
Subuh pun menjelang. Hilya mulai membersihkan diri di kamar mandi karena dia hendak melaksanakan ibadah sholat subuh.
Setelah hampir tiga puluh menit di kamar mandi Hilya mulai keluar.
"Kreek!!" Hilya membuka pintu kamar mandi dengan pelan.
Berlahan dia melangkah keluar.
"Ya Tuhan! sakit sekali kepalaku," gumam Satya yang baru saja terjaga dari tidurnya.
Pria itu terlihat memijit-mijit kepalanya dengan tangan kanannya.
"Hilya?"
Satya tercengang ketika menoleh ke arah Hilya yang baru keluar dari kamar mandi.
Ditatapnya dengan seksama wajah wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah tergerai.
Satya mulai berfikir dan mengingat-ingat apa yang sudah dilakukannya kepada Hilya beberapa jam yang lalu.
"Apa yang aku lakukan padamu?" tanya pria yang belum mengenakan sehelai pakaian itu dengan menatap tajam mata Hilya.
Hilya bergeming tidak menjawab pertanyaan suaminya.
Seketika Satya membuka selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya.
Dia semakin kaget saat melihat bercak warna merah di sprei warna putih tempat tidurnya.
"Tidak!!" Ucapnya dengan kedua tangan mencengkeram kepala.
Satya mulai mengulik ingatannya tentang kata-kata Dirga. Bahwa wanita yang dinikahinya itu, adalah seorang yang masih gadis.
"Apa sekarang yang kamu rasakan?" tanya laki-laki itu kemudian pada Hilya.
"Mmm... Hanya sedikit nyeri," ucap Hilya dengan wajah polos.
"Hmmmh!!"
Satya membuang nafas keras, dan seketika beranjak dari tempat tidur, melewati Hilya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Terdengar Satya mulai menghidupkan shower.
Hilya yang sedikit heran dengan sikap suaminya segera melangkah dari tempatnya berdiri.
Dia mengambil mukenah untuk melaksanakan sholat subuh, dan kemudian segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Terlihat setelah itu Satya keluar dari kamar mandi. Dia mulai membuka almarinya dan memilih pakaian yang hendak dia kenakan.
__ADS_1
Ada senyum bahagia yang terukir di bibir Hilya saat melihat suaminya tersebut. Dan wanita cantik ini sesekali melihat ke arah suaminya sembari mengaduk masakannya.
Namun kemudian senyumnya memudar, ketika tiba-tiba suaminya yang telah berpakaian rapi meninggalkan apartemennya tanpa sebuah pesan.
"Kreek!!" tiba-tiba Satya membuka pintu apartemen dan menutupnya kembali tanpa berpamitan kepada Hilya.
"Ada apa ya?" tanya Hilya dalam hati dengan mengerutkan dahi. "Kenapa mas Satya tidak berpamitan padaku? Dia juga belum sarapan?" lanjutnya.
"Hmmmmh!!"
Hilya membuang nafas keras sembari duduk di meja makan. Hatinya begitu cemas memikirkan sikap yang ditunjukkan Satya, namun kemudian dia berusaha menepis perasaan cemas itu dengan berfikir positif terhadap sikap suaminya.
"Mas Satya sedang sibuk, pasti dia akan meeting pagi ini, karena itu dia buru-buru pergi," ucap Hilya dalam hati, menguatkan perasaannya kalau tidak ada yang perlu dicemaskan dengan sikap Satya.
******
Akhirnya hari itupun berlalu. Satu hari, dua hari, tiga hari, telah terlewati, hingga satu Minggu pun datang. Dan sampai saat ini Satya masih belum juga menemui Hilya.
"Kabar Mas Satya bagaimana ya Mas Dirga? Apa mas Satya sehat?" tanya Hilya saat laki-laki bernama Dirga itu mengunjungi apartemennya.
"Iya, Satya sehat. Dia sangat sibuk, dia titip salam untukmu, nanti setelah pekerjaannya selesai, dia akan segera mengunjungimu," jawab Dirga dengan tersenyum kepada Hilya.
"Mmm... Iya." Hilya mengangguk sembari menyodorkan secangkir kopi yang sudah dibuatnya untuk Dirga. "Diminum Mas kopinya!" kata Hilya kemudian.
"Hmmm!"
"O, ya. Aku pergi dulu, aku banyak pekerjaan di kantor!" kata Dirga seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, hati-hati!" sahut Hilya dengan tersenyum.
