
Bel telah berbunyi. Pertanda siswa-siswi SD Harapan Bangsa keluar dari sekolahnya, salah satu Sekolah Dasar elite yang ada di ibu kota.
Hilya dan Pak Juned sudah menunggu Clara di area parkir sekolah.
"Assalamualaikum Clara!" sapa Hilya saat gadis kecil itu berjalan menghampirinya.
Clara hanya terdiam, dan tidak menjawab salam Hilya. Dan Hilya hanya tersenyum melihat sikap gadis kecil judes itu.
"Bagaimana PRnya?" tanya Hilya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Tanpa menjawab Clara langsung menyodorkan buku lembar kerjanya pada Hilya.
Belahan Hilya membuka dua buku LKS yang Clara sodorkan padanya.
"Bahasa Inggris benar semua. Matematika salah lima," kata Hilya.
Setelah itu Hilya menoleh ke arah gadis kecil yang duduk di sampingnya.
"Kak Hilya tidak akan ingkar janji. Jika Kak Hilya tidak bisa menyelesaikan tantangan ini, Kak Hilya harus pergi," kata Hilya dengan mengatur suaranya. "Jujur, kakak masih ingin menemani Clara, membantu Clara belajar, dan mengantar Clara ke sekolah. Tapi apa boleh buat. Kakak harus sportif, dan harus keluar dari rumah Clara. Dan kakak harus melakukannya. Iya kan, Clara?" tanya Hilya sembari bertanya dengan memandang wajah Clara yang masih terlihat mengacuhkannya. "Kecuali jika Clara menahan kakak untuk pergi," tambah Hilya.
Namun Clara masih juga terlihat mengacuhkan Hilya. Gadis kecil itu terus memandang ke depan, matanya tampak kosong menatap arah jalan yang ada di hadapannya.
Berlahan Hilya menyentuh lembut tangan Clara dan menggenggamnya.
"Clara! Clara tidak perlu khawatir, kakak akan tepati janji untuk keluar dari rumah Clara. Sekalipun sebenarnya kakak sangat butuh pekerjaan ini," kata Hilya kemudian dengan suara lembutnya. "Setelah sampai rumah nanti, kakak akan langsung mengemasi barang-barang kakak," lanjut Hilya dengan menepuk-nepuk tangan Clara.
Setelah mengatakan semua itu Hilya mulai menghadap ke depan, dia mengabaikan sikap Clara yang hanya diam mengacuhkannya. Hingga akhirnya mobil yang mereka naiki sampai di rumah Ibu Diana.
Hilya bergegas keluar dari mobil dengan membawakan tas Clara, seorang gadis kecil angkuh yang beberapa jam telah menjadi anak asuhnya.
"Kak Hilya!" tiba-tiba Clara terdengar memanggil Hilya.
Hilya yang berjalan mendahului Clara seketika menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah gadis kecil itu.
"Aku mau Kak Hilya jadi pengasuh aku. Tapi dengan syarat. Kak Hilya harus jadi tante aku kalau di sekolah, karena teman-teman aku di sekolah, mengira kalau Kakak adalah Tante aku. Bukan pengasuh aku," kata Clara ketus seraya berjalan cepat melewati Hilya.
Hilya pun tersenyum mendengar persyaratan yang diungkapkan gadis kecil itu. Seraya mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar.
Setelah mengurus gadis kecil itu untuk mandi dan memakai pakaian, Hilya bergegas menyiapkan makanan. Makanan yang telah disiapkan oleh Bik Rum di dapur, dan Hilya tinggal membawanya ke kamar Clara.
"Clara! Clara makan sendiri atau kakak suapin?" tanya Hilya saat membawa nampan makanan ke kamar Clara.
Clara hanya melirik ke arah Hilya tanpa menjawab.
"Kakak suapin ya! Anggap saja, kakak menyuapi keponakan kakak yang baru pulang dari sekolah, dan dia sedang kelaparan," kata Hilya dengan tersenyum, sembari mengangkat piring berisi nasi dan lauk ke hadapan Clara yang duduk di atas ranjang tidurnya. "Clara bilang, kakak harus jadi tante Clara, kan?" kata Hilya lagi dengan mencoba mencairkan suasana hati Clara yang terlihat beku.
__ADS_1
Setelah itu disuapkannya sesendok nasi ke mulut Clara oleh Hilya.
"Clara tahu? Andai saja kakak benar-benar menjadi tante Clara yang sebenarnya. Pasti kakak akan sangat bahagia. Kakak bisa memanjakan Clara sepanjang hari, dan bisa memeluk, serta mencium Clara setiap waktu," kata Hilya saat menyuapi gadis kecil itu. "Tapi sayang, kakak hanyalah pengasuh Clara. Yang mungkin akan Clara tolak jika kakak ingin memeluk Clara."
Terlihat setelah itu Clara memandangi wajah Hilya, hingga Hilya selesai menyuapinya.
"Kakak!" seru Clara saat Hilya beranjak dari tempat duduknya, dan membalikkan badan hendak melangkah keluar kamar menaruh piring kotor yang ada di tangannya.
