Bertemu Jodoh Di Thailand

Bertemu Jodoh Di Thailand
Bab 62 Giliran Putry yang Diintrogasi


__ADS_3

Setelah sekian lama Phonapong dan keluarganya Putry mengobrol.Waktu pun sudah tidak terasa sudah mulai malam, Phonapong pun meminta izin pamit untuk pulang.


Mami dan Papi nya Putry pun mempersilahkan Phonapong untuk pulang.


Sebelum pulang, Phonapong pun lalu bersalaman dulu dengan kedua orang tuanya Putry. Lalu, Phonapong pun pamit kepada Putry.


Putry pun lalu mengantar Phonapong sampai menuju ke dekat pintu.


"Mputt sayang, aku pamit dulu ya sudah malam." ucap Phonapong.


"Oh iya sayang, hati-hati ya dijalannya, terimakasih sudah mau menjemput orangtuaku."


"Iya sayang sama-sama."


Phonapong pun lalu bergegas berjalan keluar lalu menghampiri mobilnya yang terparkir di depan asrama.


Lalu Phonapong pun menyalakan   mesinnya.Sekiranya mobilnya sudah menyala lalu Phonapong pun memutar balikan dulu mobilnya itu menuju jalanan.Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Phonapong sudah memasuki jalan raya dan bersiap untuk melaju di jalanan.


Jalanan yang mengarah ke rumahnya Phonapong agak sedikit terhambat, dikarenakan ada suatu kejadian kecelakaan sebuah kendaraan roda dua tertabrak mobil box pengangkut bahan makanan restoran.Kemacetan pun tak terhindarkan sejak tadi sore.


Karena bekas kecelakaannya masih berada di lokasi belum di evakuasi.Tapi korbannya tadi sudah diangkut memakai mobil ambulans menuju rumah sakit terdekat.Menurut informasi, pengendara kendaraan roda dua itu meninggal dunia ditempat.


Sementara di tempat lain, Putry yang kini berada di asramanya bersama orangtuanya.Mulai bercengkrama satu sama lain karena sudah lama juga mereka tidak bertemu dan kembali berkumpul seperti ini. Tiga puluh menit berlalu, setelah Phonapong pulang papi Indrawan mendekati Putry lalu duduk disampingnya.


"Ih, papi mah ngagetin wae." ucap Putry dengan keluar logat sundanya.


"Put, papi mau bertanya sama kamu boleh?"


"Iya boleh pih, mau bertanya apa memangnya?"


Papi Indrawan pun menyamankan dulu posisi duduknya hingga benar-benar nyaman.


"Sini kamunya Put, duduknya jangan berjauhan gitu."


Putry pun mendekati papinya lalu Putry pun bertanya.


"Ada apa ya Pih, sepertinya ada persoalan penting?


"Put, tolong jawab jujur pertanyaan papi, apa iya siapa tuh tadi?"


"Phonapong pih."


"Nah, itu apa benar berbeda keyakinan dengan kita?" tanya Papinya Putry dengan sedikit mengintrogasi.


"Hmm..anu..hmm.." Putry pun menjawab seperti kebingungan mau menjawab apa dan menggigit bibirnya disertai tremor.

__ADS_1


"Jawab Putry..hmm hmm terus dari tadi." hardik  papi Indrawan dengan sedikit emosi.


Lalu maminya muncul dan menjadi penengah takut terjadi perdebatan diantara anak dan papinya itu.


"Jangan keras-keras kenapa pih sama anak kita, kasihan tuh malah jadi tertekan gitu kan?" ucap maminya mencoba menenangkan hati papi Indrawan.


"Habisnya anakmu ditanya diam saja bukannya dijawab, papi jadinya kesal mami." Papi Indrawan mencoba mencari pembelaan.


Mami Tiara pun menghampiri Putry anak semata wayangnya itu. Dia sedang gemetaran kaget tak bergeming sepatah kata pun seperti patung pancoran.Lalu mami Tiara pun mencoba berkata pelan-pelan supaya Putry bisa menjawab pertanyaan dari papinya itu.


"Put sayang, coba tatap wajah mami sebentar." Putry pun lalu menatap wajah maminya itu.


Dan maminya itu berkata lagi.


"Coba Putry berterus terang,tadi papimu bertanya coba dijawab ya sama Putry dengan jujur, supaya papimu tidak bentak-bentak kasar sama kamu nak."


Putry pun hanya terdiam dan menunduk dan menganggukan kepala.


