
Setelah tiga jam perjalanan panjang dari Thailand menuju Indonesia, kini Putry telah sampai di Bandara international Soekarnohatta Tangerang.Begitu sampai bandara, Putry langsung disambut oleh supir travel milik perusahaan papi,Mang Asep Putry menyebutnya.
Mang Asep pun langsung menghampiri Putry yang terlihat kerepotan membawa koper.
"Asalamualaikum Neng,sini sama mang Asep saja bawanya." pinta mang Asep.
"Waalaikumsalam,
Ini mang, Putry minta tolong ya bawain menuju bagasi mobil." ucap Putry sambil menyerahkan kopernya untuk dibawa mang Asep menuju bagasi.
"Siap Neng."
Koper pun dibawa oleh mang Asep dan mang Asep simpan koper itu dibagasi mobil travel.Yang hari ini khusus mobil itu untuk menjemput anak majikannya.
"Mang, si papi sama mami ada dirumah?" disela-sela diperjalanan Putry bertanya pada karyawan papinya itu.
"Ada dirumah neng, suasana dirumah masih berduka sejak kemarin pemulangan jenazah almarhumah Ibu Mardiana."
"Apa sekarang jenazah nenek masih ada dirumah mang?"
"Masih neng,kata papi neng Putry mah mau disemayamkan dulu dirumah sampai neng Putry datang."
"Neng ingin lihat kondisi almarhumah nenek yang terakhir kan?"
"Iya mang, Putry ingin lihat makanya Putry bela-belain cuti kuliah dan pulang."
"Oh iya, cutinya berapa lama neng?"
__ADS_1
"Dikasih waktu seminggu mang."
Perjalanan dari Bandara Soekarnohatta Tangerang menuju tempat tinggalnya Putry memakan waktu kurang lebih sepuluh jam perjalanan darat yang memakai mobil travel milik perusahaan papinya.Diperkirakan sampai ditempat tujuan sore atau petang.
Disepanjang perjalanan, Putry hanya dihabiskan untuk tidur.Tak mau mengganggu konsentrasi berkendara mang Asep.
Setengah perjalanan, mang Asep dan Putry lalu berhenti dan mencari rest area di kilometer enamdua Tol Cipularang.Mereka mencari restoran,toilet dan mesjid.
Papi Indrawan menerapkan disiplin disaat kemanapun kalau sudah waktunya berkumandang adzan segera cari mesjid dan kalau sudah lapar segera cari restoran jangan ditunda-tunda nanti perjalanannya malah tidak konsentrasi dan malah tergesa-gesa.
Setelah beres cari toilet,cari mesjid dan makan siang di restoran.Lalu, Putry dan mang Asep melanjutkan perjalanan kembali menuju Tasikmalaya yang kurang lebih empat jam lagi.
Mobil travel pun kembali melaju masih di jalur tol dan keluar dari tol pasteur menuju Bandung terus hingga menuju Rancaekek hingga Nagrek.Dari Nagrek mengikuti arah jalan saja melewati Garut melewati kabupaten Tasikmalaya dan hingga akhirnya sampai juga di kediaman Putry.
Setelah sampai di kediaman Putry, Putry lalu berlari menemui maminya yang sedang duduk lesu di dalam rumahnya yang sedang dipenuhi oleh para pelayat mulai dari para kolega papinya, sahabat papinya hingga sahabat maminya,karyawan po bus papi, karyawan salon mami hingga para tetangga dan kerabat disekitar yang ikut melayat jenazah almarhumah Ibu Mardiana.
Mesjid yang begitu besar pun tidak tertampung, Karena masyarakat sangat antusias sekali ingin mensholatkan jenazah Ibu Mardiana ibundanya pak Indrawan.
Sebagian orang lagi, sibuk menyiapkan suguhan di rumahnya karena kemungkinan akan banyak tamu penting lainnya yang akan berkunjung.
Tak lupa juga disiapkan mobil ambulance untuk mengantar jenazah menuju pemakaman elit di daerah tersebut dan beberapa mobil pribadi yang akan membawa keluarga besar mengantarkan jenazah menuju liang lahat.
