
Paginya Thomas menghabiskan waktu bersama Tina dan Felix setelah dua hari yang lalu mengangkut barang ke apartemen miliknya yang ia beli dengan dibantu oleh Reyhan, Raffael dan Keenan. Meskipun Keenan pria yang tidak ia sukai karena kedekatannya dengan Tina namun Thomas harus menerima kebaikannya selama ia berada di sisi Tina.
Thomas saat ini sedang beradu game bersama putranya di ruang Tv.
"Daddy! lihatlah siapa yang akan menang", ucap Felix.
"Tunggu saja nak, daddy pasti akan menghancurkan item-item kamu", ucap Thomas
Sementara Tina yang berada di dapur melihat mereka yang beradu hanya menggeleng kepala, tetapi hatinya begitu bahagia meskipun tinggal diapartemen. Lalu Tina membawa minuman dan camilan dihadapan mereka.
"Camilan dan minuman datang!", ucap Tina. Namun ayah dan anak tidak ada yang merespon. Lalu Tina bertanya dengan ekspresi kesal, "apakah kalian tidak menginginkan camilan ini dan menduakan aku dengan game yang kalian mainkan?", sambil mengambil camilan dan duduk bersandar disofa.
Kemudian Thomas berhenti bermain game dengan menghampiri Tina yang sedang kesal karena diabaikan.
"Sweet.. ", ucapan Thomas terpotong dengan suara teriakan Felix, "yeay menang! ", dengan kedua tangan terangkat. Setelah selesai bermain, Felix yang dari tadi hanya fokus bermain game melihat ekspresi ke dua orang tuanya yang seperti sedang marahan lalu bertanya, "daddy, mom, kenapa dengan kalian?", sambil minum es choco kesukaannya.
"Felix, lihatlah ekspresi momy kamu", dengan menunjukkan wajah Tina yang terpatri sedang marah, "dia itu sedang marah boy, dengan kita", ucap Thomas
"Sweety, jangan kesal gitu sayang, nanti wajah cantikmu akan banyak keriput dan jelek", ucap Thomas dengan merayu sambil mencium tangan Tina.
"Oo, selama ini kamu menyukai aku hanya wajahku saat ini cantik, bagaimana kalau aku sudah tua nanti? kamu pasti berpaling dariku dan mencari wanita lain", marah Tina dengan membuang muka.
Felix yang berada di tengah perseteruan mereka mengungkapkan dalam batin bahwa, " daddy tidak bisa merayu yang lebih baik namun malah mengejek momy dan suasana hati momy semakin marah", dengan kepala menggeleng sambil makan camilan.
"Sweetheart, bukan itu maksudku", ucap Thomas dengan berusaha.
"Terus maksudnya apa?..", jeda Tina
"Oh, aku tahu maksud kamu, bahwa suatu hari nanti bila wajahku sudah keriput kamu pergi meninggalkan aku dan kamu hanya sayang pada wajah yang berwujud cantik gitu kan!", amarah Tina
"Sweety, aku bisa jelaskan",pinta Thomas dengan memegang tangan Tina. Tetapi oleh Tina langsung dihempaskan dan pergi meninggalkan Thomas dengan wajah kesal juga marah.
__ADS_1
Felix yang melihat dua orang dewasa bertengkar hanya menggeleng kepala.
Thomas meminta bantuan Felix untuk meredakan kemarahan Tina.
"Boy, bantulah daddy, agar momy kamu memaafkan daddy dan tidak marah", mohon Thomas. Felix yang mendapatkan permohonan dari ayahnya menghembuskan nafas kasar tetapi Felix tetap membantunya.
"Baiklah dad, Felix akan bantu. Kemarikan telinga daddy untuk aku bisikan", ucap Felix dan Thomas menurut dengan mendekatkan telinganya ke Felix.
"Berikanlah dia hadiah cokelat tetapi buatan daddy. Pasti momy suka dan mengajak momy ke departemen KUA", bisik Felix
"Boy ternyata kamu pintar", ucap Thomas dengan mengusap kepala lalu beranjak ke kamar tetapi kamarnya terkunci. Kemudian Thomas menggedor pintu tersebut.
"Sweety! bukain dong, aku mau masuk!", teriak Thomas dari luar. Tatkala Thomas sedang menggedor pintu, Tina keluar dengan ekspresi dingin.
"Sweety!", Thomas memanggil tetapi Tina tidak menanggapi. Thomas menghela nafas kasar, "haahh".
