
Pagi ini Hilya terlihat sibuk melayani Clara yang sudah berada di meja makan. Dari menyiapkan susu, air putih, hingga roti tawar yang hendak gadis itu makan.
"Aku nggak mau selai coklat, aku mau yang stroberi," rengek gadis kecil itu saat Hilya hendak mengoleskan selai coklat ke rotinya.
Ibu Diana yang saat itu sudah berada di meja makan tampak memperhatikan sikap manja cucunya kepada Hilya dengan tersenyum kecil.
Tidak lama kemudian seorang laki-laki berjas hitam dengan kemeja putih di dalamnya turun dari lantai dua rumah.
Laki-laki itu berjalan menghampiri Ibu Diana yang sudah dari tadi berada di meja makan.
"Ma, aku ada meeting pagi ini. Aku sarapan di kantor!" pamit pria itu dengan mencium pipi wanita berusia 50 tahun yang masih terlihat cantik dengan blazer warna coklat muda.
"Iya hati-hati!" jawab wanita tersebut.
Laki-laki itu pun mengangguk sembari memperhatikan Hilya yang saat itu masih terlihat melayani keponakannya.
Dan tidak sengaja Hilya pun melihat ke arahnya. Hilya segera menundukkan pandangan, saat laki-laki itu begitu lekat menatap wajahnya.
"Kakak ke belakang dulu ya!" kata Hilya kemudian pada Clara.
Laki-laki itu masih terlihat memandangi langkah Hilya yang berjalan meninggalkan ruang makan rumahnya.
"O, ya. Satya! Nanti kalau bisa pulang lebih awal! Biar kita tidak terlambat menghadiri peresmian butik Clarissa," pesan Ibu Diana sebelum putranya pergi.
*****
Hari ini adalah hari peresmian butik Clarissa, sebuah gedung lantai dua, yang pernah Satya hadiahkan sebagai tempat usaha untuk kekasih tersebut.
"Aku usahakan, Ma!" jawab Satya.
"Kok diusahakan? Ini kan keharusan! Kasihan tunanganmu, kalau kita sampai datang terlambat."
"Iya, Ma! Selama ini aku juga yang bantuin Clarissa untuk prepare semua. Jadi mama nggak usah khawatir, aku pasti usahakan datang tepat waktu."
Wajah Satya tampak kurang bersemangat saat mengatakan hal itu.
"Aku pergi dulu!" pamitnya seraya beranjak meninggalkan mamanya.
Waktu terus berjalan. Kini malam telah menjelang. Tepat jam 18.30, Ibu Diana sudah bersiap menghadiri peresmian butik milik Clarissa, wanita cantik calon menantunya.
__ADS_1
Terlihat setelah itu Ibu Dian berjalan menuju kamar putranya.
"Sayang lihat penampilan mama! Mama sudah cantik belum?" tanya Ibu Diana dengan memamerkan gaun pestanya kepada putra semata wayangnya yang saat itu juga tengah bersiap menghadiri peresmian butik milik tunangannya.
"Cantik ma," kata laki-laki yang berdiri di depan cermin itu sembari melirik wanita yang berdiri di sampingnya.
"Sayang! Lihat ini perhiasan mama! Menurut kamu mama cocok pakai yang mana?"
Ibu Diana mulai menunjukkan kotak perhiasan yang berisi beberapa kalung berlian kepada putranya.
"Pakai yang mana saja, mama tetep cantik," sahut Satya tanpa memperhatikan mamanya.
"Sayang! Kamu lihat dong!" kata Ibu Diana dengan menyodorkan kotak perhiasan itu pada putranya. "Nanti banyak kolega mama lho di sana. Jadi mama harus tampil cantik dan sempurna. Biar kamu dan tunangan kamu tidak malu."
"Hmmmh!"
Satya mulai membuang nafas keras.
"Pakai ini bagus!" kata Satya kemudian dengan mengambil salah satu perhiasan yang ada dalam kotak tersebut dan memberikan pada mamanya.
