
Sudah enam hari Anggara mengirimkan paket yang berisi obat itu akhirnya sampai juga menuju Indonesia.
Ibunya sendiri yang mengabarkan kalau paket obatnya sudah sampai tadi pagi diantar oleh kurir silelet.
Lalu, ibunya pun kembali menelepon Anggara disaat Anggara akan berangkat kerja.
Ibunya Anggara : Asalamualaikum A.
Anggara : Waalaikumsalam Ibu,iya bu ada apa?Anggara mau berangkat kerja.
Ibunya Anggara : A kenapa ngirimnya banyak sekali,gak akan keminum atuh sama ibu obatnya?
Anggara : Gak apa-apa,kalau ada kerabat atau tetangga yang sakit bagi aja obatnya,soalnya disini gak bisa beli eceran jadinya beli satu dus. Ibu sekarang gimana kabarnya?ada perubahan gak habis meminum obat itu?
Ibunya Anggara : Oh ya sudah kalau gitu, ibu baru satu tablet minumnya jadi belum terasa khasiatnya.
Anggara : Sering diminum ya bu obatnya,biar cepat sembuh seperti sedia kala.
Ibunya Anggara : Iya A,ibu akan minum terus kok obatnya, ya sudah dari ibu gitu saja ya, cepat berangkat kerja aja kalau mau kerja,asalamualaikum.
Anggara : Waalaikumsalam bu.
Sambungan telepon bersama ibunya pun terputus,handphonenya Anggara simpan ke dalam tas kerjanya.Lalu, Anggara berangkat kerja menggunakan kendaraan roda dua yang bersih dan juga licin karena sudah dicuci kemarin malam.
Seperti biasa, Anggara pun jadi langganan antar jemput Putry menuju ke kampus.Karena jaraknya mes Anggara tempatnya tinggal dengan kampus Putry tempat berkuliah juga lumayan dekat.Jadi, bisalah biar sekalian lewat.
Putry pun sudah tahu jadwalnya Anggara menjemput jam berapa makanya Putry menunggu diluar dan terlihat sudah siap.
Beberapa menit kemudian, Anggara pun datang ke depan asrama Putry.
Anggara pun bertanya untuk sekedar basa basi "Neng, tumben sudah siap aja,kan Aa belum ngabarin?"
Putry pun menjawab pertanyaan Anggara itu "Sekali-kali A, biar Aa gak bete nunggu jadi neng inisiatif aja untuk siap-siap lebih dulu."
"Nah,begitu dong neng, duh makin pintar aja dan makin mengerti." ucap Anggara.
__ADS_1
"Yuk A berangkat, nanti neng kesiangan berangkat ke kampusnya."
"Iya,A juga mau mode cepat soalnya A juga kerja shift pagi gantiin Aa yang gak masuk."
Anggara dan Putry pun lalu berangkat,yang pertama adalah mengantarkan Putry ke kampus karena dari mes Anggara menuju ke kampus hanya lurus saja, sedangkan menuju ke pabriknya Anggara harus belok lagi melewati perkebunan karet milik pemerintah raja thailand.
Beberapa menit kemudian, Anggara dan Putry pun telah sampai mengantarkan Putry menuju kampusnya.Lalu Anggara langsung pamit karena Anggara harus berangkat lagi menuju pabrik dan terlihat buru-buru karena sebentar lagi akan masuk kerja, apabila kesiangan menuju tempat kerja, maka akan potong gaji sekian persen.
Begitu tiba di tempat kerjanya, sudah menumpuk aja pekerjaan.Belum lagi para karyawannya yang banyak yang tidak berangkat kerja dengan alasan kurang enak badan.Hal ini menunjukan, pekerjaan dia semakin menumpuk tidak banyak yang tertangani dan mungkin nanti sore dia akan lembur kerja.
Tapi tak mengapa, karena kurang lebih empat bulanan lagi Anggara akan melamar Putry.Jadi,Anggara harus cukup banyak tabungan untuk menggelar acara itu.Dan katanya Putry juga akan pindah kuliahnya ke kota Tasikmalaya saja supaya menjadi lebih dekat dengan orang tuanya dan tentunya tinggal di rumahnya sendiri tidak harus diam di asrama lagi.
Anggara pun pasti akan menyusulnya, tapi masih rencana gimana nanti soalnya belum dapat pekerjaan yang cocok didaerahnya.Mungkin Anggara akan mengkonsultasikan dulu dengan keluarganya bagaimana baiknya.
