
Masih dalam suasana berduka cita, hari kedua setelah pemakaman neneknya Putry.Ada sahabatnya mami Tiara yang datang bertakziah sambil menengok sahabatnya yang sedang berduka.Kali ini yang berkunjung adalah tante Evelyn, tante Manda dan tante Devira yang merupakan sahabatnya ketika masih sama-sama menjadi mahasiswi disalah satu perguruan tinggi negeri beberapa tahun silam rentang waktu tahun 1990an.
Mereka datang seperti tante-tante sosialita yang seperti dilihat di sebuah tayangan sinetron.Mereka merupakan emak-emak yang kebanyakan sudah memiliki cucu ataupun anak yang sudah dewasa.Tetapi penampilan mereka selalu cetar membahana. Tidak kalah dengan anak-anak muda, berpakaiannya pun fashionable selalu terupdate dan memperbarui jaman.
Jam sepuluh pagi, rombongan emak-emak kece pun sudah sampai di kediamannya mami Tiara.Mereka pun disambut oleh Pak Indrawan yang sedang berada di luar mengobrol dengan bapak-bapak tetangga sekitar, sepertinya bapak-bapak itu sedang menemani dan sedang menguatkan Pak Indrawan yang sedang dirundung duka cita.
Tante Evelyn pun menyapa Pak Indrawan dari balik kaca mobil. " Assalamualaikum, Pak Indrawan...Ibu Tiaranya ada?" lalu pak Indrawan pun membalas sapaan tante Evelyn itu, "Waalaikumsalam, Bu Evelyn silahkan masuk saja ke rumah." Pak Indrawan pun mempersilahkan masuk.
Lalu mobil yang ditumpangi Tante Evelyn beserta kawan-kawannya genk sosialitanya pun diparkir ditempat yang telah disediakan.Lalu mereka pun segera turun dari mobil tersebut.Tante Evelyn beserta teman genk sosialitanya pun dipersilahkan untuk memasuki rumah yang merupakan rumah bertingkat itu.
"Silahkan, Ibu-ibu silahkan masuk,tunggu sebentar ya saya panggilkan dulu Tiaranya.Sepertinya masih dikamar." ucap Pak Indrawan sambil mempersilahkan masuk ke dalam rumah.
"Oh iya pak, tidak apa-apa saya akan tunggu disini." ucap mereka bertiga.
Pak Indrawan pun segera menuju ke kamarnya Putry, Begitu sampai didepan kamar nampak Tiara menghampiri dengan mata yang sembab dan layu karena semalaman habis menangis.
"Ada apa papi? Sepertinya ramai sekali diruang tamu." tanya Mami Tiara begitu keheranan.
"Itu ada sahabatmu, geng rempong datang kesini." papi Indrawan memberitahu sambil menunjuk yang dimaksud.
"Aduh, wajah mami juga sedang begini, malu lah pih."
"Cuci muka dulu sana mami, nangis boleh tapi sewajarnya saja mami, yang terpenting kita selalu berdoa supaya orang tua kita yang sudah tiada tenang disisiNya."
"Ya papi, mami mau cuci muka dulu."
Mami Tiara pun lalu menuju ke wastafel untuk mencuci muka dan tidak lupa juga dengan memakai sabun berasnya supaya bekas wajah yang layu dan sembabnya hilang.Setelah selesai membersihkan wajah, mami Tiara pun bergegas menuju ke ruangan tamu untuk menemui mereka para sahabat terkece badainya.
Begitu sampai diruang tamu, mami Tiara langsung menyapanya.
"Hai jeng, sudah lama menunggu?" sapa mami Tiara.
"Lumayan sih say, tapi gak apa-apa lah, kamu habis darimana say?" tanya tante Evelyn.
"Aku dari kamarnya Putry, semalam tidur bareng dengan anakku." jawab mami Tiara.
"Anakmu pulang jeng?kapan pulangnya?" tanya tante Evelyn lagi.
"Kemarin datangnya sekitar habis magrib atau sore gitu." jawab mami Tiara.
"Kuliahnya libur atau cuti?"
"Sepertinya cuti selama beberapa hari gitu say."
__ADS_1
"Oh begitu, bisa panggilkan tidak jeng?ada info penting nih buat anakmu."
"Boleh deh, sebentar ya aku panggilkan dulu dianya."
Lalu, mami Tiara pun kembali menaiki tangga menuju ke lantai atas.Mami Tiara pun lalu menuju kamarnya Putry.
Nampak pintu kamar itu terbuka sedikit rupanya, bergegaslah mami Tiara untuk segera memasuki kamar tersebut.
"Put, sedang ngapain nak?" tanya mami Tiara begitu sampai di kamarnya Putry.
