Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Perang Akan Dimulai


__ADS_3

Setelah satu minggu lebih Thomas berada di pedesaan untuk merancang siasat bersama Gideon. Kemudian Thomas kembali ke kantor mengerjakan dokumen setelah tiga jam berlalu Thomas pergi menemui klien di pusat perbelanjaan bersama Reyhan.


Tatkala berjalan akan menuju restoran bertemu klien, Thomas melihat Felix bersama Tina bergandengan dengan penuh tawa dan Thomas melihat mereka dari jarak jauh begitu bahagia tapi kebahagiaan menghilang sekejap saat melihat di samping Felix ada Keenan. Lalu Thomas tersulut api kecemburuan, Reyhan yang berada di sampingnya mengikuti Thomas tanpa tahu kemana arah tujuan Thomas. Menurut Reyhan, Thomas pergi menemui klien namun sulit dipercaya saat mendekat ternyata Thomas melihat Tina bersama pria lain yang membuatnya melangkah terburu-buru.


Thomas mencekal lengan Tina dan ia terkejut dengan mata melotot dengan bibir menganga. Dengan memanggil namanya begitu lirih tapi masih didengar, “Thomas!”, lalu Thomas tersenyum dengan ekspresi dingin.


“Sweety, ternyata kamu sedang bersenang-senang dengan pria lain”, bisik Thomas dengan gigi mengetat.


“Tu.. tunggu Thomas, kamu salah paham”, ucap Tina dengan ketakutan ketika ekspresi Thomas berwajah dingin.


“Kita jelaskan saat kita pulang nanti sweetherat”, ujar Thomas. Felix yang berada di samping Tina mencoba memadamkan api kecemburuan dari ayahnya dengan memanggilnya, “dadd!”, teriaknya dengan merentangkan kedua tangan dan Thomas membalas dengan menggendong Felix.


“Boy, daddy merindukan kamu, apa kamu menikmati berjalan dengan orang lain selain daddy kamu hm?”, ucap Thomas. Tina yang betah berada di samping Thomas begitu bersyukur dan berterima kasih kepada Felix. Keenan dan Reyhan berada di tengah keluarga yang penuh emosional memandang dengan membola. Terutama Reyhan melihat Thomas yang tadinya berwajah marah berubah menjadi ekspresi hangat ketika Felix menyebut ayahnya.


Di tengah keluarga kecil di tengah pusat perbelanjaan, ada seseorang yang mengintip di balik dinding dengan ekspresi marah ketika melihat Thomas tidak membentak Tina atau perkelahian dengan pria bersama Tina.


“Si*l Thomas tidak memarahi ataupun berkelahi dengan Tina. Pertunjukan yang akan menyenangkan kenapa menjadi begini”, gumam wanita itu lalu pergi meninggalkan pusat perbelanjaan dengan melewati mereka tanpa di sadari oleh siapapun.


Reyhan kemudian mengganggu saat ditengah keluarga kecil itu. “Bos, kita harus segera menemui klien. Dia sudah menunggu kita cukup lama”, ucap Reyhan.


Thomas kemudian mengangguk kepala, “ok”. Lalu Thomas menarik lengan Tina untuk ikut bersama sambil mengancam Keenan, “jangan kau ikuti kami, pulanglah! Mereka sudah bersamaku dan tidak membutuhkan kamu”, sambil berlalu meninggalkan Keenan yang berdecak dan membola. Reyhan yang berada di samping Keenan menyuruhnya bersabar dengan mengusap pundak, “sabar bro”, ucapnya dengan menyusul Thomas.


Setelah sampai di restoran, Thomas mendudukan Felix dan menyuruh Tina menunggunya sebentar.


“Boy, Tina, tunggulah sebentar. Aku akan menyelesaikan tugas aku dulu”, sambil mencium kening Felix dan terkasihnya. Lalu Thomas menemui klien yang diikuti Reyhan.


Usai kepergian Thomas bertemu klien, Tina dan Felix menikmati menu makanan kembali.


“Felix, thank you”, senyum Tina dengan tulus.

__ADS_1


“Kenapa mom, kok tiba-tiba mengucapkan terimakasih?”, tanya Felix.


“Yang tadi boy”, ucap Tina mengusap kepalanya.


“Ooo itu, tidak perlu terimakasih mom, aku juga tidak mau daddy salah paham terus dengan momy”, ucap Felix dan Tina tersenyum lalu memberikan kecupan di kening anaknya.


Beberapa lama kemudian Thomas datang dan duduk bersama Tina dan Felix. Sedangkan Reyhan berpamit keluar karena dua tahu sitkon.


“Boy, kamu sudah kenyang?”, tanya Thomas.


“Iya dad, hari ini aku sangatlah kenyang”, ucap Felix dengan mengusap perutnya.


Ditengah perbincangan mereka Reyhan berdehem, “bos aku pamit keluar dahulu?”, tapi Thomas mencegah, “tunggu, kami juga mau segerah pulang. Dan tolong antar kami ke rumah”, ucap Thomas.


