Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 60


__ADS_3

Satya terlihat gelisah saat berada di dalam mobil. Sesekali Dian menghela napas panjang dan mengusap-usap kepalanya. Sepertinya, kata-kata mamanya yang baru saja dia dengar sangat mempengaruhi pikirannya. Namun sekalipun demikian, dia mencoba sejenak menepis kekalutannya, untuk berkonsentrasi dengan pekerjaan yang ada di kantor.


Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga delapan jam telah berlalu.


Tepat jam lima sore. Mobil Satya sudah berada di halaman rumahnya.


Satya bergegas masuk ke dalam rumah dan berjalan cepat masuk ke dalam kamar.


Sepertinya laki-laki itu terburu-buru untuk segera menemui Hilya.


Ketika hendak masuk ke dalam kamar, Satya melihat mamanya sedang berada di dalam kamar itu, dan berbicara dengan istrinya.


Satya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, dia memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mama dan istrinya dari luar kamar. Hingga selang beberapa menit kemudian mamanya dan Hilya mengakhiri pembicaraan itu.


"Satya!"


Ibu Diana terperanjat saat membuka pintu dan melihat Satya berdiri di samping pintu kamarnya.


Dengan perasaan kesal Satya mengikuti langkah mamanya hingga masuk ke dalam kamar wanita paruh baya itu.


"Entah kenapa aku berpikir, kalau Mama tidak menginginkan aku dan Hilya bersatu?"


Satya melontarkan pertanyaan itu saat sudah berada di dalam kamar mamanya.


"Kenapa, Ma? Kenapa Mama mempengaruhi Hilya untuk meminta cerai padaku?"


"Satya!"


Ibu Diana mulai menekan suaranya ketika Satya meninggikan suara.


"Ma! Aku sama sekali tidak ingin bercerai dengan Hilya," tegas Satya.


"Kenapa? Bukankah kalian tidak saling cinta? Kalian sama-sama terpaksa dalam menikah? Jadi untuk apa mempertahankan pernikahan yang terpaksa seperti itu?"


"Mama! Hilya sedang mengandung anakku, Ma! Jadi mana mungkin aku berpikir untuk menceraikan dia."


"Mama tahu! Biarkan untuk sementara Hilya pulang bersama orang tuanya dulu. Dan setelah nanti anak kalian lahir. Kamu bisa memulai proses perceraian."

__ADS_1


"Mama! Aku tidak pernah ingin menceraikan Hilya!" ucap Satya lagi.


"Kenapa? Kamu tidak mencintainya, untuk apa mempertahankannya?"


"Ma! Jika aku memang belum mencintainya, aku akan berusaha mencintainya," sahut Satya.


"Satya! Berhenti bertingkah konyol! Hilya bukanlah gadis yang bisa membuat kamu jatuh cinta. Hilya bukanlah wanita yang bisa membuat kamu bahagia. Pikiran semuanya sebelum kamu menyesal!"


Ibu Diana terlihat kesal.


"Hilya bukanlah gadis dari kalangan atas yang sepadan dengan keluarga kita. Dia gadis kampung yang lugu. Pikiran semuanya! Apa kamu sanggup, ketika semua orang melihat Hilya tidak bisa membawa diri di depan kolega dan teman-teman kamu? Teman-teman mama? Kolega mama?" tambah Ibu Diana. "Mama tidak yakin, Hilya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan papan atas keluarga kita."


"Ma! Hilya bukan gadis bodoh. Dan Satya tidak terima, Mama mengatakan Hilya tidak sepadan dengan keluarga kita," sahut Satya.


"Jika mama takut Hilya tidak bisa membawa diri di depan kolega Mama. Mama tidak perlu khawatir! Satya akan mengajarinya," kata Satya kesal seraya keluar dari kamar mamanya. Dan terlihat kakinya melangkah cepat menuju kamarnya.


****


Ceklek!


Terdengar Satya membuka pintu kamar.


"Barang-barangku hanya sedikit, sebagian masih ada di asrama sekolah," kata Hilya.


