Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Feeling Seorang Istri


__ADS_3

Di rumah sakit setelah Lauren melahirkan dia mencari bagaimana cara untuk membujuk Thomas agar berpaling dari Tina?


Lauren menghubungi Elizabeth untuk kerja sama selanjutnya. Lauren men deal up nomor Elizabeth. Ketika sedang menunggu Elizabeth mengangkat sambungan telepon tiba-tiba Stefanus datang dan Lauren mematika sambungannya dan menyembunyikan ponsel di bawah bantal dengan tersenyum paksa. Stefanus menyapa Lauren dengan mencium keningnya.


"Hai sweety".


"Hai honey".


"Apakah kamu bosan di rumah sakit?", tanya Stefanus sambil duduk di pinggir ranjang.


"Tentu", ucap Lauren.


"Sabarlah, sebentar lagi kamu akan segera keluar sweety".


"Iya honey", senyum Lauren.


"Oh ya, wajahmu kenapa honey? Baru saja kita tidak bertemu sehari sekarang seperti ini", ucap Lauren dengan memberikan perhatian kepada Stefanus.


"Ini perkelahian antar laki-laki sweety", ucap Stefanus dengan mengecup kembali kening Lauren.


"Oh ya, mana anak jagoan kita sweety?", tanya Stefanus mengalihkan pembicaraan.


"Dia saat ini sedang di mandikan suster honey", ucap Lauren.


"Thank you sudah mau melahirkan buah hati dari benihku", ungkap Stefanus mencium pipi Lauren.


"Tentu, dia jagoan kita yang akan menjadi seorang yang lebih sukses darimu honey", ucap Lauren dengan senyum.


"Iya, aku menginginkan dia menjadi lebih sukses dan dapat mengalahkan anak durhaka itu", ungkap Stefanus yang masih geram dengan keputusan Thomas.


"Anak Durhaka?", tanya Lauren yang berpura-pura tidak mengetahui perihal masalah Stefanus dengan Thomas.


"Iya anak durhaka siapa lagi kalau bukan Thomas. Dia anak tidak tahu terima kasih kepada orang tuanya malah membalasku dengan air tumban. Aku akan ambil kembali saham itu untuk jagoan kita sweety. Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir. Kamu harus percaya kepadaku sweety. Semua usahaku yang ku rintis tidak boleh jatuh di tangan mereka. Aku harus berikan kepada jagoan kita Raiden", ucap Stefanus dengan mengepal tangannya begitu erat.


"Aku percaya dengan otak cerdikmu honey", ucap Lauren memberikan ciuman di pipi kanan Stefanus.


Ketika mereka sedang mengobrol, suster datang dengan Raiden dalam gendongan suster tersebut dengan sopan.


"Maaf tuan, nyonya, mengganggu. Saya membawa kembali anak anda yang tampan ini setelah saya bersihkan tubuhnya", ucap suster tersebut sambil memberikan kepada Lauren.


"Thank you", ucap Lauren.


"Kalau begitu saya permisi tuan, nyonya", ucap suster itu dengan berlalu meninggalkan mereka untuk menikmati momen bersama dengan anak mereka yang baru lahir.


Stefanus mencoba mendekat dan mengusap pipi Raiden dengan jari telunjuknya dengan lembut. Lauren dan Stefanus bermain sebentar dengan Raiden mungil hingga ia haus dan Lauren harus memberikan ASI untuk putranya.

__ADS_1


Sedangkan Herlena menangis di dalam kamar meratapi nasib yang bertahun-tahun hatmonis sekarang rumah tangga diambang kehancuran. Herlena sempat terbesit bahwa perubahan Stefanus ada seseorang yang mengganti dirinya di hati suaminya. Herlena mencoba menghubungi Gideon sahabat setianya di pinggir blakon kamar.


Gideon yang tengah bersantai di kamar sambil membaca email yang masuk setelah melihat kegaduhan di gedung bekas Stefanus, tiba-tiba ada deringan di ponselnya dan menampakkan nama Herlena di depan layar lalu ia men deal up nomor tersebut.


"Hallo Herlena".


"Hallo Gideon, apakah aku bisa menemui kamu sekarang?", tanya Herlena.


"Ada apa Herlena?", tanya balik Gideon.


"Ada sesuatu perihal yang harus aku bicarakan denganmu", ucap Herlena.


