Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Restu Yang Terhalang Oleh Masa Lalu 7


__ADS_3

Thomas menghubungi Reyhan untuk mencari informasi kemana perginya Tina dan Felix ketika dia sedang duduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding.


Saat Reyhan akan memakai kaos putih, Reyhan pergi melangkah mengambil ponsel dan melihat banyak midscall dari Thomas. Lalu Reyhand menghubungi kembali Thomas.


Lalu Thomas mengangkat saat ada suara deringan ponsel.


"Hallo Reyhand, aku mau kamu mencari kemana Tina dan Felix pergi", perintah Thomas.


"Baiklah, aku akan lacak lokasi kemana Tina dan Felix pergi", ucap Reyhand dan langsung dimatikan ponsel secara sepihak oleh Thomas.


Sementara Tina terbangun dari alam bawah sadar dengan kepala begitu pusing. Tina mencoba beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Tina mencari orang tuanya di sudut ruangan dan ia menemukan kedua orang tuanya berada di meja makan. Saat akan menghampiri Tina mendengarkan percakapan ayah dan ibunya soal memisahkan dirinya dengan Thomas lalu mengurungkan niatnya menghampiri mereka untuk mendengarkan percakapan yang mereka bahas.


"Honey, nanti apabila Tina bertanya kita harus jawab apa?",tanya Alena sedikit khawatir.


"Kita tinggal bicara bahwa kita menyelamatkan hidupnya dan putranya", jawab Hans dengan menyesap kopi hitam buatan istrinya.


"Apakah rencana kita membawa mereka jauh?", tanya Alena.


"Tentu berhasil", jawab Hans.


"Itu tidak akan berhasil dan Thomas pasti menemukan kami", sela Tina muncul dari belakang.


"Tina", ucap Alena dengan terkejut.


"Aku sudah tahu, kenapa kalian memisahkan kami? Harusnya daddy dan momy tidak melibatkan Thomas yang belum tahu permasalahan di masa lalu kalian. Kalian sama saja dengan Stefanus", ucap Tina dengan marah dan air mata menetes.


"Tina, momy bis jelaskan..", ucap Alena dengan gagap.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan karena dia sudah tahu", sela Hans dengan ekspresi dingin.


Felix yang sejak tadi sudah terbangun menguping pembicaraan mereka lalu menutup pintu dengan pelan dan mengambil ponsel menghubungi Thomas dengan diam-diam meski di luar jangkauan. Felix tidak pernah kehabisan akal untuk menyatukan ibunya dan ayahnya. Felix mencoba mencari sinyal dengan mengendap-endap keluar kamar agar tidak ketahuan oleh kakek dan neneknya.


Felix lalu mengirim pesan di area belakang rumah dengan bersembunyi di kamar mandi dekat dapur dan mengetik pesan sambil mengirim sharelok.


**Felix:


Daddy segeralah jemput kami di lokasi yang aku kirimkan**.


Suara dentingan ponsel di meja rias menampakan pesan dari Felix setelah menyegarkan pikiran dan tubuhnya.


Thomas membaca pesan dari anaknya dan langsung bersiap dengan bergumam, "tunggulah daddy, akan menjemput kalian".


Lalu Thomas menghubungi Reyhan sambil memakai pakaian untuk menutupi tubuhnya dengan pakaian kasual sekalian untuk berlibur di pulau terpencil itu.


Reyhan yang sedang mencari informasi dengan meretas tiba-tiba ada suara deringan ponsel. Reyhan mengangkat dan menyapanya.

__ADS_1


"Hallo Thomas!".


"Aku mau kamu bersiap-siap untuk ikut bersamaku menjemput Tina dan Felix", ucap Thomas.


"Emang kamu sudah menemukan lokasi mereka?", tanya Reyhan.


"Aku dapatkan pesan dari Felix dan jangan banyak tanya. Suruh Jordhan menyiapkan jet pribadi. Kita kesana", perintah Thomas langsung mematikan ponsel genggamnya secara sepihak.


Reyhan yang berada di seberang sana menomel, "untung kamu teman sekaligus bos aku. Jika bukan sudah aku cincang".


Lalu Reyhan segera pergi sembari menunggu sambungannya diangkat oleh Jordhan.


Beberapa saat kemudian Jordhan mengangkat teleponnya.


"Hallo Jordhan, tolong siapkan jet pribadi. Ini perintah dari Thomas. Aku tidak bisa lama-lama takut di tendang ke Afrika", ucap Reyhand langsung mematikan sambungan panggilan secara sepihak dan melesatkan mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang sepi.


Jordhan yang baru saja sampai di rumah langsung melesat menghubungi petugas bandara dan melesat pergi.


Reyhan telah sampai di gedung apartemen menjemput Thomas yang sudah berada di tempat parkiran dan dia langsung masuk mobil milik Reyhan tanpa kata dan langsung memberikan perintah untuk segerah berangkat dengan ekspresi dingin yang membuat semua kaum tidak berani membantahnya.


Sementara Tina yang berada di Villa milik keluarga Reffalino sedang marahan dengan orang tuanya. Saat ini Alena sedang membujuk putrinya yang duduk di pinggir ranjang.


