
Keesokan harinya Dirga benar-benar menepati janjinya, dia membeli semua kebutuhan dapur untuk Hilya. Bukan hanya itu, Dirga juga membelikan peralatan memasak untuk istri sahabatnya yang masih gadis itu.
Tepat jam sembilan pagi, Dirga sudah berada di apartemen sahabatnya.
"Hilya! Hilya!"
Dirga memangil-manggil Hilya yang tidak terlihat di setiap sudut ruangan itu.
Hingga kemudian terdengar suara.
"Allahu Akbar!" suara lembut yang keluar dari mulut Hilya saat dia duduk
di antara dua sujud.
Dirga memandang lekat gadis yang kembali bersujud itu. Ada suatu getaran di hatinya saat memperhatikan gadis yang sedang beribadah itu. Sepertinya hati kecilnya mulai berbisik, bahwa tidak seharusnya dia mempermainkan gadis desa yang begitu baik ini.
Dan tiga menit kemudian.
"Maaf ya mas, aku masih sholat Dhuha," kata Hilya memecah lamunan Dirga.
"Iya, tidak apa-apa. Ini aku bawakan barang-barang pesananmu."
Dirga menunjukkan barang-barang bawaannya yang dia letakkan di meja.
"Terimakasih banyak," kata Hilya dengan tersenyum.
"Sama-sama," sahut Dirga.
"O iya. Mas, bagaimana keadaan Mas Satya, aku sangat rindu padanya, jika dia meneleponmu, sampaikan salamku ya!"
"Iya, tentu. Suamimu masih sangat sibuk, ada proyek besar yang harus dia selesaikan di luar kota," jawab Dirga. "Dan saat tadi malam meneleponku, dia juga menyampaikan salam untukmu, sebenarnya dia juga sangat merindukanku dan ingin cepat kembali untuk menemuimu," timpal Dirga.
"Iya," Hilya mengangguk-angguk. "Aku akan selalu berdoa untuk Mas Satya yang sedang berjuang mencari nafkah untukku."
"Iya, bagus. Barusan kamu sholat itu untuk mendoakan suamimu kan?"
"Iya, ada banyak orang yang melaksanakan sholat Dhuha karena ingin diberi rezeki yang berlimpah. Dan aku juga berharap demikian, semoga suamiku selalu diberikan kesehatan dan keberkahan dengan rezeki yang berlimpah."
"Iya, amiin!" sahut Dirga. "Ya sudah, aku harus kembali ke kantor," pamitnya kemudian.
Sikap Hilya yang begitu baik ternyata mampu menyentuh hati Dirga. Dirga yang awalnya tidak perduli dengan perasaan Hilya, kini berubah menjadi simpati dan penuh kasih.
Dia berjalan dengan perasaan penuh beban saat keluar dari apartemen itu. Pikiran dan hatinya berkecamuk, mulai ada perasaan bersalah di hatinya kepada Hilya.
"Hari ini aku tidak ke kantormu, aku sibuk, ada urusan klien yang harus aku selesaikan di pengadilan," kata pengacara muda pada sahabatnya melalui telepon seluler.
__ADS_1
"Iya, tapi kalau aku butuh sesuatu, aku akan menghubungimu," kata pria berkemeja putih dengan dasi abu-abu yang tengah sibuk memeriksa file-file di meja kerjanya.
"Hmm..." sahut pengacara muda itu dengan membuka pintu mobilnya.
Setelah itu terlihat dia mematikan telepon tersebut, dan melajukan mobilnya dengan kencang.
Hari itupun berlalu, keesokannya disela-sela Satya mempersiapkan bekas-bekas untuk dibawa rapat, tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
Segera dia raih handphone di saku jasnya dan kemudian mulai menghubungi Dirga, seorang sahabat sekaligus pengacara perusahaannya.
"Kamu di mana?" tanya pria itu dalam telepon.
"Aku baru pulang dari kantor, ini baru saja sampai apartemen, ada apa?" Dirga balik bertanya.
"Aku ada meeting besok pagi, sekarang aku masih di kantor, mempersiapkan berkas-berkas untuk meeting besok. Tapi masalahnya ada satu file yang tertinggal di laci apartemenku, aku ingin kamu tolong aku! Tolong ambilkan file itu di apartemenku ya!"
"Hmm!" Dirga membuang nafas keras. "Ini sudah jam sepuluh malam, yang benar saja aku masuk kamar istrimu malam-malam," sahut Dirga.
"Ayolah teman, saat ini aku benar-benar butuh bantuanmu, aku masih di kantor karena pekerjaanku ini benar-benar belum selesai!" rajuk Satya.
"Masalahnya aku takut jika istrimu itu tidur tidak memakai baju, lalu tiba-tiba aku masuk, bayangkan, apa coba yang akan terjadi?"
