Bertemu Jodoh Di Thailand

Bertemu Jodoh Di Thailand
Bab 65 Pertemuan di Cafe


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, kini mami Tiara dan Papi Indrawan telah pulang kembali lagi ke daerah Tasikmalaya.Suasana mulai normal kembali, namun tiba-tiba ada temannya Phonapong yang memberitahu Putry bahwa Phonapong ingin berbicara sesuatu tapi ingin di Cafe biar suasana tidak tegang.Padahal rencana itu sudah disampaikan lewat surat kemarin.


Putry berpikir sejenak, namun akhirnya tawaran itu disetujui juga oleh Putry.Pulang kuliah sekitar jam dua siang, Putry menunggu di taman kampus karena Novita sudah pulang menuju asrama tadi.Setelah di taman tak kunjung datang batang hidungnya lalu Putry pun berjalan menuju ke gerbang.Putry lupa kalau janjiannya di gerbang ini.Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Phonapong datang juga.


Phonapong pun berhenti tepat di depan Putry dengan si kuda besi kesayangannya.Lalu Phonapong pun menyuruhnya segera menaiki si kuda besinya, Phonapong pun memberikan helm kepada Putry.


"Ini pakai dulu yang."


"Iya, aku pakai."


"Kita mau kemana?" tanya Putry penasaran.


"Kita mampir dulu ke Cafe ya, mau ada yang aku bicarakan."


"Oke."


Di dalam hati Putry dagdigdug tak karuan dan semakin penasaran dia akan membicarakan hal apa.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai menuju Cafe yang dituju.Lalu Putry turun dari si kuda besi itu karena akan diparkirkan menuju basement.


Putry pun menunggu di depan Cafe itu karena malas ikut dengan Phonapong ke basement pengap penuh dengan debu.


Tak berselang lama, Phonapong pun muncul dan menghampiri Putry.


"Kok malah berdiri disini bukannya masuk duluan ke dalam." ucap Phonapong.


"Nunggu aja dulu disini,gak enak kalau masuk duluan takut disangka sok tahu."


"Ya sudah ayo kita masuk, kita ambil meja di kiri ya yang dekat hiasan mawar itu."


Lalu mereka berdua pun berjalan berdua menuju meja yang berada disebelah kiri.Dan mereka pun duduk di meja yang sudah dipilih mereka.


Tidak lama kemudian, datanglah seorang pramusaji Cafe sambil membawa daftar menu dan mereka pun segera memesannya.


Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya pesanan makanan dan minuman pun tiba di meja makan yang diantarkan oleh pramusaji Cafe.


Setelah pramusaji cafe itu putar balik menuju ruang dapur, Phonapong pun memulai pembicaraan dengan Putry.


"Terima kasih ya yang sudah mau aku ajak kesini."


"Iya sama-sama sayang."

__ADS_1


"Sebenarnya, aku ngajak kamu kesini ada yang mau aku bicarakan denganmu."


"Mengenai hal apa?"


"Tapi takut kecewa dan marah,janji tapi ya jangan marah."


"Iya sayang, apa dulu?"


"Hmm, maafkan aku ya, aku tahu ini sangat berat bagi kita, tapi mungkin ini solusi terbaiknya." ucap Phonapong dengan terbata-bata sambil memegang tangan Putry.


"Solusi apa yang?"


"Aku dijodohkan orang tuaku yang, orangtuanya sudah saling kenal waktu aku masih bayi, tapi aku belum bertemu dengan orangnya."


"Begitu ya?"


"Kamu gak marah kan sayang?"


"Aku juga sebenarnya sudah berhari-hari memikirkan ini, aku bingung memulai dari mana bicaranya."


"Bicara aja sayang."


"Semenjak mami papiku datang kesini,terus mami papiku sudah tahu hubungan kita dan segala asal usul kamu,aku disuruh menjauh dan jangan merespon kamu lagi yang,makanya kemarin-kemarin aku agak sedikit berubah." ucap Putry panjang lebar sambil berlinang air mata.


"Malu ih dilihatin banyak orang."


Lalu Phonapong pun mengambil tissue dan mencoba mengelap air matanya Putry yang membasahi pipinya itu.