"Baiklah, datanglah kerumahku jika ingin bertemu denganku", ucap Gideon.


"Aku akan ke sana. Thank you Gideon",ucap Herlena dan langsung dimatikan secara sepihak.


Sebelum Herlena datang, Gideon menyuruh pelayannya menyiapkan camilan dan minuman hangat.


Beberapa lama kemudian Herlena datang di kediaman Gideon. Herlena di persilahkan masuk dan diantar oleh pelayan perempuan yang telah di tugaskan oleh Gideon. Sang pelayan itu menunjukkan ruangan tengah dimana Gideon sedang menunggu Herlena.


Herlena lalu memanggil Gideon yang tengah menonton TV sendirian.


"Hai Herlena", sapa Gideon dengan pandangan lurus.


"Duduklah",ucap Gideon menawarkan Herlena duduk.


"Herlena, ada apa dengan wajah kamu?", sambil mencoba mendekati wanita tersebut dan tangan menyentuh wajah lebam milik cinta pertamanya.


"Bu..bukan apa-apa", ucap Herlena dengan tubub bergetar.


"Apakah yang melakukan semua ini adalah Stefanus?", tanya Gideon.


Herlena hanya diam dan mulutnya terlalu tertutup rapat seolah bibirnya diolesi dengan perekat. Gideon yang tak kunjung mendengar jawaban dari Herlena. Gideon menarik tubuhnya dan menyuruh Herlena menangis dalam pelukannya. Lalu Herlena menangis histeris sambil memukul punggung yang masih kokoh milik Gideon. Gideon membiarkan Herlena untuk melampiaskan ke jengkelannya di dalam pelukan dirinya. Gideon memberikan usapan di punggung Herlena yang sangat lelah dengan rumah tangga bersama Stefanus.


Beberapa lama kemudian Herlena menyudahi tangisannya setelah merasa lega dipelukan Gideon yang dia anggap sahabat setia yang selalu menemaninya dalam suka dan duka. Lalu Herlena mengambil tisu untuk mengusap ingusnya dan air mata di pelupuk mata sambil mengatakan dengan lirih,"maaf membuat baju kamu penuh dengan ingusku dan air mataku. Terimakasih atas pelukan hangatmu setelah kedua orang tuaku".


"No, aku bisa mengganti kemejaku dengan yang baru. Aku sangat lega jika kamu mau berbagi kesedihan kamu yang telah kamu alami", ucap Gideon yang membuat Herlena terlihat malu.


"Kalau begitu aku ganti kemejaku dahulu.Kamu bisa menikmati camilan dulu sampai aku datang", ucap Gideon dengan tulus.


"Thank you",lirih Herlena yang nyaris tidak terdengar. Gideon yang bisa membaca mimik bibir Herlena tersenyum lalu meninggalkannya di ruang tengah untuk pergi ke kamar mengganti kemeja yang telah basah karena air mata dan ingus milik Herlena. Gideon tidak pernah mempermasalahkan kemejanya yang kotor karenanya. Dia malah begitu senang setelah sekian lama Herlena tidak berbagi kesedihan semenjak dirinya mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya.


Beberapa lama kemudian Gideon turun menuju ruang tengah dimana Herlena sedang menikmati camilan. Gideon yang datang dari belakang melihat pemandangan wanita yang sudah lama ia cintai sekarang berada dihadapannya sambil menikmati camilan kesukaannya dengan sedikit rakus seperti sifatnya saat masih kecil.


Gideon lalu menghampiri Herlena dengan mengatakan," apa kamu menyukai camilan yang dihidangkan oleh pelayanku?".

__ADS_1


Herlena menoleh ke sumber suara dengan menganggukkan kepala.


"Kamu tidak pernah berubah semasa kecil sampai sekarang", ucap Gideon dengan tersenyum hangat sambil mengambil tempat duduk di samping Herlena.


Herlena terkekeh sambil mengatakan, "Stefanus saja tidak ingat makanan dan camilan kesukaanku setelah Thomas lahir di dunia", dengan mengunyah camilan keripik jagung.


"Whats?!", terkejut Gideon.


"Berarti dia tidak setia dengan kamu Herlena", ucap Gideon yang mengenai hatinya.


