Bidadari Spesial

Bidadari Spesial
Bab 15


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan belas tiga puluh menit, Satya mulai turun dari gedung lantai tujuh kantornya.


Dia berjalan menuju area parkir setelah sampai di lobby kantor.


Dibukanya pintu mobil mewah warna sonic silver.


Masih terlihat kegelisahan di wajah Satya. Pria itu tampak cemas ketika menyetir mobilnya, sesekali dia membuang nafas keras. Hingga kemudian dia membalikkan arah mobilnya, setelah sampai di persimpangan jalan.


Ternyata pria ini memutar arah mobilnya menuju apartemen miliknya yang ditempati Hilya.


Tiga puluh menit kemudian mobil pria ini pun telah sampai di sana. Dengan langkah ragu pria ini berjalan menuju apartemen.


"Kreek!!"


Dia membuka pintu apartemen dengan pelan.


Suasana apartemen itu tampak sepi. Mata Satya mulai menyelidik ketika wanita yang biasa menyambutnya dengan salam di tempat itu tidak dia jumpai.


Pikirannya mulai cemas, pikirannya mulai menerka-nerka tentang hal buruk yang terjadi pada Hilya.


"Jangan-jangan gadis itu bunuh diri di kamar mandi?" ucapnya dalam hati. "Hilya!!" serunya kemudian dengan wajah penuh kekhawatiran sembari berjalan cepat menuju toilet yang ada dalam ruangan itu.


"Allahu Akbar!!"


Suara takbir itu seketika menghentikan langkahnya.


Ternyata Hilya sedang bersujud di sebelah kanan tempat tidurnya, yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi ruangan itu.


Satya mulai mengatur nafasnya sembari memandangi gadis yang tengah menjalankan ibadah.


Berlahan kakinya melangkah mundur, dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Tidak lama kemudian Hilya telah selesai menjalankan ibadahnya.


"Assalamualaikum mas, maaf tadi aku masih sholat isya'!"


Hilya beranjak dari atas sajadahnya menghampiri Satya. Tampak setelah itu Hilya mencium tangan kanan Satya.


"Mas Satya mau minum apa? Aku siapkan makan dan minum ya!"


Wanita yang masih mengenakan mukenah ini, mulai menawarkan makan dan minum dengan lembut kepada suaminya.


"Tidak usah, kamu teruskan saja ibadahmu. Aku bisa ambil makanan sendiri," sahut Satya seraya beranjak dari sofa menuju dapur apartemen itu.


"Mmm..."

__ADS_1


Gadis itu tersenyum sembari berbalik menuju tempat tidurnya.


Terlihat dia membuka mukenah, dan melipatnya. Setelah itu, dia mulai merapikan jilbabnya, pasmina coklat tua dengan tunik warna coklat muda, setelan pakaian yang sangat cantik dan serasi saat dikenakan oleh gadis desa berkulit putih bersih ini.


Setelah merapikan penampilannya. Hilya bergegas menghampiri seorang pria yang sedang mengaduk secangkir kopi di dapur.


"Mas, apa perlu aku siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Hilya mengejutkan pria itu.


Pria itu tampak tercengang saat menoleh ke arah Hilya, gadis cantik, sederhana, santun yang begitu lembut padanya.


"Mmm... Tidak usah, aku bisa sendiri."


Satya kembali menolak tawaran Hilya dengan kembali berkonsentrasi mengaduk kopi. Sepertinya Satya sengaja menghindari tatapan mata Hilya yang begitu lembut dan menyentuh hatinya.


"Mas Satya sudah memiliki istri. Jadi, biarkan aku membantu Mas Satya ya! Izinkan aku berbakti!" sahut Hilya dengan meraih secangkir kopi yang tengah Satya aduk. "Mas Satya tunggu saja di meja makan! Biar Hilya yang antar kopinya ke sana."


"Mmm..."


Satya tersenyum tipis. Dia tidak banyak bicara. Dia segera menuju meja makan, mengiyakan kemauan Hilya.


Tak lama setelah Satya duduk di meja makan. Hilya pun mengikutinya, membawakan kopi, dan menghidangkan makan malam untuknya.


"Mas Satya makan dulu ya! Aku akan siapkan air hangat dan handuk untuk Mas Satya mandi," kata Hilya sembari melangkah meninggalkan suaminya yang tengah duduk di meja makan.


"Mmm..."


Tujuh menit kemudian Hilya sudah keluar dari kamar mandi.


"Mas, air hangatnya sudah siap, apa perlu aku siapkan baju ganti?" tanyanya lagi.


"Tidak usah, aku bisa ambil sendiri," jawab Satya seraya beranjak dari meja makan, dan berjalan menuju kamar mandi.


Tampak sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Satya membuka almarinya, mengambil sehelai pakaian dan celana untuk dia kenakan setelah mandi.


