Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Pernikahan


__ADS_3

Brian mencoba menghubungi Lauren namun tidak diangkat dan sudah berkali-kali menghubungi tapi tetap nihil. Brian membanting ponsel diatas sofa dan melemparkan tubuhnya ke sofa sambil mengusap wajahnya dengan kasar dan menghembuskan nafas.


Sementara Lauren yang sedang di hubungi oleh Briam, dia sedang berpose shoot untuk brand terkenal.


Setelah selesai photo shoot Lauren pergi beristirahat sembari membuka ponsel dan Lauren mendapatkan banyak panggilan tak terjawab dari nomor tanpa nama.


Lauren menghapus semua nomor yang memenuhi ponsel miliknya.


Sementara Brian menunggu Lauren di luar perusahaan brand ternama untuk segera mendapatkan kerja sama dengannya. Saat Lauren keluar dengan asistennya Brian berlari menghampirinya sesegera mungkin karena bagi Brian menemui Lauren kesempatan yang tidak ada lain waktu.Brian memanggil Lauren.


“Lauren!”


“Lauren!”


“Lauren!”


Lauren merasa terpanggil menoleh ke sumber suara dan menatap sinis kepada pria yang dikenalnya. Lauren menunggunggu Brian menghampiri dengan kedua tangan bersedekap di dada.


“Ada apa?”, tanya Lauren dengan nada ketus.


“Aku menemuimu untuk ku ajak kerja sama”, ucap Brian.


Kerja sama apa?”, tanya Lauren.


“Kerja sama..,”Brian meminta Lauren mendekat dan membisikkan, “aku akan membantumu mendapatkan Thomas”.


“Biar aku pikirkan tawaran kerja sama kamu”, ucap Lauren.


Lalu Lauren masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan Brian yang tengah sedikit marah karena harus menunggu jawaban yang belum pasti.


Tatkala Brian sedang merencanakan kelicikan, kini Tina sedang bersenang-senang bersama keluarga besarnya dan teman-teman terdekatnya.


Tina tengah bersenda gurau dengan Rossy,paman eddy, Herlena, Alena, dan Laura.


Di tengah bersenda gurau mereka Jordhan datang menyapa, “hai girls, kalian sedang berbincang tentang apa? sampai tertawa begitu renyah”, dengan meminum wine.


“Kami sedang ngobrolin tentang kamu”, ucap Tina dengan kedua alis dimainkan.


“Wahh, aku sangat berterima kasih nyonya-nyonya”, dengan membungkukan badan sebagai tanda penghormatan.


“Ngomong-ngomong kalian membicarakan aku tentang apa?”, tanya Jordhan.


“Masalah..”, Laura langsung membungkam mulut Tina. Namun Herlena malah membeberkan perihal perasaan Laura terhadap Jordhan.


“Begini nak, Laura itu sedang bercerita mengenai dirimu. Dia juga ingin bisa dekat dan tahu apa kesukaan kamu”, ucap Herlena.

__ADS_1


“So, Laura ingin menyatakan perasaannya kepada kami tetapi dia takut kalau kamu menolak perasaan yang sudah sekian lama dipendam”, sela Grace dengan mendorong trolli anaknya.


Jordhan mangut-mangut setelah mendengar semua tentang cerita Laura terhadap dirinya.


Aku melihat Laura selama ini, dia wanita yang berbeda dan unik namun aku tidak bisa mengkhianati rasa persahabatan dengan Reyhan yang selama ini telah di bangun.


“Bagaimana Jordhan? Kamu jangan mangut-mangut saja”, ucap Alena.


“Biar aku pikirkan dahulu”, ucap Jordhan dengan pergi berlalu menghampiri para pria paruh baya yang tengah mengobrol sambil menikmati gelombangnya pasang surut pantai.


Setelah kepergian Jordhan, Laura sedikit kesal dengan perkataan Jordhan yang seolah tidak menerima perasaannya.


Kenapa dia tidak menjawab ya atau tidak kan mudah. Apalagi aku sudah ketahuan memiliki perasaan dengannya. Aku sangat malu sekali apabila Jordhan tidak menerima perasaan aku.


Tina yang masih di samping Laura menepuk pundaknya. Laura tidak mengalihkan pandangan dan menatap ke depan sambil tangan terlipat di dada.


Tina dan lainnya merasa bersalah atas apa yang mereka lakukan terhadap Laura. Tina memberanikan untuk bersuara ketika bibir manyun itu semakin lancip.


