
Terik matahari yang menyengat diatas kepala, sekarang Ellizabeth sedang kesal di balik topeng boneka berbentuk labu. Dia mengumpat dalam batin, "sial, dasar pria br*ngs*k. Akan aku balas kamu setelah ini", dengan mengepalkan kedua tangan dengan erat.
Handson yang berada di dekat tukang photografer merasa telinganya gatal dan panas seperti ada orang yang mengumpat padanya.
Tukang photo grafer menyuruh Ellizabeth untuk di posisinya berada di belakang mengangkat dua tangan diantara keluarga yang asyik bermain. Ellizabeth menerima perintah dari sang photo grafer meskipun terpaksa.
Beberapa lama kemudian sesi pengambilan photo berakhir dan Ellizabeth akhirnya dapat beristirahat di ruang yang seperti tempat para model yang tidak populer yang hanya sebagai figuran saja.
Ellizabeth mengambil kipas untuk memberikan udara segar pada tubuhnya.
Saat Ellizabeth sedang enak-enak menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil mengipaskan tubuhnya untuk mendapatkan angin segar. Tiba-tiba Handson datang tanpa mengetuk pintu dan langsung mengungkapkan rasa bersalah kepada Ellizabeth.
"Ellyzabeth maaf, aku bukan maksud untuk merendahkan kamu. Tapi bos tidak bisa di bantah. Kamu tahu kan sifat bosmu", ucap Handson.
"Sudahlah, aku tahu posisi kamu", ucap Ellizabeth.
"Syukurlah jika kamu tidak mempersalahkan untuk menjadi figuran saja. So, kamu harus menepati janji untuk memuaskan aku", ucap Handson.
Ellizabet yang mendengarkan ucapan dari bibir Handson merasakan jijik namun apalah daya untuknya. Dia harus mendapatkan kembali pekerjaan dengan memberikan kepuasan untuk Handson.
"Baiklah akan aku beri kamu kepuasan asalkan kamu memberikan aku untuk jaminan kembali ke industri model namun bukan sebagia figuran", ucap Ellizabeth di depan Handson yang sedang mengusap pipi dan mengusap bagian miliknya dengan exotis. Membuat Handson kelimpungan yang dilakukan oleh tangan nakal Ellizabeth. Handson tidak mampun menahannya dan dia langsung menerkam Ellizabet dengan mengunci pintu lalu memulai aksinya untuk mrmuaskan diri.
Dua jam mereka bercinta dan Handson mulai semangat kembali sambil memberikan janji untuk Ellizabet.
"Aku berjanji akan mencarikan kamu agency lain untuk menjadikan kamu sebagai model utama dari pada di agency di sini", ucap Handson sambil membenarkan celana panjangnya.
"Baiklah, akan aku tunggu janji kamu", ucap Ellizabeth memberikan kecupa di bibirnya dengan membelai dagu dan pergi berlalu.
Ellizabeth berjalan keluar dengan berlenggak lenggok pantatnya untuk memperlihatkan keseksiannya kepada semua pria.
Sedangkan Alena menjemput Tina dan Felix untuk pergi berbelanja untuk mengalihkan mereka sebagai perpisahan dengan Thomas. Alena telah sampai ke apartemen bersama Hans suaminya. Lalu memencet bel apartemen.
Tina yang sedang menunggu ibunya dengan bersiap-siap pergi membukakan pintu. Lalu terpampanglah wajah ibunya.
"Hallo sayang", dengan cepika cepiki.
"Apakah kalian siap buat jalan-jalan", tanya Alena.
"Tentu grandma!", nimbrung Felix keluar dari kamar.
__ADS_1
"Ayo kita pergi", ajak Hans.
"Ayo", semangat Felix.
Mereka memasuki mobil hitam yang terlihat mewah. Saat perjalanan Tina dan Felix tidak menyadari bahwa mereka akan dibawa ke tempat yang jauh tanpa ada yang tahu.
Mereka terus mengoceh mengenai berbagai hal di sekolah Felix.
"Grandma, aku mendapatkan jura disetiap kompetisi merakit robot dan fisika", ucap Felix dengan bangga.
"Tentu dong, cucu siapa dulu?", ucap Alena dengan mencium pipi gembulnya.
Hans yang berada di samping Alena merasa senang melihay cucunya sehat dan pintar.
Sementara Thomas sedang berseteru dengan para tetua dari aliansinya sebagai seorang mafia.
"Thomas kamu harus menggabungkan saham yang telah kamu menangkan agar aliansi kita tetap kuat", ucap Damian
"Maaf aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian sebab ini berbeda dengan masalah kita", ujar Thomas.