Putry pun akhirnya mencoba berbicara apa adanya dan jujur dihadapan orang tuanya itu.


"Sebenarnya pacar Putry itu berbeda keyakinan dengan kita mami papi." ucap Putry yang masih menunduk tak bisa bertatap mata dengan orang tuanya itu.


"Apa...???" tanya mami dan papinya serempak.


"Tak paham papi sama pikiranmu Put." lanjut Papinya lagi.


Maminya Pun ikut berbicara dan ikut membela suaminya papi Indrawan itu.


"Iya Put, dengerin mami ya, dikeyakinan manapun hubungan yang berbeda keyakinan itu dilarang Put." ucap maminya.


"Iya, Putry juga tahu mami."


"Kalau tahu kenapa dilakukan?" tanya mami kembali.


"Iya Putry minta maaf,Putry memang salah, Putry mencintai dengan orang yang tak seharusnya dengan yang tak seiman."


"Mulai detik ini jauhi dia, jangan pernah direspon lagi."


"Apa Putry mau papimu ini diseret ke neraka karena ulah anaknya ini?" lanjut papinya.


"Putry enggak mau,maafkan segala kesalahan Putry pih." ucap Putry sambil berlinang air mata.


"Nih, dengarkan ini." Papi Indrawan pun mengambil handphone lalu mencari platform video populer itu dan mencari dikolom pencarian itu tentang ceramah yang membahas hubungan berbeda keyakinan.


"Keyakinan kita melarang keras hubungan berbeda keyakinan, karena lelaki yang akan menjadi imam kelak, maka harus bersanding dengan yang seiman pula.Sampai sini paham kan Put?" tanya Papi Indrawan disertai penjelasan panjang lebar.

__ADS_1


"Iya papi, Putry paham."


Putry yang dari tadi berlinang air mata dipipinya mencoba menghapusnya menggunakan tissue.


Papi Indrawan pun entah kegerahan atau ingin menghirup udara segar lalu, papi Indrawan pun ke luar asrama itu dan duduk di teras sambil memandangi langit yang dihiasi bintang dan disinari cahaya bulan.


"Papi, mau kemana?" tanya mami Tiara.


"Diam di teras." jawab papi Indrawan.


Mami Tiara pun menyusul suaminya ke luar untuk meredam emosi suaminya itu.


"Sabar ya pih, jangan tinggi emosi gitu, untung saja kita kesini jadi bisa cepat ketahuan kan." ucap Mami Tiara sambil memeluk suaminya dari belakang.


Berharap suaminya bisa cepat reda emosinya.


"Iya Mami." ucap papi Indrawan sambil memegang tangan istri dan mengelusnya.


Setelah dirasa emosinya sudah mulai mereda, lalu mami Tiara pun mengajak masuk kembali menuju asrama.Karena suhu udara malam diluar terasa dingin takut masuk angin.


Begitu mami dan papinya masuk ke kamar asramanya Putry, Putry pun lalu pamit mau tidur duluan.


"Mami,Papi,Putry tidur duluan ya,selamat malam."


Mungkin masih merasa kesal, ucapan anaknya itu tidak direspon.


Putry pun lalu tidur, banyak panggilan tak terjawab dari Phonapong pun Putry sengaja abaikan.


Entahlah besok pagi dikampus akan bagaimana.


Beberapa jam kemudian, Putry pun bangun dari tidurnya, dilihatnya mami dan papinya masih tertidur pulas mungkin kecapekan.


Putry lalu bergegas mengambil air wudhu karena alarm adzan dihandphonenya berdering.


Setelah Putry beres mengambil air wudhu, mami dan papinya pun bangun.Lalu maminya pun berkata sedikit basa basi biar tidak terlalu kaku karena masalah kemarin malam.


" Baru beres wudhu Put,arah kiblat kemana ya? Mami juga mau shalat."


"Ke arah sana mam." ucap Putry sambil menunjuk arah yang dimaksud.


Dilanjut papinya yang mau mengambil air wudhu.Ketika berpapasan dengan papinya, papinya pun berkata "Put,maafkan papi semalam ya, kalau papi agak kasar itu karena papi sayang Putry, gak mau Putry ada dijalan yang salah."


"Iya pih, gak apa-apa kok memang Putry yang salah juga,maafkan kesalahan Putry ya pih."


"Iya Put, ya sudah papi mau ke toilet dulu." ucap papi sambil terburu-buru karena perutnya sudah sakit.

__ADS_1


__ADS_2