Thomas tetap tidak akan pantang menyerah dengan secara diam-diam meminta bantuan dari Reyhan yang berada di kantor untuk memesankan kue coklat berbentuk hati.
Brian saat ini sedang menunggu Elizabeth di kafe shop sudah lebih dari 10 menit dari perjanjian dan akhirnya datang. Lalu Brian melontarkan kalimat dengan nada kesal
"Kamu darimana saja sih?, aku sudah menunggu kamu lama sekali", kesal Brian dengan menunjukkan jam tangan. Elizabeth yang mendengarkan lontaran kalimat nada kesal hanya membola sambil menggeser kursi.
"Aku itu tadi menemui orang penting yang mau mengajakku kerja sama", ucap Elizabeth sambil melambaikan tangan pada pramusaji. Lalu Pramusaji datang membawa buku menu dan Elizabeth langsung memesan tanpa membuka buku menu.
"Aku pesan kopi latte dan muffin", ucap Elizabeth dan pramusaji mencatat lalu mengundurkan diri. Kemudian Elizabeth mengarahkan pandangan ke Brian untuk membahas topik pembicaraan mengenai rencana menghancurkan kehidupan Tina.
"Apa rencana kamu selanjutnya untuk memisahkan dari kehidupan Thomas?", tanya Elizabet dengan menyandarkan punggungnya di bangku.
Brian tersenyum miring setelah mendengar pertanyaan dari Elizabeth dengan meminum kopinya yang ia pesan.
"Aku sudah memiliki beribu rencana untuk membuat Tina berada di sampingku yang pertama, aku harus pura-pura menjadi pahlawan kedua aku harus selalu bertemu secara kebetulan, dan ketiga kita pikirkan belakangan", ucap Brian.
__ADS_1
Elizabeth berdecak, "ck", sambil meminum kopi lattenya.
"Katanya punya seribu rencana, tapi kok yang ketiga dipikirkan belakangan", sindir Elizabeth dengan memainkan ponsel dan meminum kopi lattenya.
"Terus kamu sudah pikirkan rencana untuk memisahkan mereka?", tanya Brian.
"Sudah", jawab Elizabeth dengan singkat sambil menyembunyikan senyuman liciknya yang tidak terlihat oleh orang lain.
Sedangkan Thomas masih berusaha untuk meminta maaf dengan memberika coklat berbentuk hati yang telah dipesankan lewat Reyhan. Tapi Tina tidak menerima dan masih jutek dan meninggalkan Thomas ke kamar.
"Sweety!", panggil Thomas yang tidak diindahkan oleh Tina.
Thomas mengusap wajahnya yang rasanya seperti gatal. Sementara Felix membuka coklat yang dipesan oleh Thomas dengan membuka suara.
"Daddy bagaimana sih, saran Felix tidak dipakai?
"Maafkan daddy boy. Daddy sebenarnya tidak begitu pintar memasak kue. Jadi daddy mengambil jalan pintas dengan memesan lewat uncle Reyhan"
"Kalau begitu daddy lebih berusaha, nanti Felix akan bantu untuk daddy. Biar kalian bisa bersama lagi"
"Thank you boy", ucap Thomas dengan mengusap kepala Felix.
"Apakah enak kuenya?", tanya Thomas yang sudah lalap oleh Felix.
"Enak dad", senyum Felix dengan disekitar bibir penuh dengan coklat yang tertempel.
Sedangkan Lauren sedang memeriksa kandungannya yang telah menginjak tujuh bulan ke dokter kandungan dan tidak sengaja hampir bertemu dengan Helina dengan perut buncitnya sekarang. Lauren langsung bersembunyi di bilik dinding. Setelah Herlina melewati, Lauren mengusap dada dengan kata syukur.
"Untung aunty Herlina belum melihatku tadi, coba aku berpapasan dengan perutku yang buncit. Bisa-bisa dia mengatakan aku perempuan murahan", gumam Lauren lalu melanjutkan langkah jalannya ke dokter kandungan.
Ketika Tina sedang berjalan bersama Felix dan Grace mencari baju tiba-tiba orang tua Tina tidak sengaja menemukan anaknya yang telah lama menghilang dengan saling pandang lalu momy nya Tina langsung memeluk anaknya dengan tangisan pecah. Tetapi Tina tidak mengingat wanita yang memeluknya. Dia hanya terpaku seperti patung.
__ADS_1