
Setelah kepergian Dirga dari kamarnya, Satya kembali memikirkan kata-kata Dirga. Timbul pertanyaan di benaknya, mungkinkan dokter Candra akan mempengaruhi Hilya untuk menuntut dirinya.
Ada perasaan cemas di pikirannya, kalau-kalau dokter Candra benar-benar akan melakukan hal itu.
"Hmmmh!"
Terdengar dia membuang napas kuat, dan kemudian menepis perasaannya itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kakinya mulai melangkah mendekat ke arah tempat tidur Hilya. Dengan perasaan kacau, dia memandangi wanita yang terkulai lemas di atas bed rumah sakit karena keegoisannya itu.
Ada rasa bersalah di hatinya. Apalagi saat ini, wanita itu tengah mengandung anaknya.
Namun tiba-tiba di tengah kegundahannya, seorang wanita dengan selang infus di tangan masuk ke dalam kamar itu mengejutkan dirinya.
"Clarissa? Kenapa kamu ada sini?" tanyanya kaget, saat melihat mantan tunangannya tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Sayang! Aku tahu kamu adalah laki-laki yang baik! Aku tahu kamu memutuskan hubungan kita, dan lebih memilih wanita itu meskipun bukan atas dasar cinta. Kamu melakukannya, karena alasan kemanusiaan. Aku tahu, sebenarnya kamu masih mencintai aku," kata Clarissa dengan memeluk erat Satya.
"Sayang! Dengarkan aku! Jika wanita itu sudah melahirkan. Ceraikan dia! Aku siap menunggu kamu, sampai waktu itu tiba. Setelah itu, kita akan mulai dari awal lagi hubungan ini. Kita besarkan anak kamu bersama-sama! Aku siap menyayangi anak kamu seperti anakku sendiri!"
Clarissa menatap mata Satya dengan tulus. Mencoba meyakinkan mantan kekasihnya itu, kalau sebenarnya mantan kekasihnya itu masih sangat mencintai dirinya.
"Clarissa! Tidak! Tolong jangan seperti ini! Kita, sudah berpisah. Dan tidak mungkin bersama lagi."
Satya mengungkapkannya dengan sangat lembut, seraya melepaskan pelukan Clarissa.
"Sekarang, kembalilah kamu ke kamarmu!" kata Satya kemudian meminta Clarissa untuk pergi.
"Hmmmm! Hmmmm!"
Di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba terdengar suara Hilya mengigau.
Sepertinya dalam keadaan tidak sadar Hilya mengalami mimpi buruh yang membuat dia sulit untuk bernapas.
"Hilya!"
Seketika Satya menoleh ke arah Hilya, dan bergegas menghampiri bednya, meninggalkan Clarissa yang masih berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Hilya!"
Satya kembali memanggil nama Hilya dan menggenggam tangannya. Namun terlihat Hilya masih tidak terjaga.
"Aku mohon, pergilah!" kata Satya kemudian dengan menoleh ke arah Clarissa.
Berlahan Clarissa mundur, dan kemudian berbalik meninggalkan Satya yang terlihat sangat mengkhawatirkan Hilya.
Tampak kesedihan, dan air mata mengalir di wajah Clarissa.
Wanita itu tampak mengusap-usap dadanya. Menahan sesak di dalam hati yang berkecamuk, karena sikap tidak adil yang dia peroleh dari kekasihnya.
"Dia masih mencintaiku! Dia masih mencintaiku!" gumamnya dengan air mata yang semakin tumpah.
*******
Hari itu telah berlalu. Namun sampai saat ini Hilya belum juga sadarkan diri.
Pagi ini dokter mengatakan, kalau Hilya bukanlah pingsan, melainkan tertidur lelap, dan memang belum terjaga.
Ungkapan dokter itu, tampak membuat Satya dan Ibu Diana dapat bernapas lega.
"Mmmm..."
Ibu Diana mengangguk, tanpa melihat ke arah Satya.
"Hmmm... Terima kasih Ma!"
Satya tersenyum, sembari memeluk mamanya yang masih terlihat kesal dengan sikapnya.
Ceklek!
Tiba-tiba terdengar suara seseorang masuk ke dalam ruangan.
Satya dan Ibu Diana yang saat itu berdiri di depan tempat tidur Hilya, seketika menoleh ke arah pintu secara bersama-sama.
"Dokter Melvi!" sapa Ibu Diana seraya menghampiri dokter Melvina yang melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan baju dinasnya.
__ADS_1
Setelah menyapa dan saling berpelukan, Dokter Melvina segera menghampiri tempat tidur Hilya, dan kemudian memeriksa wanita itu.
"Tadi dokter mengatakan, kalau saat ini Hilya sedang tidur lelap," terang Ibu Diana saat melihat dokter Melvi memeriksa menantunya tersebut.
Melihat mamanya berbincang akrab dengan dokter Melvina, Satya memutuskan untuk keluar dari ruang itu.
Dan ketika dia membuka pintu, tampak seorang laki-laki berjas putih, dengan kemeja biru di dalamnya, dan stetoskop di lehernya, berdiri menghadang langkahnya.
"Dokter Candra!" sapanya. "Mmm.... Sedang apa di sini? Istriku sudah lebih baik," kata Satya dengan menutup pintu kamar rawat inap istrinya dari luar.
"O, iya. Aku sudah siapkan beberapa pengacara terbaik untuk melindungi Hilya, dan membantunya di pengadilan nanti. Karena aku yakin, setelah Hilya sadar, dia tidak akan mau berada didekatmu lagi."
Dokter Candra mengatakannya dengan tersenyum mengejek ke arah Satya.
"Hmmm!"
Satya pun membalasnya dengan senyum tenang.
"Terima kasih sudah sangat perhatian dan perduli pada istriku! Tapi kalau boleh aku sarankan, jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga kami! Karena bisa jadi, setelah sadar nanti, istriku tidak akan pernah mau menerima bantuan apa pun darimu!" ujar Satya.
"Hmmmh!"
Dokter Candra tersenyum sinis.
"Jika Hilya selama ini menyembunyikan status pernikahannya denganmu. Itu menunjukkan, kalau kamu adalah laki-laki yang sangat jahat, yang bisa menyakiti dirinya! Dan terbukti! Sampai saat ini Hilya belum sadar. Dan semua itu karena ulahmu!" ujar dokter Candra.
"Jadi, bersiap-siaplah! Karena aku akan membantu Hilya untuk menuntutmu di pengadilan! Bahkan mungkin, untuk menjebloskanmu ke penjara!"
"Hmmmh!"
Satya kembali tersenyum, menunjukkan sikap tenang, seolah tidak mencemaskan peringatan yang diucapkan Dokter Candra.
Berlahan kakinya melangkah seraya menepuk pundak dokter tampan itu, sebelum meninggalkannya pergi.
"Sial!" gumamnya kesal ketika sudah berada jauh dari tempat Dokter Candra berdiri.
Tidak dapat dimungkiri, kalau kata-kata dokter Candra ternyata sangat mempengaruhi pikiran dan emosinya. Laki-laki tampan itu tampak gusar, cemas, dan geram saat menuju lift rumah sakit untuk berjalan keluar.
__ADS_1
Bersambung