Beberapa jam sibuk bekerja dan membina anak buah,kini tiba saatnya istirahat.
Anggara terlihat sedang menuju ke kantin untuk memesan secangkir kopi dan tidak lengkap tanpa sebatang rokok ditangannya.Kopi yang masih membumbul asap pun dia minum karena sudah tak sabar ingin minum kopi dan tentunya sedikit agak mengantuk juga.
Aktifitas yang sangat menjenuhkan memang berada disini,datang untuk bekerja dan pulang untuk tidur.
Anggara pun akan bertekad untuk bertahan ditempat ini.Hingga bosnya memberhentikannya.Karena disinilah Anggara jalan satu-satunya untuk mencari nafkah dan Anggara rela berjauhan dengan orang tuanya dan juga saudaranya.
Dan ditempat ini, di daerah sini pula dia menemukan belahan hatinya yang akan menemani dirinya sampai tua nanti bahkan sampai maut memisahkan keduanya.
Tak terasa sudah sore lagi, Anggara masih sibuk di dalam kerjaannya.Hingga dering telepon dari tadi berbunyi pun tidak sempat Anggara angkat.
Ketika semua kerjaan sudah selesai, Anggara lihat jam sudah menunjukan pukul delapan belas atau pukul enam petang.Lalu, dia pun menuju kamar mandi dan menyalakan keran untuk mengambil air wudhu.Karena di tempat kerjanya ini sangat toleransi terhadap umat yang berbeda kepercayaan, maka mushola untuk umat muslim pun disediakan disini.
Setelah beres melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, lalu Anggara pun mengecek handphonenya.
Betapa terkejutnya, ketika yang menelepon itu keluarga besarnya yang berada di Garut.
Mereka mengabarkan, bahwa ibunya Anggara meninggal dunia sore tadi.
Kabar yang sangat mengejutkan sekaligus menyakitkan juga menyedihkan bagi Anggara.Padahal empat bulan lagi akan mengadakan lamaran ke kediamannya Putry yang berada di daerah Tasikmalaya.
__ADS_1
Mendengar kabar ini, tentu menjadi semakin yakin kalau Anggara akan resign saja dari tempat ini dengan jangka waktu empat bulan lagi dan dia akan bekerja didaerahnya sendiri saja supaya keluarganya bisa Anggara terkontrol satu persatu dan hati Anggara pun semakin tenang nantinya tidak akan terbebani dengan banyak pikiran.
Anggara pun cepat-cepat mengabarkan kabar buruk ini kepada Putry melalui sambungan telepon.
Satu panggilan belum terangkat, lalu Anggara mencoba untuk memanggil yang kedua kalinya.
Dan yang kedua inilah Putry mengangkat panggilan telepon itu.
Anggara : Hallo asalamulaikum neng.
Putry : Waalaikumsalam A, iya A ada apa?
Anggara : Neng, Aa sedih.
Putry : Aa sedih kenapa?coba cerita sama neng, apa yang sebenarnya terjadi?
Anggara : Ibu Aa,neng....
Putry : Iya,ibu Aa kenapa memangnya?sudah sembuh? sudah dikasih obat kan?
Anggara : Ibu Aa meninggal dunia tadi sore neng.
Putry : Inalilahi wainalilahi rajiun,terus rencana Aa sekarang apa?mau pulang?
Anggara : Rencana Aa sekarang nggak pulang dulu, tapi nanti sekitar empat bulan lagi Aa mau mutusin untuk resign saja dari sini dan pulang kampung ke Garut, Neng juga mau pulang kan dan mau meneruskan kuliahnya disana?
Putry : Ya sudah kalau itu keputusan Aa,neng mah cuma bisa mendukung apa yang Aa putuskan, tenang saja kalau soal kerjaan papi aku juga mungkin nanti ada lowongan kerja A,jadi gak usah risau yang penting kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka.
Anggara : Terima kasih ya neng selalu ada buat Aa dan selalu mendukung Aa bagaimanapun kondisinya.
Putry : Iya A sama-sama.
Anggara : Ya sudah,Aa mau pulang dulu ke mes ya neng ini masih dipabrik soalnya.Asalamualaikum neng.
Putry : Waalaikumsalam.
__ADS_1
Sambungan telepon terputus dan handphone pun seperti biasa disimpan lagi ke tempat semula.