Sekitar tiga puluh menit Satya di dalam kamar mandi, dan setelah itu dia keluar dengan wajah yang segar.


"Mas Satya mau aku buatkan cemilan?" tanya Hilya saat pria itu baru keluar dari kamar mandi.


"Tidak usah," jawabnya singkat.


"Tok tok tok!!!" terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


Satya segera berjalan dan membuka pintu tersebut.


"Terimakasih ya!" ucap Satya pada seseorang yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Ya pak, sama-sama," sahut orang tersebut.


Sepertinya orang itu adalah karyawan Satya yang sengaja datang untuk mengantar barang-barang Satya dari kantor. Karena ketika masuk ke dalam apartemen, Satya membawa laptop dan beberapa map berisi file.


Setelah menutup pintu dengan rapat Satya mulai meletakkan barang-barang itu di atas meja.


Tak sengaja dia melihat gadis yang sedari tadi memperhatikan dirinya dari atas tempat tidur.


"Aku sedang banyak pekerjaan. Kamu tidurlah dulu!" kata Satya seraya duduk di sofa dan mulai berjibaku dengan laptopnya.


Gadis itupun segera berbaring dengan menarik selimut yang ada di atas tempat tidur.


"Kenapa Mas Satya sepertinya sengaja menghindariku ya?" tanya Hilya dalam hati.


Sesekali Hilya melihat ke arah Satya yang semakin fokus pada pekerjaannya. Hingga kemudian kantuknya tiba, dan dia terlelap di dalam selimut tebal yang menghangatkannya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam dua dini hari. Tiba-tiba Hilya terjaga, dia mulai memperhatikan sekeliling ruangan, dia melihat Satya tertidur di sofa dekat meja tempatnya bekerja.


Berlahan gadis itu turun dari atas tempat tidur. Dibawanya selimut hangat yang tadi dipakainya. Dan dia mulai menutupkan selimut itu ke tubuh Satya yang tertidur lelap di sofa.


Dipandangi wajah Satya yang terlihat sangat pulas dan kelelahan.


"Ya Allah, berikanlah kesehatan pada suamiku! Panjangkan umurnya, dan mudahkanlah segala usahanya!" kata Hilya lirih seraya menyentuh lembut pipi Satya yang terasa kasar karena ada sedikit bulu yang belum dia bersihkan.


Setelah itu Hilya segera menuju kamar mandi, membersihkan diri, dan kemudian mulai melaksanakan ibadah sholat Sunnah yang selalu Istiqomah dia lakukan.


Sholat tahajjud, sholat tasbih, sholat hajat, sholat witir, berdzikir, mengaji, serangkaian ibadah yang Hilya lakukan hingga subuh menjelang.


Dan terasa kantuk Hilya datang setelah dia melaksanakan ibadah sholat subuh.


Tak terasa Hilya tertidur di atas sajadahnya, sajadah yang dia hampar di sebelah meja kerja suaminya.


Selang beberapa menit kemudian, Satya terjaga. Dia mulai mengusap-usap matanya, dan membuka selimut yang menempel di tubuhnya.


"Hilya!" ucapnya lirih. "Kenapa dia tidur di situ?" tanya pria ini, saat melihat Hilya tidur di dekat meja tempatnya bekerja.


Dengan pelan Satya mengangkat tubuh Hilya ke atas tempat tidur. Satya berharap gadis itu tidak terbangun saat dia menggendongnya. Dan ternyata kehati-hatian Satya membuahkan hasil. Hilya tetap tertidur pulas dan tidak terjaga.


Sejenak Satya memandang wajah gadis desa yang dinikahinya itu. Satya memandangnya dengan tatapan sendu, ada senyum kecil yang tersungging di bibir Satya saat memandang gadis itu. Ada sebuah sentuhan rasa di hati Satya saat memandang gadis itu, sentuhan rasa yang entah itu apa, yang Satya pun tidak dapat memahaminya.


Satya mulai menghelan nafas dan membuangnya dengan keras, seraya berlahan melangkah meninggalkan gadis itu. Dirapikannya barang-barang yang ada di meja, dan kemudian dia tuliskan dalam secarik kertas pesan untuk Hilya.


'Jaga dirimu! Aku ke kantor dulu!'


Sebuah pesan yang Satya tulis di kertas putih, yang kemudian dia letakkan di atas meja.

__ADS_1


Satya mulai bersiap untuk keluar dari apartemen itu, sejenak dia menoleh ke arah Hilya yang tertidur lelap di atas tempat tidur. Tampak senyum kecil terlihat di bibir Satya, Pria itu kembali menghelan nafas panjang, dan kemudian mengalihkan pandangannya, lalu membuka pintu apartemen, dan berlalu pergi.


Bersambung


__ADS_2