Anak Genius Ayah Mengejar Ibu

Anak Genius Ayah Mengejar Ibu
Kejahatan dibalas dengan kejahatan 2


__ADS_3

Di sebuah butik tengah pusat toko perbelanjaan kini Lauren sedang berfoto shoot untuk mempromosikan butik kecil yang baru saja buka. Sebenarnya Lauren menolak namun semua itu dimulai dari terkecil. Jadi, Lauren mau tidak mau menerima kenyataan.


Sang photografer menyuruh Lauren untuk bergaya yang elegan namun menawan untuk mengajak para pelanggan datang ke butik. Beberapa lama kemudian akhirnya Lauren bisa istirahat. Sang photo grafer melihat-lihat semua penampilan Lauren. Sang photo grafer memuji semua pose yang diberikan Lauren sudah lebih dari cukup untuk mengajak pelanggan datang ke butik kecil ini.


Lauren begitu puas saat mendengar pujian dari sang photografer tersebut. Asisten yang berada di sampingnya menyuruh Lauren jangan terlalu berpuas diri atas pujian yang diberikan oleh setiap orang. Sebab di dunia entertainment harus lebih keras lagi untuk mencapai puncak. Lauren membenarkan perkataan asistennya.


Ketika mereka sedang berbicara tiba-tiba mendapatkan panggilan dari pusat agency bahwa Lauren di suruh untuk melakukan pemotretan di photoshoot tempat Ellizabeth dimana dia sebagai toko utama dalam menawarkan produk makanan bersama aktor dan dua anak kecil. Di sana Lauren digunakan sebagai pelayan dalam menyuguhkan sajian. Setelah mendengarkan penjelasan dari pusat agency tersebut sang asisten memberitahukan kepadanya.


“Lauren, kamu mendapatkan tawaran kembali untuk menjadi model di photoshoot makanan”, ucap asistennya.


“Baiklah, aku terima”, ucap Lauren.


“Syukurlah, kamu menerimanya. Dari kecil pasti akan besar”,ucap Asisten tersebut dengan senyum.


Sementara Ellizabeth sudah mencapai tujuan. Sekarang ia berganti gaun di ruang rias. Lalu di susul oleh beberapa model lainnya.


Lauren begitu kagum dengan suasana tempat photoshoot yang tidak pernah dirinya bayangkan akan sampai waktunya tiba. Lauren diarahkan oleh kru untuk memasuki ruang rias.


Beberapa saat kepergian Lauren, Ellizabeth keluar untuk bersiap di tata depan kamera. Sang photografer menyuruh Ellizabeth berpose seperti seorang yang sederhana namun terlihat cantik di setiap segi gaya. Setelah itu bergantian dengan model pria dan berfoto bersama seperti keluarga kecil. Lalu sutradara menyuruh mereka berganti pakaiannya untuk photoshoot selanjutnya. Di tengah photoshoot, Lauren melihat Ellizabeth berada di depan seperti layaknya model profesional membuat iri untuk Lauren.


Saat emosi Lauren memuncak tiba-tiba sang photografer menyuruh yang lainnya masuk ke dalam photo shoot. Tapi, Lauren kini tidak fokus karena merasa rendah harga dirinya ketika melihat sosok yang ingin dia hancurkan kebidupannya Lauren mengepalkan kedua tangan miliknya sampai asistennya menyadarkan Lauren.


“Lauren!”, panggilnya dengan menepuk bahu. Lalu Lauren menoleh ke belakang.


“Ada apa?”, tanya Lauren.


“Kamu disuruh untuk ke depan. Fokuslah jika ingin naik popularitas kamu”, ucap Asisten tersebut.


“Baiklah”, ucap Lauren dengan menahan emosi.

__ADS_1


Ellizabeth melihat Lauren dengan ekspresi terkejut sebentar langsung mengubah ekspresi biasa. Lauren mendekat sesuai posisi arahan sang photografer.


Sang photografer terus memberikan arahan kepada Lauren yang kurang fokus dalam kamera. Ellizabeth yang sedang duduk tersenyum sinis seperti seolah mengejek Lauren yang dari tadi melakukan kesalahan.


Salah satu anggota kru mencoba untuk membenahi posisi Lauren yang sejak tadi tidak terlihat fokus. Setelah menyelesaikan sang photografer memulai pemotretan dan menyuruh semuanya untuk tersenyum.


Beberapa jam kemudian akhirnya sang photografer telah menyelesaikan pengambilan gambar dan mereka boleh untuk berganti pakaian ataupun gaun yang dikenakan.


