
“Elli, kenapa kita bisa seperti ini sih?”, tanya Brian.
“Gak tahu, sepertinya kita dibodohi oleh anak kecil itu”, ucap Ellizabeth yang tengah terus mencoba untuk bisa terlepas dari tiang meski pergelangannya sakit.
“Sial, kita seperti ini akibat mabuk dan kita menjadi teler”, ucap Brian.
“Lebih baik kita cari tahu bagaimana caranya untuk bisa terbebas dari jeratan ini?”
“Bagaimana caranya? Tangan kita saja terikat di atas tiang ini”.
“Yang penting kita berusaha dahulu untuk lolos dari sini dengan menggesekkan ikatan di tiang ini sebelum para bedebah datang”, ucap Ellizabeth.
“Siapa bedebah itu?”, tanya sosok pria yang baru datang dengan membawa cambuk.
“Tho... Thomas!”, lirih Ellizabeth.
Thomas tersenyum sinis melihat mereka yang tak berdaya.
“Thomas tolong! Aku akan membalas kebaikan kamu kalau kau membebaskan aku!”, teriak Ellizabeth.
“Diamlah Elli, dia tidak akan membebaskan kamu karena dia yang telah membuat kita seperti ini”, ucap Brian.
“Kamu yang diam Brian!’, teriak Ellizabeth.
“Thomas ku mohon bebaskan aku. Aku akan balas kebaikan kamu apapu caranya”, mohon Ellizabeth.
Thomas malah berdecak, “ck”, dengan senyum sinis dan duduk di bangku yang ada bersama wine diatas meja dengan memandang dua wajah licik.
“Thomas, please! Aku tidak akan mengganggu keluargamu kembali”, ucap Ellizabeth yang terus memohon.
Permohonan Ellizabeth malah menjadikan boomerang untuk dirinya karena Thomas melayangkan peluru dengan ditancapkan kepada kakinya. Ellizabeth berteriak dengan merintih sakit sampai Brian mengumpat untuk wanita bodoh itu.
“Bodoh”, umpat Brian.
“Thomas ampun, aku tidak akan membuat Tina dan putramu dalam bahaya lagi”, ucap Ellizabeth dengan wajah memelas.
“It’s okay”, ucap Thomas datar dengan melayangkan peluru di lengannya.
“Dahulu aku sudah memperingatkan kamu tapi kau terus melanggar dan mencelakai Tina juga putraku tanpa henti sampai aku bosan memperingatimu. Aku sudah diam untuk memberimu maaf namun apa yang kamu lakukan untuk mereka”, geram Thomas yang kali ini pistol menancap di lengan Brian dengan suara teriakan sakit.
Lalu Thomas beranjak pergi dan menyerahkan mereka kepada anak buahnya Diego untuk menyelesaikan pekerjaan Thomas.
“Mereka aku serahkan kepadamu. Aku tidak mau terlalu mengotori tanganku”, ucap Thomas dengan ekspresi dingin.
“Baik tuan”, ucap Diego.
__ADS_1
Ellizabeth berteriak, “Thomas!!!!”
“Aku berjanji tidak akan mencari gara-gara lagi”, ucap Ellizabeth dengan suara lirih serta bercucuran air mata. Thomas hanya berhenti sejenak dan pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Felix tengah asyik bermain dengan dengan Wily. Mereka sedang beradu permain game. Wily berkali/kali terus mencoba untuk memenangkan pertandingan namun hasil akhir tetap Felix jagonya memainkan game yang tersulit membuat Wily kewalahan dan terkapar tidur diatas karpet berbulu milik Felix.
Tina membawakan camilan ulang untuk dua pria mungil.
“Sayang, aunty membawa camilan untuk kalian lagi”, ucap Tina.
“Asyik!”, teriak Wily bangun dari acara berbaringnya.
“Apa kalian sudah selesai main gamenya?”, tanya Tina.
“Sudah aunty, Wily lebih baik pulang setelah camilan yang disuguhkan aunty habis”, ucap Wily dengan terkekeh.
“Habiskan, aunty senang kalau kamu selalu menghargai makanan”, ucap Tina dengan senyum hangat.
Sedangkan Stefanus tengah membujuk Lauren agar dia tidak lagi mengganggu kehidupan rumah tangga Thomas dan memulai hidup baru bersamanya.
“Lauren!”, panggil Stefanus.
“Humm”, dehem Lauren yang tengah menghapus make up.
“Apa kamu tidak lelah mengganggu kehidupan rumah tangga Thomas?”, tanya Stefanus.
“Aku membicarakan status kita dan aku mau kamu melupakan tentang Thomas. Kita bisa memulai hidup baru”, ucap Stefanus.