Terasa kemudian tangan Clara memeluk erat tubuh Hilya dari belakang.
"Clara!"
Seketika Hilya berbalik dengan menyebut nama gadis kecil itu.
"Kenapa Clara menangis?" tanyanya dengan berjongkok di hadapan Clara, dan menyeka air mata gadis kecil itu dengan tangan kanannya.
"Apa kakak menyayangi aku?" tanya gadis itu dengan suaranya yang lugu.
"Tentu," sahut Hilya dengan meletakkan piring kosong yang ada di tangan kirinya ke atas meja belajar Clara.
"Tapi kan kita baru bertemu?"
"Sayang itu muncul dari hati. Tidak perduli seberapa lama kita bertemu, dan yang kakak rasakan, ada rasa sayang di hati kakak ini untuk Clara," sahut Hilya dengan tersenyum manis.
Terlihat setelah itu Clara membalas senyum Hilya.
"Mmm...Tentu Sayang!" jawab Hilya sembari memeluk gadis yang duduk di hadapannya itu.
****
Kini, Clara dan Hilya menjadi lebih dekat. Clara menjadi gadis kecil yang penurut, dan selalu mendengarkan nasehat Hilya.
Seperti keesokan harinya, Clara menjadi anak yang sangat manis, di hadapan oma dan pamannya.
"Selamat pagi, Oma! Selamat pagi, Om Satya!" sapa Clara dengan tersenyum riang saat menuju meja makan.
Ibu Diana terlihat mengernyitkan dahi, dan sedikit heran dengan sikap ceria cucunya yang mulai menarik kursi untuk duduk di meja makan.
"Clara sepagi ini sudah siap untuk sekolah?" tanya Ibu Diana.
"Iya."
"Hebat ya! Clara sudah bisa bangun pagi, jadi tidak perlu sarapan di mobil," sahut Ibu Diana dengan senyum mengembang.
"Kan, Kak Hilya yang bangunin Clara, dan bantuin Clara mandi pagi," jawab Clara.
__ADS_1
"Mmm... Iya, ya. Oma lupa kalau sekarang ada Kak Hilya yang nemenin Clara," sahut Ibu Diana.
"Mana sekarang Kak Hilya?" tanya Satya kemudian.
"Mmm... Masih bikinin aku susu," sahut Clara.
Terlihat keluarga Agung Wijaya itu mulai menyantap makanannya. Dan ditengah kenikmatan mereka menikmati makan pagi, tiba-tiba Hilya datang membawakan segelas susu untuk Clara.
"Terimakasih Kak Hilya!" kata Clara saat Hilya meletakkan segelas susu itu di hadapannya.
"Sama-sama," sahut Hilya dengan tersenyum.
Terlihat Ibu Diana memperhatikan mereka berdua dengan senyum yang mengembang. Ibu Diana sangat menyukai perubahan yang terjadi pada diri Clara.
"Hilya! Terimakasih ya!" kata wanita cantik itu kemudian.
"Sama-sama Bu!" jawab Hilya dengan mengangguk sopan.
Tidak lama kemudian sarapan itu pun selesai. Ibu Diana berpamitan berangkat ke kantor terlebih dahulu. Sementara Satya masih berada di meja makan, memperhatikan Hilya yang sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa Clara ke sekolah.
"Clara tunggu di mobil ya! Kak Hilya mau ambil tas dulu di kamar," kata Hilya pada Clara setelah bekal yang hendak dibawa ke sekolah siap.
Setelah mengambil tasnya di dalam kamar, Hilya bergegas berjalan untuk keluar dari rumah. Namun saat sampai di ruang keluarga tiba-tiba Satya menjejeri langkahnya.
"Kamu apakan keponakanku, sampai dia bisa berubah jadi baik seperti itu?" tanya Satya lirih saat menjejeri langkah Hilya.
"Doa," jawab Hilya singkat.
"Doa? Bisa merubah Clara secepat itu?" sahut Satya dengan mengernyitkan dahi seolah tidak percaya.
"Kamu pikir, ada kekuatan yang lebih dahsyat selain doa?"
Seketika Hilya melirik pria itu dengan mata angkuhnya.
"Ingat! Di dalam doa ada campur tangan Tuhan, yang bisa merubah apapun dalam sekejap," tambah Hilya dengan suara sinis, sembari meninggalkan laki-laki itu.
Terlihat Satya, lebih mempercepat langkahnya mengikuti langkah cepat Hilya.
"Apa jangan-jangan, proyekku yang saat itu mendapatkan masalah besar, karena doa jelek dari kamu?" tanya Satya dengan memandang Hilya penuh curiga.
"Hmmmmh!"
Seketika Hilya membuang nafas keras.
"Entah kenapa aku bisa bertemu seseorang yang hati dan pikirannya begitu kotor seperti kamu," sahut Hilya kesal. "Padahal demi Allah. Aku tidak pernah berdoa untuk bertemu dengan orang jahat seperti kamu," tambah Hilya sembari berlari meninggalkan laki-laki itu masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan Clara ke sekolah.
__ADS_1
Bersambung