"Kamu tahan nafsumu, jika dia benar-benar tidur tidak memakai baju," sahut Satya dengan terkekeh.
"Okey! Aku mandi dulu, setelah mandi baru aku akan ke apartemenmu."
Dirga bergegas mandi, sementara Satya masih sibuk mengerjakan sesuatu di ruang kerja kantornya.
Dan setelah kurang lebih 85 menit kemudian, Dirga telah sampai di apartemen Satya.
Tepat jam 11.25 menit malam hari, pria berjaket kulit warna hitam ini telah berada di depan pintu apartemen sahabatnya.
Dirga merasa ragu saat hendak membuka pintu apartemen itu.
"Ini sudah tengah malam, bagaimana jika Hilya benar-benar tidur dengan tidak mengenakan pakaian?" pikir Dirga dalam hati.
Wajah Dirga tampak cemas dan gelisah, dia cukup lama mondar-mandir berjalan di depan pintu apartemen yang ditempati Hilya.
Hingga dua puluh menit kemudian, tepatnya pukul 12 kurang 15 menit, Dirga memberanikan diri untuk membuka pintu apartemen itu.
Lampu apartemen terlihat redup, sepertinya Hilya telah mematikan lampu yang terang, dan menggantinya dengan menghidupkan lampu yang redup, karena tidur.
Berlahan Dirga melangkah ke dalam apartemen itu, dia berniat untuk mengambil file di laci dengan tidak membangunkannya.
Namun tiba-tiba kakinya terhenti melangkah saat melihat Hilya dengan mukenah putihnya bersujud di atas sajadah di samping ranjang tidurnya.
__ADS_1
Ternyata istri sahabatnya itu belum tidur.
Dirga menghelan nafas panjang, dan membalikkan langkah menuju sofa sembari menghidupkan lampu apartemen itu dan duduk .
Beberapa menit setelah itu, Hilya yang masih memakai mukenah menghampirinya.
"Maaf, aku mengganggu kamu malam-malam," kata Dirga saat melihat Hilya melangkah menuju ke arahnya.
"Ada apa mas?" tanya Hilya penasaran.
"Aku mau mengambil file di laci kamarmu, karena Satya sangat membutuhkan data itu malam ini."
"Oooh, boleh silahkan diambil!" sahut Hilya dengan tersenyum.
Dirga pun segera bangkit dari sofa, menuju ke laci untuk mencari file yang dia butuhkan.
"Bagaimana kabar Mas Satya mas?" tanya Hilya disela-sela Dirga mencari file dalam laci.
"Suamimu masih sibuk, saat ini dia membutuhkan file ini, karena itu aku mencarinya, dan sebentar lagi aku akan menyuruh orang kantor untuk mengirimkan file ini padanya."
"Oooh, selarut ini apa mas Satya masih bekerja mas?" tanya Hilya lagi.
"Iya tentu, malam ini dia masih berada di kantornya yang ada di luar kota sana," sahut Dirga.
"Masya Allah," ucap Hilya lirih.
"Kenapa?" tanya Dirga.
"Aku hanya mengagumi suamiku mas, dia begitu pekerja keras," sahutnya dengan tersenyum.
"Mmm... iya," balas Dirga dengan tersenyum kecil, seraya melanjutkan membuka laci-laci di samping ranjang tidur Hilya. "Sudah ketemu," katanya kemudian saat menemukan benda yang dicarinya itu.
"Alhamdulillah," ucap Hilya dengan raut wajah senang saat melihat Dirga menemukan sebuah benda yang diinginkan oleh suaminya.
"O ya, Hilya. Kenapa kamu belum tidur?" tanya Dirga saat melewati Hilya untuk keluar dari kamar.
"Aku baru saja bangun kok mas. Aku ingin tahajjud dan sholat sunnah sampai subuh nanti."
"Untuk apa?"
"Untuk mendoakan suamiku, dan untuk menenangkan hatiku saat mas Satya jauh dariku," jawabnya membuat Dirga terpaku. "Mas Satya mencari nafkah hingga tengah-tengah malam seperti ini, jadi alangkah baiknya jika aku juga ikut menemaninya dengan mengirimkan doa."
"Mmm... Iya. Satya sangat beruntung punya istri yang selalu mendoakannya. Pantas dia selalu bilang padaku kalau kamu adalah bidadari spesial di hatinya. Mungkin karena doamu telah menggetarkan jiwanya," kata Dirga dengan tersenyum renyah ke arah Hilya. "O ya, Hilya aku mau antarkan berkas ini dulu, aku pamit."
Dirga bergegas keluar dari apartemen itu. Pikirannya kembali kacau setelah mendengar ungkapan hati Hilya yang begitu tulus untuk Satya.
__ADS_1
Bersambung