Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 5


__ADS_3

Satu hari, dua hari, tiga hari, hingga akhirnya sampailah acara pernikahan Satya dan Hilya.


Acara pernikahan itu digelar dengan sangat mewah dan meriah di rumah orang tua Hilya, Haji Abdul Ghofur.


Dirga beserta rombongan yang kurang lebih sebanyak lima puluh orang, datang ke acara pernikahan itu sebagai keluarga Satya.


Acara pun berjalan dengan hikmad, meski pernikahan itu hanya sandiwara bagi Satya, namun Satya mengucapkan Ijab Kabul dengan sempurna, dan Hilya seorang gadis yang dia nikahi, benar-benar menganggap pria itu ikhlas menikahinya.


Hilya yang saat itu dibalut kerudung dan baju pengantin warna putih tampak mencium tangan Satya setelah semua saksi mengatakan shah. Dan kini mereka telah resmi sebagai pasangan suami istri.


Setelah acara pernikahan, Dirga yang mengaku sebagai keluarga terdekat Satya, meminta izin kepada orang tua Hilya untuk membawa Hilya ikut bersama mereka.


Entah bagaimana Dirga meyakinkan orang tua Hilya, hingga orang tua Hilya dengan suka rela melepas anak semata wayangnya itu untuk ikut bersama mereka.


"Ikutlah bersama suamimu! Jadilah istri yang baik! Dukung setiap langkah suamimu, berbaktilah padanya! Ingat, surga abah dan ummi ada pada seorang anak yang menjadi istri salihah! Dan saat ini ridho suami adalah ridho tuhanmu!" pesan Hajjah Halimah kepada putrinya, sebelum putrinya melangkah meninggalkan rumah.


Tak terasa air mata Hilya berlinang, dipeluk dengan erat tubuh Abah dan umminya sebelum dia pergi.


Terlihat ada beban di mata Hilya, "Andai Abah dan ummi melarang aku pergi, pasti aku akan sangat bahagia," ucapnya dalam hati.


Dengan tangis haru, akhirnya keluarga Haji Abdul Ghofur melepas kepergian putrinya.


"Abah percaya suami kamu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Jadi, abah yakin pasti kamu akan sangat bahagia," kata Abah Hilya saat mengantar putrinya masuk ke dalam mobil BMW X4 warna hitam milik menantunya.


Air mata Hilya tidak berhenti berlinang, bahkan ketika mobil yang dinaikinya berjalan, hingga sampailah mobil itu di halaman parkir hotel berbintang. Sebuah hotel yang masih ada di pertengahan kota tempat tinggal Hilya, yang jaraknya sekitar dua jam dari rumah gadis itu.


"Selamat berbulan madu!" kata Dirga pada Satya saat telah sampai di depan pintu kamar hotel yang sengaja dia pesan untuk sahabatnya.


Satya tersenyum, kemudian tampak dua laki-laki itu mengepalkan tangan kanannya, lalu saling memukulkan satu sama lain seolah melakukan tos.


Dan tiba-tiba terdengar handphone di saku Dirga berdering.


"Hello Mr. Jhon!"


Dirga mengangkat telepon tersebut.


"Yes Mr. Jhon, we have arranged everything, soon the two hundred and fifty hectares of land will belong to Mr. Satya, and our project will continue as planned."


Dirga tampak berbicara dengan laki-laki yang bernama Mr. Jhon dalam bahasa Inggris.


"Mmm... Maaf, aku pergi dulu!" pamit Dirga kemudian pada Satya dan Hilya.

__ADS_1


Sesaat setelah Dirga pergi, Satya menggiring Hilya untuk masuk ke dalam kamar. Hilya mulai meletakkan barang-barangnya, sementara Satya berjalan menuju ranjang tidur mereka, dan mulai berjibaku dengan handphonenya.


Berlahan Hilya melangkah mendekati Satya. Dengan wajah gelisah gadis cantik ini duduk pelan di samping laki-laki yang telah menjadi suaminya.


"Mmm... Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Hilya memberanikan diri memulai percakapan.


"Boleh, silahkan!" sahut Satya seraya menoleh ke arah wanita berkerudung syar'i warna merah jambu itu.


"Mmm... kalau boleh tau, apa alasan Mas Satya menikah denganku?"


Sejenak Satya memandang wajah gadis itu. Kemudian menghelan nafas dan mengalihkan pandangannya, tampak dia berfikir jawaban apa yang hendak dia berikan pada Hilya.