Dirga pun keluar dari apartemen Hilya dengan membawa sejuta beban di dadanya.
"Ya Tuhan, sampai kapan aku membohongi gadis itu!" kata Dirga dengan menghelan nafasnya.
Berlahan pria berkulit sawo matang itu membuka pintu mobilnya.
"Dimana kamu Satya?" ucap Dirga lirih ketika menghidupkan mesin mobil.
Sudah satu minggu ini Satya tidak bisa dihubungi. Satya juga tidak ada di kantornya, dan ketika Dirga mencari Satya di rumahnya, orang tuanya mengatakan kalau sahabatnya itu sedang pergi ke luar kota. Clarissa, kekasih Satya juga mengatakan kalau pria itu sedang pergi untuk urusan bisnis ke luar kota.
Dirga menjadi bingung dengan sikap Satya. Karena tidak biasanya laki-laki itu pergi tanpa memberikan pesan padanya dengan telepon seluler yang dimatikan.
Satu minggu telah berlalu, kini genap dua minggu Satya pergi, dan sampai saat ini Satya juga belum memberi kabar, hingga kemudian satu minggu lagi datang.
Ada rasa cemas di hati Dirga tentang keadaan sahabatnya itu, karena sudah genap tiga minggu pria itu tidak memberi kabar dan tidak dapat dihubungi.
Hingga keesokan harinya, saat Dirga hendak berangkat kerja.
__ADS_1
"Dreeet!!" terasa handphone di saku jasnya bergetar.
"Satya!" ucap laki-laki yang baru menghidupkan mesin mobil itu lirih.
Pria itu bergegas mengangkat telepon selulernya sembari menyetir mobil.
"Kamu dimana?" tanya Dirga saat mengangkat telepon tersebut.
"Aku di kantor, aku ingin bertemu denganmu," sahut Satya.
Seketika Dirga melajukan mobilnya dengan kencang setelah menerima telepon dari Satya. Mobil itu melaju menuju kantor direktur utama Agung Wijaya group.
Dirga bergegas berjalan cepat menuju ruang kerja Satya. Setelah sampai di sana dia langsung membuka pintu ruangan Satya tanpa mengucapkan permisi.
Terlihat seorang pria berjas hitam, berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, menghadap keluar jendela ruangan lantai tujuh.
"Kamu kenapa, menghilang begitu lama, dan tidak menghubungiku?" tanya Dirga memecah lamunan pria itu.
Seketika pria itu menoleh ke arah Dirga.
"Hmmmh!... Ayo duduk!" pria itu tersenyum kecil sembari membuang nafas, dan mempersilahkan Dirga untuk duduk.
Dirga pun bergegas duduk di hadapan pria yang baru saja duduk di kursi kerjanya.
"Ada apa?" tanya Dirga penasaran melihat sikap sahabatnya yang tampak aneh.
"Mmm..."
Sejenak Satya menundukkan kepala saat sahabatnya itu menatap matanya penuh tanya.
"Begini... Aku sudah pikirkan semuanya, aku ingin kamu urus perceraianku saat ini juga," kata Satya.
"Maksudmu?" Dirga seketika mengernyitkan dahi. "Bukankan empat bulan pernikahanmu masih kurang satu minggu lagi," lanjutnya. "Dan kamu pernah bilang, setelah lima atau enam bulan kamu baru akan menceraikan Hilya."
"Tidak! Aku lelah dengan pernikahan konyol ini, aku tidak bisa menunggunya sampai lima atau enam bulan. Aku ingin segera mengakhirinya," ucap Satya.
"Kenapa?"
"Dirga, wanita itu selalu membayang-bayangi pikiranku. Aku tersiksa. Selama tiga minggu ini aku sengaja menenangkan diri. Dan setelah itu aku yakin, ini adalah keputusan yang tepat."
"Apa kamu mulai jatuh cinta padanya?" tanya Dirga dengan kedua alis diangkat.
"Omong kosong!" sahut Satya dengan membuang muka. "Aku mencintai Clarissa, dan aku sama sekali tidak pernah tertarik dengan wanita itu."
"Okey!" jawab Dirga. "Aku akan segera ajukan tuntutan seperti rencana kita di awal," lanjut Dirga. "Kita akan lakukan visum sebagai bukti kalau gadis itu tidak pernah mau kamu gauli, dan aku rasa pengadilan akan langsung memberi putusannya, kamu akan menang di pengadilan," ucap Dirga dengan nada datar.
Bersambung
__ADS_1