
"Hans, ceritalah", ucap Alena dan diangguki oleh Hans dan mulai bercerita.
Hans mulai bercerita kepada Alena, "tiga puluh tahun yang lalu kami menjalin kerja sama dengan Stefanus hampir empat tahun. Dia itu orangnya bisa memegang janji namun di luar dugaan dia melakukan kelicikan dan kecurangan dalam dunia bisnis dengan berbagai rencana siasat tanpa ada hati nurani".
Flashback
Tiga puluh tahun lalu.
"Gideon!", panggil Stefanus dengan melambaikan tangan.
"Ada apa?", tanya Stefanus
"Aku mendapatkan informasi bahwa kita bisa bekerja sama dengan pabrik kayu milik Refalino. Kita bisa mencobanya untuk mengajak dia bekerja sama", ucap Stefanus dengan tangan bertengger di pundak Gideon.
"Apakah kamu sudah mencari secara detail mengenai Refalino?", tanya Gideon.
"Sudah", jawab Stefanus.
"Aku memiliki informasinya, nanti akan aku kirim kepada kamu", ucap Stefanus.
"Syukurlah, semoga pengembangan resort maupun desain ukir bisa berkembang pesat", ungkap Gideon dengan senyum merekah.
Stefanus dan Gideon berjalan beriringan ke ruang kerja untuk merancang kerja sama dengan Refalino.
Paginya mereka pergi ke pabrik ukir dan kayu milik Refalino. Mereka melakukan perjalanan cukup jauh disebuah pedesaan yang memiliki banyak pohon rimba nan sejuk. Stefanus dan Gideon baru sampai setelah perjalanan yang cukup panjang dengan memakan waktu berjam-jam.
Stefanus dan Gideon turun dari mobil dengan di suguhkan pabrik yang begitu luas dan gedungnya cukup menjulang.
Hans Refalino kebetulan dia sudah keluar mengantar klien untuk berpamitan pergi, Stefsnus dan Gideon menunggu mereka selesai mengucapkan salam perpisahan.
Setelah kepergian dua klien tadi Stefanus dan Gideon menghampiri.
"Selamat siang, tuan Hans Refalino", ucap salam dari Stefanus.
"Siang, Apakah ada yang bisa saya bantu?", tanya Hans.
"Ya tentu, kami ke sini sudah membuat janji dengan ayah anda dan demikian dengan anda", ucap Stefanus.
__ADS_1
"Kami dari perusahaan PT Resort Jaya", ucap Gideon
"Ooo, saya baru teringat,anda sekalian ke sini untuk pengajuan permohonan kerja sama untuk pengembangan resort kalian kan", ungkap Hans dengan diangguki oleh dua pria yang berdiri di depannya.
"Mari, saya akan tunjukkan kantor ruang kerja ayah saya untuk kita diskusikan kembali", ucap Hans dengan sopan dan memandu kliennya untuk sebentar berkeliling lalu menemui ayahnya yang sedang menyesap kopi di ruang kerjanya.
Setelah sampai Hans mengetok pintu dengan keras dan pemilik ruang kerjanya mempersilakan masuk. Usai terdengar suara dipersilakan masuk Hans membukakan pintu dan menyuruh dua pria masuk.
Gideon mengucapkan kata salam, "salam hormat tuan Refalino De Dora", dengan senyum tipis.
"Tuan Gideon, tuan Stefanus, dua pria yang memiliki jiwa semangat dalam bekerja sampai jauh-jauh ke pusat pabrikku", ucap Reffalino dengan beranjak dari tempat duduk menghampiri dua pria duduk di sofa coklat dengan memakai tongkat.
"Bisa saja tuan", ucap Stefanus dengan ketawa yang diikuti oleh lainnya.
"Sekarang kita membahas pada intinya saja", ucap Refalino dengan serius yang diikuti lainnya.
"Anda berdua ke sini untuk bekerjasama dalam pembangunan resort dan pengembangan funiture ukiran", ucap Refalino kembali.
"Ya, dan dokumen saya berikan kepada anda", ucap Gideon langsung diserahkan dokumen tersebut.
Setelah selesai membaca dokumen tuan Reffalino menaruh dokumen tersebut dan mengatakan, " perjanjian yang kalian berikan kepada saya cukup bagus bagi perusahaan kecil kalian yang baru dibangun...", dengan menjeda kalimat dan menatap dua pria itu dengan tatapan tajam. Sedangkan dua pria menunggu lanjutan kalimat dari bibir Reffalino.
"...saya ingin anda berdua menambahkan perjanjian keuntungan di pabrik ini 45% dan menghapus meminjam pabrik", ucap Reffalino.
"Bukankah 45% itu terlalu banyak untuk anda dan akan merugikan perusahaan kecil kami atas kerjasama yang kami buat", ucap Stefanus.
"No, no, itu masih bisa untuk membayar karyawan kalian sisanya sebab furnitur di negara kita sedang naik untuk penjualan dan keuntungan bagi dua belah pihak", ucap Raffalino.
Stefanus melirik ke arah Gideon dengan lewat telepati.