Sebelum berganti gaun, Ellizabeth pergi mengikuti Lauren ke ruang rias yang dahulu pernah dipakai oleh Ellizabeth. Ellizabeth menyapa dengan gaya angkuh.


“Hai Lauren”, sapa Ellizabeth.


“Aku tidak menyangka kalau kamu ikut masuk ke dunia entertainment”, ucap Ellizabeth dengan nada mengejek.


“Bagaimana cara kamu masuk? Pasti lewat pria tua yang telah menghamili kamu”, ucap Ellizabeth.


“Ouwh, mungkin jangan-jangan kamu menggoda pria tua lainnya”, ejek Ellizabeth yang semakin keterlaluan sampai Lauren akan menampar wajah sombongnya itu namun tertahankan oleh tangan asistennya membuat Lauren kesal dan meninggalkan Ellizabeth.


Lauren tidak mengindahkan teriakan Ellizabeth. Lauren pergi ke toilet untuk membasuh muka sambil menghembuskan nafas kasar.


Sementara Thomas bersama Tina sedang melakukan foto prewedding setelah mendapatkan restu dari Herlena dan Hans. Kini Tina sedang mencoba gaun satu persatu untuk photo shoot. Waktu Tina keluar Thomas sempat tidak berkutik dengan kecantikan dari Tina terbalut gaun putih yang diatas lutut. Thomas mendekati Tina dengan mengatakan, “kamu terlihat cantik, sweetheart”.


“Sudah, jangan terlalu dekat Thomas. Di sana ada Felix. Kita harus menahan kemesraan ini. Tidak baik untuk pertumbuhan Felix”, ucap Tina mendorong tubuh Thomas namun Thomas malah semakin posesive menahan pinggang Tina dan mengecup bibirnya dengan singkat membuat Tina harus memberikan peringatan keras dengan menendang betis kakinya. Thomas mengadu sakit dengan tendangan yang diberikan oleh Tina.


Felix melihat daddynya terkena amarahnya momy nya tersenyum. Felix memberikan pujian saat Tina mendekatinya.


“Momy terlihat cantik sekali memakai gaun apalagi kalau gaun pengantin”, senyum polos Felix.


“Thank you nak”, ucap Tina.

__ADS_1


“Apakah kamu sudah siap untuk berfoto bersamaku boy?”, tanya Tina.


“Tentu mom”, ucap Felix menerima uluran tangan dari Tina.


“Apakah kalian mengabaikan aku?”, tanya Thomas. Tetapi pertanyaan Thomas tidak diindahkan oleh mereka membuat Thomas si pria dewasa harus pura-pura merajut.


Sang photografer mulai mengarahkan mereka untuk fokus kearah kamera.


“Apakah kalian sudah siap?”, tanya sang photografer mengarahkan posisi Thomas.


“Tentu”, ucap Tina.


“Satu, dua, tiga!”, aba-aba dari sang photografer.


Lalu mereka kembali berganti gaun dan kini hanya berduaan tanpa Felix. Thomas mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan dari Tina. Bahkan sampai berciuman begitu intim di depan sang photografer yang tersenyum melihat keromantisan kedua sejoli hingga memujinya.


Beberapa lama kemudian mereka menyelesaikan photoshoot. Kemudian Thomas menghampiri sang photografer dengan memerintahkan kepada sang photografer tersebut untuk adegan ciumannya bersama Tina bingkainya di cetak besar untuk dipajang dalam kamar utamanya. Sang photografer mengangguk.


Usai selesai mereka pergi makan bersama di sebuah restoran terkenal dengan suguhan alunan musik yang terdengar indah di telinga.


“Thomas, restoran ini sungguh indah interiornya apalagi perpaduan musik yang mengalunkan di telinga”, ucap Tina dengan penuh kagum.


“Iya sweety, tidak hanya keindahan dan kecantikan yang ditampilkan di restoran ini. Namun juga kecantikan kamu yang tidak pernah luntur dari pandangan mataku”, puji Thomas membuat Tina tersipu.


“Momy, kamu jangan percaya dengan bibir daddy. Lebih baik kita makan hidangan yang sudah di pesan”, ucap Felix.


“Boy, kamu sudah mulai nakal ya”, ucap Thomas dengan senyum.


“Tapi kenyataannya daddy seperti itu”, tawa Felix yang diikuti oleh Tina sambil mencium pipi gembulnya yang menggemaskan.

__ADS_1


Thomas juga ikut mencium pipi gembul milik Felix.


__ADS_2