
Thomas saat ini masih terbaring di ranjang sampai siang pukul 10.00. Tina memaklumi Thomas yang sudah kelelahan karena masalah pekerjaan sampai tengah malam. Namun Tina begitu mengkhawatirkan Thomas soalnya sampai siang dia tidak bangun sehingga dia melewatkan sarapan pagi. Tina membawakan hidangan makanan ke atas untuk Thomas agar ia bangun untuk sarapan. Sampainya di kamar Thomas masih asyik bergelung dibawah selimut.
Tina meletakkan makanannya diatas nakas meja samping lalu membangunkannya.
“Thomas!”
“Hemm”
“Thomas!”, dengan menggoyangkan badan.
“Hemm”
“Thomas!!”
“Hemm”
“Honey”, dengan mendekatkan wajahnya dan bibirnya ke telinga agar Thomas terbangun dari tidurnya.
“Hemm”
Namun tidak ada respon dan hanya merespon deheman dari bibirnya.
Tina berusaha membangunkan berkali-kali tapi responnya hanya deheman menjadikan Tina sangatlah khawatir. Lalu Tina memeriksa suhu badan dengan menempelkan telapak tangan pada kening Thomas. Ternyata Thomas demam.
“Oh my god, Thomas!”, terkejut Tina saat tangan ditempelkan merasakan suhu panas dikeningnya.
“Panas kamu tinggi”, panik Tina.
Tina lalu mengambil termometer dan suhunya tinggi. Lalu Tina menghubungi dokter yang selalu di percaya dikeluarga Stefanus. Tina men deal up no dokter Mr. Liam. Tina menunggu panggilannya diangkat dari seberang sana.
Liam yang habis memeriksa pasiennya, ia lalu kembali ke ruang kerjanya. Ketika sampai ke ruang kerja, Liam disuguhkan ponselnya yang berdering. Lalu Liam mengambil dan mengangkat.
“Hallo!”
“Hallo dok, bisakah kau ke mansion Thomas Stefanus sekarang. Dia saat ini memerlukan pemeriksaan dari dokter. Saya sudah memeriksa tubuhnya. Suhunya tinggi, dok. Bisakah kau datang kemari”, ucap Tina to the point dengan panik.
“Kalau begitu saya kesana sekarang, kebetulan saya sudah selesai menangani pasien”, ucap Liam.
“Baiklah dok, saya tunggu”, ucap Tina mematikan ponsel dan pergi ke dapur mencari alat kompres dan air hangat.
__ADS_1
Selagi menunggu Tina mengompres dahi Thomas untuk menurunkan suhu tubuhnya dengan sekali-kali mengecek dahinya.
Beberapa lama kemudian dokter datang dan memeriksa Thomas lalu memberikan resep.
“Dokter tolong bantuannya”, ucap Tina yang begitu khawatir dan Liam langsung memeriksa keadaan Thomas. Selesai memeriksanya, Liam memberitahu kepada Tina.
“Dia hanya kelelahan, saya akan berikan resep untuk kamu tebus”, ucap Liam sambil mencatat obat yang harus di minum oleh Thomas.
“Jagalah dia”, pesan Liam dengan berpamitan, “kalau begitu saya kembali ke rumah sakit, jika ada apa-apa hubungi saya kembali”, ucap Liam yang diangguki oleh Tina.
Tina menghampiri Thomas duduk dipinggir ranjang dan mengucapkan rasa syukur jika Thomas hanya kelelahan dan tidak terjadi apa-apa sambil membenahi kain di keningnya.
Saat sedang merawat Thomas tiba-tiba Herlina datang membentak Tina dan menamparnya dengan keras di kamar milik anaknya. Tina kaget saat beranjak akan mengambil air hangat. Herlena langsung mencerca dengan menyalahkan semua yang terjadi di keluarganya merupakan kesalah Tina.
“Gara-gara kamu keluarga saya menjadi hancur. Semua permasalahan dimulai dari kamu. Kamu anak yang tak tau diri. Wanita murahan!”, marah Herlina dengan membentak dan Tina hanya terdiam dengan mematung.
“Semua perseteruan ayah dan anak pasti dilandasi oleh kamu”, geram Herlina dengan telunjuk menonyor kepala Tina. Herlina melihat anaknya terbaring lalu dia menghampiri anaknya yang diranjang.
"Thomas kenapa kamu bisa begini?", tanya Herlina sambil mengusap pipi anaknya.
"Makanya jangan durhaka pada orang tua hanya karena wanita tidak jelas itu",sindir Herlina dengan suara keras dan nada yang dramatis.
Belum lama Herlina memarahi Tina, Felix datang dan melihat ekspresi wajah ibunya sedih dan pipi di kirinya merah. Felix memanggil ibunya.