"Eh mami, ini mam aku dikirimin tugas oleh sahabatku Novita, supaya aku sedang cuti disini tidak ketinggalan materi mata kuliah katanya."
"Oh, ya sudah kalau sedang sibuk, kerjakan saja dulu tugasnya ya, nanti kalau sudah beres temui sahabat-sahabat mami di lantai bawah ruang tamu ya."
"Tante Evelyn ada perlu katanya mau ngobrol sama kamu."
"Oke deh, sebentar lagi kalau sudah beres,Putry langsung turun ke lantai bawah ya mami."
"Ya nak, mami tunggu ya."
"Oke."
Setelah beres mengobrol dengan anak semata wayang di ruang kamar, lalu mami Tiara kembali menuju ke lantai bawah di ruang tamu tempat para tamu-tamu genk sosialitanya berkumpul dan bercengkrama.
"Gimana jeng?"
"Oh Putry lagi sibuk mengerjakan tugas dulu ya, nanti kalau sudah selesai dia pasti kesini menemui kamu."
"Oh iya deh."
"Memangnya ada apa sih?" tanya mami Tiara merasa heran.
"Begini, keponakanku yang sedang bekerja di Thailand katanya lagi cari calon istri, barangkali cocok sama anakmu si Putry jeng.Nanti kan kita bisa saudaraan."
"Aduh, anakku masih kuliah say, masih jauh lah kayanya."
"Yee..siapa tahu ini mah, lagipula keponakanku ganteng loh, nanti bisa bertemu kalau penasaran."
"Ya, terserah kamu sajalah jeng Evelyn."
Beberapa menit kemudian, Putry pun muncul dan turun dari atas lantai dua melalui tangga.
Dan segera Putry pun langsung menghampiri barisan para emak-emak dan menyapanya.
__ADS_1
"Selamat pagi tante semua, ada apa ya panggil Putry?" tanya Putry yang merasa keheranan ada apa sebenarnya tiba-tiba malah dipanggil oleh barisan emak-emak yang kece parah.
"Sini Put, duduk disebelah tante, mau ada yang tante omongin." ajak tante Evelyn sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Ngomongin apa ya tan?"
"Sini ajalah pokoknya."
Lalu Putry pun berjalan menuju tempat tante Evelyn duduk dan Putry pun duduk juga disampingnya.
"Begini, kamu mau engga dikenalin sama keponakan tante?" tanya tante Evelyn kepada Putry.
"Keponakan yang mana ya tan? Kan keponakan tante banyak, aku pun tidak hafal semua keponakan tante." jawab Putry kepada tante Evelyn sambil Putry sesekali bertanya balik.
"Keponakan tante yang sedang bekerja di Thailand, kamu tinggalnya di asrama Bangkok kan Put?"
" Waduh, sudah bekerja ya? Berarti sudah dewasa ya?"
"Ya coba saja dulu Put, siapa tahu nyambung dan cocok serta bisa ada yang jaga disana."
"Hmmm gimana ya?"
"Malah bingung, tenang orangnya ada dirumah tante kok, sama dia pun sedang cuti kerja katanya makanya pulang dan menemui tante disini."
Disaat sedang kebingungan, Putry malah melirik mami Tiara seperti yang butuh pendapat.
"Gimana mam?" tanya Putry kemudian.
"Ah, kamu jeng suasana lagi berduka cita juga masih nyomblangin orang." mami Tiara malah menghardiknya tante Evelyn itu.
"Tanya sama hati yang paling dalam Putry,mami sih cuma bisa mendukung saja apapun yang Putry kerjakan dan inginkan, selama itu masih dijalan yang benar tidak menyimpang." jawab Mami Tiara kemudian untuk Putry tersayangnya.
"Tan, begitu saja ngobrolnya? Kalau begitu izinkan Putry pamit ya mau ke atas lagi." ucap Putry sambil pamit dari hadapan mereka.
"Loh, kok buru-buru sih nak, memang ada apa diatas sana?"
"Putry mau mengerjakan tugas belum selesai tan." jawab Putry.
"Oh, ya sudah kalau begitu, selamat mengerjakan tugas ya Put, maaf tante sudah ganggu aktifitasnya."
"Iya sama-sama tan, aku kembali keatas.Mari semua." ucap Putry sambil berpamitan.
Lalu Putry pun kembali naik ke lantai dua dengan bantuan tangga.Sesampainya didalam kamar Putry berpikir.Apakah dia harus menerima tawaran dari tante Evelyn atau tidak.
__ADS_1
Padahal baru saja beberapa hari berpisah dengan Phonapong pacar beda keyakinannya itu.Apa Putry harus terima saja tawarannya?