“Laura, kamu marah ya?”, tanya Tina tetapi tidak digubris.


“Laura maafkan kami yang sudah terlalu jauh dalam bercanda. Kami tidak memikirkan perasaan kamu. Tolong maafkan kami ya Laura”, ucap Tina.


Laura menghembuskan nafas kasar dan beranjak memposisikan tubuhnya duduk.


“Maafkan kami Laura, aunty bukan maksud untuk...,” ucapan Herlena terpotong dengan jari telunjuk Laura.


“Aku tidak ingin membahas itu lagi aunty. Aku tidak mau mengingat-ingat lagi. Aku ingin liburan dengan rasa senang bukan perasaan tidak enak. Mari kita hempaskan sikap tadi. Kita harus semangat dan bersenang-senang”, ungkap Laura dengan bersemangat.


Tina, Grace dan orang-orang disekitarnya bergeleng kepala dengan sikap Laura yang selalu bersemangat.


Malamnya mereka makan bersama sambil membahas soal resepsi pernikahan Tina dan Thomas.


"Thomas, bagaimana persiapan pernikahan kamu dengan Tina?", tanya Herlena.


"Sudah Thomas siapkan kok mom. Kita tinggal hati H-nya tiba", ucap Thomas.


"Syukurlah, jika kamu mempersiapkan dengan matang untuk putriku", ucap Hans.


"Awas saja, jika kamu tidak serius dan bertanggung jawab terhadap putriku", ancam Hans dengan memberikan isyarat cara mencekik leher Thomas.


"Hans", peringatan dari Alena.


"Kamu jangan terlalu pendendam, Thomas itu bertanggung jawab. Dia sudah membuktikan dengan menyerahkan perusahaan Stefanus jadi milikmu", ucap Alena.


"Sekali lagi kamu begitu terhadap mantuku. Kamu yang aku cekik", ancam Alena.

__ADS_1


Membuat orang-orang disekitar ikut tertawa. Sementara Hans menundukkan kepalanya.


"Wah, Felix sebentar lagi kamu akan bersatu dengan daddymu", ucap Audrey.


"Tentu, aku sangat senang", ucap Felix.


"Kamu jangan lupa minta adik kepada daddy dan momy-mu", ucap Audrey.


"Iya tuh, biar anakku miliki teman yang seumuran paling tidak jaraknya tidak terlalu jauh untuk. berteman", ucap Grace.


"Nanti aku akan diskusikan dengan Tina kalau mau memiliki anak lagi. Sekarang kita nikmati makanannya", ucap Thomas membuat Tina tersipu.


Setelah tiga hari berturut-turut, kini Tina sedang berada di kamar dengan rasa gugup. Ketika pikiran dan hatinya sedang tidak tenang, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar. Lalu Tina menyuruh mereka masuk.


"Masuklah!", ucap Tina.


Grace membuka pintu sambil mendoronv trolli bayi dengan bersuara keras, "I'm coming!!"


"Oh my god, aunty terlihat cantik sekali", ucap Audrey.


"Iya Tina, kamu terlihat cantik. Pasti Thomas akan terkejut dengan pesonamu sayang", ucap Herlena.


"Thank you", ucap Tina.


"Oh ya, kita foto-foto dahulu yuk. Sebelum Tina naik ke altar pernikahan", ajak Laura.


"Benar kamu. Tina kamu pindah duduk dahulu yuk. Kita mau berfoto bersama untuk kenang-kenangan", ucap Grace.


Mereka duduk bersanding dengan Tina secara bergantian lalu foto bersama.


Sedangkan di tempat yang sama di ruang berbeda, Thomas sedang berbicara dengan sahabat-sahabatnya juga mertuanya yang selalu mengancam dirinya.


"Bro! selamat", ucap Jordhan dengan menyodorkan tangan.


"Selamat ya bro", ucap Reyhan dengan memberikan pelukkan.


"Thanks", ucap Thomas.


"Setelah putriku bersama kamu. Kamu tidak boleh membuatnya sedih ataupun terluka. Jika dia terluka karena kamu. Aku akan putuskan bahwa Tina ku jodohkan dengan Keenan", ancam Hans kembali membuat Thomas jengah.


Keenan yang berada di samping Gideon memberikan selamat untuk Thomas meski terlihat canggung.


"Selamat ya Thomas", ucap Keenan dengan senyum hangat.


"Thanks", ucap Thomas.

__ADS_1


__ADS_2