
Saat ini Satya dan Hilya sudah berada di lobby hotel.
Tampak sopir mereka menggendong Clara yang sudah tertidur.
"Selamat malam, Pak!"
Terlihat semua karyawan di hotel itu menyapa Satya dengan sopan seraya menganggukkan kepala.
"Kamar sudah siap, Pak. Mari!" kata seorang manager hotel dengan mengantar Satya dan Hilya menuju kamar.
Sementara di belakang mereka seorang kurir mengikuti langkah mereka membawa barang-barang Satya dan Hilya.
"Satya!"
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan seorang laki-laki bertubuh atletis, berkulit hitam manis menyapa Satya, dan kemudian memeluknya.
"Selamat malam Hilya!" sapanya pada Hilya yang saat itu tengah berdiri tidak jauh di belakang Satya.
Hilya tidak menyahuti sapaan laki-laki itu, dia hanya tersenyum sinis.
"Ternyata, aura wanita yang sedang hamil itu berbeda. Terlihat lebih segar dan cantik!" puji laki-laki itu pada Hilya sembari melirik Satya.
Hilya kembali tersenyum sinis.
"Bagaimana proses perceraianku, kapan aku bisa menerima surat cerainya?" tanya Hilya pada laki-laki itu.
"Suamimu berubah pikiran. Sepertinya dia ingin rujuk kembali, dan memperbaiki pernikahan kalian."
"Omong, kosong!" sahut Hilya kesal dengan tidak melihat ke arah laki-laki yang tidak lain adalah Dirga itu.
Hilya terlihat melanjutkan langkahnya.
"O, ya. Pak! Di mana kamar saya?" tanya Hilya kemudian pada seorang manager hotel.
"Di sana, Mbak! Mari!" sahutnya sembari menggiring langkah Hilya.
Sementara Satya dan Dirga, tampak mengikuti langkah wanita yang terlihat marah itu.
"Mari, masuk! Ini kamarnya!" kata manager hotel dengan membuka pintu kamar, dan mempersilahkan Hilya untuk masuk.
Hilya pun masuk ke dalam kamar itu. Kamar V-VIP yang sengaja disiapkan Satya untuknya.
"Terima kasih!" kata Satya sembari menerima kunci kamar berbentuk kartu dari tangan managernya.
"Sama-sama, Pak!" sahut manager itu dengan mengangguk sopan. "Untuk makan malam, saya antarkan ke dalam kamar, atau saya siapkan di meja restauran, Pak?"
"Mmm... Bawa ke sini saja!" sahut Satya.
__ADS_1
"Baik! Saya permisi dulu!" kata laki-laki itu dengan sopan.
Setelah managernya pergi. Kurir hotel yang sudah meletakkan barang-barang di dalam kamar, dan sopir yang sudah membaringkan Clara di tempat tidur, ikut berpamitan untuk pergi.
Berlahan Satya melangkah menghampiri Hilya yang terlihat membuka kelambu jendela hotel.
Terlihat kerlap-kerlip lampu malam, dan hamparan bibir pantai saat Hilya membuka kelambu itu.
"Kamu senang?" tanya Satya dengan langkah lebih mendekat ke arah Hilya, yang terlihat menikmati pemandangan itu.
Seketika Hilya menoleh ke arah laki-laki yang berdiri di belakangnya.
"Hmmmh! Aku tidak tahu, aku harus senang atau bersedih? Karena bisa jadi, kalian berdua sengaja membawaku kesini. Dengan niat untuk menyanderaku kembali," kata Hilya seraya kembali melihat ke arah pantai.
Satya dan Dirga yang mendengarkan ungkapan Hilya seketika bergeming.
Dan, kemudian terdengar Satya menghela napas panjang.
Dirga yang saat itu berdiri di belakang Satya berlahan menghampiri Satya, seraya membisikkan sesuatu di telinganya.
"Jika kamu tidak berniat menceraikan Hilya! Segera perbaiki semuanya! Dan berusahalah untuk memenangkan hatinya! Karena aku lihat, dia sangat benci dan tidak percaya padamu!" ucap Dirga lirih seraya berbalik meninggalkan sahabatnya, keluar dari kamar hotel itu.
Satya mulai memikirkan kata-kata Dirga. Matanya terus memperhatikan Hilya yang saat itu berdiri membelakanginya menghadap ke arah jendela.
"Istirahatlah! Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa gunakan telepon ini, untuk mengubungi resepsionis atau pelayan hotel!" kata Satya dengan meletakkan kunci hotel berbentuk kartu persegi itu di samping telepon yang ada di meja kamar.