“Aku tidak bisa melupakan Thomas dan aku tidak mau hidup baru dengan tua bangka sepertimu”, ucap Lauren dengan nada marah.
“Apa kamu yakin tidak menyesali perbuatan kamu?”, tanya Stefanus.
“Aku yakin dan aku ingin hidup bahagia dengan Thomas. Jika kamu mau pergi jangan pernah mengajakku untuk ikut denganmu. Hidupku telah hancur karena keegoisan kamu dan orang tuaku. Kali ini aku tidak akan pernah melepaskan Thomas untuk Tina. Jika aku tidak dapat Thomas, Tina juga tidak boleh mendapatkan kebahagiaan dengan Thomas”, geram Lauren dengan hembusan nafas kasar.
“It’s ok jika itu keputusan kamu. Aku tidak lagi memaksamu. Aku akan membawa putraku jauh dari ibu kandung yang gila sepertimu”, ucap Stefanus.
“Bawalah dia dan rawat anakmu itu. Biarkan aku menggapai kesuksesan untuk mendapatkan hati Thomas. Dan ingat, jangan mengganggu kehidupan aku lagi”, ucap Lauren dengan peringatan.
“Baiklah, semoga kamu tidak menyesali perbuatan kamu itu”, ucap Stefanus beranjak dari sofa dan meninggalkan Lauren sendirian di ruang rias. Lauren menghembuskan nafas sambil memandang wajahnya.
“Ya, aku tidak akan menyesali perbuatanku untuk mendapatkan Thomas. Jika aku menderita, wanita jal*ng itu juga harus menderita sepertiku. Aku tidak akan melepaskan kalian sampai mati pun”, ucap hati Lauren.
Thomas kembali dari kantor dengan di sambut oleh Tina yang membukakan pintu dengan senyuman hangat.
“Hai sweety”, sapa Thomas dengan memberikan kecupan di keningnya.
__ADS_1
“Kamu mau makan dulu atau mandi?”, tanya Tina.
“Aku mau mandi dulu baru aku bergabung makan bersama dengan kalian”, ucap Thomas.
“Baiklah, aku dan Felix akan menunggumu makan”, ucap Tina.
Sedangkan Lauren menghubungi pria diseberang sana untuk meminta bantuan melancarkan rencana.
“Hallo frans!”, sapa Lauren.
“Hallo Lauren, bagaimana kabar kamu? Sudah lama kita tidak bertegur sapa setelah kamu menjebloskan aku ke dalam jurang”, ucap Victor tanpa disadari Lauren.
“Kamu siapa ya? Ini benarkan nomornya Frans?”, tanya Lauren.
“Iya benar, ini nomor milik Frans namun suaranya pasti kamu kenal”, ucap Victor dengan senyum menyeringai.
“Kenapa ponsel Frans bisa di tangan kamu?”, tanya Lauren.
“Dia sedang buang air besar”,jawab Victor dengan sekenannya.
“Yaudah, kalau Frans sudah selesai di toiletnya mintalah dia menghubungiku balik”, ucap Lauren.
“Hubungi saja sendiri. Kamu saja tidak mengenal suaraku. Aku sangat sedih lebih baik kamu hubungi lagi sendiri dan aku malas untuk mengatakan kepadanya”, ucap Victor.
“Terserah, aku akan hubungi Frans nanti”, ucap Lauren langsung mematikan ponsel sepihak dengan raut wajah kesal.
“Siapa sih pria yang diseberang sana? Bikin kesal saja. Awas saja kalau aku mengenalnya”, monolog Lauren dengan beranjak pergi meninggalkan ruang tata rias bersama asistennya.
Victor yang berada di seberang sana menyeringai sambil menikmati wine yang telah dipesan.
"Lihatlah Lauren, aku akan balas perbuatan kamu. Aku berbulan-bulan mencari tempat tinggal aman. Aku akan membuat karier kamu menjadi suram dan tidak mendapatkan Thomas. Tunggulah pembalasanku yang pedih", ucap kata Victor.
Frans datang dengan ikut bergabung kembali setelah sekian lama berada di toilet.
"Apakah tadi ada yang menghubungiku man?", tanya Frans.
"Iya, cobalah buka sendiri", ucap Victor.
"Lauren", ucap Frans.
"Ngapain dia hubungi aku?", monolog Frans yang terdengar oleh Victor.
"Mungkin dia minta bantuan kamu untuk melakukan sesuatu", ucap Victor dengan tersenyum sinis.
"Sebenarnya aku malas kalau bukan karena duitnya. Dia terlalu banyak menyalahkan orang yang memberikan bantuan untuknya", ucap Frans.
__ADS_1
"Kamu ambil saja dan manfaatkan uangnya. Setelah habis kamu bisa meninggalkannya", ucap Victor.
"Benar juga", ucap Frans dengan senyum menyeringai.