"Kalau ini jalan terbaiknya, aku gak apa-apa kok sayang, terima kasih atas semuanya."


"Seandainya dilanjut pun tidak akan mungkin bisa, terlalu banyak resiko yang nanti akan datang." lanjut Putry lagi.


"Ya sudah kalau gitu, tapi aku minta kita masih berhubungan baik ya, kita bertemu baik-baik berpisah pun harus baik-baik."


"Tak mengapa kamu anggap aku kakakmu disini." lanjut Phonapong lagi.


"Berarti ini solusinya sayang? Dulu pernah bilang mau mencari solusinya?"


"Ya habis bagaimana lagi, aku gak bisa ikut dan masuk ke dalam keyakinanmu, kamu pun sebaliknya kan?"


Putry pun terus tertunduk lesu di hadapan Phonapong itu.

__ADS_1


"Ya sudah,aku gak apa-apa kok." ucap Putry sambil terus bercucuran air mata membasahi pipi, ada luka yang tak terlihat ada sakit yang tak berdarah, ingin marah kesal tapi apalah daya, takdir ini yang harus dihadapi. perpisahan bukan karena orang ketiga melainkan karena suatu perbedaan keyakinan yang menjadi penghalang untuk hubungan asmara keduanya.


"Aku juga sebenarnya berat Put sayang, sudah nyaman sama kamu, sudah mulai timbul rasa sayang sama kamu, tapi kita tidak akan pernah bisa dipersatukan menuju ke dalam pernikahan karena kita berbeda."


"Mulai sekarang kita bersahabat saja ya,sahabat akan selalu ada setiap kita senang maupun susah, selalu ada sampai kapanpun,kalau Putry perlu bantuan apapun boleh hubungi kakak ya, kakak akan menyempatkan waktu." lanjut Phonapong panjang lebar.


"Sampai lupa, silahkan dimakan dulu makanan yang tadi dipesan, keburu dingin loh." suruh Phonapong.


Putry pun memakan pesanan makanan yang dihidangkan diatas meja, pelan-pelan sekali sampai Phonapong pun tak tega melihatnya, Phonapong pun menawarkan diri untuk menyuapinya namun Putry tolak.


Tidak apa-apa lah makannya menjadi lambat seperti siput, yang penting makanannya habis.Sayang kalau sudah dipesan tidak dihabiskan.


"Pelan-pelan saja Put,tidak apa-apa yang penting habis,kakak tunggu disini."


Dua puluh menit kemudian, Putry pun sudah menghabiskan makanannya.


"Sepulang dari sini mau kemana Put?biar kakak antar."


"Tidak kemana-mana, Mau pulang saja ke asrama mau istirahat."


"Oh, ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang, senyum dong Putry cantik."


"Kakak yakin diluaran sana masih banyak yang mau sama Putry, yang seiman dengan Putry."


"Iya kak,terimakasih."


"Malah jadi canggung manggilnya, biasanya manggil ayang." lanjut Putry.


"Bicara apa Put tadi?" tanya Phonapong penasaran.


"Enggak, ayo kita pulang saja." ajak Putry.


"Siap, kita pulang sekarang."


Setelah makanan dan minumannya dibayar ke kasir, lalu mereka berdua pun menuju parkiran, tapi kali ini Putry berjalan dibelakangnya Phonapong dan agak lambat juga jalannya,disepanjang jalan menuju parkiran pun hanya melamun hingga tak sadar akan menabrak pramusaji cafe yang baru keluar dari dapur produksi.


Untung saja pramusaji cafe itu masih bisa fokus, jadi tidak bertabrakan masih bisa dikendalikan.


Phonapong yang tak sengaja melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Oh,seperti itu apabila perempuan sedang patah hati tidak fokus apapun seharian hanya melamun.

__ADS_1


Phonapong pun merasa kasihan mungkin Putry butuh istirahat, Putry kelelahan harus beristirahat jangan dulu kemana-mana.Phonapong sudah sampai basement cafe lalu segera mengambil si kuda besinya lalu segera menyalakan mesinnya terus bergegas melaju menuju depan cafe menemui Putry yang sedang menunggu  untuk mengajaknya pulang.


__ADS_2