"Sebentar lagi mereka akan mengirimkan makanan! Jika tidak cocok, kamu bisa minta menu yang lain! Makanlah yang banyak, agar kamu dan bayimu sehat! Aku pergi dulu!" katanya, sembari melangkah menuju ke luar kamar.
Waktu terus berjalan, tidak terasa malam itu telah berlalu, dan kini pagi menjelang.
Hilya tampak menikmati sejuknya udara pagi saat membuka jendela hotel. Sementara Clara masih terlihat tidur nyenyak di atas kasur empuk hotel.
Terdengar seorang pelayan hotel mengetuk pintu.
"Selamat pagi!" sapa pelayan itu saat Hilya membuka pintu.
Ternyata tiga orang pelayan itu datang membawakan beberapa menu sarapan untuk Hilya.
"Banyak sekali?" tanya Hilya saat tiga pelayan itu mulai menata semua menu makanan di meja.
"Iya! Ini semua perintah dari Pak Dir. Agar kami melayani ibu dengan baik," jelas salah satu pelayan itu dengan tersenyum.
"Jika Ibu mau, Ibu bisa sarapan di restauran kami, pemandangannya juga mengarah ke pantai, dan sangat indah," kata salah satu yang lain.
"Iya, terimakasih!" sahut Hilya dengan membalas senyum mereka.
"Silahkan dinikmati sarapannya! Kami permisi dulu!" ucap ketiga pelayan itu, sebelum mereka meninggalkan kamar Hilya.
__ADS_1
Namun saat Hilya hendak menutup pintu kamar, tiba-tiba seorang laki-laki berkulit putih bersih, tampan, dengan senyum menawan berdiri dihadapannya.
"Bagaimana tidur semalam? Nyenyak?" tanya Satya sembari melangkah masuk ke dalam kamar.
Hilya hanya diam dan tidak menyahutinya. Dia menutup pintu dan kemudian duduk di meja yang sudah penuh dengan menu sarapan.
"Aku akan rapat dengan klien pagi ini," ujar pria yang sudah mengenakan jas rapi itu, sembari duduk di hadapan Hilya. "Doakan aku ya!" katanya dengan menyentuh tangan Hilya yang saat itu berada di atas meja.
"Atas dasar apa aku mendoakanmu?" sahut Hilya sembari menarik tangannya. "Kita sudah bercerai. Jadi aku tidak perlu lagi mendoakan kamu."
"Kita belum bercerai," sahut Satya.
"Kamu sudah mentalak aku!"
"Aku mau rujuk kembali!"
"Aku tidak mau!"
"Kenapa?"
"Karena kamu bukanlah laki-laki yang pantas untukku!" sahut Hilya dengan tegas.
Terlihat Satya menatap wajah Hilya dengan menghela napas dan tersenyum berat.
"Anak dalam kandunganmu, butuh aku!" kata Satya lembut.
"Jangan terlalu G R. Anakku tidak butuh seorang ayah pecundang!" sahut Hilya ketus, dengan membuang muka
"Hmmmh!"
Satya terdengar membuang napas keras.
"Aku menginginkan anak itu," sahut Satya masih dengan suara lembut.
"Berhenti berpikir untuk mengambil apa yang menjadi kebahagiaanku. Cukup kamu mengambil impian dan masa depanku saat itu. Dan sekarang, tolong jangan mengusik aku dan anakku! Jangan berpikir untuk merebutnya dariku!" kata Hilya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu dan Clarissa akan segera menikah. Dan kalian akan memiliki seorang anak. Jadi, biarkan aku dan anakku, hidup dalam ketenangan!"
Satya hanya bergeming, dengan memperhatikan wajah Hilya yang mulai meneteskan air mata.
"Aku..."
Ditengah keseriusan percakapan mereka, tiba-tiba handphone di saku jas Satya bergetar. Satya menghentikan kata-kata yang hendak diucapkannya pada Hilya.
Satya meraih handphone itu, dan memeriksa pesan yang dikirim seseorang padanya.
"Klienku sudah datang. Aku harus ke ruang meeting sekarang. Kita bahas lagi semua ini nanti!" kata Satya dengan menyentuh pipi Hilya dan kemudian beranjak dari kursi.
__ADS_1
"O, iya. Makanlah yang banyak! Jaga anak kita!" pesannya sebelum dia menutup pintu kamar untuk pergi.
Bersambung