"No, no, dia bukan tidak setia tapi dia terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan segala sesuatu yang ku sukai Gideon", sangkal Herlena meski kenyataannya pahit dengan perubahan Stefanus semenjak perusahaannya berkembang.


"Aku tidak percaya dengan kesetiaan Stefanus. Sebab dia telah menyiakan wanita secantik kamu dengan menduakan pekerjaan yang berkembang", ucap Gideon membuat hati Herlena menculas sambil tersenyum kecut. Gideon yang melihat ekspresi Herlena sudah tahu perasaan apa yang ingin dia ungkapkan kepada dirinya. Lalu Gideon menyinggung perihal Herlena datang ke rumahnya.


"Ada perihal apa yang ingin kamu bicarakan atau ceritakan kepadaku?", tanya Gideon dengan menyesap teh hangatnya.


Herlena kemudian meletakkan camilan ke atas meja dan membersihkan remahan makanan di sekitar bibir dan dress yang dia pakai saat ini.


Herlena menghembuskan nafas dengan kasar dan mulai bercerita.


"Saat ini aku memikirkan sesuatu yang selalu terbesit dalam otakku mengenai Stefanus...", ucap Herlena dengan memandang wajah Gideon yang setia mendengarkan isi hati Herlena.


"Apa yang terbesit dalam otak kecilmu Herlena?", tanya Gideon.


"Aku sempat terbesit bertahun-tahun tapi selalu aku mengindahkan pikiran burukku itu. Kali ini feelingku begitu kuat setelah melihat perubahan dari Stefanus atas perlakuannya terhadapku", lanjut Herlena.


"Feeling apa yang membuat otakmu berpikir buru?", tanya Gideon memandang wajah Herlena yang masih terlihat cantik meskipun sudah berumur.


"Feelingku mengatakan bahwa Stefanus memiliki wanita lain di belakangku", ucap Herlena yang membuat Gideon terkejut seperti tersambar petir.


Benar-benar feeling wanita lebih kuat dari dugaan yang ku kira.


"Apakah kamu pernah memergoki Stefanus selingkuh?", tanya Gideon.


Lalu Herlena menjawab dengan gelengan kepala.


"Jika kamu belum menemukan bukti, bagaimana kamu akan menuduh Stefanus?", ucap Gideon.


"Maka dari itu, aku ke sini meminta tolong kepada kamu untuk menyelidiki Stefanus bersama wanita lain", ucap Herlena dengan ekspresi memohon.


"Apakah kamu akan percaya jika aku menemukan bukti?", tanya Gideon yang diangguki oleh Herlena.


"Apakah kamu tidak akan menyangkal kembali seperti saat waktu aku pernah memergoki Stefanus bersama wanita lain?", tanya Gideon kembali dan Herlena menganggukkan kepala.


"Baiklah, aku akan mengungkapkan sekarang bahwa dia berselingkuh dengan seorang gadis belia yang pernah ingin kau jodohka. kepada putramu", ucap Gideon membuat tubuh Herlena mematung dengan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Gideon tersenyum sinis dengan mengatakan, "itu buktinya kamu menyangkal pembicaraanku Herlena. Kamu harus mencari informasi sendiri dan melihat dengan mata kepalamu sendiri agar kamu tidak di butakan oleh Stefanus si pria br*ngsek".


Setelah mendengarkan perkataan dari Gideon, Herlena hanya diam dengan kebodogannya sendiri dan kebutaan cinta terhadap Stefanus. Padahal Thomas sudah menemukan bukti hasil perselingkuhan dengan Lauren. Thomas belum memberitahukan kepada Herlena sebab ibunya terlalu keras kepala. Thomas akan mengungkapkan jika waktunya tiba dan Herlena memergoki sendiri dengan mata kepalanya yang sudah bertahun-tahun dibutakan oleh cintanya dengan Stefanus. Herlena tidak dapat berkata apa-apa saat ini. Dia hanya mengeluarkan air matanya saja dan berlari meninggalkan kediaman milik Gideon. Gideon yang masih di ruang tengah membiarkan Herlena pergi demi kebaikannya dengan meminta bawahannya untuk mengikuti kemana Herlena pergi. Dia pergi ke suatu tempat yang dahulu pernah dikunjungi saat dia menenangkan diri di sebuah perpustakaan milik temannya.


__ADS_2