Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Terusik 3


__ADS_3

Ellizabeth tengah memantau Tina yang pergi sendirian. Ellizabeth mengikuti Tina hingga di kediaman milik Grace. Tina masuk melewati gerbang sedangkan Ellizabeth bersembunyi di balik kemudi mobil.


Tina mengetuk pintu lalu cipika cepiki dengam Grace kemudian masuk.


“Bagaimana dengan putrimu Grace?”, tanya Tina.


“Dia sudah membaik”, ucap Grace


“Syukurlah”, ucap Tina.


“Apakah kamu hari ini mau pergi periksa kandungan Tin?”, tanya Grace.


“Iya, hari ini jadwalku memeriksa kandungan”, ucap Tina dengan mengusap perutnya yang masih rata.


“Jam berapa, kamj akan memeriksa kandungan kamu?”, tanya Grace.


“Siang, sekitar pukul 10.00”, ucap Tina.


“Maaf ya Tin, aku tidak bisa menemanimu memeriksa kandungan”, ucap Grace dengan rasa menyesal.


“Iya, tidak apa-apa”, ucap Tina.


“Ngomong-ngomong kami berangkat naik taxi atau diantar oleh sopirmu?”


“Aku berangkat diantar oleh Rafa”.


Sedangkan Ellizabeth bosan menunggu Tina keluar dari mansion milik Grace.


Kenapa lama sih. Seharusnya dia hanya mengantar barang saja. Bikin aku bosan dan muak untuk menunggu kamu. Tanganku sangat gatal apabila belum membunuh kamu.


Ketika sedang menggigit ibu jari sebagai untuk menghilangkan rasa bosan. Ellizabeth melihat mobil hitam keluar dari mansion milik Grace.


Ellizabeth lalu mengikuti Tina hingga ke rumah sakit. Ellizabeth keluar dari mobil dan mengkuti Tina sampai di depan ruang dokter kandungan. Ellizabeth bersembunyi di balik dinding.


Oo, jadi kamu tengah hamil rupanya. Aku akan buat kamu dibenci oleh Thomas. Lihat saja nanti.


Ellizabeth pergi meninggalkan rumah sakit. Lalu menghubungi Brian. Tetapi tida diangkat olehnya. Ellizabeth melempar ponselnya ke kursi sebelah dengan menyandarkan punggung dan mengadah ke atas. Kemudian melaju kembali ke rumah Brian.


Sementara Lauren tengah berpose layaknya model dengan berbagai gaya. Setelah dua jam, Lauren pergi ke ruang ganti tanpa ada manager. Ketika akan mengganti gaun dengan menurunkan setengah bahu tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang membuat Lauren menegang.


“Sweetheart”, bisik Stefanus.

__ADS_1


“Stefanus!”, ucap Lauren dengan nada terkejut.


“Aku merindukan kamu”, dengan mencium pundak Lauren.


“Apa yang kau lakukan di sini?”, tanya Lauren berbisik.


“Aku ke sini untuk melepas rindu”, ucap Stefanus.


“Sekarang lepaskan aku Stefanus”, geram Lauren dengan berusaha melepaskan pelukan erat dari Stefanus.


“Stefanus, kalau ketahuan gimana? Aku sudah mencapai puncak dan aku tidak mau mengulangi kebodohan aku kembali. Sekarang lepaskan aku”, kesal Lauren.


“Aku akan membantumu menangani mereka. Sekarang kamu harus memenuhi hasratku sweetheart”, ucap Stefanus yang terus mencium leher Lauren.


“Aku tidak bisa!”, bentak Lauren.


“Aku akan membeberkan semua hubungan kita dan karier kamu akan pupus”, ancam Stefanus.


Lauren mulai dibuat kesal atas sikap Stefanus.


Tua bangka ini benar-benar harus aku lenyapkan.


Lalu Lauren membalikan badan dan memeluk tubuh Stefanus dengan berkata, “aku akan puaskan hasrat kamu namun di apartemen ya honey. Di sini kamu pasti tak akan puas honey”, dengan nada manja sambil memberikan kecupan dibibir Stefanus walaupun terpaksa.


“Iya, aku akan menepati janjiku”, ucap Lauren dengan senyum paksa.


“Ya sudah, aku harus pergi meeting dulu. Aku tunggu kamu di apartemen”, ucap Stefanus.


“Iya aku akan datang. Bye honey”, ucap Lauren dengan melambaikan tangan.


Kemudian Lauren menghembuskan nafas lega setelah kepergian Stefanus dan menghubungi orang lain bernama Erik.


