
Thomas sedang mengadakan rapat dalam peningkatan ekonomi dan saham. Lalu dilanjutkan pergi menemui Gideon untuk membantunya melawan Stefanus dan para tetua dari keluarga Stefanus.
“Gawat gaes...,”ucap salah satu karyawati yang lewat dari ruangan Thomas dan mendengarkan percakapan bahwa akan diadakan rapat dadakan. Lalu dia memberitahunya pada karyawan-karyawan lain, “bos mau mengadakan rapat dadakan”,dengan heboh.
“Ini gawat, jika kerja kita belum beres bisa-bisa kita kena semprotan dari singa jantan”, ucap pria pegawai bagian pemasaran.
“Dunia kita kiamat!”, teriaknya.
“Sebentar lagi pasti kita berkumpul. Harapan kita...,”ucap karyawati di dekat meja Jordhan sang manager pemasaran. Jordhan yang mendengarkan pun tersenyum sinis.
Saat ini para karyawan heboh kecuali Jordhan yang hanya duduk menikmati semua karyawan yang seperti lalat mencari makanan. Keributan ini menjadi tontonan kesenangan Jordhan karena bisa menikmati berbagai ekspresi bawahannya ada yang kebingungan, minuman tumpah, dan lain sebagainya tanpa melihat ketua manager di depannya.
“Kita siap-siap”
“Aduh, mana alat make up ku”
“Kamu malah cari alat make up, harusnya kamu membereskan hitungan pemasaran”
“Iya, tapi lebih penting make up dulu, siapa tahu pak bos luruh”
“pletak”, mendapatkan pukulan dari teman sebelahnya dan ia merintih, “auch”.
Keributan masih terjadi, pada saat pukul 10.00 tepat, kemudian Jordhan menggebrak meja, “brakk!”, para karyawan kaget lalu menoleh kearah Jordhan yang berekspresi dingin. Para karyawan yang tadinya tidak melihat sosok Jordhan atau mengabaikan, entah apa yang dipikirkan karyawan disekitar Jordhan hanya mampu menelan pil pahit.
__ADS_1
Jordhan beranjak dari duduknya. Kemudian membuka suara dengan ekspresi dingin,”kalian kembali ke tempat masing-masing”, para karyawan masih termangu dan ragu untuk duduk.
“Duduklah!”, perintah Jordhan untuk bawahannya. Lalu mereka duduk di tempat masing-masing dan Jordhan membuka suara kembali.
“Nah, tenangkan enak”, ucap Jordhan yang duduk dipinggir meja kerjanya.
“Sekarang sudah waktu pukul 10.00 tepat, kalian juga sudah membuat keributan di kantor. Kalian tahu tidak..,jika dikantor ada poin yang melanggar aturan seperti keributan seperti tadi..”, ucap Jordhan sambil menatap karyawan satu persatu.
“Kalian itu pemalas, inginnya kerja di gaji besar tapi pekerjaan kalian terbengkalai. Jika dipecat tidak mau malah mengumpat dan mengompori sana sini. Tapi apa coba saya lihat di beberapa bulan terakhir ini. Kalian menganggap pekerjaan tidak penting gitu..”, ucap Jordhan dengan sedikit membentak. Para karyawan hanya diam dan tubuhnya bergetar.
“Sudah pernah aku katakan untuk bekerja jangan pernah puas karena sebuah pujian. Cari kerja tidak gampang, kalian bersyukur masih diterima. Kami jadi atasan juga tidak ngasal mengerjakan. Tapi lihat apa yang kami dapatkan? Kalian dengan seenaknya mengerjakan, laporan telat, berangkat tidak tepat waktu, tetapi maunya gaji besar. Sekarang kalian bereskan pekerjaan kalian yang akan dibawa ke ruang rapat dan jangan mengecewakan saya sebagai ketua manager. Emang gampang jadi atasan kalian.. “, ucap Jordhan dengan kata penuh penekanan dan karyawan menata lembaran kertas kemudian mengikuti Jordhan dari belakang menuju ruang rapat. Para karyawan yang tidak ikut sedikit lega namun masih was was dengan gajinya yang takutnya dipotong. Sedangkan karyawan yang ikut dengan Jordhan wajahnya masam sampai rapat selesai.