Jalan-jalanan pun di daerah ini untuk sementara waktu disterilkan banyak yang ditutup.Agar masyarakat tidak banyak yang berlalu lalang agar tidak mengganggu lalu lintas yang akan menuju ke pemakaman.
Supir mobil ambulance pun sudah siap.
"Pak, sekarang saja berangkatnya?takut keburu kemalaman." tanya supir ambulance.
__ADS_1
"Iya, sekarang saja pak kita menuju ke pemakaman." jawab pak Indrawan.
Lalu, jenazah yang sudah disholatkan di mesjid pun oleh warga digotong untuk dimasukan ke dalam mobil ambulance.
Setelah jenazah dimasukan ke dalam mobil ambulance, lalu jenazah pun diantarkan menuju pemakaman elit di daerah tersebut disertai iring-iringan mulai dari aparat kepolisian,tentara ataupun para pejabat dan warga sekitar.
Karena didalam kesehariannya semasa hidup dulu Ibu Mardiana sosok yang sangat dermawan.Tak heran jika begitu meninggal dunia banyak yang merasa kehilangan akan sosok beliau.
Putry pun sewaktu diperjalanan menuju pemakaman tak henti-hentinya menangis sambil meraung-raung.
"Nenek...jangan tinggalkan Putry nek." sambil menangis Putry tak henti-hentinya teriak.
Pak Indrawan pun tak kuasa melihat kondisi anaknya seperti itu.
Putry adalah cucu terdekat dan kesayangannya Ibu Mardiana.
Beberapa menit kemudian,iring-iringan pengantar jenazah itu telah sampai menuju pemakaman elit daerah.
Jenazah pun dimasukan ke dalam liang lahat, Pak Indrawan pun ikut masuk ke dalam liang lahat sambil melantunkan adzan untuk yang terakhir.Semua yang berada dipemakaman tak kuasa menahan tangis dan air mata.Apalagi Putry sampai pingsan di pangkuan Ibu Tiara maminya Putry.
Karena takut kenapa-kenapa akhirnya Putry pun dibawa kedalam mobil untuk diantarkan pulang ke kediamannya terlebih dahulu.Setelah sampai dikediamannya, Putry pun lalu diberikan minyak kayu putih yang dibalurkan ke keningnya lalu dipijit-pijit halus dan diberikan minum Teh manis hangat.Dengan ditemani mami Tiara berada di dalam kamar biarlah mereka beristirahat jangan berada di keramaian orang banyak selain menjaga kondisi fisik tetap fit juga menjaga kesehatan psikisnya agar tetap tenang.
Asisten rumah tangganya dibantu kerabat malam itu sibuk sekali menyiapkan aneka hidangan untuk tahlilan perdana sehabis isya dikediamannya pak Indrawan.Banyak yang diundang termasuk tetangga sekitar juga ikut serta didalam acara tahlilan itu.Rumah yang besar pun banyak dikunjungi oleh para petakziah untuk mendoakan almarhumah ibunya Pak Indrawan yang terkenal dermawan suka menolong dan memberi sedekah di daerahnya tersebut.
Sehingga banyak warga yang merasa sangat kehilangan akan sosok beliau.Rencananya acara tahlilan dan doa bersama untuk mendoakan almarhumah itu akan dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut dan akan dihadiri oleh para sejumlah anak yatim dari berbagai panti asuhan yang berada di daerah tersebut.Ketua dan pemilik yayasan panti asuhan pun merasa senang sekali mendapatkan kesempatan untuk bertakziah dan mendoakan sosok almarhumah Ibu Mardiana.
Hal ini tentu untuk Bi Laksmi sebagai asisten rumah tangganya mendapat kesempatan untuk mengatur dan dipercaya oleh majikannya untuk bisa membelanjakan segala keperluan acara tersebut.Mengingat majikan perempuannya Ibu Tiara masih suasana duka dan masih tidak bisa kemana-mana hanya diam dikamar saja selama beberapa hari menemani anak semata wayangnya yang merupakan cucu kesayangan Ibu atau nenek Mardiana itu.
__ADS_1