"Apa perbedaannya? Kamu masih tetap sama memegang sebagai ketua aliansi dari kami", bentak Arland
"Iya tuan, kita tidak bisa mencampurkan urusan ini dengan masalah usaha yang dimiliki oleh Thomas", bela Jordhan.
"Urusan yang tidak bisa di campuri? Jadi, maksud kalian saham yang dimiliki Thomas saat ini yang telah direbut oleh Thomas hanya sebagai miliknya. Itu lebih egois", amarah Arland
"No tua, itu sesuai perjanjian yang kita tanda tangani", seloroh Reyhan.
"Apa?, tapi tidak bisa begitu dong. Namanya tim kita rela melakukan apa saja", bentak Eddy
Ketika Reyhan akan melontarkan kalimat Thomas mencegahnya dengan tangan kiri mengangkat.
"Biar aku saja", ucap Thomas dengan nada dingin. Reyhan mengangguk tanda mengerti. Thomas memulai menyerang para tetua yang memprotes dirinya dan menyindir orang yang mengkambing hitamkan dirinya dengan para tetua.
"Saya akan katakan kepada kalian yang telah begitu menggembor gemborkan masalah kekuatan aliansi kita. Aku tahu jika aku egois menurut kalian. Tetapi aku merasa tidak egois ataupun curang dalam bisnis dengan kalian. Bukankah sebaliknya yang selalu tidak adil dalam lingkaran aliansi kita. Kalian dengan egoisnya mengambil begitu banyak keuntungan secara diam-diam dan aku tidak pernah memprotesnya bukan.. ",jeda Thomas dengan ekspresi dingin dan mata menyorot begitj tajam dengan mengamati para tetua yang mengotot bahwa dirinya sebagai kelompok aliansi mafia yang egois.
"Aku mengetahui itu semua berasal dari data yang telah ku kumpulkan. Jika tidak percaya akan aku suruh Reyhan mengeluarkan data itu", lanjut Thomas.
"Buk..buktikan saja, kami ti..tidak takut karena yang kami ungkapkan tidak ada salahnya", ucap... dengan gugup.
__ADS_1
"Baiklah", ucap Thomas dengan tangan kiri mengadah lalu Reyhan memberikan doktrin lengkap pada tangan Thomas. Kemudian oleh Thomas dilemparkan dokumen itu diatas meja besar yang membuat para tetua kaget. Jordhan yang duduk di samping Thomas tersenyum sinis.
Sedangkan Eddy dan Arland mengumpat kasar dalam batin.
B*ngs*t, kami sudah ketahuan apa yang telah kami perbuat tanpa sepengetahuannya.
Mereka melihat data itu tanpa bisa berkutik dan tidak dapat menjelaskan kepada Thomas seolah bibirnya ada perekat. Lalu Thomas beranjak pergi tanpa kata yang diikuti oleh Reyhan dan Jordhan.
Sementara Tina dan Felix dalam keadaan pingsan karena obat tidur yang diberikan oleh Hans dan Alena dan dibawa pergi ke tempat yang jauh tanpa dijangkau oleh Thomas.
Pada malam hari Thomas mencari Tina setelah sepulang kerja.
"Sweety!"
"Sweety!!"
"Tina!"
"Tina!"
Namun Thomas tidak menemukan batang hidung dari Tina ataupun Felix di setiap sudut ruangan dengan bergumam, "dimana dia pergi sampai selarut ini", dengan masih memegang ganggang pintu kamar Felix.
Lalu Thomas menghembuskan nafas kasar. Lalu Thomas menghubungi Grace.
"Hallo Grace!,apakah Tina ada di rumah kamu?", tanya Thomas.
"Tidak, sejak pagi kami di rumah momy ku", ucap Grace.
"Coba kamu hubungi Keenan. Mungkin dia berada di apartemen Keenan", ucap Grace kembali saat sedang menyusui.
"Keenan masih di London, jadi tidak mungkin dia berada di apartemen Keenan", ucap Lucas.
"Coba kamu hubungi orang tua Tina", ucap Grace.
"Benar juga", ucap Thomas.
"Thanks Grace", ucap Thomas langsung mematikan ponsel.
Kemudian Thomas beralih menghubungi orang tua Tina tetapi tidak ada respon setelah berkali-kali men deal up nomor mereka apalagi Tina. Rasa lelah Thomas membuat dia menjadi emosi dengan melempar ponsel ke arah sofa dan tubuhnya luruh ke dinding ruang TV dengan memegang kepalanya yang terasa sakit dengan penampilan kusut.
__ADS_1