"O, iya. Besok aku akan ikut orang tuaku pulang. Ibu Diana sudah memberi aku ijin, dan Beliau sendiri yang akan mengantar kami."


Berlahan Satya menghampiri Hilya, dan duduk di samping wanita itu.


"Aku tidak ingin kamu pergi! Tolong percayalah! Aku tidak sedang berpura-pura! Aku ingin memperbaiki semuanya! Aku ingin kamu tetap ada di sini!"


Satya mengatakannya dengan menyentuh tangan Hilya.


"Aku sudah memutuskan Clarissa. Aku sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita mana pun. Jadi tolong, jangan pergi! Aku tidak ingin kita bercerai," tambah Satya.


"Hmmmmh!"


Hilya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Aku ingin kita bercerai!" sahut Hilya. "Tetap seperti yang pernah aku katakan. Aku tidak akan menuntut apa pun darimu! Nama baikmu akan tetap terjaga. Jadi, jangan pernah takut, sekali pun kita bercerai semua akan tetap baik-baik saja."


Hilya melepaskan genggaman tangan Satya dan kemudian melangkah meletakkan tas pakaian di sudut kamar.


Seketika Satya mengikuti langkah Hilya, dan mendekapnya dari belakang.


"Aku tidak ingin kamu pergi! Aku tidak ingin kamu pergi!" bisik Satya di telinga Hilya.


Hilya berusaha melepaskan dekapan kuat laki-laki itu.


"Kamu adalah pria yang tampan dan kaya. Tentunya tidak sulit mencari wanita yang kamu suka," kata Hilya dengan menoleh ke arah Satya.


"Aku sangat lelah! Aku ingin istirahat!" lanjutnya dengan melangkah menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya.


"Jika aku pria tampan dan kaya, kenapa kamu tidak ingin mempertahankan diriku?" tanya Satya.


"Kita berbeda kufu, aku tidak mungkin bisa menyesuaikan diri dengan kehidupanmu. Dan kamu juga. Apa mungkin, kamu bisa menjadi suami dan imam yang dapat menyejukkan hatiku?"


"Katakan padaku? Apa yang harus aku lakukan untuk menjadi suami dan imam yang bisa menyejukkan hatimu?"


Satya berkata dengan menghampiri Hilya yang sudah berbaring di tempat tidur.


"Hmmmmh!"


Hilya tersenyum tipis dengan menoleh ke arah Satya yang sudah duduk di tepi ranjangnya.


"Menjadi imam salatku? Kamu bisa?"


"Bagaimana caranya? Ajari aku?" kata Satya dengan menatap mata Hilya.


"Mmm... Sehari tidak cukup untuk belajar semua itu! Lagi pula besok aku sudah pulang. Jadi, jika kamu berniat belajar, carilah guru agama yang baik untuk mengajarimu!" jawab Hilya dengan mengalihkan pandangannya, membalikkan badan membelakangi Satya.


"Okey! Aku masih suamimu saat ini! Sekali lagi aku meminta! Jangan kamu keluar dari rumahku! Aku tidak ingin kamu pergi! Aku sungguh-sungguh tidak ingin kamu pergi!" kata Satya.


Terlihat laki-laki itu masih duduk di tepi ranjang. Dan Hilya tampak tidak memperdulikan permintaannya.


"Jika boleh berbuat kejam! Aku akan kembali menyekapmu di apartemen, agar kamu tidak pernah kabur dariku. Tapi aku tidak bisa melakukannya saat ini. Karena semua orang memperhatikanku. Jadi tolong, jangan siksa diriku! Jangan pernah pergi! Aku mohon!" kata Satya dengan menyentuh ujung kaki Hilya.

__ADS_1


Hilya yang sedang berbaring di tempat tidurnya, tampak meneteskan air mata. Entah apa yang wanita cantik itu rasakan, sebuah perasaan sedih karena akan meninggalkan Satya, atau sebuah penyesalan hidup karena telah ditakdirkan menikah dengan Satya.


Bersambung


__ADS_2