“Baik bos”, ucap Reyhan.


Setelah mereka selesai membayar, lalu mereka berjalan pergi ke pelataran parkiran dan melajukan mobil yang di sopiri oleh Reyhan. Beberapa lama kemudian mereka sampai kediaman mansion milik Thomas. Mereka lalu turun dan Reyhan kembali ke kantor menggunakan mobil yang tadi ia bawa saat bersama Thomas.


"Momy! Momy", panggil Felix.


Tina berusaha bangkit dengan mendorong tubuh Thomas dan dia mengumpat dalam hati, "sial, baru mulai sudah di ganggu", dengan membaringkan tubuh ke ranjang.


"Felix kesini mau mengantarkan undangan dari aunty Rose yang tadi diberikan uncle Keenan sebelum pergi ke pusat perbelanjaan", ucap Felix.


"Thank you boy", ucap Tina.


"Kalau begitu Felix kembali ke kamar lagi", pamit Felix.


"Thank you sayang", teriak Tina.

__ADS_1


Lalu Tina kembali masuk dan Thomas kembali beranjak dengan mengangkat tubuh Tina kemudian aksi itu kembali karena pertahanan Thomas sudah tidak bisa ditahan. Tina meronta dan menendang namun tenaganya tidak bisa dan akhirnya ia terjerumus ke lubang yang sama. Thomas terus menikmati sensasi ini hingga lemas dan terkapar di ranjang sambil memeluk tubuh terlentang Tina lalu mencium keningnya.


Sementara Stefanus sedang gusar setelah mendengarkan informasi bahwa anaknya bertemu dengan Gideon. Apalagi Stefanus yang sudah dari dulu mengira jika Gideon telah tewas membuatnya menjadi suatu ancaman untuk kehidupan Stefanus. Wajah merahnya yang tersulut emosi membuat dia harus melampiaskan dengan membanting barang di sekitar ruang kerja.


Herlena yang melewati ruang kerja milik Stefanus mendengarkan sesuatu barang yang pecah, entah karena tersenggol atau dibanting. Jika tersenggol mana mungkin barang berjatuhan berkali-kali. Lalu Herlena mengetuk pintu, “Stefanus! Stefanus!”, teriak Herlena yang di dengar oleh Stefanus kemudian membuka pintu dengan penampilan berantakan. Herlena yang melihatnya lalu memegang wajah Stefanus, “ada apa honey?”, tanyanya.


Tapi kekhawatiran yang dirasakan oleh Herlena malah mendapatkan kemarahan dengan tangannya dihempaskan dan ekspresi wajah dingin.


Herlena tidak menyerah dengan mengikuti langkah Stefanus yang lebar dengan memanggil namanya dengan keras, “Stefanus! Stefanus!”, tapi Stefanus tidak menghiraukan panggilan dari Herlena.


Stefanus pergi ke kamar dengan membanting pintu dengan di susul Herlena dengan ekspresi sedih dan duduk di pinggir ranjang.


“Stefanus, ada apa? Apakah sedang ada masalah?”, tanyanya dengan bertubi.


“Iya, dia kembali hidup”, bentak Stefanus dengan mondar mandir.


Herlena mengerutkan dahinya dengan bertanya, “siapa yang hidup kembali?”.


“Gideon”, lirih Stefanus. Herlena yang mendengarkan kata Gideon dari bibir Stefanus terkejut dan bertanya kembali, “Siapa?!”, dengan berteriak.


“Gideon! Gideon! Gideon!”, bentak Stefanus dengan wajahnya memerah dan pucat pasi.


“Oh my god, Gideon masih hidup”, ucap Herlena dengan sangat senang. Namun berbeda dengan ekspresi Stefanus. Dia malah menuduh Herlena mencintai Gideon.


“Herlen, apa kau menyukainya? Sampai-sampai kamu kegirangan begitu”, ucap Stefanus dengan mengetat giginya dan menggoyangkan tubuhnya.


“Iya aku menyukainya, karena dia temanku dan kamu. Sudah berpuluh-puluh tahun ternyata dia masih hidup”, ucap Herlena dengan mata berbinar-binar.


Stefanus yang mendengarkan ucapan dari mulut istrinya malah mengumpat, “sh*t”,dan Herlena mendengarkan umpatan Stefanus lalu bertanya, “kenapa kamu tidak senang mendengar Gideon masih hidup?”, tapi pertanyaan yang diajukan oleh Herlena diabaikan dan pergi begitu saja dan menulikan alat pendengaran ketika Herlena memanggil namanya. Ia berjalan terus keluar menuju pelataran dan pergi melesat begitu saja. Herlena yang berlari menyusul Stefanus yang tidak kesampaian berekspresi sedih saat diabaikan begitu saja oleh suaminya.

__ADS_1


Sementara orang yang dibenci dan dikhianati oleh Stefanus mengatakan, "perang akan dimulai", dengan menggoyangkan gelas yang berisi anggur dan menyesap sambil tersenyum miring.


__ADS_2