Bagaimana keputusan kita?
"Baiklah, saya setuju permintaan anda", ucap Gideon yang membuat Reffalino tersenyum merekah.
Stefanus yang mendengarkan ucapan Gideon begitu jengkel dengan keputusannya.
Gideon kamu begitu b*rengs*k mengambil keputusan seenak jidat. Pria tua ini mengambil keuntungan terlalu banyak.
__ADS_1
Stefanus hanya pasrah dan bagaimana lagi untuk bisa menjalin kerjasama bagi perusahaan kecil mereka. Setelah mencapai kesepakatan mereka diajak berkeliling melihat kayu yang sudah pilihan dan bagus untuk pembangunan resort.
Perusahaan yang dibangun diatas persahabatan semakin lama berkembang pesat menjadi terkenal dan sampai masuk dalam majalah pebisnis sukses. Karena perusahaan semakin berkembang dan kerjasama dengan perusahaan lain begitu terus mengalir setelah empat tahun menjalin kerja sama dengan Reffalino dan keserakahan Stefanus semakin besar dengan diam-diam mengkhianati jalinan kerja sama dengan air tuban. Gideon sebagai sahabatnya selalu memperingatkan Stefanus untuk tidak serakah. Namun omongan Gideon malah dibuat sebagai tanda permusuhan bagi Stefanus untuk menyatakan perang. Lalu pikiran Stefanus yang jahat dengan rencana licik seluruh pabrik milik Stefanus terbakar dengan menelusupkan bahan bakar di pabrik setelah memindahkan kayu-kayu terbaik dan bersamaan dengan berselangnya tiga hari Reffalino meninggal dunia akibat serangan jantung dan menanggung banyak hutang yang ditinggalkan olehnya untuk Hans dan istrinya.
Sementara Stefanus sedang merayakan kemenangan atas tindakan liciknya bersama dua saudara sepupunya. Kemudian siasat itu kembali terpatri dalam benak Stefanus dengan membakar pabrik miliknya saat Gideon sedang berkunjung dan akhirnya Stefanus berkuasa dan memiliki semua tanpa dibagi keuntungan kepada siapa saja setelah menjebloskan dua saudara sepupunya ke dalam penjara seumur hidupnya.
Keserakahan Stefanus membutakan hati nurani demi keuntungan sendiri tanpa diketahui oleh istri dan keluarganya.
End Flashback
"Itulah keserakahan Stefanus sampai mengorbankan sahabatnya dan saudara sepupunya", ujar Hans.
"Oh my god, dia pria yang telah membuat kita hancur dan membuat ayah meninggal", ucap Alena dengan terkejut dan suara bergetar. Lalu Hans memeluk tubuh Alena yang menagis dalam dekapannya. Sudah di duga jika dia menceritakan sepenuhnya akan membuat Alena tambah tidak bisa menahan kemarahannya.
Pagi hari sepasang sejoli masih asyik bergelung dibawah selimut. Sepasang sejoli yang terlihat nyaman dalam tidurnya yaitu Thomas dan Tina. Sementara Felix sedang menggigil tanpa sepengetahuan orang tuanya di kamar sebelah dengan keringat dingin.
Felix memanggil Tina, "mom, mom, mom".
Tina yang asyik bergelung lalu terbangun dari alam mimpi ketika ada suara Felix memanggilnya meski terdengar samar-samar.
Tina beranjak dari ranjang dengan meminta Thomas untuk melepaskan pelukannya dengan nada kesal dan jengkel. Lalu Thomas melepaskan dan Tina beranjak langsung melesat ke kamar Felix. Saat membuka pintu Tina langsung berteriak, "Felix! Oh my god!", dengan menghampiri ranjang Felix dan melihat suhu badan Felix dengan menempelkan tangannya di dahi putranya.
"Sayang, akan aku ambilkan kompres dulu", panik Tina.
Sedangkan Thomas yang tadinya akan melanjutkan tidurnya, ia harus memaksa tubuhnya untuk bangkit saat mendengarkan suara teriakan Tina. Ketika akan ke kamar Felix, Tina keluat dengan terburu-buru. Lalu Thomas mengecek Felix yang terbaring lemah dengan keringat dingin. Kemudian Thomas men deal up nomor dokter yang ia kenal.
"Hallo, bisakah kamu ke sini pagi-pagi anakku sakit", ucap Thomas yang memegang dahi putranya.
"Baiklah, aku akan kesana", ucap dokter Liam.
Setelah selesai menelepon Thomas memanggil putranya.
"Felix tunggulah sebentar, dokter Liam akan cepat kesini", ucap Thomas dengan diangguki oleh Felix.
Tina yang telah selesai berkutat mencari thermometer, Tina kembali ke kamar Felix membawa air kompres dan thermometernya.
Kemudian Tina mengecek suhu Felix lewat mulutnya. Suhu panas begitu tinggi membuat Tina sedih lalu mengompreskan dahinya dengan handuk yang dibasahi air hangat sembari menunggu dokter Liam datang.
__ADS_1