“Halo Erik, kamu nanti malam harus membantuku untuk membunuh Stefanus. Aku tidak mau tahu caranya bagaimana? Terpenting kamu habisi dia, baru aku kirim uang sisanya”, u Lauren dengan memutuskan hubungan sepihak.


Malam hari Lauren sedang menunggu hasil dari Erik yang menjalankan perintahnya. Lauren mondar-mandir ke sana kemari di dalam hotel no 701 dengan asistennya yang tengah sibuk memainkan ponsel. Lauren tidak bisa tenang dan Lauren berteriak, “arghhh, kenapa lama sekali!”, dengan menarik rambutnya.


Tatkala Lauren sedang pusing menunggu di dalam hotel dengan mondar-mandir ke sana kemari, kini Stefanus berhasil meringkus kaki kanannya Lauren.


Stefanus menunggu Erick terbangun dari pingsannya sambil merokok dan menyesap anggur.


Tak lama kemudian, Erick terbangun dengan sedikit meringis di bagian ujung bibirnya. Stefanus melihat pria itu berdecak dengan senyuman sinis.

__ADS_1


“Dimana Laurent sekarang?”, dengan menghisap rokok.


“Saya tidak tahu”, ucap Erick.


“Jika kamu memberitahuku, aku akan kasih imbalan dua kali lipat bayaran yang diberikan Lauren”, ucap Stefanus dengan nada rendah dan membuang putung rokok yang mengecil dengan diinjak.


“Saya tidak tahu tuan”, ucap Erick yang masih kekeh tidak memberitahu keberadaan Laurent membuat Stefanus geram.


Lalu Stefanus bertanya sekali lagi.


“Dimana dia sekarang?!”, murka Stefanus dengan menodongkan pistol.


“Sa..saya akan kasih tahu. Tapi tolong pistolnya jauhkan dari kening saya tuan”, ucap Erick dengan ketakutan.


“Baiklah, sekarang katakan”, ucap Stefanus.


“Dia.. di.. dia berada di hotel dekat tempat syuting. Kamar hotel nomor 701”, beber Erick.


“Gitu dong”, ucap Stefanus menelepon anak buahnya untuk menjalanlan aksi mengelabui Lauren di kamar hotel.


“Hallo Don, kamu menyelusup ke sana sebagai pelayan dan bawakan dia anggur dan dupa untuk meningkatkan hasrat. Aku akan kasih kamu imbalan besar jika berhasil”, ucap Stefanus.


“Baik”, ucap Doni.


Sembari Doni menjalankan aksinya, Stefanus langsung menghabisi Erick dengan menembak tepat di kepalanya. Lalu Stefanus pergi ke hotel untuk menemui Laurent.


Sedangkan Doni, tengah menjalankan aksinya. Doni bersembunyi di balik dinding untuk memperhatikan salah satu pelayan laki-laki itu. Pelayan itu tengah mengetuk pintu kamar Laurent. Lauren yang berada di dalam menyuruh asistennya membukakan pintu. Asisten tersebut bangkit dari kursi dan membukakan pintu. Asisten Lauren menerima pesanan dan membawa masuk makanan. Lalu Lauren bertanya, “kamu pesan makanan?”


“Tidak, mungkin ini dari penggemar anda nona”, ucap asistennya.


“Yaudah kita lebih baik menikmati makanan”, ajak Lauren.


Pada saat asistennya akan ikut mengincipi tiba-tiba ada bunyi ponsel dan mendapatkan perintah dari atasannya untuk mengatur jadwal Lauren. Lalu asisten itu pamit meninggalkan Lauren sendirian di dalam kamar.


Setelah asisten itu keluar, Doni menghubungi Stefanus bahwa rencananya berhasil. Lalu Stefanus yang berada di luar hotel menyeringai dan turun dari mobil.


Tidak butuh waktu lama, Stefanus tiba di depan kamar hotel dengan membawa kunci cadangan yang diberikan oleh Doni yang berhasil mencuri.


Stefanus masuk dengan mengendap-endap dan melihat Lauren tengah memijat sesuatu. Membuat hati Stefanus sangatlah senang. Lalu Stefanus mendekati dengan memeluk Lauren yang tengah kepanasan. Stefanus membisikan dari belakang.


“Apakah kamu membutuhkan sesuatu sweetheart?”

__ADS_1


Lauren membalikan tubuh dan langsung sigap mencium Stefanus. Stefanus menerima dan membalas aksi yang Lauren lakukan.


Stefanus terus melakukan hingga Lauren terus melenguh hingga dia pingsan karena lelah. Stefanus menyelimuti dan memeluk tubuh Lauren hingga menjelang siang.


__ADS_2