Terlihat setelah itu Ibu Diana mendorong pelan Satya yang berdiri di depan cermin. Wanita itu tampak menguasai cermin di kamar Satya saat memasang kalung berliannya.
"Terserah mama saja!" sahut Satya datar sembari melanjutkan memasang dasi dan jasnya.
Setelah itu Ibu Diana berjalan keluar dari kamar Satya menuju kamar cucunya.
Lima belas menit kemudian Satya turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.
"Mana Clara?" tanya Satya pada mamanya yang hanya sendirian di ruang keluarga.
"Clara bilang dia banyak PR, dia tidak mau ikut."
"Oooh!"
"Ayo berangkat!" ajak Ibu Diana kemudian.
"Aduh! Aku lupa, handphoneku ketinggalan di kamar Ma. Mama tunggu di mobil ya! aku ambil handphone dulu," ujar Satya.
Setelah mengatakan hal itu Satya bergegas menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sementara Ibu Diana berjalan menuju mobil mewah yang sudah menunggunya di halaman rumah.
__ADS_1
"Ma! Mama berangkat dulu aja ya sama Pak Hadi. Perutku tiba-tiba sakit, aku mau ke kamar mandi dulu. Nanti biar aku berangkat sendiri, atau aku minta antar Pak Juned."
Setelah hampir sepuluh menit Ibu Diana menunggu putranya di dalam mobil. Tiba-tiba putranya datang dan mengatakan hal itu.
"Iya. Tapi jangan telat ya!" Sahut Ibu Diana.
"Iya Ma," jawab Satya sembari membalikkan badan dan kemudian masuk ke dalam rumah dengan berlari.
Hampir tiga puluh menit Satya berada di kamar mandi. Setelah itu dia keluar dan kembali merapikan pakaiannya di depan cermin, kemudian keluar dari kamar menuruni tangga rumahnya. Saat sampai di ruang keluarga, dia menoleh ke arah kamar Clara yang dia lewati.
Entah kenapa hatinya sangat ingin membuka kamar tersebut. Berlahan kakinya bergerak mendekati kamar itu. Dibukanya dengan pelan pintu kamar keponakannya. Dan dia melihat Hilya sedang menutupkan selimut pada tubuh keponakannya yang sudah tertidur lelap.
Satya bergegas mundur dari arah pintu, ketika Hilya hendak keluar dari dalam kamar.
Laki-laki itu kembali melanjutkan langkahnya ke luar rumah, menghampiri mobil Loxus LS warna sonic silver yang biasa dia naiki.
Dia mulai menghidupkan mesin mobil, namun tidak segera melajukannya. Laki-laki itu terlihat begitu gelisah, sesekali dia menghela naoas panjang dan menggigit bibirnya.
"Ya Tuhan! Handphoneku ketinggalan lagi," gumamnya kemudian, seraya membuka pintu mobil.
Satya kembali masuk ke dalam rumahnya, namun ketika dia hendak naik ke tangga menuju kamarnya, tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan.
Pyaaar!
Suara gelas kaca jatuh terdengar cukup keras dari arah dapur.
"Mbak Hilya!" teriak Bik Rum.
Satya yang mendengar suara itu seketika berlari menuju dapur. Dia melihat Bibi Rum sudah bersimpuh di lantai memeluk Hilya yang terkulai lemas.
Bergegas Satya menghampiri Bibi Rum, dan dengan sigap mengangkat tubuh Hilya.
Laki-laki bertubuh kekar itu tampak menggendong Hilya masuk ke dalam kamar dengan wajah khawatir.
"Bibik! Tolong ambil minyak kayu putih di kotak obat!" teriknya setelah membaringkan tubuh Hilya di atas ranjang.
Terlihat laki-laki itu menyentuh dahi dan pipi Hilya, kemudian *******-***** tangan Hilya dengan wajah cemas.
Bersambung
__ADS_1