"Aku pernah membaca sedikit artikel tentang Mas Satya," tambah Hilya.


"O iya, artikel tentang apa?"


"Mas Satya seorang eksekutif muda yang sukses, seorang direktur sebuah perusahaan besar," terang Hilya. "Aku merasa aneh, kenapa Mas Satya mau menikah dengan aku, seorang gadis yang berasal dari desa di pinggiran kota kecil?"


"Baca di mana artikel itu? Mungkin itu bukan aku," jawab Satya.


"Masih aku screen shot, ini!" Hilya menunjukkan gambar yang ada di ponselnya kepada Satya.


Sejenak Satya bergeming setelah melihat gambar yang ditunjukkan oleh Hilya, gambar dirinya memakai jas warna hitam yang disertai dengan tulisan narasi di bawahnya.


"Mas Satya juga akan menyelesaikan sebuah proyek dengan Mr. Jhon, kan?"


"Maksud kamu?" Satya seketika mengernyitkan dahinya.


"Tadi, Mas Dirga bilang di telepon kalau tanah seluas dua ratus lima puluh hektar akan menjadi milik Mas Satya, dan kalian akan segera menyelesaikan proyek dengan Mr. Jhon, kan?"


"Tunggu, tunggu! Kamu mengerti apa yang Dirga bicarakan tadi?" tanya Satya.


"Iya, kenapa?"


"Kamu mengerti bahasa Inggris?" Satya bertanya seolah tidak percaya.


"Iya."


"Ooh..."


Satya terheran, kepalanya mengangguk-angguk sembari mengalihkan pandangannya yang semula menatap Hilya. Sepertinya Satya masih penasaran dengan pengetahuan yang dimiliki oleh Hilya, karena selama ini informasi yang didapatkan dari Dirga, Hilya adalah gadis desa yang lugu dan bodoh.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, kamu belajar apa saja di pesantren?" tanyanya kemudian.


"Hmm..." Hilya tersenyum. "Aku belajar di pesantren moderen, selain belajar ilmu agama, dan ilmu pengetahuan, ada tiga bahasa asing juga yang diajarkan di sana, bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa sehari-hari, sementara bahasa Jepang masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler."


"Ooh..." Satya kembali mengangguk-angguk. "Kurang ajar sekali Dirga!" gumam Satya lirih.


"Apa?"


Hilya yang sedikit mendengar umpatan Satya seketika bertanya.


"Mmm, tidak. Aku hanya tidak tahu, kalau kamu belajar di pesantren moderen seperti itu," sahutnya dengan tersenyum.


"Di pesantren tempatku belajar juga memfasilitasi siswa berprestasi yang ingin melanjutkan pendidikan S1 dan S2 ke luar negri."


"O, iya?"


"Iya," tiba-tiba Hilya menunduk. "Sebenarnya aku lolos seleksi beasiswa pendidikan S2 di KIIFAL," lanjutnya.


"KIIFAL?"


"Iya, Khartoum International Institute For Arabic Language Sudan," jawab Hilya.


"Kamu mendapatkan beasiswa S2 di sana?"


"Iya."


"Mmm... Hebat! Kenapa tidak kamu ambil kesempatan itu?"


"Hmm..." Hilya tersenyum. "Andai saja Mas Satya tidak melamar aku, pasti Abah dan ummi tidak akan memaksaku untuk segera menikah," jawabnya lesu.


"Oooh... Kenapa kamu tidak menentang keinginan abah dan ummi?"


"Jika aku memilih jalan yang orang tuaku tidak ridho, aku takut Allah tidak akan ridho dengan jalanku," sahut Hilya lembut. "Berbakti kepada orang tua, mungkin itu keputusan yang terbaik."


Sejenak gadis itu menunduk, tampak guratan kesedihan di raut wajahnya, dan tampak jelas bahwa pernikahannya dengan laki-laki yang duduk di sebelahnya tersebut sama sekali tidak membuatnya bahagia.


"O iya, sebentar lagi magrib, aku ke kamar mandi dulu ya mas!" pamitnya kemudian seraya bangkit meninggalkan Satya.


Satya tersenyum dan mengangguk saat gadis itu berpamitan padanya.


Setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam kamar mandi, Satya segera mengambil handphone gadis itu dari dalam tasnya, dan bergegas keluar dari kamar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2