Thomas membuka pintu dengan senyuman sinis saat melihat wajah masam para karyawan di management pemasaran karena Thomas telah mengetahui apa yang terjadi saat melewati di bagian management pemasaran. Ia bersama Reyhan berniat bertemu Jordhan sebelum rapat. Namun yang disuguhkan adalah omelan Jordhan untuk karyawannya. Thomas dan Reyhan menghentikan langkahnya lalu mengintip Jordhan yang sedang mengomeli para bawahannya, Thomas yang mendengarkan omelan Jordhan sangat salut apalagi sikap profesionalnya sebagai ketua management pemasaran. Kali ini ia tidak tanggung untuk memberikan gaji lebih besar kepada Jordhan.
“Pada kesempatan kali ini, saya mengadakan rapat untuk melihat data hasil kerja kalian, untuk itu tolong perlihatkan di layar monitor untuk saya analisis ulang”, ucap Thomas dengan ekspresi dingin.
Semua karyawan satu persatu memperlihatkan hasil kerjanya di berberapa bagian baik keuangan, management, maupun pemasaran. Thomas yang melihat hasil kerja dan ide sungguh real tidak ada yang berhasil sesuai pemikiran Thomas dan dia langsung memberikan penekanan pada karyawannya untuk kerja lembur. Para karyawan yang mendapatkan amarah dan penekanan dari omongan Thomas, wajah mereka masam dan pundak luruh. Setelah memberikan penjelasan, Thomas menyuruhnya untuk mereka ulang dan keluar dari ruang rapat begitu juga untuk ketua dibagian masing-masing.
Sedangkan Thomas duduk dengan kepalanya yang pusing, dia memijat pelipisnya karena penat. Lalu Thomas beranjak keluar yang sudah ditunggu oleh Reyhan dan Jordhan diluar ruang rapat lalu mengikuti langkah Thomas ke ruangannya.
Setelah Thomas duduk, mereka juga ikut duduk di sofa ruang kerjanya. Jordhan membuka suara, “Thomas, bagaimana rencana kita bertemu Gideon?”, tanya Jordhan.
“Besok kita temui kepedasaan, dipukul 08.00,kamu juga ikut Jordhan”, ucap Thomas
__ADS_1
“Baiklah”, ucap Jordhan menyetujuinya.
“Kalau begitu aku keluar”, pamit Jordhan. Saat Jordhan diambang pintu, Thomas tiba-tiba mengucapkan kat,” terimakasih Jordhan, aku tidak salah memilihmu untuk memimpin mereka dan teman terbaik yang tidak pernah ku miliki”, ucap Thomas dan Jordhan hanya mengeluarkan ibu jari dengan senyuman hangat lalu keluar meninggalkan Thomas bersama Reyhan.
“Tuan, bagaimana anda hari ini istirahat dan menemui istri anda. Kemungkinan rasa penat akan hilang. Besok saya akan persiapkan perjalanan anda ke pedesaan”, ucap Reyhan.
“Itu ide bagu, kalau begitu antar saya pulang”, ucap Thomas.
Beberapa lama kemudian Thomas tiba di rumah dan mencari Tina.
“Sweety!”
“Sweety!”,
“Tina!”, panggil Thomas dengan mencari di sudut setiap ruangan. Dan akhirnya menemukannya saat Tina sedang membaca buku di kamar.
“Sweety!”, panggil Thomas lalu Tina menoleh dan melonggarkan dasi kemudian merebahkan badan.
“Thomas, tumben kamu pulang awal. Biasanya sampai malam”, ucap Tina yang masih membuka buku tentang merawat bayi.
“Sweety, kamu sedang membaca apa?”, tanya Thomas.
“Aku membaca tentang merawat bayi, Grace memintaku untuk menjelaskan. Katanya dia malas membaca”, ucap Tina dan Thomas mendengarkan kata bayi membuat dadanya sesak sebab teringat kembali saat Tina kecelakaan dan harus kehilangan janin dalam kandungan akibat dirinya. Thomas kali ini ingin menjaga Tina sampai kapan pun.
__ADS_1
“Tina”, panggil Thomas dan Tina menoleh dengan tiba-tiba Thomas mencium membuat Tina mendorong namun apalah daya kekuatannya tidak dapat menandinginya. Thomas terus memberikan kenikmatan dengan membarinkan tubub Tina hingga buku yang dibaca Tina terjatuh. Tina terus kegelian karena tangan Thomas yang terus menggererayangi dengan bibir nakalnya juga membuat tububnya terus menggelinjang hingga terkapar dan mereka terlelap dengan berpelukan. Thomas tidak lupa mengecup keningnya.