitu Stefanus", jelas Hans dengan nada rendah.


"Apakah saya pernah bertemu dengan Mr. Hans. Sepertinya anda familiar dengan perusahaan saya sampai anda begitu tidak sukanya terhadap saya", tandas Thomas


Hans berdecak, "ck", dengan menampakan senyum sinis lalu mengambil air dan meminumnya kemudian mengajak Thomas keluar.


"Kalau begitu kita bicara empat mata di belakang", perintahnya dengan berlalu meninggalkan meja makan.


Alena sebagai istrinya Hans begitu gusar dengan tingkah suaminya yang begitu ketus dengan calon mantunya sejak Thomas datang.


Apa yang dilakukan Hans? Kenapa sikapnya begitu pada calon mantunya, ayah dari Felix?


Thomas kemudian beranjak dari duduknya namun Tina mencekal tangannya dengan kepala menggeleng.


Thomas menyakikan istrinya.


"Tidak apa-apa sweety, jika ada yang perlu diselesaikan maka selesaikan hari ini agar dapat berkumpul tanpa ada beban dari keluarga kita", ucap Thomas dengan senyuman hangat nan lembut dan mengecup keningnya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan", lanjut Thomas dengan berlalu pergi.


Sementara Felix yang melihat situasi tersebut memikirkan cara membantu ayah dan ibunya agar tetap terus bersama agar tidak dipisahkan oleh kakeknya yang sejak tadi tidak menyukai ayahnya.


Felix beranjak turun lalu pamit kepada Tina untuk pergi ke toilet saat wajah ibunya pikirannta sedang melayang memikirkan Thomas.


"Mom!" panggil Felix yang tidak di dengar.


"Mom!!", panggilan Felix membuat Tina terkejut.


"Ada apa saya?", tanya Tina


"Aku mau pergi ke toilet", izin Felix.


"Baiklah, hati-hati. Kamu hafal kan toilet sini", ucap Tina yang diangguki oleh Felix.


Sementara Thomas dan Hans duduk di belakang rumah dengan menikmati udara malam sambil merokok.

__ADS_1


Sedangkan Tina dan Alena menguping dengan diam-diam sambil berbisik-bisik.


"Tin, daddy kami kenapa mencari masalah dengan calon suami kamu?", tanya Alena.


"Tidak tahu mom", jawab Tina.


Hans mulai percakapan.


"Kamu anak Stefanus...", jeda Hans dengan berdecak dan bersandar dengan kaki menumpu paha kiri.


Thomas masih diam menunggu Hans melontarkan kalimat kembali.


"Kamu tumbuh dari benih seorang Stefanus, yang orangnya selalu licik, main curang, dan merenggut perusahaan kecil dengan cara kotornya. Dia mengembangkan usaha seperti itu", lanjut Hans dengan menghisap rokok dan mengepulkan asap dari hidung dan mulutnya.


"Aku mengakui perkataan anda memang benar", ucap Thomas


"Jika kamu mengakui, apakah kamu mau berpisah dengan Tina, putri saya?", tanya Hans dengan mata memandang ke depan


Sementara orang yang berada di bilik belakang yang terhalang dengan dinding mendengarkan permohonan ayahnya membuat Tina kaget. Apalagi Alena dengan ekspresi marah kepada Hans.


Alena keluar tanpa bisa dicegah dengan amarahnya.


"Hans! Kamu apa-apaan?!", marah Alena dengan mata melotot.


Thomas terkejut dengan suara yang menggelegar.


Hans hanya diam menunggu Alena meluapkan amarahnya.


"Thomas kamu tidak usah mendengarkan perkataan Hans yang ngelantur itu"


"Tina bawa suami kamu pergi", perintah Alena. Lalu Tina menarik lengan Thomas untuk meninggalkan orang tuanya bertengkar. Thomas mengikuti langkah Tina sampai ke ruang tamu.


"Sweety, kenapa kamu membawaku keluar", protes Thomas.


"Thomas, aku membawa kamu keluar agar daddy tidak berbuat terlalu jauh untuk menghakimi kamu dan menyuruh kita berpisah", terang Tina


"Sweety, apakah kamu takut kita berpisah?", tanya Thomas dengan menggenggam kedua tangannya dan mencium kening Tina yang amat dia cintai.