"Nak, maafin momy. Maksud momy dan daddy adalah demi kebaikan kamu dan Felix bahwa Thomas itu tidak sebaik yang kamu lihat", ucap Alena dengan mengusap tangan anaknya.


"No mom, menurutku Thomas baik. Meski aku saat ini tidak mengingat apa-apa tentang dirinya. Selama aku di samping dia. Thomas selalu melindungiku dari para penjahat", ucap Tina.


"Aku tahu bahwa ayahnya Thomas itu kejam dan jahat namun Thomas itu berbeda dari apa yang kita lihat. Walaupun wajahnya sering menyeramkan dibalik itu hati dia lembut dan hangat mom. Dia sampai mengorbankan keluarganya demi aku dan Felix. Coba momy lihat keadaan aku, apakah aku selama di samping Thomas mendapatkan banyak cedera? Apabila ada, tapi Thomas melindungiku dan merawatku sampai mengorbankan pekerjaannya demj aku, mom", jelas Tina.


Alena yang mendengarkan penjelasan dari anaknya menghembuskan nafas kasar dan menatap intens wajah putrinya yang amat dia sayangi.


Benar yang dikatakan putriku, aku tidak bisa menyalahkan Thomas hanya karena kebusukan Stefanus. Aku juga tidak ingin putriku bersedih karena keegoisanku.


Lalu Alena menyetujui perkataan Tina yang berada di depannya dengan mengusap pipi putrinya.


"Baiklah, momy akan mengajak bicara daddy kamu dengan baik-baik", ucap Alena dengan memeluk tubuh putrinya.


"Maafin momy nak", ucap Alena dengan tulus.


Sedangkan Thomas sedang dalam perjalanan ke Villa milik keluarga Reffalino bersama Reyhan dan Jordhan.


Pagi hari Tina sedang bersarapan dengan Hans dan Alena juga putra semata wayangnya.


Suasana sarapan pagi begitu hening dan hanya suara detingan piring dan sendok saja.


Lalu Felix membuka suara sebab dirinya tidak betah di suasana hening dan canggung.

__ADS_1


"Grandpa!", panggil Felix.


"Ya boy", ucap Hans.


"Grandpa kenapa tidak menyukai daddy? Padahal daddy baik sama momy dan Felix", ucap Felix yang membuat Hans berhenti mengunyah dan acara makanan dengan menghembuskan nafas kasar dari mulutnya yang membuat suasana akan tegang. Alena yang berada di samping Hans sangat khawatir dengan ucapan yang akan membuat dia marah.


Hans janganlah kamu marah. Please! Please!


Lalu Hans mengungkapkan dengan nada dingin, "grandpa bukannya membenci daddy kamu, namun grandpa tidak menyukai keturunan orang b*j*ng*n seperti Stefanus".


"Tapi daddy itu berbeda dengan grandpa Stefanus", ucap Felix dengan wajah polosnya.


"Sudahlah nak, jangan membela daddy kamu", ucap Hans yang sudah mulai tidak mood setelah mendengarkan ucapan Felix.


"Baiklah grandpa, tapi Felix ingin mengingatkan bahwa darah yang mengalir di tubuhku juga keturunan dari keluarga Stefanus", ucap Felix yang membuat hati Hans tertusuk.


Hans menghembuskan nafas kasar dan pergi berlalu keluar begitu saja tanpa kata untuk mencari udara disekitaran Villa miliknya.


Thomas yang telah tiba di Villa milik Reffalino memasuki pelataran halaman tetapi dirinya dicegah oleh salah satu pengawal milik Hans


"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk", ucap salah satu pengawal Hans.


"What's!", kesal Reyhan yang baru menyusul Thomas sampai pintu gerbang Villa tersebut.


"Kenapa dia tidak boleh masuk? Apakah kamu tidak mengenal dia?", tanya Jordhan membela temannya.


"Saya mengenal karena itu saya ditugaskan untuk tidak memberikan izin kepada Thomas Stefanus oleh tuan Hans", ungkap pengawal tersebut.


Saat Jordhan akan mengungkapkan kembali, Thomas mencegahnya dan memerintahkan mereka untuk ikut dengannya.


"Ikutlah denganku", perintah Thomas yang sudah berjalan dahulu. Jordhan dan Reyhan pergi mengikuti Thomas ke tempat luar gedung tersebut.


Lalu sesampainya di sana, Reyhan mengomel.


"Thomas, bukankah kita harus menjemput istri kamu. Kenapa kita malah pergi?".


"Diamlah dulu Reyhan, aku mengajak kalian bukan semata mengalah tetapi kita ke sini menyusun siasat", ucap Thomas.


"Siasat?", tanya Reyhand yang diangguki oleh Thomas.


"Apa siasat yang kamu rencanakan", tanya Jordhan.


"Aku pertama menghubungi Felix untuk membawa Tina keluar dari Villa tersebut. Jika gagal aku memiliki plan B dengan menyelinap ke Villa milik Reffalino. Makanya aku meminta bantuan kalian untuk menjalankan siasat ku ini", ucap Thomas.


"Baiklah, aku percaya dengan kamu", ucap Reyhan.

__ADS_1


Lalu mereka kembali ke tempat peristirahatan untuk beristirahat setelah perjalanan cukup jauh sejak malam.


__ADS_2