“Are you ok?”, tanya Felix dan Tina mensejajarkan tubuh dengan anaknya lalu memeluk dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Felix khawatir dan merasa kasihan. Begitu juga Keenan yang ikut menyusul naik dan melihat Tina begitu menderita.
“Tina!”, panggil Keenan.
“Apakah ada sesuatu yang ingin kamu ungkapkan?”, tanya Keenan dengan tangan mengepal dan Tina menggeleng kepala.
Keenan tidak terima, dan menarik tangan Tina untuk meninggalkan mansion Thomas saat Herlina menuduh Tina yang tidak-tidak ketika matanya bertemu dengan sosok pria yang sedang berbicara dengan Tina.
“Wah, wah, bagus! Kamu tidak hanya menggoda anak saya tapi pria lain kamu sikat. Dasa wanita murahan!”, bentak Herlina dengan menghampiri Tina. Herlian akan menampar kembali namun di tangkis oleh Keenan dengan tangannya dan menghempaskan tangan Herlina dengan ekspresi dingin.
"Jangan menyakitinya", suara dingin Keenan dan membuat Herlina sedikit takut lalu kembali mencerca Tina.
“Bagus, kamu! Sekarang punya pria lain untuk mengadu dan sebagai simpanan kamu!”, teriak Herlina
__ADS_1
Keenan yang berada ditengah kejahatan Herlina membisikan kepada Tina untuk pergi dari tempat itu, tapi Tina menggelengkan kepalanya karena alasan mau menjaga Thomas. Keenan kesal lalu menarik tangan Tina tapi dia meronta-ronta meminta dilepaskan tetapi Keenan menulikan telinganya.
Herlina berteriak kembali dengan menuduh jika Tina itu selingkuh dengan tatapan tajam.
"Dasar wanita selingkuh!", bentak Herlina
"Saya tidak selingkuh aunty, aku mencintai Thomas. Dibelakang pun saya tidak pernah mengkhianatinya", ucap Tina dengan air mata mengalir.
Tina terus menyangkal tapi Herlina tidak percaya. Keenan yang berada di sampingnya tidak bisa bicara apapun langsung menggendong Tina keluar bersama Felix meski punggungnya dipukul olehnya. Tina menangis di dalam mobil. Lalu Keenan menenangkannya.
“Sudahlah Tin, besok kita bisa memberitahu Thomas. Jangan bersedih lagi”, ucap Keenan sambil fokus mengemudi.
“Iya mom, daddy pasti akan membela kita”, ucap Felix
"Kalian menginaplah sementara di apartemenku", tawar Keenan.
Lalu Keenan melajukan mobilnya membawa mereka ke apartemennya. Saat ini Felix sedang berpikir keras agar ibunya tidak menderita. Dan untuk saat ini Felix dan ibunya tinggal di apartemen Keenan sampai Thomas mencari dan memohon.
"Aku akan berikan pelajaran untuk nenek sihir itu", batin Felix dengan ide cerdiknya yang sudah ada dengan senyum yang tidak terlihat oleh siapapun.
Sementara Lauren yang mendapatkan informasi dari pelayang yang ia selundupkan untuk mata-matai kehidupan Tina dan Thomas memberikan kabar bahagia untuk Lauren. Dia menghubungi lewat ponsel.
Lauren yang habis membersihkan diri dari kamar mandi mengangkat panggilan di ponselnya.
"hallo, ada apa?", tanya Lauren dengan sedikit ketus
"hallo nyonya, saya punya kabar baik", ucap pelayan itu dengan nada senang.
"Kabar apa?", tanya Lauren.
"Kabar yang mrmbahagiakan untuk nyonya yaitu..., nyonya Herlina bertengkar dengan Tina lalu mengusirnya", ucap pelayan tersebut.
"Oh ya, bagus dong. Aku tidak perlu banyak tenaga. Tapi Thomas apa tidak membelanya?", ucap Lauren yang masih terganjal dengan kesuksesan itu.
"Tuan Thomas saat ini sedang sakit, jadi dia masih terbaring dan belum terbangun", ucap pelayan tersebut.
"Baiklah, jika ada sesuatu kabari aku kembali", ucap Lauren yang masih mengenakan jubah bath trobe dan mematikan ponsel sambil tersenyum.
Stefanus yang baru keluar dari kamar mandi menggunakan jubah yang sama memeluk Lauren secara tiba-tiba dan menanyakan arti senyuman yang diekspresikan Lauren.
__ADS_1
"Kamu sepertinya sedang senang sweety?"
"Iya", ucap Lauren dan berinisiatif mencium Stefanus dengan memulai kembali aksinya sebagai tanda sedang bahagia. Stefanus menerima semua aksinya entah alasan apa Lauren bahagia? entah karena mood ibu hamil atau lainnya? yang terpenting bagi Stefanus menikmati cumbuan tersebut.