Ketika mereka sedang bermesraan Felix datang dan memanggil Tina.


"Mom!"


Tina mendorong tubuh Thomas.


"What are you doing boy?", tanya Thomas.


"Apa kita akan pulang?", tanya Felix dengan wajah polos.

__ADS_1


"Ya, kita segera kembali", senyum Tina


"Kita tunggu grandpa dan grandma datang untuk berpamitan sebagai kesopanan boy", ucap Thomas dengan mengangkat tubuh Felix dan mencium pipi gembulnya.


Felix geli dengan ciuman Thomas sebab bulu di janggutnya menusuk di kulit. Tina melihat ayah dan anak sedang tertawa begitu tersentuh dan senang.


Sedangkan Alena sedang memarahi Hans.


"Hans jawab! Aku dari tadi mengomel tapi kamu malah diam saja", jengkel Alena dengan bersedekap dan mendengus.


Hans beranjak dari kursi lalu menarik pinggang Alena dan mencium keningnya.


"Akan aku ceritakan setelah mereka pergi", ucap Hans dengan lembut.


"Lebih baik kita temui mereka dulu", ucap kembali Hans dan diangguki oleh Alena setelah menatap matanya lebih dalam.


Hans dan Alena menemui cucu, anak, dan calon mantunya yang menunggu di ruang tamu.


"Tina!", panggil Alena. Kemudian Tina berdiri begitu pun Thomas yang memangku Felix.


"Mom, kami pulang dulu, sudah malam", pamit Tina.


"Baiklah Nak, sepertinya Felix mulai mengantuk", ucap Alena


"Tidak grandma", sangkal Felix di gendongan Thomas.


"Iya deh cucu grandma belum ngantuk", ucap Alena dengan menampakan senyuman dengan menghampiri Felix untuk mengusap kepala dan memeluknya sebentar. Lalu Felix mencium pipi Alena. Alena terkejut dan mengucapkan terimakasih.


"Dad kami pulang", pamit Tina yang diangguki oleh Hans.


"Kami pulang dulu aunty, uncle", pamit Thomas yang diangguki oleh Alena.


Tina memeluk momynya, daddy nya, lalu pergi menyusul Thomas. Sementara Elizabeth dan Brian yang sedang memantau dari jarak jauh tertidur dengan melewatkan kepergian mereka tanpa sadar.


Beberapa lama kemudian mereka telah sampai diapartemen dengan memencet tombol kunci dan pintu terbuka. Mereka masuk ke kamar masing-masing.


Thomas masuk ke dalam kamar Felix untuk meletakkan tubuh mungil yang sudah terlelap dalam gendongannya ke ranjang. Lalu masuk ke kamar dimana dia tidur bersama dengan Tina.


Thomas membuka baju untuk membersihkan diri namun kamar mandi masih terpakai oleh Tina. Thomas berinisiatif mencoba membuka pintu kamar mandi untuk berendam bersama tetapi ternyata terkunci. Thomas mencari cara licik untuk membuka pintu kamar mandinya. Setelah berhasil Thomas mengendap-endap ikut bergabung dengan Tina yang sedang menikmati rendaman air. Tina belum merasakan kehadiran Thomas yang sedang memandang wajah cantik yanh basah itu di bath tub. Saat akan melonjorkan kaki, Tina merasakan sesuatu yang menghalangi dan begitu keras. Thomas yang merasakan menyerinai lalu bersuara, "sweety, apakah kamu menikmati kesegaran berendam".


Tina mendengar suara itu langsung terbangun dan terkejut.


"Thomas!", panggil Tina tetapi Thomas hanya tersenyum menyerinai.


"Apa yang kau lakukan?", tanya Tina.


Thomas hanya diam dengan mata yang masih memandang wajah Tina dengan tatapan tajam lalu menarik tubuh Tina dalam pangkuannya dan menarik tengkuknya. Thomas mulai aksinya hingga sampai di ranjang dan tidur terlelap sampai matahari berdiri tegak di langit menyinari dua sejoli yang masih bergelung dengan selimut.

__ADS_1


Sementara Brian dan Elizabeth masih tertidur dalam mobil di depan rumah Refalino.


__ADS_2